
Andrew menghentikan ojek dan mengikuti mobil yang membawa mama Dewi ke Rumah Sakit. Setelah mengucapkan terima kasih pada para warga yang sudah mengantar mama Dewi. Andrew menuju ke UGD.
Mama Dewi sedang mendapatkan penanganan serius dari para dokter.
Andrew mengacak rambutnya frustasi. Pikirannya mulai buntu, selama ini dia selau mendapatkan pengaduan dari mama Dewi. Setiap malam mama Dewi selalu bercerita tentang keburukan Ayu padanya maupun pada Fahira. Tapi Andrew memilih tak mempercayai semua perkataan mama Dewi.
Baginya, Ayu adalah istrinya. Dia menikahi Ayu karena kebaikannya. Tutur katanya, dan tak mudah terpengaruh dengan pergaulan kota besar di masa kuliahnya. Meski sebagian besar teman-teman Ayu sudah terbiasa dengan pergaulan bebas, tempat tongkrongan di cafe. Kehidupan malam para mahasiswi di lingkungan kost nya, Ayu tak sedikit pun tertarik dengan semua itu.
Baginya beasiswa dari seorang donatur baik hati, karena prestasinya tak boleh di sia-siakan. Siang dan malam dia menghabiskan waktunya belajar dunia arsitektur. Sebagai permintaan donatur. Ayu menerimanya sebagai tantangan, selama ini dia hidup dalam zona nyaman dengan prestasi matematika dan sains. Dan waktu kuliah Ayu ingin membuktikan jika dia bisa belajar sepenuh hati denga tantangan yang diberikan, dan pastinya bisa meraih prestasi yang baik.
"Apa sih yang kamu suka dari Ayu nak?" Keluh mama Dewi suatu malam saat Andrew masuk ke kamarnya.
"Andrew mencintai Ayu ma, itu adalah kenyataannya."
Jawab Andrew sejak awal dan inilah keputusan yang sudah dia buat.
"Mama lebih suka kamu menikahi Fahira. Bukankah sebelum kamu bertemu Ayu, kamu dan Fahira adalah sepasang kekasih? Dia putri teman mama. Sudah jelas, bibit, bebet dan bobotnya. Mama juga sangat suka dengan Fahira, mama sudah terlanjur sayang padanya juga. Dan kamu malah mengecewakan mama dengan pilihan kamu yang sudah mencoreng nama baik keluarga Santoso di desa."
"Ma, Fahira itu cuma bagian dari masa laluku. Aku pernah menjalin hubungan dengan keseriusan bersamanya, tapi dia memilih menikah dengan pria kaya di desa sebelah."
Jawab Andrew kesal. Mengapa sang mama terus mendesaknya untuk menikahi Fahira. Yang jelas-jelas dia sudah memiliki pilihannya sendiri. Toh, Fahira yang memutuskan untuk meninggalkan dirinya dahulu.
"Iya, tapi sekarang kan dia sudah bercerai dengan suaminya itu nak. Apa tak bisa kamu memulainya dari awal kembali."
Ucap mama Dewi yang sudah mulai menumpahkan air matanya.
Air mata mama Dewi adalah kelemahan Andrew. Jadi apa pun permintaan mama Dewi selalu dituruti oleh Andrew.
"Andrew minta maaf ma."
Bujuk Andrew sambil memegang tangan mama Dewi dengan lembut.
"Iya, tapi dengan satu syarat."
Jawab mama Dewi dengan cepat.
"Apa itu?"
"Tidurlah dengan mama malam ini."
Perintah mama Dewi.
__ADS_1
Andrew hanya mengangguk mengiyakan.
Di satu malam yang lain, saat Andrew masuk ke kamar mama Dewi,
Fahira duduk bersimpuh di pangkuan mama Dewi.
"Kalau begini terus ma, lebih baik Fahira pulang ke desa aja."
Ucap Fahira dalam tangisnya.
"Jangan nak, siapa yang akan menemani mama di sini kalau kamu pergi. "
Bujuk mama Dewi sambil mengelus oucuk kepala Fahira dengan kelembutan.
"Tapi ma, Fahira sudah tak tahan dengan siksaan Ayu selama ini ma."
"Sabar nak, kemari mama obati lagi luka kamu. Ayu itu sudah sangat keterlaluan, di depan putraku dia wanita yang baik dan sopan. Tapi jika putraku sudah keluar dan pergi bekerja, dia berubah menjadi wanita jahat."
Ucap mama Dewi meninggikan suaranya.
Fahira mengulurkan tangannya pada mama Dewi. Sebuah luka bakar besar di pergelangan tangannya. Lalu mama Dewi mengoleskan obat di tanganya yang terkena luka bakar itu. Sepertinya kecipratan minyak panas.
Mendenagr semua itu mmbuat mata Andrew memerah. Tapi dalam hatunya dia tak segera percaya jika Ayu melakukan hal yang kasar seperti itu. Dia memilih mendiamkannya. Nanti baru akan di tanyakan perlahan ada Ayu. Selama ini banyak sekali pengaduan mama Dewi, yang membuat kepala Andrew mau pecah.
Hati Andrew kini merasa dilema. Bagaimana Ayu bisa berubah secepat ini.
Kecelakaan pagi ini adalah tanggung jawab Ayu. Jika terjadi sesuatu pada mama Dewi, Andrew sudah memikirkan langkah opa yang akan di ambil olehnya.
Dokter yang menangani mama Dewi, berjalan melewatinya. Setelah hampir tiga puluh menit memeriksa keadaan mama Dewi, membuyarkan lamunan Abdrew sejak tadi.
"Dokter."
Panggil Andrew seakan tubuhnya lemah tak bertenaga. Dia masih belum sanggup untuk menerima kenyataan jika sesuatu yang buruk sedang terjadi pada mama Dewi.
Dokter itu berhenti dan menoleh ke arah Andrew.
"Apa mama saya baik-baik saja, dok?"
Tanya Andrew khawatir.
"Maaf tuan Andrew, tim dokter masih belum bisa memastikan. Kita tunggu hingga malam nanti, jika mama anda bisa sadar, dan jika sampai besok pagi ibu Dewi belum sadarkan diri, baru kita akan melakukan penanganan insentif selanjutnya."
__ADS_1
Ucapan dokter tadi sukses membuat kepala Andrew sakit.
"Tidak, tidak mungkin. Mama adalah wanita yang kuat. Dia harus sadar, aku yakin dia akan sadar."
Gumam Andrew seorang diri, menguatkan diri. Tak ada orang yang bisa dipercaya untuk mendengarkan keluh kesahnya lagi.
Mama Dewi kini dipindahkan di ruang perawatan, tepatnya di ruangan VIP. Sehingga Andrew bisa duduk dan menjaganya dengan tenang.
Ting
Sebuah pesan masuk di aplikas hijau miliknya. Saat Andrew tahu siapa pengirimnya dia memilih untuk mengabaikannya. Malas untuk membuka pesannya.
Sejak tadi Ayu terus mengirim pesan pada Andrew. Menanyakan kabar mama Dewi. Hati Andrew terlanjur sakit, dan di dalam hatinya sudah tertanam, jika yang terjadi pada mama.Dewi akibat Ayu yang tak bisa menahan diri.
Tiba-tiba Fahira masuk ke ruangan mama Dewi sambil menangis.
"Tante.."
Huhuhuhu
Fahira menangis sambil memeluk mama Dewi.
"Ini semua salah Fahira tante, coba saja Fahira sejak awal mau dijodohkan sama Andrew, asti tante tak akan mengalami kecelakaan seperti ini."
Melihat perhatian Fahira pada mama Dewi membuat hati Andrew menghangat. Di mana Ayu, apa yang dia lakukan di rumah. Harusnya jika mama Dewi sakit, dia harus menyusul kemari.
"Di mana Ayu?"
Tanya Andrew pada Fahira, setelah dia sedikit tenang dan tak lagi menangis.
"Aku nggak tahu Drew. Sejak kejadian lagi tadi aku melihat Ayu keluar dan tak pamit mau ke mana dia."
Jawab Fahira sambil menyeka air matanya.
"Kamu kenapa Ayu? Harusnya kamu juga di sini menemani mama. Meski mama nggak menyukai kamu. Harusnya kamu bisa bertanggung jawab."
"Drew, kamu kok tega sama mama Dewi? Kamu selalu memilih diam saat mama Dewi diperlakukan nggak baik selama ini sama Ayu, meski berulang kali mama Dewi mengadu tak pernah sedikit pun kamu mau mendengarkannya. Apa hatimu sekarang buta, melihat mama Drwi terbaring lemah tak sadarkan diri gara-gara ulah Ayu. Apa kamu juga akan diam saja?"
Cecar Fahira bernada emosi.
Andrew terdiam, di sini siapa lagi yang akan dibela olehnya.
__ADS_1
Apa lagi mengingat permintaan mama Dewi tiga hari yang lalu.