
"Ma--ma," gumam Andrew dan Ayu bersamaan.
"Kenapa? Kalian kaget dengan kedatangan mama?"
Tanya mama Dewi dingin, tanpa permisi dia masuk melewati Ayu dan Andrew yang masih berdiri di depan pintu. Lalu duduk di sofa tamu.
Diikuti oleh Andrew dan Ayu.
Mama Dewi menatap tajam pada wajah Ayu. Sambil bersedekap dada.
"Mama kemari dengan siapa?"
Andrew mencoba untuk menetralkan suasana hatinya.
"Bagus yah, karena seorang Ayu Diandra. Puteraku Andrew Santoso yang adalah anak yang paling aku sayangi, dia adalah putra yang sangat patuh padaku. Jadi, pengaruh kamu begitu besar sekali, hingga Andrew berubah menjadi pembangkang. Sungguh mama sangat kecewa sama kamu, Andrew."
Tanpa menjawab pertanyaan Andrew, mama Dewi memarahi keduanya.
Ayu menundukkan kepalanya. Inilah yang dia takutkan selama ini. Reaksi mama Dewi padanya. Ayu sudah mengatakan berulang kali pada Andrew agar membujuk mama Dewi secara baik-baik. Tapi Andrew sangat tahu, sifat mama Dewi. Sifatnya yang sangat buruk dan kasar, pasti akan melukai Ayu. Sebisa mungkin Andrew menjauhkan mama Dewi dengan Ayu. Saat memutuskan menikah, mama Dewi bahkan tak ingin menghadiri upacara pernikahan mereka.
Walau sebenarnya Andrew sangat sayang pada mama Dewi. Sejak kecil Andrew selalu patuh padanya. Apa pun yang dikatakan oleh mama Dewi, adalah perintah baginya. Namun, tidak untuk kali ini, Andrew sangat mencintai Ayu dan akan melakukan apa saja demi perasaannya pada Ayu.
"Mama Andrew dan Ayu meminta maaf," bujuk Andrew.
Membuat mama Dewi membuang muka.
"Ayolah ma," tambahnya lagi.
"Baiklah, mama akan berusaha memaafkan tapi dengan satu syarat."
Ucap mama Dewi yakin.
"Apa syaratnya mah?"
"Mama akan tinggal bersama kalian. Apa pun yang mama lakukan di rumah ini nggak boleh ada yang protes.
Jawab mama Dewi yakin.
"Kok mama begitu, bagaimana dengan papa di desa, siapa yang akan menjaganya?" Protes Andrew.
"Nggak bisa! Biarkan papa kamu hidup mandiri tanpa mama di sana. Apa kamu tak suka mama datang mengunjungi kamu. Apa salah mama menginginkan tinggal bersama putra mama sendiri?"
Bentak mama Dewi kasar tak ingin dibantah.
Ayu segera memegang lengan Andrew, agar berhenti untuk berdebat bersama mama Dewi.
__ADS_1
"Baiklah ma, tapi mama janji sama Andrew akan menerima Ayu menjadi menantu mama di sini."
Mama Dewi memalingkan wajahnya, tak ingin menjawab.
"Tunggu dan lihatlah apa yang akan aku lakukan pada kamu, Ayu. Rasakan akibatnya nanti," gumam Mama Dewi tak terdengar jelas oleh keduanya.
****
Malam harinya,
Makan malam sudah siap, sengaja Ayu memasak makanan istimewa yang agak banyak. Sebagai bentuk penyambutan pada ibu mertuanya.
"Aduh, Andrew ini namanya pemborosan. Lihatlah lauk dan sayurnya banyak sekali. Bisa nggak kamu mengajari istrimu agar tak melakukan pemborosan? Lama-lama uang kamu akan habis nak, jika istri kamu tak pandai mengolah keuangan dengan pemborosan seperti ini. Di desa, kita hanya makan sayur dan ikan, udah lebih dari cukup. Lihatlah istri kamu memasak segala macam menu ini. Apa kamu tak bisa melarang istri kamu untuk jangan terlalu berlebihan seperti ini?
Mata Mama Dewi membulat, melihat hidangan di atas meja. Ada olahan daging dan sayur memenuhi meja makan.
"Ma, Ayu sudah berusaha membuat yang terbaik. Karena kami sedang menyambut mama di rumah kami, untuk pertama kalinya," jelas Andrew berusaha membela istrinya.
"Maafkan Ayu ma, Ayu janji besok Ayu berusaha menghemat," ucap Ayu sedih sambil menundukkan kepalanya. Rasanya sakit sekali dikritik keras seperti ini. Ayu menahan sesak di dada.
Dia juga tak mampu untuk menjawab. Sebab ibu dari suaminya adalah ibunya juga. Ayu tak ingin melakukan kesalahan.
Mama Dewi mulai menyendok makanan ke dalam piringnya. Semua lauk dan daging yang dihidangkan oleh Ayu masuk dalam piringnya. Hampir seperti gunung berapi piring mama Dewi. Lalu dia makan dengan lahapnya sehingga menghasilkan bunyi decapan dari mulutnya. Melihat itu Andrew, hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Selesai makan, mama Dewi kembali mengunyah beberapa keripik di toples di sofa meja tv. Membiarkan Ayu membereskan dapur sendirian. Andrew memilih masuk ke dalam kamar. Seharian penuh disibukkan dengan mendengar ocehan mama Dewi, membuatnya malas. Malam ini dia ingin mengulang kembali malam panasnya bersama sang istri. Sudah memikirkan jurus apa akan ditunjukkan olehnya, sambil membayangkannya, lalu tertawa sendiri.
Andrew tersenyum melihat kedatangan istrinya dan memintanya untuk duduk di sampingnya di atas ranjang. Keduanya berpelukkan.
"Maafkan mama Dewi ya sayang."
Andrew mengelus rambut istrinya dengan lembut. Dia tahu perkataan mama Dewi sangat kasar.
"Ya nggak apa-apa, Drew. Sepertinya mama Dewi masih belum bisa menerima aku sebagai menantunya."
"Aku minta kamu bisa lebih bersabar untuk menghadapinya."
"Tentu Drew, aku akan berusaha lebih baik lagi agar mama Dewi bisa menerima aku."
"Terima kasih sayang, kamu benar-benar pengertian."
Andrew mengangkat dagu istrinya dan mengecup bibirnya lembut sambil menutup mata. Merasakan aliran darah di sekujur tubuhnya berubah menjadi panas.
Tok tok tok
Keduanya kaget mendengar bunyi pintu kamar yang diketuk keras oleh mama Dewi.
__ADS_1
"Andrew, buka pintunya nak."
Mama Dewi terus mengetuk pintunya berulang-ulang dengan sangat keras dan berisik.
Gegas Andrew turun dari atas ranjang, dan segera membuka pintunya.
"Ada apa ma?"
Andrew berusaha memelankan suaranya meski ada rasa dongkol di hatinya, mama Dewi sedang mengganggu kemesraannya dengan sang istri.
"Mama mau minta bantuan kamu," ketus mama Dewi sambil matanya melirik Ayu yang sedang berbaring di atas ranjang dengan baju tipis.
"Mama minta apa, biar Andrew carikan."
Andrew berusaha menahan diri.
"Mama mau minta kamu pijitin kaki mama. Soalnya kaki mama terasa sangat pegal sekali. Kamu tahu kan, kaki mama reumatik parah, nggak bisa tidur jika nggak dipijitin sama mbok Sumi. Disini nggak ada mbok Sumi yang bisa mama suruh-suruh."
Ungkap mama Dewi agar putranya mau mengikuti keinginannya.
"Baiklah ma."
Andrew mengikuti langkah mama Dewi masuk ke kamarnya.
Mama Dewi berbaring di atas ranjang miliknya.
"Sebelum pijitin mama, minumlah air dulu nak."
Pinta mama Dewi menunjukkan segelas air minum di atas meja. Andrew hanya menurutinya saja dan meminum air yang ditunjuk oleh mama Dewi.
Sambil memijit kaki mama Dewi, mata Andrew terasa sangat berat sekali.
Tak menunggu waktu lama, akhirnya Andrew merebahkan tubuhnya di samping mama Dewi. Terdengar dengkuran halus darinya membuat mama Dewi tersenyum puas.
"Mulai sekarang, kamu akan terus tidur sama Mama."
Kata mama Dewi sambil tersenyum licik, membayangkan Ayu akan menunggu kedatangan suaminya sepanjang malam. Mama Dewi lalu ikut tidur dengan perasaan bahagia di samping puteranya.
Rencananya berjalan lancar, ini baru permulaan.
"Lihat saja Ayu, aku akan membuat putraku kembali ke pangkuan ku. Aku tak akan mengijinkan kamu, putri seorang Hasan Danuarta menjadi istri putraku. Hasan hanyalah seorang patani dengan sepetak sawah di desa. Bagaimana mungkin, harus menjadi besan keluarga Santoso. Membayangkannya saja aku tak sudi."
Gerutu mama Dewi, sambil memejamkan matanya.
Sedang Ayu di kamar pengantin milik mereka terus menunggu kedatangan Andrew, yang sangat lama sekali di kamar mama Dewi.
__ADS_1
"Kenapa Andrew lama sekali?"