Malam Pengantin Berujung Luka

Malam Pengantin Berujung Luka
Kecelakaan


__ADS_3

Andrew membuka matanya, melihat di sampingnya ada mama Dewi masih tertidur pulas.


"Bagaimana bisa aku tertidur di sini?"


Tanya Andrew di dalam hatinya, sambil memijit kepalanya yang masih terasa sakit.


Gegas Andrew keluar dari kamar mama Dewi, menuju ke kamar mereka. Mencari keberadaan istrinya yang pastinya sejak semalam sedang menunggu dirinya.


Ayu tak terlihat di dalam kamar, Andrew mencari ke dapur.


Melihat Ayu yang sedang sibuk menyiapkan sarapan, Andrew mendekati Ayu.


"Maafkan aku sayang, semalam aku sampai ketiduran di kamar mama."


Andrew menunduk merasa bersalah sudah meninggalkan istrinya semalam.


Ayu berusaha setenang mungkin, dan tersenyum.


"Nggak apa-apa Drew, mama Dewi pasti kelelahan."


"Terima kasih sayang, kalau begitu aku ke kamar dulu yah, mau mandi."


Ayu mengangguk lalu melanjutkan kegiatannya.


Karena mama Dewi tak suka pemborosan, pagi ini Ayu hanya menyiapkan sayur tumis buncis dan ikan gurame goreng. Kemudian menyajikannya di atas meja makan. Dua puluh menit kemudian, Andrew dan Mama Dewi masuk ke ruang makan bersamaan.


Ketiganya lalu duduk bersama.


"Sarapannya cuma ini?"


Mama Dewi berdecak kesal. Melihat menu sederhana hasil masakan Ayu pagi ini.


Membuat Ayu terkejut, menoleh pandangannya ke mama Dewi lalu pada Andrew.


"Andrew, lihatlah istri kamu kok pelit sekali. Masa kamu udah bekerja keras siang dan malam, dan memiliki penghasilan yang sangat besar, menu sarapannya hanya ikan goreng?"


Ayu mengernyitkan dahi, menatap wajah suaminya. Tapi Andrew malah diam, tak berkutik. Sekedar untuk menjawab pertanyaan mama Dewi saja tak ada satu kata pun yang terucap, bahkan untuk sekedar membelanya.


"Iya ma, nanti Andrew meminta Ayu untuk belanja ke pasar."


Andrew lalu mulai menyendok kan makanan ke piringnya.


Sedang mama Dewi terus mengoceh sambil makan.


Hati Ayu sedikit merasa sakit kali ini, kenapa Andrew enggan untuk membela dirinya pagi ini.


"Siang nanti, teman mama akan datang."


Mama Dewi memulai pembicaraan, seakan menekan perkataannya, agar tak ada yang mencela keinginannya.


"Iya ma," jawab Andre mengiyakan tanpa bertanya lagi.


"Tapi teman mama akan menginap di sini beberapa hari."


Tambah mama Dewi lagi, dijawab anggukkan kepala oleh Andrew.


Ayu hanya menunduk mengiyakan saja keputusan suaminya.


"Kalau kalian ke pasar, belilah daging yang banyak, soalnya teman mama yang satu ini sangat spesial. Jadi mama mau kalian menjamunya dengan masakan yang spesial juga buatnya."


Perintah mama Dewi, dia ingin Andrew dan Ayu menjamu temannya dengan sangat baik tanpa ada satu pun kesalahan.


Andrew dan Ayu mengikuti keinginan mama Dewi. Setelah sarapan keduanya keluar untuk berbelanja.


Tepat pukul 18.00 bel rumah berbunyi.


Ayu masih di dapur seperti biasa akan menyiapkan makan malam. Mama Dewi sepertinya masih di kamar mandi. Terpaksa Andrew bergegas menuju pintu depan, dan membuka pintu.


Saat pintu dibuka, Andrew sangat terkejut sekali melihat kedatangan tamunya kali ini, wajah yang sangat tak asing baginya. Masih sama seperti dulu, kecantikannya, dan tubuhnya yang molek dengan pakaian yang memperlihatkan lekukkan tubuhnya dengan sangat jelas, membuat Andrew dalam hatinya merasa berdegup kencang.


"Nak Fahira," teriak mama Dewi menyambut tamunya itu.


Keduanya berpelukkan manis, sambil mama Dewi mempersilahkan dirinya masuk ke dalam rumah.


"Andrew, tolong angkat koper Fahira. Bawa masuk ke kamar tamu." Titah sang mama.


Andrew langsung kaget dari lamunannya.


"Tapi ma."

__ADS_1


Andrew keberatan dengan keinginan mama Dewi kali ini.


"Bawa masuk, cepat!"


Andrew menggelengkan kepalanya, kenapa mama Dewi bertindak sejauh ini padanya.


Di dapur mama Dewi sibuk dengan Fahira, menyuruh Ayu membuatkan teh hangat dan menyiapkan camilan padanya. Berbeda sekali dengan perlakuannya pada Fahira. Meski gadis itu mengenakan dress berwarna lilac di atas lutut. Mama Dewi terlihat biasa saja. Sedang jika pada Ayu, bahkan daster lebar pun akan dikomentari, apa lagi jika memakai pakaian minim seperti Fahira.


"Ayu, apa masakannya sudah siap? Fahira sudah lapar."


Teriak mama Dewi, seakan tak ingin tamunya saat ini merasa kelaparan.


"Sebentar ma."


Ayu menghidangkan makanan di atas meja lalu duduk bersama mereka.


"Ayu jangan duduk di situ, berdirilah di dekat Andrew. Layani kami dan Fahira!"


Perintah mama Dewi membuat mata Andrew membulat.


"Jangan mencoba membantah mama. Fahira ini datang dari tempat yang jauh. Jadi dia harus dilayani dengan baik di sini. Mama nggak mau, sahabat mama, ibu Fahira akan memarahi mama karena nggak bisa menjaga Fahira dengan baik di sini!"


Tegas mama Dewi, Ayu hanya diam dan mengikuti.


"Lihat penampilan kamu Ayu, daster kamu yang longgar dan bau busuk dari dapur memenuhi ruang makan, sangat mengganggu kami. Sana kamu tunggu kami selesai makan, tunggulah di dapur."


Usir mama Dewi kasar.


"Mama, kenapa mama sangat kasar pada istri Andrew?"


Pekik Andrew, lalu berdiri menggenggam tangan Ayu lalu mengajaknya masuk ke kamar.


Reaksi Andrew membuat Mama Dewi memegang dadanya. Lalu menangis tersedu-sedu.


"Ini semua salah Ayu. Aku akan membuat perhitungan dengannya."


Gumam mama Dewi, merasa sakit hati dibentak oleh puteranya.


Di kamar, Andrew menenangkan istrinya.


"Maafkan mama Dewi ya sayang."


"Andrew, cepat bantu mama Dewi!"


Teriak Fahira membuat Andrew panik dan segera keluar dari kamarnya dan mengangkat tubuh mama Dewi masuk ke kamar.


Sampai tengah malam, Andrew belum juga keluar dari kamar mama Dewi. Ayu pun tertidur dengan air mata yang berlinang.


Sejak kejadian malam itu, Andrew menjadi pendiam. Dia tak banyak bicara, walau Ayu menyadarinya tapi selalu tak ada waktu untuk duduk dan berbicara dengan suaminya berdua. Mama Dewi selalu memiliki banyak alasan agar Andrew tak bersama Ayu.


Sudah hampir tiga minggu, mama Dewi dan Fahira di rumah. Setiap malam ada saja keinginan untuk memisahkan menantunya dengan sang anak. Jika Andrew masuk ke dalam kamar mama Dewi, dia akan berakhir tidur di sana.


Ingin sekali Ayu protes dengan kelakuan Andrew. Namun mama Dewi selalu saja punya ide buruk untuk memojokkan Ayu. Saat Andrew pergi bekerja, Ayu bahkan menjadi pembantu Fahira. Semua keperluan Fahira dan mama Dewi, Ayu harus mengurusnya. Memasak dan mencuci serta menyetrika pakaian mereka.


"Mam, kapan mama mempercepat rencana mama buat Fahira?"


Tanya gadis cantik itu pada mama Dewi. Ayu sempat mendengarnya, tapi segera dipergoki oleh mama Dewi. Membuat mama Dewi menyuruh Ayu bekerja lebih banyak lagi. Sementara Ayu bertanya-tanya rencana apa yang akan dilakukan mama Dewi.


Saat Andrew pulang bekerja, mama Dewi akan menyuruh Ayu masuk ke kamar dan membuat seakan-akan seharian penuh Fahira bekerja membersihkan rumah dan memasak. Sedang Ayu hanya duduk di dalam kamar sepanjang hari.


"Kamu kenapa cuma duduk di dalam kamar seharian, nggak membantu mama dan Fahira membereskan rumah kita?"


Tanya Andrew dengan ketus.


"Andrew, kamu nggak percaya sama aku?"


Ayu terkejut dengan tuduhan Andrew.


"Ahh sudahlah!"


Bentak Andrew, dia lelah seharian bekerja. Di rumah malah mendapat pengaduan dari mama Dewi.


"Lihat kelakuan istri kamu. Fahira sudah lelah sepanjang hari memasak dan mencuci pakaian, lalu membersihkan rumah. Lalu apa peran istri kamu di dalam rumah ini, nak?"


Wajah Andrew memerah menahan malu di depan Fahira.


Matanya menatap sinis pada Ayu, membuat apa pun yang dilakukan oleh Ayu serba salah.


****

__ADS_1


Pagi ini ada yang kurang, Ayu tak keluar dari kamarnya. Sedang Andrew akan bersiap ke kantor. Malam tadi, Andrew seperti biasa masih tidur di kamar mama Dewi atas permintaannya.


Sarapan pagi kali ini disiapkan oleh mama Dewi.


"Punya menantu kerjaannya cuma tidur dan nggak ada tanggung jawab sama sekali. Kasihan sekali putraku, bagaimana kalau mama nggak ada di sini, siapa yang akan menyiapkan sarapan untuk putera mama?"


Andrew melihat istrinya yang masih terbaring di atas ranjang. Wajahnya pucat, keningnya berkeringat. Ada rasa iba di dalam hatinya. Dan tergerak untuk mendekatinya.


"Sayang, kamu kenapa?"


Andrew membangunkan istrinya.


Ayu menggeleng lemah. Dia tak ingin mengeluh di depan suaminya itu.


Andrew meminta Ayu bangun dan menuju ke ruang makan agar sarapan bersama. Melihat Andrew memapah Ayu ke ruang makan, mulut mama Dewi terus mengoceh tak jelas. Fahira yang duduk di sebelah mama Dewi terlihat santai menikmati sarapannya.


"Bagus yah, udah bangun kesiangan. Nyonya Ayu tinggal menikmati sarapan buatan pembantu," sindir mama Dewi.


Membuat Ayu merasa tak enak.


Andrew mengambil nasi ke piring Ayu. Bau uap nasi dari piring, terasa sedang mengaduk perut Ayu.


HHHOOOOEEEKKK


Sepertinya Ayu merasa ingin muntah saat merasa uap nasi itu masuk ke hidungnya.


"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Andrew panik.


Ayu tak bisa menjawab, dan berlari kecil menuju ke kamar mandi belakang. Diikuti oleh Andrew. Ayu memuntahkan isi perutnya hingga lelah, keringat dingin mengucur di keningnya. Isi muntahannya hanya air saja.


Hoooeeekkkk


Andrew membantu Ayu, dan mengajaknya keluar lalu kembali duduk di meja makan.


Mama Dewi terlihat menangis ditenangkan oleh Fahira.


"Kamu kalau membenci mama, katakan Ayu. Jangan kamu hina mama hingga masakan mama kamu mengotori dengan muntahan kamu."


Mama Dewi terus menangis dan mengoceh.


"Maafkan Ayu ma, Ayu nggak sengaja. Ayu juga nggak tahu kenapa bisa seperti ini."


Ucap Ayu kebingungan.


Sampai akhirnya mama Dewi berdiri.


"Mama merasa sakit, kalau dihina seperti ini. Lebih baik mama pergi saja dari rumah ini!"


Huuhuhuhuhu


Mama Dewi terus menangis lalu keluar dari rumah. Membuka gerbang, lalu berlari menjauh dari rumah putranya.


"MAMA."


Panggil Andrew, saat ini dia dilema, membela istrinya atau mamanya. Andrew memilih mengejar mama Dewi. Karena dia tahu mama Dewi belum tahu jalanan kota besar di luar sana itu seperti apa.


Ayu hanya menatap bengong kepergian suaminya. Sedang Fahira menatap sinis ke arahnya.


"Berhenti mama."


Andrew terus mengejar mama Dewi, yang sudah berlari kencang hingga ke persimpangan jalan.


Ckkkkiiittttttt


Suara rem mendadak sebuah mobil membentur keras tubuh mama Dewi. Hingga jatuh terguling dan kepalanya terbentur trotoar.


Tepat di depan mata Andrew. Kejadian yang begitu sangat cepat, membuat Andrew shock.


"MAMA."


Teriak Andrew histeris.


Kerumunan warga melihat kejadian itu, langsung bergerak cepat. Membawa tubuh mama Dewi menuju ke Rumah Sakit.


"Semua karena kamu Ayu!"


Andrew mengepalkan tangannya.


"Jika saja terjadi sesuatu pada mama, lihat saja nanti kemarahan ku!"

__ADS_1


Gumam Andrew, sambil mengikuti mobil yang membawa mama Dewi menuju ke Rumah Sakit.


__ADS_2