
PLAK.
"Tidak bisakah kau memahami semua pelajaran ini!?"
Pipinya yang ditampar membuat Ivan terdiam saat dirinya yang baru saja pulang dengan membawakan hasil ulangan sekolahnya, dirinya berpikir jika saja dia mendapatkan nilai yang memuaskan ini maka dirinya akan mendapaykan sedikit keringanan untuk bertemu kembali dengan ibu juga adiknya.
"Sembilan puluh, nilai yang sempurna itu seratus, aku tidak akan memberikan keringanan lagi kepadamu, hari ini kau akan les pribadi lagi, pergi ke kamarmu, sekarang!"
Dengan membawa hasil tersebut Ivan melangkah pergi akan perasaan marah dan dendam semakin besar tercipta di hatinya, dirinya hanya membutuhkan beberapa waktu lagi agar bisa mencapai keinginannya namun penderitaan ini semakin membuatnya hampir gila dan putus asa.
"Bukankah terlalu keras pada anak angkatmu itu, maksudku bukankah kau seharusnya memperlakukannya dengan baik?"
"Kakak, aku tidak bisa memberikan dia keringan sedikit pun, dia harus memahami posisinya nanti, andai saja aku tidak mandul mungkin aku bisa memiliki anakku sendiri."
Namun dirinya dapat memahami kesedihan apa yang dirasakan anak tersebut akan perlakuan kasar dari adiknya ini, terlebih lagi dia pun seorang ibu dari seorang anak yang dia kandung saat ini. Akan menyakitkan rasanya melihat seorang anak mendapatkan perlakuan seperti itu.
"Tapi bukankah anak sekecil dia akan mudah memiliki dendam tersendiri?"
"Oh ayolah kakak, anak kecil seperti dia paham apa tentang dendam, sudahlah, ayo minum lagi?"
Meskipun adiknya ini menganggap enteng akan keadaan yang dia lakukan namun dirinya tau dampak apa yang akan terjadi nantinya jika adiknya masih berbuat kasar pada anak itu, hatinya tetap rapuh dan membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tuanya.
Mendapatkan hasil ulangan yang dia duga akan memuaskan hati ibu angkatnya nyatanya tidak membuat hatinya lega, kekerasan masih dia rasakan saat keinginan kedua orang itu tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Ingin rasanya Ivan menangisi keadaannya ini namun hatinya sangat lelah menghadapi semua ini.
"Ivan."
Kehadiran seorang wanita membuat Ivan langsung menatap ke belakang di mana sosok wanita yang sedang hamil ini berlutut di depannya, senyumannya begitu lembut sehingga dirinya menjadi rindu akan sosok ibunya yang baru saja kemarin dia temui.
"Kau adalah anak yang baik, aku yakin kau bisa bertahan hingga waktunya."
Kalimat itu terkesan membingungkan untuk Ivan dan dirinya tidak mengerti apa maksudnya sehingga wanita ini berkata dia harus bertanya hingga pada waktunya. Apakah dia memahami penderitanya di sini atau bagaimana sehingga berpikir demikian kepadanya.
"Semuanya akan baik-baik saja, setelah hari itu tiba maka tidak akan bisa melawanmu atau pun mengalahkanmu, kau hanya perlu menunggu, kau bisa melakukan itu, Ivan?"
Anggukan itu Ivan berikan pada wanita ini, dirinya tidak menduga jika dia akan memberikan dukungan yang tidak terduga namun mengapa dia melakukan hal ini. Ivan masih tidak mengerti akan keadaan ini bahkan keterdiamannya pun sudah menjadi jawaban untuk wanita ini.
"Maka dari itu kau harus tetap mengikuti semua kemauan mereka tanpa bantahan, jika kau tetap mengikuti semua permaian mereka maka kau akan mendapatkan kepercayaan yang besar untuk menjadi keturunan yang sah bahkan memiliki posisi yang tidak bisa lepas darimu."
Untuk pertama kalinya Ivan merasa tenang dan lega ada orang lain yang memberikannya sebuah dukungan, senyuman senang itu dia berikan kepada wanita ini dengan membiarkan tangan lembut itu mengelus puncak kepalanya. Kepergiannya sangatlah disayangkan oleh Ivan namun dirinya tidak bisa membiarkannya terus berada di sisinya.
Dengan dukungan dan saran itu entah kenapa Ivan merasa terdorong untuk melakukan semua rencana yang telah dia pikirkan selama ini, dendam di hatinya semakin besar bahkan dendam itu seperti mendorongnya untuk menghabisi kedua orang itu agar penderitanya bisa segera sirna.
Senyuman dibibir merah itu begitu cantik saat dirinya sedang menggendong sang buah hati yang kini tidak lagi seperti bayi kecil yang rapuh, wajahnya yang tampan membuat Olivia sangat senang bisa menyaksikan pertumbuhan sang anak tanpa berpikir akan sesuatu yang aneh.
"Mama senang, Iqbal ada di sini bersama mama."
Perasaan bahagia yang tidak bisa diungkapkan dengan sebuah kalimat membuat Olivia mengecup lembut kening sang anak dan membaringkannya tepat di atas kasur yang berada di sampingnya.
"Tapi mama rindu dengan kakakmu, Ivan."
__ADS_1
Bagaimana bisa dirinya tidak merindukan sosok anaknya itu jika dipisahkan dengan waktu yang sangat lama, pertemuan kemarin pun sangat tidak memuaskan hati dan batinnya yang dia inginkan adalah Ivan ada di sini bersamanya seperti dulu namun Olivia tau jika hal itu sangat mustahil terjadi.
"Akhirnya kau mendapatkan nilai yang sempurna, kau memang kebanggan kami, Ivan."
Senyum bahagia terlihat jelas diwajah kedua pasangan ini saat melihat hasil ulangan yang dia berikan hari ini, Ivan tidak tau kenapa dirinya dipaksa untuk menjadi yang sempurna padahal dia memahami bagaimana kemampuannya sebagai anak kecil namun jika dia lemah maka kedua orang ini akan kejam kepadanya.
"Dengan begini, aku bisa dengan tenang memberikan posisiku untuk Ivan, besok kita akan pergi ke markas dan memperkenalkanmu kepada mereka."
"Jangan lupa merayakan keberhasilan ini?"
Pria ini mengangguk senang akan saran dari istrinya, meskipun keduanya terlihat bahagia dan senang dengan hasil ulangan yang dia berikan namun Ivan tidak merasa senang seperti yang mereka rasakan. Entah kenapa rasanya begitu berbeda saat dia bersama dengan ibunya.
Seperti apa yang telah dijanjikan kini Ivan telah dibawa menuju sebuah tempat yang cukup jauh dari letak rumahnya, penampilannya yang rapi dengan setelan jas yang cocok untuk tubuhnya. Dirinya seperti dipersiapkan untuk menghadiri sebuah pesta yang mewah saat ini.
"Selamat datang bos!"
Sambutan hangat untuk dirinya yang baru saja memasuki ruangan itu sudah dapat didengarkan oleh Ivan, semua orang begitu hormat dan patuh dengan pria ini bahkan memberikan sambutan hangat akan kedatangan mereka.
"Semuanya, aku ingin memperkenalkan kalian kepada anakku, Ivan Pratama."
Ivan tidak bisa berkata lagi saat nama keluarganya telah diganti begitu saja, meskipun begitu dirinya tidak akan bisa melupakan jika di dalam dirinya ada darah yang mengalir dari ayah yang kejam. Sifatnya yang kejam pun tidak akan pernah hilang meskipun saat ini dirinya sedang menahan semua itu.
"Ivan akan menggantikan posisiku suatu saat nanti jika aku pensiun dan dia yang akan memimpin kalian nantinya."
Tidak ada kebanggaan sama sekali untuk Ivan saat mendengar hal ini karena dirinya merasa jika penderitanya akan semakin bertambah dengan menyandang status tinggi ini, sebagai ketua mafia bukankah tugas yang mudah dan nyawanya sedang dipertaruhkan di sini akan ambisi gila dari pria ini.
"Ivan, mulailah berinteraksi dengan mereka semua karena kelak kau yang akan memimpin mereka semua?"
"Tuan muda, katakanlah perintah anda?"
Salah satu dari mereka bersuara yang membuat Ivan merasa jika dirinya ingin memberikan perintah yang berkaitan dengan ibunya namun dia tau jika mereka semua sudah bekerja sangat lama dengan pria itu dan mustahil Ivan bertindak gila hanya untuk dibawa pergi menemui ibunya.
"Saat ini tidak ada perintah."
Ivan melangkah pergi meninggalkan ruangan tersebut karena dirinya dapat merasakan pandangan mata yang tidak suka akan kehadiran dirinya, keberadaannya yang masih berdiri dengan membelakangi pintu ruangan ini mencoba untuk menenangkan hatinya.
"Aku tidak mengerti kenapa bos membawa anak yang tidak ada hubungan darah dengannya sebagai penerusnya?"
"Entahlah, mungkin karena istrinya yang tidak ingin suaminya menikah dengan wanita lain."
"Tapi anak itu bisa melakukan apa, maksudku dia hanyalah anak kecil yang tidak paham mafia itu seperti apa?"
Meskipun kalimat itu terdengar menyakitkan namun Ivan tidak peduli dan memutuskan untuk meninggalkan tempatnya, mungkin saat ini dirinya belum memiliki kekuatan yang besar untuk mengalahkan siapa pun termasuk ayahnya sendiri namun Ivan harus menunggu waktu yang tepat untuk mendapatkan keinginannya tersebut meskipun penderitaan akan dia rasakan lebih dari ini.
Sepulangnya dari markas Ivan kembali bertemu dengan Maya yang memberikan lambaian tangannya untuk datang ke arahnya, jarak rumah mereka yang hanya bersebelahan tentunya memudahkan mereka untuk singgah.
"Ivan, ayo minum teh asoy buatan Maya?"
"Ayo."
__ADS_1
Ajakannya yang disambut dengan hangat tentunya membuat Maya tersenyum senang dan segera mengajaknya pergi ke rumahnya, setidkanya Ivan masih bisa pergi ke rumah orang lain meskipun itu tidak jauh dari jangkauan mata wanita tersebut.
"Ivan, kau datang lagi."
Hanya anggukan yang dia berikan namun siapa sangka jika ibu angkatnya pun ada di sini tengah bertamu, melihat sosoknya itu Ivan langsung memalingkan pandangannya agar tatapan mata tidak bertemu diantara mereka.
"Aku lihat Maya dan Ivan sangat serasi?"
"Kau menduga begitu?"
Meskipun kedua bocah ini bisa mendengarkan pembicaraan kedua wanita itu akan Perasaan bahagia melihat mereka sedang bersama namun tidak dari mereka yang merasa jika keberadaan mereka ini sangat manis atau serasi seperti yang dikatakan orang-orang.
"Aku berpikir untuk menikahkan Maya dengan Ivan, kau setuju?"
"Bagaimana bisa aku menolak, melihat Maya yang begitu senang dengan Ivan tentunya aku sangat setuju."
Entah apa maksud keduanya itu namun Ivan tidak peduli akan pikiran dan pendapat banyak orang akan hubungannya dengan Maya karena kedekatan mereka hanyalah seorang teman bukan lebih dari itu bahkan perasaan cinta yang sering disebutkan tidak pernah dia rasakan pada Maya.
"Papah selalu saja berbicara jika Maya harus menikah dengan Ivan padahal Maya tidak mau, Maya mempunyai pasangan impian Maya sendiri."
"Begitu, maka aku pun demikian."
Mustahil mereka berdua bisa saling mencintai karena pada kenyataannya keduanya memiliki keinginan tersendiri terhadap kriteria pasangan mereka namun kedua orang tua mereka yang begitu senang melihat keduanya bersama dan berpikir untuk menikahkan keduanya kelak saat mereka dewasa tentunya sangat diinginkan.
"Bagaimana jika kita nikahkan mereka dengan segera nanti saat lulus sekolah dasar?"
Ivan menatap aneh akan perkataan ibu angkatnya ini yang begitu terburu-buru dalam bertindak, tidakkah dia paham jika mereka masihlah kecil dan belum memahami apa itu pernikahan yang seharusnya dirasakan oleh orang dewasa seperti mereka.
"Meskipun terdengar terburu-buru tapi aku setuju dengan pendapatmu?"
Maya pun menatap terkejut akan kalimat dari ibunya, tatapan matanya menjadi sedih saat mengetahui jika dia akan segera dinikahkan dengan Ivan. Padahal dia memiliki pasangan impiannya sendiri yang berhak menikahi dirinya namun menatap ibunya sudah berpikir demikian.
"Maya tidak mau menikah dengan Ivan."
"Aku juga tidak mau menikah denganmu, tapi jika kita tidak mengikuti kemauan mereka maka mereka akan memperlakukan buruk akan kita?"
Anggukan perlahan dengan perasaan sedih itu Maya berikan, memang benar apa yang dikatakan Ivan jika dirinya membantah maka sang ayah pasti akan memarahinya dan berkata jika dia adalah anak yang nakal juga tidak patuh dengan perintah kedua orang tua yang sudah membesarkannya.
"Tapi Maya ingin menikah dengan pasangan impian Maya."
"Hal itu bisa terjadi nanti tapi saat ini yang harus kita lakukan adalah mengikuti kemauan mereka."
Meskipun terdengar berat namun Maya tetap menyetujui pendapat Ivan karena dirinya tau jika perlawanan tidak akan membuat keadaan menjadi baik dan dia harus merelakan impiannya untuk menikah dengan pasangan impiannya sirna untuk saat ini.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung