
Setelah berhasil menenangkan perasaannya kemudian Olivia menatap pada bingkai foto yang terdapat sosok suaminya sedang bersanding dengan dirinya yang mengenakan pakaian pernikahan, mengambil bingkai foto itu kemudian Olivia nengelusnya lembut.
"AAAAAAA!!!"
PRANG.
Keributan itu tentunya membuat semua pelayan langsung berlari untuk mengetahui hal apa yang sedang terjadi, melihat keadaan nona mereka dengan masa yang sedang tertekan bahkan membanting bingkai foto pernikahannya tersebut tentunya membuat mereka tidak bisa berbuat apa pun selain membereskan kekacauan yang dia buat.
"Kenapa dia melakukan ini kepadaku, kenapa!?"
"Nona, tenanglah, ayo ke kamar anda?"
Dengan sekuat tenaga Bunga mengajak nonanya ini pergi ke kamar agar keadaannya menjadi lebih tenang setelah kejadian tadi pagi dia dipisahkan dengan anaknya, tangisannya kembali pecah akan perasaan yang begitu sakit untuk dia rasakan. Hatinya tidak bisa menahan penderitaan ini tapi mustahil dia mengakhiri semuanya.
"Minum obat anda, nona?"
Sebuah obat diberikan kepada Olivia sembari membaringkan tubuhnya pada kasur tersebut, memberikan selimut untuk tubuhnya yang begitu rapuh, meskipun penderitaan terjadi silih berganti pada Olivia namun hatinya berharap jika nonanya bisa mendapatkan kebahagiaannya nanti.
"Hmmm... kau kenapa Nicolas, kau terlihat tidak bahagia?"
Dengan tatapan bingung itu Olia memandang pada Nicolas yang baru saja datang ke rumahnya ini, dengan memeluk tubuhnya mereka mulai memberikan kemesraan yang begitu terlihat. Pemandangan yang sangat menyakitkan mata siapa pun yang melihatnya.
"Apakah kakakku membuat masalah lagi?"
"Begitulah, tapi aku tidak ingin memikirkannya saat bersamamu."
Senyuman senang itu Olia berikan kepada Nicolas yang kemudian mengecup bibirnya, bercanda bersama akan hubungan terlarang diantara mereka berdua tanpa tau jika perbuatan mereka berdua akan membuat hati seseorang sangat terluka.
"Kapan kau akan menikahiku, Nicolas?"
Sebuah pertanyaan yang pertama kalinya Olia berikan kepada Nicolas setelah mengumpulkan keberaniannya, hubungan mereka sudah lama terjadi namun dirinya tetaplah seorang wanita yang menginginkan kepastian kapan hubungan mereka akan menjadi lebih serius.
"Aku akan segera menikahimu."
"Benarkah, aku senang mendengarnya."
Senyum bahagia itu Olia berikan akan kalimat yang disampaikan oleh Nicolas yang akan segera menikahi dirinya, kebahagiaan keduanya yang tercipta membuat keduanya berakhir dengan percintaan yang panas.
Sebuah senyuman bahagia itu terlihat jelas di mata wanita ini saat melihat Olia tersenyum senang dengan memandang jari manisnya yang tersemat akan cincin dari Nicolas, meskipun dirinya belum mendapatkan lamaran yang resmi tapi dia akan menunggu waktu yang tepat kapan hubungannya akan menjadi lebih serius.
"Olia, bukankah hubungan kalian ini sudah sangat keterlaluan?"
"Kak Marmaria, hentikan jangan dipermasalahkan lagi, Nicolas mencintaiku dan seharusnya kau memahami itu?"
Kening itu berkerut tidak senang akan kalimat yang disampaikan oleh kakaknya ini, bagaimana dirinya tidak memberikan teguran seperti itu jika orang yang dicintai oleh Olia adalah suami kakak mereka sendiri, bagaimana bisa dia bertindak seperti ini hanya karena mencintai pria yang sama.
"Kau lupa jika Kak Olivia sudah bersama Nicolas sudah sangat lama bahkan sepuluh tahun lamanya, kenapa kau merusak kebahagiaannya?"
"Hentikan Kak Marmaria, saat ini Nicolas telah mencintaiku, tidakkah kau ingin melihatku bahagia juga?"
__ADS_1
Memang Marmaria Keller ingin melihat adiknya bahagia terlebih lagi sebagai adik bungsu ingin rasanya dia menyaksikan kebahagiaan itu dia rasakan tapi haruskah dia melakukan hal ini, bertindak jika perbuatannya ini benar dengan merebut suami kakaknya sendiri bahkan merencanakan sebuah pernikahan tanpa diketahui oleh Olivia jika keduanya sudah berhubungan cukup lama.
"Kau boleh bahagia dengan siapa pun tapi haruskah dengan Nicolas, apakah tidak ada pria lain yang bisa membuatmu bahagia?"
"Tidak ada, hanya Nicolas yang bisa membuatku bahagia, sudah cukup. Aku tidak mau berdebat lagi!"
Menyudahi pertemuan itu Marmaria hanya bisa termenung akan kelakuan dari adiknya itu, jika merebut kebahagiaan orang lain adalah pilihannya maka Marmaria tidak bisa bertindak lebih dari itu bahkan nasihat yang dia sampaikan pun tidak akan ada gunanya untuk adiknya itu.
"Aku harap Olia tidak menyesali perbuatannya ini, bagaimana pun merebut kebahagiaan orang lain bukanlah tindakan yang benar, ada balasan yang harus dia tanggung nanti."
Dirinya hanya ingin sesuatu yang terbaik untuk adiknya itu meskipun sikapnya yang keras kepala akan mustahil membuatnya sadar akan tindakannya, harapannya cukup besar untuk kebahagiaan sang kakak agar dia tidak mengetahui hubungan gelap mereka dari orang lain dan bisa mengetahuinya sendiri nanti.
Melihat penampilannya yang begitu menyedihkan di depan cermin ini tentunya membuat Olivia sadar jika perubahan penampilannya sangat berbeda saat dirinya belum dinikahi oleh Nicolas, apa yang salah dengan dirinya dan mengapa pria yang dulu bersamanya sangat kini berperilaku buruk kepadanya, apa alasannya.
"Apa yang sudah aku perbuat sehingga Nicolas menjual semua anakku, kenapa?"
"Mama."
Suara itu membuat Olivia memandang ke belakang, sosok Iqbal yang hadir membuat dirinya sangat tidak percaya dengan pemandangan ini. Mulutnya yang ternganga lansung dia tutupi dengan tangannya, sosok sang anak ini memang benar adalah anaknya.
"Iqbal, anakku, Iqbal."
"Mama."
Pelukan hangat akan kerinduannya mendalam itu diberikan satu sama lain bahkan tangisan itu kembali pecah yang membuat Iqbal langsung melepaskan pelukan diantara mereka, kepalanya menggeleng lembut sembari menghapus air mata yang turun dari pelupuk mata ibunya yang indah.
"Mama, jangan menangis."
"Kenapa Iqbal ada di sini?"
"Iqbal mendapatkan izin untuk bertemu mama."
Hatinya lega jika keluarga baru anaknya bisa memberikan kebebasan untuk Iqbal agar bisa bertemu dengannya, namun hatinya sangat kasihan akan nasib Ivan yang hanya satu kali bertemu dengannya setelah perpisahan mereka ini bahkan dirinya penasaran kapan mereka akan bertemu lagi.
"Iqbal tidak bisa lama-lama, Iqbal hanya ingin mengatakan jika Iqbal akan selalu merindukan mama, nanti Iqbal akan ke sini lebih sering untuk mengetahui adik Iqbal ya?"
"Tentu, mama akan selalu menanti kepulangan Iqbal."
Meskipun terasa singkat akan pertemuan mereka namun Olivia merasa lega keadaan anaknya baik-baik saja dengan keluarga barunya itu, lambaian tangan itu pun Olivia berikan dan menatap sedih akan kepergian anaknya yang kini membuatnya kembali merasa kesepian.
Kedua pasangan ini melihat sosok Iqbal yang baru saja ke luar dari rumah besar ini dan melihat pada jendela lantai dua di mana Olivia sedang mengawasi mereka dari jendela yang terbuka, lambaian tangannya dia berikan untuk menyapa Olivia yang saat ini sedang mengandung lagi.
"Iqbal senang bertemu dengan mamanya Iqbal?"
Hanya anggukan yang dia berikan tanpa memperlihatkan kebahagiaan diwajahnya seperti apa saat bertemu dengan ibunya itu, pandangan matanya melihat ke arah sang ibu yang sedang berada di jendela lantai dua, mengawasi dirinya yang saat ini bersama dengan keluarga barunya.
"Jika begitu, ayo kita pergi ke toko roti?"
Dengan memasuki mobil itu Iqbal terus melihat ke arah ibunya yang semakin hilang dari pandangannya, tidak bisakah dia dibiarkan tetap bersama ibunya agar kebahagiaan itu tidak direbut dari ibunya yang cantik ini.
__ADS_1
Dalam perjalanan yang membosankan Iqbal melihat ke samping dia sedang duduk, kehadrian Maudy dan Steven yang sedang tertidur tidak membuatnya ingin tertidur juga meskipun matanya terasa sangat mengantuk.
"Baiklah, kita sudah sampai, biarkan Maudy dan Steven di sini, Iqbal ikut mama ya?"
Hanya anggukan yang Iqbal berikan dan turun dari mobil tersebut, meskipun wanita ini sering menyebutkan dirinya sebagai sosok ibu tapi Iqbal tidak akan pernah bisa menggantikan posisi ibunya yang ada dihatinya meskipun sifatnya sangatlah baik bahkan lemah lembut.
"Iqbal, kau bisa memilih kue apa saja yang kau inginkan untuk dibawa pulang dan dibagikan dengan Steven dan Maudy."
Makanan manis bukanlah sesuatu yang dia sukai meskipun sang ibu sering membuatkan kue manis dan makanan enak untuknya namun rasanya akan berbeda jika itu dibuat dengan tangan ibunya yang melakukannya penuh cinta juga kasih sayang untuknya.
"Ah, itu?"
Pandangan matanya tidak akan pernah salah melihat akan sosok orang yang tidak asing dimatanya, dua orang yang membuat matanya sangat tidak percaya jika mereka sedang bermesraan bahkan pria yang menjadi ayahnya sedang bahagia dengan seorang wanita yang seharusnya menjadi adik ipar yang baik untuknya.
"Kenapa, kenapa mereka jahat pada mama?"
Keduanya yang sedang jalan bersama bahkan Olia yang merangkul tangan Nicolas membuat Iqbal merasa sangat marah dan kesal akan pemandangan yang dia saksikan, dua orang yang sangat disayangi oleh ibunya bahkan diceritakan bagaimana baiknya mereka berdua kini menghancurkan semua kebaikan yang disampaikan ibunya tersebut dengan pemandangan yang dia lihat secara langsung.
"Kenapa mereka jahat?"
Wajah bahagia mereka begitu mengusik pemandangan Iqbal bahkan matanya seperti sakit hanya melihat keduanya yang sedang dilanda kebahagiaan, hatinya bahkan terasa sangat sakit sehingga dia memutuskan untuk melangkah pergi menuju mobil dan memeluk lututnya akan perasaan terguncang.
"Iqbal, kau baik-baik saja."
Pandangan matanya seperti melamunkan sesuatu yang berat sehingga pria ini bingung ingin bertanya akan hal apa yang membuatnya begitu tergesa saat memasuki mobil tadi bahkan meninggalkan istrinya yang sangat kebingungan kenapa dia ditinggalkan oleh Iqbal.
"Iqbal, ada apa, dia kenapa?"
"Aku tidak tau, dia hanya diam sejak tadi."
Melihat Iqbal yang terdiam dengan memeluk tubuhnya tentunya kedua pasangan ini menjadi bingung untuk bertanya apa kepadanya yang saat ini kembali bersedih, apakah ada seseorang yang membuatnya menjadi sedih sehingga keterdiaman itu begitu menyakitkan.
"Kau lihat jika Tuan Nicolas jalan bersama Olia lagi?"
"Ya, aku melihatnya saat aku baru pergi ke supermarket."
"Bagaimana bisa mereka berdua berbahagia di saat Nona Olivia sedang menderita?"
Kalimat itu membuat Olivia bingung menjawabnya, dirinya tau jika Nicolas bermain gila dengan Olia namun dia yakin jika kedekatannya hanyalah teman biasa karena dirinya tidak pernah menyaksikannya secara langsung keduanya sedang jalan bersama seperti apa yang dilihat oleh semua para pelayan.
"Tidak apa sayang, ayahmu itu orang yang baik, dia tidak akan mengkhianati mama."
Dengan senyuman itu Olivia mengelus perutnya untuk memenangkan hatinya ini namun tetap saja hatinya tidak tenang sehingga tangisan itu hampir saja menguasai dirinya, dirinya tidak pernah membayangkan bagaimana jika dia menyaksikan secara langsung akan kalimat dari mereka semua itu.
Maka dari itu Olivia mencoba untuk menenangkan hatinya dan tidak berpikiran buruk tentang suami juga adiknya meskipun dirinya tau kebenaran akan terungkap suatu hari nanti saat keduanya buka suara akan hubungan terlarang itu dan Olivia pun tidak akan bisa menahan sakit hatinya.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung