Malam Pengantin Berujung Luka

Malam Pengantin Berujung Luka
Sadar


__ADS_3

"Aku nggak bercanda,Ayu Diandra! Pergilah dari rumah ini, dan aku akan mengurusi surat perceraian kita!" Hardik Andrew kasar pada Ayu.


"Tapi kenapa Drew, kita baru saja menikah hampir satu bulan yang lalu, kenapa kamu begitu tega padaku," tangis Ayu pecah seketika. Tak menyangka suami yang begitu sangat dicintai kini mencampakkan dirinya dengan cara seperti ini sangat tak berperasaan.


"Kamu yang sudah tega, Yu. Karena kamu mama Dewi sampai saat ini belum sadarkan diri," ucap Andrew dingin.


Dia tak ingin apa yang sudah jadi keputusannya akan goyah.


"Drew, apa tak bisa bicarakan ini secara Baik-baik? Aku yakin mama Dewi akan pulih," keluh Ayu.


Merasa tak terima jika Andrew membuat keputusan yang terlalu terburu-buru.


"Nggak bisa Ayu, aku sudah nggak tahan lagi. Kamu sudah tega pada mama Dewi, Yu."


Sanggah Andrew, benar memang karena ulah Ayu yang muntah di meja makan membuat mama Dewi tersinggung. Dan mengalami kecelakaan, hingga saat ini dia belum sadarkan diri. Membuat Andrew tak bisa berpikir jernih lagi, hingga harus segera memutuskan apa yang dianggap tepat olehnya.


"Drew, saat itu aku nggak sengaja. Tolong mengertilah, aku merasa nggak enak badan," jelas Ayu.


"Cukup ayu! Jangan buat alasan yang membuat aku semakin muak mendengarnya. Sekarang masuk ke dalam kamar, bereskan semua barang-barang kamu, lalu pergi dari sini. Pergi sejauh mungkin!" Bentak Andrew kasar.


Bagai di sambar petir di siang bolong, hati Ayu terasa sakit seperti sedang dihantam oleh palu dengan keras.


Tak mampu mengeluarkan sepatah kata lagi. Hanya bisa terdiam membisu.


"Drew, aku mohon. Kita bisa bicarakan ini baik-baik. Aku rasa ini hanyalah salah paham," rengek Ayu.


Sayang, hati Andrew kini telah membeku. Bahkan dia tak perduli jika Ayu menangis di hadapannya.


Melihat Andrew tak bereaksi dengan keinginannya, Ayu segera menghapus air matanya. Tak ada gunanya juga, jika dia terus menangis.


"Apa ini ada hubungannya dengan permintaan mama Dewi?" Tanya Ayu tajam, membuat Andrew membulatkan matanya, dan mengeratkan rahangnya.


"Mama Dewi sengaja membawa Fahira masuk ke dalam rumah ini, agar kamu dan Fahira bisa bersatu. Kembali mengikuti perjodohan kalian yang batal enam tahun yang lalu?" Cecar Ayu menumpahkan semua isi hatinya.


Wajah Andrew memerah, dia tak tahu harus menjawab apa.


"Kamu tak bisa menjawab pertanyaan ku, Drew berarti dugaan ku benar," lanjut Ayu datar.


"Rencana yang hebat, patut diapresiasi. Keinginan mama Dewi pun akan terlaksana jika aku melangkahkan kaki keluar dari rumah ini. Dimana cinta kamu untukku selama lima tahun kita berpacaran, Drew? Apa sudah hilang, hanya karena kemunculan Fahira dengan penampilan modis, dan seksi?"


Pekik Ayu menumpahkan semua rasa sesak di dadanya.


Plak


Satu tamparan keras mendarat sempurna di pipi Ayu.


Sayang Ayu tak ingin menangis lagi, dia hanya memegang pipinya yang terasa panas dengan tangannya, lalu tersenyum.

__ADS_1


Ayu menganggukkan kepalanya.


"Hebat kamu Drew. Terima kasih sudah membuka mataku lebar-lebar," ucap Ayu.


Lalu masuk ke kamarnya, kemudian mengambil koper dan mengisinya dengan semua pakaian-pakaiannya. Tak boleh ada satu pun yang tertinggal.


Tanpa mengucap kata lagi, Ayu berusaha menggeret kopernya yang sangat berat itu keluar dari rumah. Sedang Andrew masih terpaku di tempatnya berdiri sejak tadi. Dia masih tak percaya bagaimana bisa dia sangat tega pada Ayu, menamparnya dengan sekuat tenaga. Dan sayangnya, Ayu tak menangis, dia malah tersenyum. Apa Ayu sudah mempersiapkan semua ini, sebelumnya.


Senyum yang akan diingat oleh Andrew, sebagai senyuman terakhir yang begitu tulus dari Ayu untuknya. Jika suatu saat akan berjumpa lagi, apa Ayu bisa tersenyum seperti itu lagi padanya. Tubuh Andrew luruh ke lantai. Masih tak percaya dia bisa setega itu pada Ayu.


****


Ayu naik taksi online, tujuannya hanya satu.


Setelah memberikan alamat yang di tuju, Ayu hanya bisa bersandar di bangku mobil. Membayangkan kembali, betapa teganya Andrew pada dirinya. Ayu menutup matanya, air mata lolos begitu saja, mengalir di ujung matanya.


Membayangkan kembali, selama tinggal bersama mama Dewi, hidupnya tak pernah aman.


"Ayu, segera cuci semua pakaian Fahira ini. Jangan menggunakan mesin cuci."


Ayu hanya menurut, dan mulai mencuci pakaiannya."


"Ayu, sudah siang ini, mama dan Fahira pengen makan rendang, segera buatkan!"


Perintah mama Dewi.


Jawabnya memberi alasan.


"Kamu berani membantah perintah mama? Mau mama adukan pada Andrew?" Ancam mama Dewi kala itu.


Ayu hanya bisa menurut, seharian penuh disuruh ini dan itu tanpa istirahat. Jika sore hari, mobil Andrew memasuki garasi. Gegas mama Dewi memberi kode pada Fahira.


Di dapur Fahira akan berpura-pura menyibukkan diri.


"Itu lihat istri kamu nak. Masa Fahira disuruh mencuci pakaian kalian. Emang Fahira kemari akan dijadikan pembantu?"


Mama Dewi mulai beraksi, sambil menunjuk ke arah Fahira di dapur, yang tubuhnya sudah basah oleh keringat. Yang Ayu sangat tahu, itu adalah air yang dicipratkan ke wajahnya sendiri.


Dan masih banyak lagi kelakuan buruk serta kasar, mama Dewi dan Fahira padanya. Air mata Ayi terus mengalir, mengingat bagaimana Andrew begitu mudahnya percaya pada mama Dewi dan Fahira, tanpa bertanya terlebih dahulu padanya.


Sebenarnya dari awal Ayu sudah curiga dengan kedatangan mama Dewi dan Fahira. Pasti akan terjadi sesuatu yang buruk padanya. Dan terbukti kini dia harus meninggalkan pria yang begitu sangat dicintai olehnya.


Tanpa sadar mobil yang ditumpangi oleh Ayu berhenti di sebuah rumah kost yang lumayan besar. Setelah membayar ongkos taksi, Ayu menggeret kopernya masuk. Lalu menuju ke rumah utama, tempat pemilik kost itu tinggal.


Ayu menekan bel beberapa kali.


Ting nong ting nong

__ADS_1


Beberapa saat menunggu, terdengar bunyi pintu dibuka. Seorang wanita paruh baya terperanjat kaget.


"Ayu?"


Ayu menundukkan kepalanya.


"Masuk nak," pintanya lembut.


Bibi Reni sang pemilik kost adalah adik dari bapak Ayu di desa. Hidupnya serba berkecukupan, sebelum meninggal suaminya meninggalkan banyak warisan untuknya. Termasuk rumah kost yang kini menjadi penopang hidupnya.


Semasa kuliah, Ayu tinggal bersama bibi Reni. Dia sangat menyayangi Ayu, atas rekomendasinya juga, Ayu mendapatkan beasiswa dari seorang donatur kaya. Buat Ayu, bibi Reni sudah seperti ibunya sendiri. Apa lagi, bibi Reni ditinggal suaminya tanpa seorang anak.


Ayu menangis dalam pelukan bibi Reni, dan menceritakan semua yang sudah terjadi pada dirinya.


"Sudahlah nak, ikhlaskan saja. Pria yang baik itu adalah pria yang memiliki pendirian. Mungkin Tuhan sedang mencobai diri kamu, agar kamu bisa melihat pria baik seperti Andrew pun, jika disodorkan ikan asin langsung bereaksi."


Ayu mengangguk, benar kata bibi Reni.


"Tinggal lah di sini bersama bibi. Kamu pasti akan menemukan kebahagiaan suatu saat nanti."


Pinta bibi Reni, yang mana Ayu tak bisa membantah keinginannya.


****


Sementara di Rumah Sakit, mama Dewi membuka matanya.


"Mama," pekik Andrew senang.


Mata mama Dewi memandang ke seluruh ruangan perawatannya.


"Mama mencari siapa?"


Mama Dewi tak bersuara.


"Mama, apa mama mendengar Andrew?"


Tak ada jawaban dari mama Dewi, sehingga membuat Andrew panik.


"Fahira, cepat panggilkan dokter!"


Perintah Andrew meminta Fahira segera pergi keluar.


Fahira malah berdiri terpaku di tempatnya.


"Fahira!"


Teriak Andrew.

__ADS_1


__ADS_2