
"Kamu kenapa pa?"
Tanya mama Dewi, heran melihat reaksi suaminya. Tiba-tiba tersedak, seakan sedang kaget.
"Harusnya papa senang, Andrew akan dijodohkan dengan Fahira. Dia itu putri teman mama. Yang kita sudah tahu dari keluarga mana dia berasal. Ayu itu anak petani yang sawahnya aja, yang hasilnya juga tak cukup untuk makan sendiri. Tak ada penghasilan lain juga. Bayangkan jika kita harus berdiri bersama keluarganya. Mau ditaruh di mana muka kita ini," ucap mama Dewi.
Membayangkan keluarganya yang terpandang di desa, harus berdampingan dengan keluarga Ayu yang tak ada apa-apa untuk dibanggakan.
Sedang Fahira dan keluarganya sudah dikenal baik oleh keluarga Andrew. Dan papa Fahira adalah pengusaha ternak yang cukup terkenal di desa sebelah. Lalu di mana letak kekurangannya Fahira.
Papa Danu malah diam tak ingin menjawab.
Mama Dewi sangat senang merendahkan status Ayu di hadapan Andrew. Berharap Andrew semakin jauh dari Ayu. Padahal belum juga mereka berstatus cerai secara resmi.
"Tapi tante, bagaimana bisa menikah, jika status Ayu masih menjadi istri Andrew," keluh Fahira perlahan, sambil menunduk, khawatir jika mata papa Danu masih terus memperhatikannya.
"Kalau urusan itu tak usah diambil pusing. Kamu tunggu beresnya aja, ya nak"
Ungkap Mama Dewi menenangkan Fahira.
Membuat hati Fahira sedikit lega. Biar bagaimana pun, dia tak ingin menjadi yang kedua dalam.pernikahannya nanti dengan Andrew nanti. Tapi ingin menjadi satu-satunya dalam hati Andrew.
"Andrew, segera urus proses perceraian kamu sama Ayu. Mama tak ingin menunda-nunda lagi pengen cepat memiliki cucu dari kalian," tegas mama Dewi.
Sejauh ini apa pun yang diinginkan oleh Mama Dewi selalu harus dipenuhi. Dan Andrew selalu mengikuti kehendaknya. Kadang papa Danu tak menyukai beberapa keinginan mama Dewi yang terlalu berlebihan baginya.
Fahira tersenyum senang, sedikit lagi rencananya akan berhasil.
Papa Danu menggelengkan kepalanya, tak mengerti jalan pikiran Andrew. Baru satu bulan yang lalu dia bersikeras untuk menikahi Ayu. Walau tanpa persetujuan kedua orang tuanya, Andrew masih memilih tetap menikahi Ayu. Dan lihatlah, perubahannya selama istrinya masuk campur dalam hidup rumah tangga putra mereka satu-satunya.
Kini dengan mudahnya Andrew menuruti permintaan mama Dewi. Ada apa sebenarnya, apakah ini murni keinginan mama Dewi ataukah ada dorongan lain. Papa Danu memilih mengikuti alurnya. Suatu saat pasti akan terungkap alasan yang sebenarnya.
Setelah makan siang Andrew mengajak mereka pulang ke rumah. Ketika pintu dibuka, mama Dewi menggelengkan kepalanya.
"Rumah ini jorok sekali."
Mama Dewi menatap isi sekeliling rumah. Bahkan piring-piring kotor yang tertinggal sebelum mama Dewi masuk rumah sakit, masih menumpuk di westafel pencuci piring.
"Biar Fahira yang akan bersihkan tante," ucap Fahira, seakan mengerti mata mama Dewi memperhatikan detail rumah yang ditinggalkan mereka beberapa hari ini. Tapi dalam hatinya terasa dongkol sekali.
Bagaimana bisa Ayu meninggalkan rumah dengan keadaan kotor seperti ini. Harusnya kemarin dia menyuruh Ayu untuk membersihkan rumah dahulu. Kalau begini kan, jadi Fahira yang repot sendiri.
"Terima kasih nak Fahira, kamu memang adalah calon menantu idaman."
__ADS_1
Mama Dewi tersenyum bahagia sekali rasanya, memiliki calon menantu seperti Fahira. Sudah cantik, dia juga keturunan orang berada. Membuat mama Dewi semakin yakin, kalau keputusannya adalah yang terbaik bagi putranya.
Sedikit lagi, warisan keluarga Fahira akan berpindah tangan pada putranya.
Apa lagi yang akan dipikirkan mama Dewi, selain meyakinkan Andrew agar mau menikahi Fahira secepatnya.
Mama Dewi diantar ke kamarnya oleh Andrew. Sementara Fahira berusaha untuk menjadi calon menantu yang baik bagi orang tua Andrew.
"Kamu yakin kalau kamu akan menikahi putraku?"
Tanya Papa Danu yan tiba-tiba mengagetkan Fahira dari belakang. Dia sedang fokus mencuci piring-piring kotor, yang beberapa nya sudah
penuh dengan jamur.
Fahira menoleh dan tersenyum menyeringai.
"Selama papa Danu menyembunyikan rahasiaku, selama itu pula aku akan aman," jawab Fahira dengan enteng.
Berusaha tenang walau sebenarnya ingin sekali dia melenyapkan pria paruh baya di hadapannya ini. Papa Danu, tersenyum menyeringai.
"Baguslah, jika kamu menikahi Andrew. Aku semakin memiliki banyak kesempatan."
Ucap papa Danu berlalu pergi.
****
Seperti permintaan mama Dewi, Andrew terus memikirkan cara. Pekerjaan kantor sampai tak bisa diselesaikan seharian penuh Andrew memegang kepalanya yang terasa pusing. Hingga pukul 18.00 saat dia akan pulang.
Andrew mengambil pinselnya, lalu mengetikan pesan singkat pada Ayu.
"Temui aku di cafe biasa. Ada yang ingin aku sampaikan pada kamu. Penting!"
Terkirim.
Lima menit kemudian sebuah pesan singkat masuk di nomor Andrew.
"Aku nggak bisa sekarang. Kalau kamu mau besok pagi saja."
Balas Ayu singkat.
"Nggak bisa sekarang, memangnya Ayu bekerja hingga dia membalas pesanku sudah seperti orang sibuk.
Andrew mengumpat.
__ADS_1
***
Lagi Ayu meneteskan air matanya, baru saja dia merasa bahagia ponselnya mendapat pesan dari sang suami. Tapi kenyataannya, Andrew tak perduli pada dirinya. Sekedar bertanya apa kabar, atau bertanya Ayu tinggal di mana.
Andrew sudah sangat berubah drastis, tak ada lagi perasaan sayang dan perduli itu lagi semasa pacaran dahulu. Bahkan sebulan yang lalu sebelum melangsungkan pernikahannya.
Sakit rasanya, mendapati perasan suaminya langsung berubah secepat ini. Ayu tak ingin berlama-lama meratapi kesedihannya. Dia akan menemui Andrew besok. Apa pun yang menjadi keinginan Andrew, Ayu akan terima.
Dia tak ingin jatuh hanya karena seorang pria.
Jika Andrew sudah tak memiliki perasaan padanya, lalu untuk apa dia menangisinya lagi.
Keesokan harinya, Ayu sudah lebih dahulu tiba di cafe yang dijanjikan oleh Andrew.
Baru sepuluh menit kemudian Andrew muncul dari arah pintu depan cafe.
Wajah Andre terlihat serius, tak ada lagi kehangatan yang terpancar di matanya untuk Ayu.
Ayu segera menepis perasan sedihnya. Jangan sampai dia harus menangis di hadapan Andrew. Sebagai prinsipnya Ayu tak ingin mengemis cinta dari seseorang. Jika orang itu tak perduli lagi padanya, Ayu tahu apa yang harus dia lakukan. Meski, sebenarnya sakit dan perih sekali rasanya.
Jauh di dalam lubuk hatinya, Ayu sangat pandai untuk menyembunyikan kesedihannya.
Sehingga tak akan ada yang pernah tahu suasana hati Ayu seperti apa.
Setelah duduk tanpa basa-basi, Andrew mengambil sebuah amplop berwarna coklat dari tas kerjanya. Lalu menyodorkannya pada Ayu di atas meja.
"Apa ini?"
Tanya Ayu mengernyitkan dahi.
"Bukalah saja, nanti kamu akan tahu apa isi amplop itu," jawab Andrew dingin, tak ingin menatap mata Ayu terlalu lama.
Dengan perlahan Ayu membuka amplop berwarna coklat itu. Membacanya dengan hati-hati.
Sebenarnya hati Ayu juga terasa tak baik-baik saja saat membuka isi amplop itu. bagaimana jika itu tak sesuai dengan yang diharapkan olehnya.
Ayu membaca secara perlahan, lima menit kemudian , Ayu tak tahu harus berbuat apa.
Membaca surat ini dengan hati yang berkecamuk. Sakit dan perih bercampur aduk menjadi satu. Ayu menatap lekat mata Andrew, dia ingin melihat apakah masih ada dirinya di mata suaminya namun, sayang mata itu kini telah berubah.
Pengaruh mama Dewi sungguh sangat luar biasa. Di mana janjinya sebelum menikah, dia akan membahagiakan Ayu. Nyatanya bukan kebahagian yang Andrew berikan namun luka yang begitu sakit.
Ayu menyodorkan surat itu pada Andrew, lalu bertanya.
__ADS_1
"Apa maksudnya ini?"