Malam Pengantin Berujung Luka

Malam Pengantin Berujung Luka
Menyuruhnya pergi


__ADS_3

Sampai malam tiba Mama Dewi belum juga sadarkan diri. Andrew semakin khawatir, dia tak ingin pergi kemana-mana.


Fahira mulai mendekati Andrew yang masih duduk di sofa. Ruangan mama Dewi adalah kamar VIP pilihan Andrew. Jadi yang menjaga bisa leluasa untuk berjaga tanpa ada gangguan.


"Drew, apa kamu yakin akan terus seperti ini?"


Tanya Fahira hati-hati, membuat Andrew mengernyitkan dahinya.


"Maksud kamu?"


"Bukannya aku mau berniat nggak baik, apa salahnya jika kita berpikir kembali ke belakang. Mungkin ini adalah karma untuk kita berdua," sambung Fahira lagi.


Membuat Andrew semakin tak mengerti.


"Kita berdua pernah dijodohkan, lalu kita memilih jalan kita masing-masing tak mengikuti perjodohan kedua orang tua kita. Kini rumah tanggaku sudah hancur dan bercerai, lalu kamu mengalami kesulitan, mama Dewi kecelakaan karena ulah istri kamu. Apa namanya jika ini bukan sial, Drew. Sial, karena kita tak menuruti keinginan orang tua kita," ucap Fahira.


Kali ini Andrew tak bisa berkata-kata. Jika dipikirkan perkataan Fahira ada benarnya juga.


Bagaimana jika Ayu memang pembawa sial bagi keluarganya saat ini. Bagaimana jika dia kehilangan mama Dewi. Tidak, Andrew menggelengkan kepalanya, itu tak boleh terjadi. Mama Dewi adalah satu-satunya wanita yang paling disayangi oleh Andrew sejak kecil. Dia tak pernah membuat mama Dewi marah. Pernikahannya dengan Ayu memang membuat mama Dewi murka, dan selama ini dia telah berusaha mendapatkan maaf dari mama Dewi.


Jika pernikahan ini membawa kesialan. Andrew juga harus menghentikannya segera. Perasaan cintanya selama lima tahun kini menjadi benci. Lalu apa dia yakin harus membenci Ayu yang sudah dinikahi olehnya, hampir satu bulan yang lalu?


Andrew terkejut bukan main, saat merasa tangannya seakan tersengat aliran listrik kecil, saat tangan Fahira menyentuh punggung tangannya dengan lembut.


Andrew menoleh ke arah Fahira di sampingnya. Wajah Fahira yang menawan, tubuh putih bersih, dan dandanannya yang sangat cantik membuat Andrew terlena sesaat.


"Jadikan aku istri kamu, Drew. Aku janji akan setia sama kamu, dan akan menjaga mama Dewi dengan baik. Hingga keluarga kita tak akan pernah tahu apa itu rasanya kesedihan seperti ini. Ini janjiku pada kamu," ucap Fahira dengan yakin, sambil mengelus perlahan punggung tangan Andrew.


Hati Andrew berdegup kencang, tak tahu harus menjawab apa. Dia hanya terdiam di tempatnya, tapi tidak juga menolak tangannya terus dielus perlahan oleh Fahira. Lama Andrew terdiam, dalam hati Fahira sangat yakin jika Andrew sudah masuk ke dalam perangkapnya. Tinggal tetap sabar menunggu langkah apa yang akan dia lakukan untuk selanjutnya.


Malam semakin larut, tak ada tanda-tanda jika mama Dewi akan siuman.


Keduanya kemudian memilih tertidur sambil bersandar di sofa yang sama, kepala Fahira bersandar di pundak Andrew sampai pagi.


***

__ADS_1


Dokter yang bertugas masuk ke ruangan mama Dewi, membuat Andrew dan Fahira terbangun dari tidurnya. Setelah melakukan pemeriksaan sesaat, dokter akan keluar dari ruangan itu.


"Dokter, bagaimana dengan keadaan mama saya?"


Tanya Andrew pelan.


"Kita tunggu saja perkembangannya tuan Andrew. Kami akan selalu berusaha yang terbaik untuk menangani pasien," jawab dokter itu sambil berlalu pergi.


"Mama Dewi belum sadar juga Drew, aku takut bagaiman kalau mama Dewi kenapa-napa." Ujar Fahira membuat jantung Andrew semakin berdegup kencang. Matanya memerah, lalu berlalu pergi keluar dari ruangan mama Dewi tanpa sepatah kata.


Fahira mengusap air matanya dengan kasar, sambil tersenyum.


"Tinggal selangkah lagi, aku akan mendapatkan kamu."


Gumam Fahira sambil tersenyum menyeringai.


Gegas Andrew masuk ke dalam mobilnya. Lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, agar bisa tiba dengan cepat hingga sampai ke rumah. Sepanjang perjalanan, hatinya terasa hancur, dia belum siap kehilangan mama Dewi. Apa pun yang terjadi Tuhan tolonglah selamatkan mama Dewi. Aku janji, aku akan melakukan apa saja demi untuk kesembuhannya. Jika memang keinginan mama Dewi tak menyukai Ayu, aku rela Tuhan , apa pun yang dia inginkan, terjadilah. Selamatkan mama Dewi agar mama Dewi bisa merasakan kehidupan yang lama di dunia ini. Gumam Andrew sepanjang perjalanan menuju ke kediamannya.


Tiba di rumah, Andrew membanting pintu mobil dengan keras. Dia segera masuk ke dalam rumah.


Andrew menghela napas panjang, ternyata begini kelakuan Ayu, jika dia tak berada di rumah. Hanya kedoknya saja sebagai istri yang rajin dan pandai memasak. Lihatlah kali ini Andrew benar-benar menggelengkan kepalanya.


Andrew menuju ke kamar tidur mereka, saat membuka pintu, kamar mereka terlihat berantakan, Ayu masih tertidur lelap di atas ranjang.


"Dasar istri pemalas."


Umpat Andrew tak sabar.


"Ayu bangun!"


Teriak Andrew dengan kasar membuat Ayu terlonjak kaget lalu terbangun.


"Andrew, sejak kapan kamu berada di sini? Kamu sudah pulang?"


Tanya Ayu yang masih mengucek matanya.

__ADS_1


"Bangun dan segera bersihkan diri kamu!" Perintah Andrew kasar. Melihat jarum jam di pergelangan tangannya sudah pukul 09.30.


Sambil menggelengkan kepalanya Andrew beranjak keluar dari kamar.


Terasa pengap tanpa ada sirkulasi udara.


Ayu berusaha menggerakkan tubuhnya, yang terasa lemah sekali. Kepalanya pusing, rasa perutnya tak enak sekali. Saat masuk ke kamar mandi bau pengharum ruangan pun terasa mengaduk-aduk perutnya. Tapi dengan sekuat tenaga, dia berusaha untuk membersihkan diri. Meski aroma sabun cair miliknya semakin membuat perutnya terasa mual. Dan ingin sekali Ayu memuntahkan isi perutnya.


Setelah mandi dan berganti pakaian, Ayu keluar dari kamar. Mendekati Andrew yang saat ini sedang duduk di meja makan.


"Kemarilah," bentak Andrew.


Ayu mendekat, wajahnya pucat. Matanya sembab, mungkin semalaman dia menangis. Entah dia bersedih karena apa, Andrew tak ingin tahu. Tampak jelas lingkaran hitam di matanya, mungkin Ayu kurang tidur.


Andrew tak ingin mengambil pusing dengan keadaan istrinya saat ini.


"Duduklah!" Lagi Andrew membentak Ayu, membuat hati Ayu merasa sakit.


Ingin sekali dia menangis, tapi Ayu yakin bisa menahan diri.


Ayu memilih duduk berhadapan dengan Andrew.


"Kamu tahu Ayu, aku sangat mencintai mama Dewi lebih dari apa pun. Aku tak ingin kehilangan mama Dewi. Masih banyak harapan di dalam pikiranku, agar bisa membahagiakan mama Dewi di usianya saat ini. Selama lima tahun, benar aku sangat mencintai kamu Ayu, dari hatiku yang paling dalam, niatku untuk menikahi kamu adalah karena cintaku yang begitu besar untuk kamu. Tapi saat ini, melihat keadaan mama Dewi, jujur ada rasa bersalah di dalam hatiku. Aku akui, aku mulai goyah Ayu. Aku tak tahu lagi caranya, akan mendapatkan cinta mama Dewi bagaimana lagi. Aku minta pada kamu, apa pun yang akan aku katakan sebentar, kamu harus bisa menerima kenyataanya."


Andrew memulai pembicaraan, dan Ayu mendengarkannya penuh perhatian.


"Aku meminta kamu mengemasi semua barang-barang kamu, dan pergilah dari sini!"


Perintah Andrew dingin, tanpa ekspresi.


Mata Ayu membulat tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengarkan dari mulut suaminya.


"Kamu bercanda, Drew?"


Pekik Ayu tak terima.

__ADS_1


__ADS_2