
Sudah beberapa tahun berlalu dalam ketenangan ini Olivia merawat dan membesarkan anaknya ini, hatinya terasa tenang saat itu namun malam ini dirinya merasa ada yang aneh akan keadaan ini. Hatinya berkata jika ada suatu hal yang akan terjadi dengan anaknya ini meskipun dia tidak tau hal apa itu.
"Mama, kenapa mama belum tidur?"
"Mama belum mengantuk."
Kedua matanya memandang wajah sang ibu yang terlihat cemas akan suatu hal, dengan bingung dirinya melihat langit malam di luar kaca kamar ini, di tengah malam yang sunyi ini ibunya masih belum tidur. Apakah ada sesuatu yang menganggu pikirannya atau ini berhubungan dengan adiknya yang masih dia kandung.
"Apakah adik mengganggu mama lagi?"
"Hei, dia tidak mengganggu hanya saja ingin segera bermain dengan kakaknya ini."
Senyuman itu Olivia berikan kepada sang anak dengan menegur kalimatnya itu, keadaan yang sangat aneh meskipun Nicolas sangat jarang ada di rumah namun hatinya tau jika ada suatu hal yang terjadi nantinya tapi dia tidak tau hal apa itu.
"Mama, kapan iqbal akan bertemu Kak Ivan, ingin rasanya Iqbal bertemu dengan Kak Ivan?"
"Nanti Iqbal akan bertemu dengannya, saat ini dia sedang tidak diperbolehkan untuk menemui kita tapi percayalah suatu hari nanti dia akan datang."
Anggukan itu dia berikan sembari memeluk tubuh sang ibu, sejak kecil dirinya sudah diperkenalkan pada sosok kakaknya meskipun hanya melalui fotonya saja tapi mendengar kisahnya dari sang ibu akan sosok kakaknya yang terpaksa pergi dari rumah ini tentunya membuat Iqbal berpikir jika dia harus segera bertemu dengannya agar kerinduan sang ibu bisa terbayarkan.
"Mama berharap Ivan segera pulang dan berkumpul dengan kita."
"Tentu, Iqbal pun berharap demikian."
Meskipun Olivia berharap akan hal tersebut namun siapa menduga di pagi yang indah itu dirinya terbangun dengan perasaan yang semakin cemas, pandangan matanya tidak bisa lepas dari sosok anaknya yang saat ini sedang duduk dengan menghadap Nicolas.
"Kedua orang tua barumu sudah menunggu di depan, Iqbal?"
"Apa, apa maksudmu?"
Olivia mencoba untuk menenangkan perasaannya dengan memeluk sang anak, apakah dia salah mendengar atau bagaimana karena dia dapat mendengar dengan cukup jelas jika suaminya berkata jika kedua orang tua baru anaknya ini sedang menunggu. Apakah suaminya ini kembali menjual anak mereka.
"Iqbal akan dibawa oleh keluarga barunya."
"Apa yang kau lakukan, kau menjual anakmu lagi!?"
Cukup sudah Olivia menahan penderitaan ini, dirinya bisa saja melepaskan Ivan untuk keluarga yang tidak dia kenal itu tapi tidak dengan Iqbal, bagaimana pun dirinya memberikan cinta dan kasih sayang untuknya sehingga dia tumbuh besar seperti ini jadi mustahil untuknya membiarkan anaknya dibawa pergi lagi.
"Ini kesepakatanku dengan mereka, anak pertamanya menginginkan seorang kakak jadi aku menawarkan Iqbal untuk diambil oleh mereka dengan jaminan sahamnya diberikan kepadaku."
"Kau keterlaluan, kau sudah menjual Ivan dan sekarang kau menjual Iqbal, kau manusia tidak bermoral, hahhh... kau bajingan!"
Nicolas yang mendapatkan penghinaan itu dari istrinya menjadi kesal dan langsung menarik tangan Iqbal untuk lepas dari pelukan Olivia yang menolak terpisah dari anaknya ini, bagaimana bisa perasaannya dipermainkan seperti ini terus dan menyaksikan anaknya silih berganti pergi dari pelukannya.
"Jangan lakukan ini kepada Iqbal, tidak cukupkah kau memisahkan aku dari Ivan!?"
PLAK.
"Mama?"
Menyaksikan ibunya yang dipukul seperti itu tentunya Iqbal merasa sangat kasihan namun dirinya tidak bisa melawan akan tarikan tangan sang ayah yang membawanya pergi, tangisan ibunya yang menyedihkan membuat Iqbal terdiam dengan perasaan yang sangat terguncang.
__ADS_1
Mengetahui kebenaran jika selama ini sang kakak tidaklah pergi melainkan dijual oleh ayahnya sendiri tentunya sangat menyakitkan untuknya, dirinya tidak pernah mengenal bagaimana sosok ayahnya ini bahkan untuk berbicara dengannya pun Iqbal tidak pernah memiliki itu namun kejadian itu membuatnya sadar jika ayahnya adalah seorang bajingan.
"Hiks... Iqbal, anakku hiks..."
Perpisahan ini terjadi sangat mengejutkan bahkan Olivia belum sempat mengucapkan kalimat apa pun untuk anaknya akan keadaan yang mengejutkan ini, tangisannya yang menyedihkan membuat Bunga sang pelayan langsung membantunya untuk bangun dari tempatnya.
"Bagaimana bisa dia memperlakukan aku begini hiks... kenapa dia menyiksaku begini, kenapa?"
"Nona, tenangkan diri anda?"
Bagaimana bisa dia tenang jika dia baru saja dipisahkan dari anaknya, setelah ini dirinya tidak akan tau apakah dia bisa bertemu lagi dengan sang anak atau bagaimana namun hatinya sangat sakit mengetahui semua ini bahkan suaminya dengan mudah mengatakan jika dia akan mendapatkan saham yang dia inginkan jika anak mereka diberikan begitu saja.
Melihat pertumbuhan dirinya yang bukan lagi anak kecil kini Ivan bisa menyaksikan sosoknya yang mulai tumbuh menjadi laki-laki remaja yang tampan, meskipun dia memiliki karismatik itu tentunya Ivan tidak pernah bangga terlahir dari darah ayahnya dan jika saja dia terlahir dari darah pria lain maka dirinya tidak akan pernah menyesal memiliki ayah bajingan seperti itu.
Langkah kakinya ke luar dari kamar menuju ruang tengah untuk menemui ibu angkatnya agar bisa membicarakan tentang jadwal les pribadinya nanti siang, sebelum dia menemui Maya untuk menceritakan kerinduannya lagi terhadap sang ibu.
"Jadi Nicolas menjual anak keduanya?"
Kalimat itu membuat Ivan terdiam di tempatnya saat tangannya baru saja ingin membuka pintu tersebut, mengetahui jika adiknya dijual oleh sang ayah tentunya Ivan sangat terkejut. Bagaimana perasaan ibunya yang kini dipisahkan oleh anak-anaknya.
"Ke mana dia menjualnya, ahhh... Keluarga Velova."
Berada di keluarga ini bukanlah suatu keberuntungan untuk Ivan saat dia mengetahui informasi tentang keluarganya namun saat dia mengetahui itu entah kenapa hatinya terasa sangat sakit bahkan dendam itu semakin besar hanya untuk membunuh ayahnya sendiri.
Lamunan yang panjang itu disaksikan oleh Maya yang kebingungan saat melihat Ivan sedang termenung di kursi halaman belakang rumahnya, wajah cantiknya yang menggemaskan dengan rambut panjang yang terikat mencoba mendekat pada Ivan yang lebih menikmati lamunannya yang panjang.
"Kali ini kau kenapa?"
"Adikku dipisahkan dari ibuku oleh Nicolas."
"Aku dapat mengerti perasaanmu karena aku juga mempunyai seorang adik dan dia masih bayi, tapi aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaanmu juga ibumu yang kini berpisah dari sang adik."
Kesedihan itu dapat Maya rasakan namun dirinya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan ibu kandung Ivan saat dirinya berpisah dari sang adik yang sudah dia rawat dengan cinta juga kasih sayangnya, bahkan Ivan yang belum sempat bertemu dengan adiknya saja harus mengalami kesedihan itu.
"Aku ingin segera dewasa agar bisa membalaskan dendamku."
"Tenanglah, jangan terburu-buru, perjuanganmu tidak akan sia-sia percayalah?"
Senyuman manis itu Maya berikan kepada Ivan yang merasa cukup lega karena di sisinya ada gadis cantik ini mendengarkan keluh kesahnya ini, andai saja hari itu Maya tidak berusaha membujuknya untuk bangkit dari kesedihan mungkin Ivan tidak akan pernah memiliki satu orang pun teman meskipun dia sudah bersekolah di kawasan elit namun tidak tidak menjamin dia bisa mendapatkan teman perhatian seperti Maya.
"Jika aku dewasa nanti aku bisa membawa ibu dan adikku agar kami bisa berkumpul lagi."
"Tentu saja itu akan terjadi, maka dari itu kita berjuang bersama-sama untuk mendapatkan keinginan kita, oke?"
Ivan mengangguk setuju akan perkataan Maya yang begitu memotivasi dirinya untuk bangkit dari kesedihannya ini, meskipun sosok sang ibu tidak ada di sini namun Ivan beruntung memiliki teman seperti Maya yang sangat terbuka kepadanya akan masalah apa pun.
Sejak Iqbal dipisahkan dari sang ibu kini dirinya memilih untuk diam bahkan tidak mau makan setelah dirinya sampai di rumah ini, dirinya memilih untuk bersembunyi di tempat yang sulit untuk ditemukan, hatinya begitu terkejut akan pemandangan yang tidak bisa dia lupakan begitu saja.
"Mama."
Bagaimana bisa anak sekecil dirinya sudah diberikan kepada keluarga yang sama sekali tidak dia kenal atau pun diketahui olehnya, semua orang yang sedang mencari keberadaannya pun mencoba untuk tetap mencari dengan memanggil namanya.
__ADS_1
"Ehhh... ternyata kau bersembunyi di sini?"
"Hahhh... kami kesulitan mencarimu, jangan sembunyi dong?"
Ivan memandang pada dua anak kecil yang ada di depannya, kehadiran mereka yang kebingungan akan keterdiaman Iqbal tentunya membuat keduanya bingung harus bagaimana karena wajah itu terlihat tidak bahagia saat sampai di rumah ini.
"Kak Iqbal tidak bahagia di sini?"
"Maudy, jangan menangis, mungkin Kak Iqbal sedang sedih."
Gadis kecil ini mencoba untuk menahan tangisannya dan duduk dengan menghadap Iqbal yang hanya diam, tidak bisakah mereka melihat jika wajahnya begitu sedih dan menderita saat dirinya dipisahkan dari ibunya yang pasti akan kesepian setelah mereka terpisahkan.
"Kak Steven, bagaimana ini?"
"Kita tunggu sampai Kak Iqbal berbicara ya?"
Sudah beberapa jam mereka diposisi yang sama hanya untuk menunggu kapan Iqbal mau ke luar dari persembunyiannya dan membuat gadis kecil ini bersenandung sembari menatap langit cerah di halaman rumah ini.
"Oh ya, Kak Steven bukannya kita belum kenalan dengan Kak Iqbal, ayo kenalan dulu, hai Kak Iqbal, aku Maudy Velova, hehehe..."
"Aku Steven Velova."
Keduanya yang sedang memperkenalkan diri mereka membuat Iqbal merasa aneh tapi dirinya masih merasa tidak senang akan keberadaannya di sini tapi Iqbal ingat jika dia tidak boleh mengabaikan seseorang terlalu lama, setiap pesan yang disampaikan sang ibu mustahil dia lupakan begitu saja.
"Aku... aku ingin makan, aku lapar."
"Eh, jika begitu, ayo ke meja makan dan kita makan bersama?"
Ajakan itu tidak ditolak oleh Iqbal dan ke luar dari persembunyiannya ini, tangannya yang ditarik oleh Maudy tentunya langsung mengikuti langkahnya untuk kembali memasuki rumah tersebut, mengajaknya untuk makan bersama.
"Sekarang Kak Ivan adalah kakak kami jadi kita adalah keluarga?"
"Keluarga?"
Sejak dia dilahirkan tidak pernah Iqbal memahami apa itu keluarga yang sesungguhnya, hanya sosok ibunya yang selalu menemaninya dalam kebersamaan mereka. Memberikannya pelukan hangat juga kecupan lembut untuknya jika dia merasa sedang sedih atau pun rindu akan kakak yang sering diceritakan oleh ibunya.
Bahkan sosok ayahnya pun tidak pernah dia kenal seperti apa dia selain seorang bajingan yang selalu memukul ibunya dengan keras, terkadang Iqbal pun bertanya kepada dirinya sendiri kenapa ibunya yang baik seperti seorang bidadari harus memiliki suami yang jahat bahkan tidak pernah memberikannya kebahagiaan yang seperti dia saksikan di depannya ini.
Kedua pasangan itu begitu mesra bahkan saling bersuapan di meja makan ini, bukankah rasanya tidak adil jika dirinya bahagia dengan keluarga ini namun ibunya sama sekali tidak merasakan kebahagiaan itu terlebih lagi kakaknya yang saat ini masih menjadi tanda tanya untuknya kapan mereka akan bertemu.
"Iqbal, kau jangan sedih begitu, kau bisa bertemu dengan ibumu kapan saja tapi kau harus ingat kau tetap bagian pada keluarga ini."
Meskipun Iqbal mendapatkan izin untuk menemui ibunya kapan saja namun tetap dirinya tidak bisa leluasa bersama dengan ibunya seperti dulu yang begitu bahagia, bahkan dia pun bisa tersenyum juga tertawa saat dengan ibunya yang mengajaknya bercanda setiap saatnya.
Bagaimana bisa keadaan menjadi seperti ini hanya dengan sekejap mata saja, hatinya masih belum bisa menerima kenyataan ini meskipun sudah dia saksikan secara langsung bagaimana kejamnya dunia mempermainkan kehidupan anak kecil seperti mereka ini. Mengapa dia harus dikorbankan, lalu bagaimana nasib pada adik yang masih ada di dalam perut ibunya, apakah dia akan bernasib seperti dirinya juga atau bagaimana.
Keterdiaman itu tentunya membuat kedua pasangan ini saling berpandangan akan sikap Iqbal yang hanya diam tanpa ingin berbicara. Padahal mereka sudah memperlakukannya dengan baik lalu kenapa dia masih saja terlihat sedih bahkan menikmati makanannya saja terlihat tidak berselera.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung