Mama, Jangan Menangis

Mama, Jangan Menangis
Bagian 3: Dendam Ivan


__ADS_3

"APA SEMUA INI!?"


Semua kertas langsung dilempar tepat diwajahnya, kepulangannya baru saja sampai di rumah ini dan dirinya sudah mendapatkan tekanan dari ibu angkatnya yang begitu marah akan nilai latihan yang dia lakukan pada sekolah dasar yang baru dia masuki kemarin.


"Ivan, kau itu kebanggan kami, harus bisa sempurna dalam segala hal, kau paham!?"


Tidak ada jawaban dan dirinya sudah terbiasa akan bentakan yang diberikan untuknya ini meksipun Ivan merasa tidak sanggup lagi untuk bertahan namun dirinya harus bisa melakukan pertahanan ini hingga hari yang dia tunggu itu tiba.


"Hari ini kau ada les dengan guru pribadi, pastikan besok kau mendapatkan nilai yang sempurna, Ivan?"


Wanita ini pergi begitu saja setelah perasaannya menjadi lebih tenang, tatapan mata yang begitu lelah akan keadaannya ini masih saja dipaksa untuk bisa melakukan segala hal akan usianya yang sangat muda, bisakah dia melanjutkan hidup yang penuh tekanan ini terhadap kedua orang tua yang begitu mengerikan.


Kedua matanya terbuka perlahan akan kesadarannya yang telah pulih, pandangan matanya mencoba untuk mencari keberadaan sang anak yang seharusnya ada di dalam lemari kaca tersebut namun mengapa tidak ada.


"Anakku ada di mana?"


"Tenanglah, anak kita ada bersamaku."


Melihat sang anak ada dalam gendongan Nicolas tentunya hatinya sangat tidak tenang, dirinya begitu ketakutan jika saja ada kalimat yang menyakitkan hatinya terucap pada bibirnya tentang anak mereka nantinya.


"Ini."


Rasa takut itu setidaknya berkurang meskipun Olivia merasa jika ada suatu hal yang dirahasiakan suaminya ini tapi dirinya tidak tau pasti hal apa gerangan yang sedang dia sembunyikan ini sehingga hatinya begitu gelisah hanya untuk merasa tenang dalam menggendong anaknya.


"Nanti aku akan kembali lagi, saat ini aku ada kesibukan."


Olivia masih dilanda kecemasan akan sikap suaminya yang begitu tenang daripada sebelumya, dirinya memang senang jika suaminya tidak membuatnya cemas tapi tetap saja dirinya merasa jika ada suatu hal yang sedang disembunyikan suaminya ini.


"Aku harap Nicolas tidak memisahkan kita."


Kecupan itu Olivia berikan pada kening sang anak, tersenyum senang dengan perasaannya yang bahagia. Mungkin saat ini dia bisa tersenyum bahagia dalam menggendong anaknya namun tetap saja hatinya merasa sangat cemas akan sikap tenang dari suaminya tersebut. Apakah dia sedang merencanakan sesuatu.


"Hei, hei Ivan, mau minum teh buatanku lagi?"


"Jangan dulu, saat ini aku sedang berlatih bela diri untuk besok."


Gadis kecil ini melihat kegiatan Ivan yang sangat sibuk, pertemuan mereka selalu saja diawal dengan kesibukan Ivan yang entah itu sedang melakukan latihan bela diri atau pun menyelesaikan tugas dari guru les pribadinya. Bukankah anak sepertinya terlalu sibuk akan kegiatan yang menyita waktu bermainnya.


"Ivan, bukankah kita ini adalah anak-anak dan memiliki banyak waktu untuk bermain juga bercanda dengan ayah atau ibu?"


"Ibu?"


Ivan kembali teringat akan sosok ibunya yang sudah lama tidak dia temui, kerinduannya semakin meningkat hanya untuk bertemu dengan namun Ivan tau resiko apa yang akan terjadi jika dia bertindak di luar kehendaknya. Maka dari itu dia mencoba untuk menyibukkan dirinya dengan hal apa pun agar bisa melupakan kerinduannya pada sang ibu.


"Ivan, ayo bermain denganku, nanti aku berikan teh asoy buatan Maya ya?"


"Maaf Maya, saat ini latihanku jauh lebih penting, lain kali saja."


Penolakan itu begitu halus untuk tidak membuatnya marah atau pun kecewa, mengetahui kebenaran kenapa Ivan begitu sibuk akan kegiatannya ini terkadang Maya merasa sangat kasihan dengan dirinya yang masih kecil ini harus dipaksa untuk sibuk dengan tugas yang tidak seharusnya dia tanggung.


"Baiklah, nanti kapan-kapan main sama Maya ya, sampai nanti Ivan."


Lambaian tangan itu Maya berikan kepada Ivan yang tidak mempedulikannya sama sekali, amarahnya semakin tidak terkendali hanya untuk mendapatkan keinginannya ini. Sebuah keinginan kecil untuk bertemu dengan ibu yang dia cintai adalah suatu larangan bagi keluarga ini jika dia masih memikirkan hal tersebut.


"Ivan, hentikan latihannya dulu, ayo makan?"

__ADS_1


Kehadiran wanita ini yang menghentikan kegiatannya membuat Ivan sangat tidak senang namun dirinya tidak bisa menolak dan memilih untuk mengikutinya ke mana wanita ini melangkah pergi.


Suasana makan itu terlihat pada biasanya bahkan tidak ada obrolan yang ke luar dari mulut mereka hanya untuk membicarakan tentang hal apa yang sedang terjadi saat ini akan dirinya, selera makannya yang tidak pernah hadir dalam menikmati makanan ini tetap dia paksakan untuk menghabiskan makanan yang dihidangkan untuknya.


"Malam ini akan ada pesta, maka malam ini kita semua akan pergi."


"Benarkah, sudah lama rasanya aku tidak menghadiri pesta."


Senyum bahagia dibibir wanita ini tidak dipedulikan sama sekali akan kalimat dari pria ini yang memberitahukan jika malam ini akan ada pesta, jika saja dia tidak diwajibkan untuk datang pada pesta itu mungkin dirinya akan memilih untuk menemui ibunya secara diam-diam.


Suasana pesta yang ramai itu sama sekali tidak membuat Ivan tersenyum bahagia seperti anak seusianya yang menikmati pesta ini dengan bahagia, bagaimana bisa dia merasakan semua itu jika kebahagiaannya direnggut darinya. Satu-satunya yang membuatnya bahagia hanya satu dipertemukan dengan sang ibu.


"Meriah sekali pestanya."


Pandangan mata itu melihat pada seluruh tempat yang dipenuhi banyak orang dan matanya pun jatuh pada seseorang yang tidak asing akan warna rambutnya, perasaannya menjadi senang sehingga senyumannya menjadi merekah hanya melihat warna rambut dari ayahnya.


"Nicolas, eh... Olia."


Senyuman senang itu seketika luntur dari bibirnya saat dirinya melihat sosok wanita yang berbeda diajak oleh ayahnya pada pesta ini, di mana ibunya yang seharusnya menjadi pendamping ayahnya untuk pesta malam ini. Kenapa harus bibinya.


"Di mana ibuku?"


"Oh, ibumu saat ini sedang istirahat karena dia baru saja pulang setelah melahirkan adikmu jadi dia harus istirahat dengan cukup."


Mendengar itu tentunya Ivan sangat tidak percaya jika adiknya sudah lahir, tatapan matanya sangat terkejut akan tindakan yang dilakukan ayahnya ini. Bagaimana bisa ayahnya ini menikmati pesta ini dengan wanita lain sedangkan istrinya berada di rumah tengah merawat anaknya tersebut.


"Oh, aku baru tau jika Olivia melahirkan lagi."


Kalimat dari wanita ini cukup terkejut dengan berita yang disampaikan oleh Olia, bahkan Ivan yang mendengar pun ngin rasanya dia meminta izin untuk menemui ibunya sebentar saja untuk melihat adiknya itu tapi mulutnya bungkam untuk menyampaikan keinginannya tersebut.


"Sayang, bagaimana jika kita biarkan Ivan menemui adiknya dan menginap selama satu hari?"


Bagaimana bisa dia menghabiskan waktu satu hari dengan ibu juga adiknya, ingin rasanya Ivan berontak dan berteriak akan penderitanya terhadap kedua orang tua angkatnya yang kejam ini. Memperlakukan seorang anak kecil untuk ambisi mereka yang tidak bisa memiliki seorang anak akan keadaan wanita ini yang mengalami mandul.


"Ivan, besok kau bisa bertemu dengan ibumu tapi hanya satu hari ya?"


Ivan tidak menjawab untuk setuju atau tidak karena dirinya tau keterdiamannya jauh lebih baik daripada dia harus mengatakan sepatah kata pun, hal itu akan terbukti nanti apakah benar dirinya akan bertemu dengan ibunya atau tidak maka dia tidak akan berharap banyak akan hal tersebut.


Malam yang semakin larut tentunya Ivan sangat sulit percaya jika dirinya dibawa pergi ke rumah lamanya di mana sosok ibunya ada di sana, perasaan rindu dan kebahagiaan itu dengan sekuat tenaga dia tahan agar tidak memperlihatkan pada wanita ini jika dirinya sedang bahagia.


"Ivan, besok malam kami akan menjemputmu, nikmati waktumu dengan baik ya?"


Dirinya ditinggalkan begitu saja di depan gerbang rumah tersebut, langkah kakinya dengan cepat berlari menuju rumah tersebut. Memasukinya dengan mencari kamar sang ibu yang masih dia ingat jelas berada di mana, perasaan rindu itu semakin meningkat hanya untuk melihat wajahnya.


"Mama?"


"Eh, Ivan?"


Olivia yang masih terjaga setelah menidurkan sang anak langsung menatap bingung saat suara yang tidak asing menusuk telinganya, kehadrian anak pertamanya ini membuat Olivia lansung memeluknya dengan perasaan rindu. Mencium kening juga pipinya akan kerinduan yang tidak bisa disampaikan pada sebuah kalimat.


"Ini adik Ivan?"


"Iya, ini Iqbal, adikmu."


Melihat keadaannya yang tertidur nyenyak membuat Ivan tersenyum senang, sudah lama rasanya dia tidak tersenyum namun melihat adik kecilnya ada di sini tentunya Ivan merasa sangat bahagia dan tidak bisa menutupi senyuman diwajahnya.

__ADS_1


"Kenapa Ivan ada di sini?"


"Ivan mendapatkan izin untuk ke sini, besok malam Ivan akan kembali dengan mereka jadi Ivan ingin menghabiskan waktu dengan mama dan adik."


Meskipun waktu kebersamaan mereka sangat singkat namun Olivia senang karena rasa rindu pada anaknya ini telah terbalaskan, tangisan itu pun kembali turun dari pelupuk mata ibunya yang indah dan membuat tangannya tergerak untuk menghapus air mata itu.


"Mama, jangan menangis?"


"Mama tidak menangis karena sedih, mama menangis karena bahagia, kini Ivan ada di depan mama."


Mendengar itu tentunya Ivan pun senang karena bisa bertemu dengan sang ibu meskipun dia tau besok malam dirinya akan kembali dengan keluarganya yang kejam, hingga saat ini dirinya masih bisa bungkam akan kekejaman keluarga angkatnya bahkan pengkhianatan dari ayahnya juga.


Setidaknya saat ini Ivan bisa bertemu dengan ibunya bahkan menikmati waktu bersamanya, senyum bahagia yang dia rindukan dari ibunya pun kini telah terbayarkan. Semua yang dia inginkan kini sudah terbalaskan dan tidak ada keinginan lainnya untuk Ivan selain bersama ibunya.


Sudah sangat lama rasanya Ivan tidak mengunjungi rumah ini, memang pemandangannya tidak jauh berbeda tapi suasana dingin di sini sangat terasa bahkan semakin membeku untuknya. Dirinya ingin sekali membawa ibunya pergi dari rumah ini namun dia tidak bisa.


"Eh, Ivan?"


Kehadiran Olia yang menyapa dirinya membuat tatapan matanya menjadi marah dan kesal, bagaimana bisa dia memiliki bibi yang jahat bahkan secara diam-diam menghancurkan perasaan saudarinya sendiri dengan bermain gila dengan kakak iparnya.


"Suatu saat nanti aku bersumpah akan membuatmu menderita, Olia."


"Ehhh... kau sudah pandai berbicara seperti itu, aku yakin Keluarga Pratama yang mengajarkannya, bukan?"


Meskipun Olia menganggap remeh akan kalimatnya bahkan mengira jika ucapannya hanyalah kebohongan namun di hatinya ini sudah tersimpan akan rasa dendam penuh amarah padanya, hatinya begitu panas mengingat bagaimana wanita ini bermesraan dengan ayahnya yang tidak pernah sekalipun bersikap manis pada istrinya sendiri.


"Ivan, apa yang kau lakukan di sini, ayo pergi?"


"Ivan mau temui pria itu dulu."


Olivia tidak tau siapa pria yang dia maksud namun dirinya tetap mengikuti langkah dari anaknya ini hingga keberadaan mereka sampai pada ruang kerja Nicolas yang menatap penasaran akan kehadiran istri juga anaknya ini ada di sini.


"Hei orang tua, aku bersumpah suatu saat nanti kau akan menyesali semua ini, akan aku pastikan kau menderita suatu saat nanti."


"Apakah begitu caramu berbicara dengan ayahmu, Ivan?"


Nicolas yang merasa aneh akan kalimat dari Ivan tentunya sangat tidak senang terhadap ancamannya itu meskipun dia hanyalah anak kecil yang akan melupakan dengan mudah akan kalimatnya itu nanti, bagaimana pun Ivan adalah anak kecil yang begitu mudah dipermainkan.


"Pengkhianatanmu terhadap ibuku tidak akan pernah aku lupakan, suatu hari nanti aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri!"


"Beraninya kau berkata seperti itu!"


PLAK.


Kalimat yang sudah tidak benar itu membuat Nicolas marah dan langsung memukul anaknya yang membuat Olivia memeluk anaknya untuk tidka memukul anak mereka, menyaksikan sang ibu menjadi perlindungan untuknya tentunya Ivan tidak bisa membayangkan betapa sakitnya pukulan itu.


"Hentikan Nicolas, hentikan. Dia masih anak-anak!?"


Dengan amarah yang masih belum tenang segera dirinya melangkah pergi meninggalkan tempatnya, setelah keadaan terasa lebih membaik Ivan memandang ibunya yang begitu panik saat melihat dirinya ingin dipukuli oleh Nicolas.


"Mama, kau begitu cantik dan baik, tidak seharusnya wanita sepertimu menderita akan laki-laki bajingan itu?"


.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2