
Pernikahan itu begitu mewah bahkan semua tamu yang datang pun begitu terkesima akan pesta pernikahan yang diadakan saat ini dan dirinya merasa seperti seorang wanita yang begitu beruntung dimiliki oleh pria yang tampan ini, begitu banyak orang yang memuji suaminya ini membuat senyuman dibibir merahnya semakin merekah indah.
"Kakak, selamat atas pernikahanmu?"
"Terima kasih Marmaria."
Dalam pelukan itu tentunya dia tidak bisa menyembuhkan kebahagiaannya dari sang adik sehingga dirinya pun mengucapkan rasa terima kasihnya kepada sang adik akan kehadirannya di sini.
"Kakak selamat."
"Terima kasih, Olia."
Setelah memberikan pelukan itu dirinya membiarkan sang adik memberikan selamat pada suaminya namun pelukan diantara mereka sudah memberikan kesan yang aneh untuknya tapi dia mencoba untuk menenangkan dirinya karena mungkin saja adik bungsunya ini hanya memberikan ucapan selamat pada suaminya.
"Olivia, apakah kau bahagia dengan pernikahanmu dengan Nicolas?"
Pertanyaan itu membuat Olivia Keller kebingungan saat temannya ini datang, dari sekian banyak ucapan selamat yang dia dapatkan dan hanya dari temannya ini yang memberikan pertanyaan apakah dia bahagia dengan pernikahan ini. Memang terasa bingung namun Olivia hanya bisa memberikan anggukan bahagia dengan senyuman senang.
"Apa itu bahagia?"
Setelah kelahiran sang anak pertama kini Olivia dapat memahami pertanyaan itu, dirinya memahami semuanya akan pertanyaan yang masih menjadi tanda tanya itu namun kini dirinya sudah mendapatkan jawabannya dan tidak ada kebahagiaan diwajahnya setelah setengah tahun dia menikah.
"Tidak apa, setidaknya aku memilikimu, anakku."
Kecupan lembur itu Olivia berikan pada kening sang anak, senyuman itu terlihat menyedihkan saat di hari dia sedang melahirkan sang suami tidak ada di sini dalam menemaninya memperjuangkan anak pertama mereka, tangisannya pun hampir saja pecah jika saja dirinya tidak mengingat anaknya ada di sini.
"Tidak ada kebahagiaan lainnya selain melahirkanmu, sayang."
Air mata itu turun dari pelupuk matanya yang cantik, mencoba untuk melupakan beban pikirannya yang sulit untuk dia benarkan. Hatinya terasa cukup sakit akan suaminya yang tidak ada di sini tidak menemani dirinya saat memperjuangkan anak mereka. Kesibukannya begitu penting sehingga dirinya berada di sini.
Beberapa hari telah berlalu dan Olivia kini telah diizinkan untuk pulang dari rumah sakit, kepulangannya yang seorang diri tentunya memberikan tatapan bingung bagi para perawat yang melihatnya hanya seorang diri sejak awal di rawat.
"Kau sudah pulang, ini anak kita?"
Olivia tidak berkata apa pun saat anak yang dia gendong langsung dirampas oleh suaminya yang begitu bahagia saat melihat kelahiran anak mereka, meskipun Nicolas Sinclair tidak hadir dalam perjuangannya namun dia merasa cukup senang akan wajah bahagia dari suaminya saat melihat anak pertama mereka.
"Setelah ini aku bisa memberikan anak pertama kita pada temanku, aku sudah berjanji kepada mereka akan memberikan anak kita untuk bisnisku."
"Apa, kau bercanda bukan. Dia masih sangat kecil, kau tidak bisa memisahkanku dengan anakku, Nicholas?"
Olivia yang tidak menerima usulan itu mencoba untuk menghentikan suaminya yang ingin membawa pergi anak mereka sehingga tangisan dari sang anak terdengar menganggu bahkan tangisannya pun tidak membuat suaminya kasihan akan dirinya yang baru saja menjadi sosok ibu.
"Aku mohon jangan Nicolas, aku mohon jangan pisahkan aku dengan anakku?"
PLAK.
"Aku adalah suamimu, dengarkan apa yang aku katakan!?"
Pipinya yang ditampar sampai tubuhnya terjatuh pun tidak membuat suaminya kasihan sehingga dirinya melangkah pergi dengan membawa anaknya yang baru saja dia lahirkan, tangisannya yang menyedihkan tentunya membuat beberapa pelayan langsung membantunya untuk bangun dari jatuhnya.
"Anakku hiks... anakku."
Tangisannya tidak bisa dia hentikan begitu saja hanya karena dia dipisahkan dari anak yang dia lahirkan dari rahimnya, para pelayan yang menyaksikan kesedihan ini tidak berbuat apa selain menenangkannya dan mencobanya untuk menguburnya namun usaha mereka tetap sia-sia.
"OLIVIA!!!"
Teriakan itu membuat Olivia melihat ke arah suaminya yang sedang menggendong seorang bayi, dirinya baru saja dipisahkan sang anak selama satu hari lalu kenapa dia dibawa kembali yang membuatnya langsung bangun dari duduknya dan mencoba untuk merebut anaknya dari tangan suaminya.
__ADS_1
"Aku akan memberikan anak ini kepadamu dengan satu syarat?"
"Bagaimana bisa kau memperlakukan aku begini?"
Olivia sangat tidak mengerti akan pemikiran Nicolas yang memberikan sebuah persyaratan kepadanya agar dirinya bisa mendapatkan anaknya kembali, kenapa dia menjual anaknya sendiri kepada temannya yang tidak subur. Kenapa harus anaknya yang menjadi korban.
"Aku akan membiarkanmu merawat anak kita sampai dia berusia lima tahun dan setelah itu dia akan aku kembalikan kepada temanku, setuju atau tidak aku tidak membutuhkan itu darimu."
Dirinya baru saja merasa bahagia karena sang anak bisa dia peluk namun kini suaminya bertindak kejam lagi kepadanya akan persyaratan kejam darinya, bagaimana bisa dipisahkan lagi oleh anaknya ini. Kenapa dia membuat kesepakatan yang tidak masuk akal itu.
"Tidak apa, sekarang kau ada dipelukan ibumu, sayang."
Dengan mengecup dan memeluk tubuh sang anak kemudian Olivia melangkah ke atas kasurnya, memeluknya dalam tangisan yang tidak bisa dia tahan lagi. Isak tangisannya membuat para pelayan yang masih ada di sana hanya bisa menundukkan kepala mereka akan kedukaan nona mereka ini.
"Hiks... kenapa hiks..."
Tiada hari tanpa tangisan tentunya membuat siapa pun akan merasa sangat kasihan dengan keadaan Olivia yang seperti ini, pernikahan mewah dan bahagia itu tidak menjamin jika dia akan bahagia setelah menjalani hubungan rumah tangganya dengan Nicolas.
Dalam sentuhan lembutnya Olivia membesarkan anaknya ini bahkan dirinya pun kembali hamil lagi setelah beberapa bulan anak pertamanya baru bisa berjalan, entah hal apa lagi yang diinginkan suaminya namun yang terpenting untuknya saat ini adalah kebersamaannya dengan sang anak.
"Ivan, coba sini dengarkan adikmu?"
Kakinya yang terasa sangat sulit untuk melangkah itu mencoba untuk memaksakan diri dan membaringkan kepalanya tepat di perut sang ibu, pipinya yang seperti ditendang membuat pandangan matanya melihat kepada sang ibu dengan tatapan takjub.
"Di dalam sini ada adikmu, mama ingin Ivan akan menjadi kakak yang baik dan melindungi adik nanti ya?"
"Iya, mama."
Senyuman lembut itu Olivia berikan sembari mengelus rambut merah anaknya ini, meksipun sang anak memiliki darah keturunan dari Nicolas namun Olivia tidak pernah membenci anaknya sendiri bahkan dia sangat mencintainya dan tidak akan rela harus dipisahkan suatu hari nanti.
"Mama... jangan... menangis..."
Suara yang masih terdengar cadel itu membuat Olivia tidak bisa menghentikan tangisannya meskipun tangan kecil dan lembut itu menghapusnya dari pipinya, bagaimana bisa dirinya sanggup harus dipisahkan dari anaknya ini.
Makan malam yang sunyi dan dingin ini terasa aneh untuk Olivia saat melihat suaminya yang berpakaian rapi, entah siapa yang ingin dia temui namun Olivia tidak akan peduli kepada siapa suaminya akan bersama selagi dirinya tidak mengetahui itu karena saat ini yang dia inginkan hanya satu yaitu kebersamaannya dengan anak-anaknya.
"Besok aku akan membawa Ivan untuk menemui kedua orang tua barunya."
"Hah, dia baru berumur empat tahun, tidak bisakah kau menunggu satu bulan lagi agar dia bisa berumur lima tahun?"
Tatapan mata itu terlihat marah akan penolakan dari Olivia yang sangat tidak ingin dipisahkan dari anaknya, dirinya yang tau hal apa yang akan terjadi setelah ini tentunya tidak bisa berbuat apa pun lagi selain pasrah menerima amukan dari suaminya.
PLAK.
"Ini keputusanku, jangan membantah!"
Rambutnya yang ditarik bahkan wajahnya yang ditampar seperti sudah tidak terasa lagi untuk Olivia sampai suaminya pergi pun tangisan itu baru dia sampaikan, bagaimana bisa suaminya begitu tega kepadanya dan anak mereka hanya untuk pekerjaannya sehingga mengorbankan anak mereka.
"Mama."
"Ivan?"
Kaki kecil itu berlari untuk mendekat padanya, memeluknya dengan tangisan yang pecah dikedua matanya sehingga Olivia pun mencoba untuk menahan tangisannya dan tersenyum seperti tidak terjadi sesuatu yang aneh meskipun dirinya menyaksikan secara langsung bagaimana ibunya diperlakukan buruk.
"Mama, baik-baik saja hiks... mama, jangan menangis?"
"Mama tidak menangis, Ivan juga jangan menangis nanti adiknya jadi sedih."
__ADS_1
Kalimat itu membuat matanya langsung menatap pada perut ibunya dan mengelusnya lembut, tangisannya dia coba untuk hentikan meskipun tidak bisa namun tetap saja kesedihannya saat melihat ibunya dipukul seperti itu siapa pun akan merasa sangat sakit hati.
"Ivan tidak akan menangis, Ivan tidak akan membuat mama menangis, Ivan tidak akan membuat adik menangis."
"Ivan harus menjadi kakak yang kuat untuk adik Ivan ya, harus bisa melindungi mereka."
Anggukan itu dia berikan akan perkataan sang ibu dan mencoba untuk tetap mempertahankan tangisannya untuk tidak turun namun tetap saja tidak bisa, Olivia yang melihat itu hanya bisa diam dan membiarkan anaknya terus menangis saat melihat kejadian yang menyakitkan itu.
"Ivan, mau berjanji dengan mama?"
"Berjanji apa?"
Tangisannya terhenti saat sang ibu memintanya untuk berjanji kepadanya, kedua tangan dengan jemari lentik itu menghapus air mata yang turun di kedua pipi anaknya ini. Mungkin ini akan menjadi yang terakhir kalinya dia akan melihat wajah anaknya.
"Berjanjilah jika Ivan akan menjadi anak yang baik meskipun tidak bersama mama ya?"
"Tidak hiks... Ivan mau sama mama, Ivan tidak mau berpisah dari mama hiks... tidak mau!"
Olivia sengaja mengatakan kalimat itu agar Ivan bisa menerima kenyataan jika besok adalah hari terakhir mereka akan bersama, Olivia tidak akan bertanya lagi ke mana anaknya pergi karena jika dia mengetahui itu maka keinginannya untuk mengajak sang anak pulang akan semakin tinggi.
"Berjanjilah Ivan, meksipun Ivan terpisah dengan adik Ivan nanti jangan pernah lepaskan pengawasan Ivan dari mereka, pastikan Ivan selalu sayang dan melindungi adik Ivan ya?"
"Iya, Ivan berjanji hiks... hwaaaaa!"
Meskipun perasaan cukup tenang mendengar jawaban itu namun Olivia tau jika anaknya ini tidak akan sanggup berpisah dari dirinya, hatinya berharap anaknya akan baik-baik saja bersama keluarga barunya meskipun itu terdengar sangat mustahil terjadi namun Olivia berharap banyak akan semua itu.
Pagi itu Olivia sudah mempersiapkan Ivan dengan pakaian kesukaannya, ini akan menjadi perpisahan yang menyedihkan, tidak ada tangisan atau pun teriakan yang Olivia dengarkan dari anaknya bahkan dia terlihat sangat tenang dengan senyuman dibibirnya.
"Ivan meskipun Ivan tidak ada di sisi mama tapi mama akan selalu bersama Ivan selamanya, Ivan berjanji jangan pernah pergi menemui maka tanpa izin mereka ya?"
"Ivan janji akan kembali dan membawa mama pergi nantinya."
Senyuman lembut itu Olivia berikan kepada sang anak dengan senang, begitu beratnya dia ingin melepaskan sang untuk diberikan kepada keluarga barunya namun dirinya jauh lebih tenang jika anaknya tidak menjadi sasaran amarah dari suaminya yang kejam ini.
"Selama Ivan tidak ada maka adik yang akan menemani mama, jadi mama jangan menangis ya?"
"Iya, mama tidak akan menangis."
Setelah kalimat janji dan pelukan hangat itu diberikan barulah Olivia mengajak sang anak pergi dari kamarnya, mengantarkannya pergi ke luar rumah dan terlihat kedua keluarga barunya sudah menanti kehadirannya untuk segera membawanya pergi dan ini semakin membuat hati Olivia sakit.
"Selamat tinggal, anakku."
Kepergiannya tanpa ada tangisan tentunya membuat Olivia merasa sangat tenang karena Ivan bisa bersikap dewasa akan keadaannya meskipun dia tidak tau akan nasib anaknya di sana bagaimana tapi hatinya berharap banyak.
"Tolong jaga Ivan, bagaimana pun dia adalah anak yang sangat aku cintai."
"Tentu, kami akan menjaganya."
Kedua pasangan ini pun berlalu pergi dengan kalimat yang membuat Olivia ragu. Kepergian mobil itu membuat hatinya tidak bisa melangkah pergi dari tempatnya, usianya yang masih belia sudah dipisahkan dari anaknya yang kecil. Hatinya tetap berharap akan keadaannya baik-baik saja di sana.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1