Malam Pengantin Berujung Luka

Malam Pengantin Berujung Luka
Permintaan


__ADS_3

"Mama, sadarlah ma."


Pinta Andrew panik.


Setelah Fahira keluar dan memanggil para dokter untuk menangani mama Dewi.


Tim dokter bergerak cepat, lalu seorang perawat meminta Andrew dan Fahira menunggu di luar. Membiarkan tim dokter menangani mama Dewi.


Andrew berjalan kesana-kemari kemari di depan pintu ruangan mama Dewi. Untuk sekedar menghilangkan kepanikannya.


Bahkan dia sudah tak mengingat lagi dan tak mengambil pusing, di mana keberadaan Ayu saat ini. Baginya yang paling penting adalah kesehatan mama Dewi.


Semalam dia sudah menghubungi papa Danu, ayahnya yang di desa. Agar segera kemari menyusul mama Dewi.


"Drew kenapa harus menghubungi papa kamu di desa?"


Tanya Fahira hati-hati. Tapi Andrew sangat tak bisa melihat kekhawatiran di raut wajah Fahira.


"Ya. Karena karena sangat penting, papa Danu juga berhak tahu mama masih belum sadarkan diri."


Jawab Andrew, membuat hati Fahira semakin kalut. Entah kenapa saat tahu kabar keluarga Andrew akan menyusul, hati Fahira menjadi tak tenang.


"Kamu kenapa, kok wajah kamu menjadi pucat begitu?" Tanya Andrew.


"Nggak ada kok, Drew. Nggak apa-apa," jawab Fahira pelan.


Kini selangkah lagi menuju pelaminan , jangan sampai nira setitik, rusak susu sebelanga. Dia harus lebih berhati-hati. Restu mama Dewi kini ada dalam genggaman tangannya. Kenapa dia harus khawatir, pikirnya dalam hati.


Fahira menggelengkan kepalanya cepat segera menepis pikiran kotornya.


Beberapa saat kemudian, dokter keluar dari kamar mama Dewi.


"Bagaimana keadaan mama saya, dok?"


Tanya Andrew, gegas dia menghampiri seorang dokter.


"Pasien sudah bisa dikunjungi. Dan tak ada yang perlu dikhawatirkan. Dua atau tiga hari lagi pasien sudah bisa pulang ke rumah," jawab dokter lalu pergi meninggalkan mereka.


Andrew dan Fahira segera masuk ke dalam ruangan mama Dewi.


"Mama," panggil Andrew.


Mama Dewi menoleh ke arah putranya.

__ADS_1


"Syukurlah mama sudah nggak apa-apa."


Ucap Andrew lalu menghampiri ranjang mama Dewi.


Mama Dewi tersenyum ke arah putranya, meski tubuhnya masih terasa lelah dan sakit, dalam hatinya dia bahagia melihat Andrew dan Fahira berada bersama dengannya.


"Maafkan Andrew ma. Andrew janji akan melakukan apa saja demi untuk kebahagiaan mama. Tapi mama janji, akan sembuh dahulu."


Mama Dewi menganggukkan kepala.


"Tante, Andrew punya kabar baik untuk tante. Iya kan, Drew?"


Mata mama Dewi menatap putranya. Meski dia belum bisa bergerak bebas. Mulutnya terasa kaku tak bisa digerakkan. Tapi sebisa mungkin dia berusaha. Ingin mendengar kabar baik dari putranya, seperti apa yang dikatakan oleh Fahira.


Andrew mendekati ranjang mama Dewi. Kemudian menggenggam tangannya lembut.


"Maafkan Andrew ma, sudah membuat mama kesulitan seperti ini. Andrew sudah membuat keputusan yang salah. Sehingga Andrew baru menyesalinya sekarang. Saat ini, Andrew sudah meminta Ayu pergi dari rumah. Jika mama sembuh nanti, Andrew janji akan melakukan apa saja demi untuk membuat mama bahagia lagi," ucap Andrew.


Seakan benar-benar menyesali semua perbuatannya selama ini.


Pilihan yang sangat keliru. Mungkin ini adalah karma dari pernikahannya tanpa persetujuan dari orang tua. Dan kini dia ikhlas melepaskan ikatan pernikahannya dengan Ayu. Demi mama Dewi, apa pun akan dia lakukan.


Tapi, entah kenapa hati Andrew rasanya sakit sekali. Perih seakan tertusuk pisau berulang kali. Andrew sendiri tak mengerti kenapa dengannya. Seakan dia merasakan hampa dalam hatinya. Meski harusnya dia merasakan kebahagiaan mama Dewi sudah sadar, dan bisa pulang ke rumah beberapa hari lagi. Tetap saja hatinya terasa kosong.


Mama Dewi tersenyum ke arah Fahira. Senyumnya seakan mengatakan rencana kita berhasil. Dan Fahira seakan mengerti kemudian menganggukkan kepalanya.


"Sekarang mama beristirahat, ya. Agar mama cepat pulih dan kita bisa segera pulang," ucap Andrew.


Keduanya dengan setia menjaga mama Dewi.


****


Sudah dua hari mama Dewi dirawat, hari ini mama Dewi sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Kesehatannya sudah membaik. Badannya sudah bisa digerakkan, hanya kakinya saja yang masih perban. Tapi kata dokter, satu minggu lagi sudah bisa dibuka.


Mama Dewi sudah bisa makan dan minum sendiri, bahkan sudah bisa diajak berbicara.


Saat bersama Fahira dia terlihat sangat senang sekali. Apa pun yang Fahira lakukan mama Dewi menyukainya.


"Apa sudah siap semuanya?" Tanya Andrew kembali memastikan.


Keduanya menganggukkan kepala, lalu keluar dari area rumah sakit.


"Sebelum tiba di rumah, ayo kita makan siang dulu," ajak Andrew pada kedua wanita itu, dijawab anggukan dari keduanya.

__ADS_1


Sebuah peristiwa, di mana setelah menikah dia tak pernah mengajak Ayu makan di luar.


Mobil Andrew masuk ke area parkir sebuah mall terbesar di kotanya. Andrew mengajak mereka masuk di sebuah restoran mewah. Setelah ketiganya duduk, dari arah depan ketiganya dikejutkan oleh kedatangan seorang pria paruh baya.


"Papa," panggil Andrew.


Semua mata menoleh ke arah pria itu.


Andrew dan papanya saling berpelukkan, bergantian dengan mama Dewi.


Saat mata Fahira tak sengaja bertatapan dengan papa Danu, papa dari Andrew, cepat-cepat dia menundukkan kepalanya.


Sedang papa Danu menatap Fahira dengan tatapan merendahkan.


Mama Dewi yang melihat itu langsung meminta semuanya duduk dan menikmati makanan yang baru saja dihidangkan oleh pelayan di meja mereka.


Mama Dewi merasa kesal kenapa papa Danu sangat tak menyukai Fahira. Padahal sejak awal Fahira dijodohkan dengan Andrew semua baik-baik saja. Dua tahun belakangan ini, setiap mama Dewi membicarakan Fahira yang akan dijodohkan dengan Fahira, papa Danu yang paling keras menolak. Meminta mama Dewi menghormati keinginan putranya untuk menikahi Ayu.


Ternyata papa Danu baru tiba semalam. Atas permintaan Andrew, mereka berjanjian akan bertemu di restoran ini. Sebagai perayaan mama Dewi sudah kembali pulih. Meski mama Dewi masih duduk di kursi roda.


Mereka makan dalam diam. Mama Dewi merasa sejak papa Danu datang, Fahira berubah menjadi pendiam, tak banyak bicara.


"Mama merasa bahagia, kini Ayu sudah pergi dari rumah, nak," ucap mama Dewi memecah keheningan.


Papa Danu mengernyitkan dahinya tak percaya, lalu menatap putranya yang sama sekali tak menyahut. Menandakan benar Ayu telah pergi dari rumah, dan pastinya atas persetujuan Andrew. Papa Danu mengangguk, saat ini dia baru mengerti, ternyata kepergian istrinya ke rumah Andrew dan mengajak serta Fahira adalah sebuah rencana mereka.


Papa Danu menggelengkan kepala, lalu melanjutkan makan dalam diam.


"Drew," lirih mama Dewi.


Meski dia sudah diperbolehkan pulang ke rumah, tapi wajahnya masih pucat.


"Iya ma."


"Mama boleh minta sesuatu nggak?"


"Katakan ma, apa pun yang mama minta akan Andrew kabulkan."


Jawab Andrew tenang.


"Segera nikahi Fahira, Nak."


Semuanya terdiam mendengar permintaan mama Dewi.

__ADS_1


Papa Danu malah tersedak, lalu menghamburkan makanan dari mulutnya. Tak percaya dengan apa yang baru saja didengar olehnya. Permintaan yang sangat tak masuk akal dari istrinya.


__ADS_2