Mama, Jangan Menangis

Mama, Jangan Menangis
Bagian 2: Kenapa Begini?


__ADS_3

Sudah satu minggu Olivia telah berpisah dengan anak pertamanya meskipun suasana hatinya sedang tidak tenang namun dirinya mencoba untuk bangkit tapi tetap saja, hatinya begitu hancur akan perbuatan suaminya yang kejam ini. Bagaimana bisa anak yang menjadi kebanggaannya kini dia jual begitu saja kepada temannya hanya untuk bisnisnya itu.


"Nona, minumlah?"


"Terima kasih."


Dengan meminum susu tersebut kemudian Olivia mengelus perutnya yang sudah semakin besar, dirinya tidak tau kapan anak ini akan terlahir namun hatinya sangat berharap jika saja anaknya ini tidak bernasib sama seperti Ivan karena itu akan membuat hatinya semakin sakit jika suaminya bertindak seperti itu lagi.


"Nona, tidakkah anda ingin mengetahui keadaan tuan muda, bagaimana pun tuan muda adalah anak anda?"


"Aku ingin mengetahui keadaannya bagaimana tapi jika aku melihatnya sama saja aku berpikir untuk mengambilnya dari keluarga barunya, aku tidak bisa."


Pelayan ini mengerti akan perasaan Olivia yang begitu rapuh dan sangat mudah tersakiti, dirinya tidak bermaksud untuk membuatnya sedih namun dia tau kerinduan apa yang dirasakan seorang ibu kepada anaknya jadi dia sebagai pelayan yang baik bersedia membantu nonanya ini untuk mempertemukan mereka.


"Bunga, kau sudah lama ikut denganku, tidakkah kau ambil jatah pensiunmu?"


"Aku tidak setua itu nona, aku akan mengabdi kepada anda meskipun nyawaku taruhannya, saya sudah berjanji pada ibu anda."


Senyuman senang itu Olivia berikan kepada pelayannya ini, sudah sejak kecil dirinya mengabdi kepadanya dan Olivia merasa jika mereka bukanlah tuan dan pelayan melainkan seorang teman namun balas budinya terhadap Keluarga Keller membuat pelayan wanita ini ingin mengabdikan hidupnya.


"Saya akan pergi jika nona tidak membutuhkan apa pun lagi?"


"Pergilah."


Dengan memberikan bungkusan tubuhnya barulah dia pergi, dalam kesendiriannya di dalam kamar ini Olivia tidak tau lagi akan dunia luar sejak dia masuk ke dalam rumah ini. Kemewahan yang terlihat akan membuat siapa pun takjub bahkan iri akan kehidupannya yang bergelimang harta namun tidak ada satu pun yang tau jika kehidupannya sangat menderita di rumah ini.


"Ivan, bagaimana keadaanmu di sana?"


Hatinya terus berharap dan berdoa disetiap tidurnya jika Ivan akan baik-baik saja dengan keluarga barunya. Seperti itulah yang dia harapkan dan diinginkan karena pada kenyataannya, saat ini dirinya sedang diberikan sebuah pelajaran yang tidak akan pernah dia lupakan.


"Tembak dia Ivan, jika kau ingin menjadi ketua mafia maka kau harus memiliki perasaan berani, tidak takut pada lawanmu atau pun membunuhnya dengan tanganmu, lakukan Ivan!?"


Tangan kecilnya bergetar ketakutan hanya dengan memegang senjata api itu, diumurnya yang belum pantas melakukan hal ini membuat Ivan tidak bisa melawan selain mengikuti kemauan dari kedua orang tua angkatnya yang gila akan dirinya agar bisa menjadi ketua mafia yang dapat dibanggakan.


"LAKUKAN IVAN!!!"


DOR.


Satu tembakan dengan kedua tangan yang memegang senjata itu seketika jatuh ke lantai akan tangannya yang dingin juga bergetar ketakutan menyaksikan apa yang ada di depannya ini, nafasnya yang tidak beraturan membuatnya sulit bernafas akan pemandangan yang mengerikan ini.


"Ivan, tenangkan dirimu, tarik nafas perlahan lalu hembuskan, lakukan secara berulang hingga perasaanmu menjadi tenang?"


Atas arahan dari wanita ini dengan segera Ivan melakukannya, meskipun sikap ibu angkatnya ini sangat lembut bahkan selalu memberikan arahan untuknya dalam setiap tindakannya tapi tetap saja hatinya tidak bisa menerima wanita mana pun yang akan menjadi ibunya.


"Bagus, kau sudah berhasil Ivan."


"Kau adalah kebanggan kami, jika kau sudah dewasa nanti maka kau bisa mewarisi posisiku sebagai ketua mafia, kau luar biasa, Ivan."


Kebahagiaan dari kedua pasangan ini tentunya sangat gila untuk disaksikan oleh Ivan, bagaimana bisa dirinya yang belum memahami apa pun dipaksa untuk menuruti kehendak keduanya yang begitu gila ini. Setelah keduanya pergi akan kebahagiaan itu barulah Ivan bisa menangisi keadaannya.


"Mama hiks... Ivan mau pulang hiks... Ivan tidak suka di sini, mama!"


Tangisannya begitu menyedihkan hanya untuk memanggil nama sang ibu namun mustahil untuk dirinya pergi dengan ketidaktahuan di mana ibunya berada atau tempat yang dia tinggali saat ini, setidkanya dia harus menunggu waktu yang tepat untuk pergi dari tempat yang mengerikan ini.

__ADS_1


Perasaan yang tidak nyaman itu membangunkan Olivia dari tidurnya yang nyenyak, keringat yang turun dari keningnya membuatnya langsung turun dari ranjangnya. Meninggalkan kamarnya untuk pergi menuju sebuah kamar lainnya, hatinya begitu cemas dan takut akan anak pertamanya.


"Ivan?"


Pintu kamar itu baru saja terbuka namun sosok sang anak tidak ada di dalam sini, keberadaannya begitu membuat Olivia merindukan sang anak. Dengan menutup pintu kamar itu kemudian dirinya melangkah menuju kasur yang sudah kosong selama satu minggu ini.


"Ivan."


Perasaan cemas ini membuat Olivia ingin sekali bertemu dengan anaknya namun dirinya tau resiko apa yang akan terjadi jika dia melakukan itu, dengan membaringkan tubuhnya di atas kasur tersebut kemudian dirinya memeluk bantal yang selalu direbahi oleh anaknya. Kerinduannya begitu mendalam namun Olivia tidak akan bisa bertemu dengan sang anak.


Wajah itu terlihat begitu murung, perasaannya begitu kacau bahkan tidak bisa berpikir tenang akan kejadian tadi malam di mana dirinya dipaksa untuk membunuh seseorang yang tidak dia kenal bahkan kedua orang tua angkatnya begitu bahagia saat melihat dia bertindak demikian.


"Hai, hei, woi!"


Mendengar seseorang yang seperti ingin mendapatkan perhatiannya kemudian ivan melihat ke arah seorang gadis kecil yang berada di seberang pagar pembatas namun masih ada celah untuk mengulurkan tangannya untuk menjangkau tubuhnya.


"Hei, siapa namamu, boleh kenalan tidak, aku baru melihatmu di rumah ini loh, oh ya kenalkan aku, Maya Erlangga."


Perasaannya yang masih kacau tidak mempedulikan pengenalan dari gadis kecil ini yang berusaha mendapatkan perhatian darinya, merasa dirinya diabaikan bahkan diacuhkan begitu saja kemudian dirinya melangkah pergi.


"Hahhh..."


"Hei, kau mau teh asoy buatan Maya tidak, rasanya enak loh?"


Tawaran itu sedikit membuat Ivan melirik pada Maya Erlangga yang memberikan cangkir kecil kepada dirinya yang sama sekali tidak tertarik untuk mencicipinya, melihat itu Maya pun langsung mengambilnya lagi untuk dibawa pulang.


"Tunggu, biar aku mencicipinya dulu?"


"Nah gitu dong, ayo kenalan dulu sama aku, sekalian cerita masalahmu, tenang saja aku ini anak yang pelupa jadi apa pun yang kau ceritakan tidak akan aku ingat."


"Lepaskan Nicolas, lepaskan!?"


Tangannya yang ditarik paksa untuk pergi dari kamar Ivan tentunya membuat pria ini semakin kesal akan tindakan istrinya yang tidak mau menurut akan perintahnya sehingga tangannya dengan paksa menarik tubuhnya ke luar dan langsung mengunci kamar tersebut.


"Kenapa kau begini?"


Wajah yang dipenuhi air mata itu tidak akan pernah membuat Nicolas kasihan atau pun luluh kepadanya, hatinya bagaikan terbakar akan api amarah saat mengetahui jika dirinya hanya berkutat di dalam kamar anak mereka dalam kerinduan yang mendalam.


"Kenapa Nicolas hiks... kau sudah memudahkan aku dengan anakku dan kau masih bersikap kejam kepadaku hiks... kenapa kau begini?"


Olivia tidak pernah mengerti kenapa Nicolas bertindak seperti ini bahkan memperlakukan dirinya dengan buruk, kesalahan apa yang telah dia perbuat sehingga Nicolas terus menyiksa dirinya secara terus menerus tanpa merasa kasihan kepadanya.


"Hentikan kesedihanmu yang tidak berguna itu, Ivan sudah bahagia dengan keluarga barunya!?"


"Tidak, aku tau dia bahagia atau tidak, aku ibunya, aku mengetahui segalanya tentang anakku!?"


PLAK.


Pukulan itu kembali dilayangkan kepada Olivia yang terdiam saat menerimanya, tangisannya kembali pecah dengan merasakan perih akan pipinya yang baru saja mendapatkan pukulan. Pintu kamar yang telah terkunci ini membuat Olivia tidak bisa memasukinya lagi, semua kenangan tentang sang anak ada di dalam sana.


"Hmmm... perutku hahhh... perutku sakit!"


"Nona, ayo ke rumah sakit?"

__ADS_1


Dalam kepanikan itu Bunga langsung membantu Olivia untuk berdiri dari duduknya, membawanya pergi dengan keadaannya yang menahan sakit akan perutnya yang seperti ingin melahirkan. Rasanya sangat menyakitkan bahkan membuat Olivia tidak bergerak lagi.


Sesampainya di rumah sakit dengan melakukan persalinan seorang diri tentunya tangisannya kembali pecah, ini sudah kedua kalinya dia berjuang untuk anaknya tanpa kehadiran sang suami yang tidak akan pernah peduli bagaimana sakitnya dia dalam menghadapi semua ini.


Keberadaan Nicolas dalam kemesraannya dengan wanita lain tentunya akan membuat siapa pun akan murka terhadap tindakannya ini, keduanya yang tidak mengenakan pakaian apa pun dan hanya tertutupi sebuah selimut tentunya bisa diduga apa yang telah mereka lakukan sebelumnya.


"Aku merindukanmu, Nicolas?"


"Olia, kita baru bertemu kemarin, ingat?"


Dengan senyuman senangnya kemudian wanita ini memeluk tubuh Nicolas dan memandang ke arah ponsel tersebut yang menandakan ada seseorang yang memanggil, kebersamaan mereka yang terusik tentunya membuat Olia Keller langsung menatap tidak suka akan pemandangan ini.


"Siapa yang meneleponmu, Kak Olivia?"


"Bukan, hanya sekretarisku."


Mendengar hal tersebut tentunya wajahnya langsung tersenyum kembali, keduanya yang begitu bahagia dalam kemesraan ini tentunya tidak mengetahui perjuangan Olivia yang sedang melahirkan anak keduanya ini tanpa kehadiran sang suami.


Terlebih lagi Nicolas dengan beraninya bermain gila dengan adik iparnya sendiri tanpa mengingat perasaan istrinya yang sudah dia sakiti secara fisik dan jika dia mengetahui kebenaran ini maka hatinya akan jauh lebih sakit dari apa yang dibayangkan sebelumnya.


Dalam kelahirannya itu Olivia tidak merasa bahagia lagi karena dirinya mencoba untuk tetap tenang meskipun tangisannya kembali pecah dan membuat para perawat yang membantu persalinannya hanya bisa kebingungan akan kesedihan yang dia perlihatkan.


"Aaaaaa... aku tidak mau ini!?"


"Berikan dia obat penenang, segera?"


Atas perintah itu dengan segera sang suster memberikan obat penenang pada Olivia yang tidak bisa mengendalikan amarahnya lagi, hatinya begitu sakit akan keadaan yang tidak begitu beruntung untuknya.


"Kenapa, kenapa dia begini, kenapa?"


Dengan ke arahnya yang sedang ditenangkan Olivia mengingat kembali akan perlakuan suaminya yang begitu melekat pada ingatannya, dirinya berjuang lagi di sini dengan keadaan yang sama namun suaminya selalu saja sibuk dengan urusannya dan jika dia melawan maka dirinya akan mendapatkan pemukulan lagi.


Perasaan gelisah itu Ivan sangat tidak tenang bahkan dirinya berpikir untuk melarikan diri dari rumah ini hanya karena memikirkan ibunya namun dirinya tau resiko apa yang akan terjadi jika dia melakukan itu, sebuah ancaman yang membuatnya tidak berani melangkah pergi dari perbatasan pagar.


"Ivan, kau adalah anak kami dan jika kau berani membantah atau pun melarikan diri maka kami tidak akan segan melukai ibumu, kau tidak ingin itu terjadi, bukan?"


Anak kecil sepertinya ini tentunya tidak bisa melawan bahkan hanya bisa pasrah akan keadaan di dalam sini, dunia luar yang tidak pernah dia saksikan lagi membuat Ivan begitu merindukan sosok ibunya yang saat ini sedang merindukannya juga.


"Ivan mau bertemu dengan mama hiks... Ivan rindu mama."


Tangisannya tidak bisa dia tahan lagi hanya untuk melampiaskan kerinduannya pada sang ibu, entah sudah berapa bulan dia berada di sini tanpa mengetahui keberadaan sang ibu tentunya Ivan begitu merindukannya dan ingin segera bertemu dengannya tapi dia sudah terikat akan ancaman dari wanita yang mengaku sebagai ibunya.


Bahkan dia pun memiliki janji dengan sang ibu jika dia tidak akan pergi tanpa izin dari kedua orang tua angkatnya ini, jika begitu maka sampai kapan dirinya akan terkurung di sini dengan tekanan gila dari kedua orang yang begitu terobsesi untuk menjadikannya sebagai ketua mafia yang tidak pernah dia inginkan.


"Ivan tidak mau ini, Ivan mau mama, kapan Ivan bisa bertemu mama?"


Dirinya hanya bisa berdiri di sini saat selesai jam makan siangnya, menangisi dan mengharapkan hal yang sama meskipun Ivan tau semuanya akan terkesan sia-sia tapi dirinya tetap memiliki keinginan besar bisa bebas dari penjara ini.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2