Mama, Jangan Menangis

Mama, Jangan Menangis
Episode 8: Kalian Tidak Pantas Bahagia


__ADS_3

Setelah beberapa hari menginap di rumah sakit kini Olivia bisa pulang ke rumah suaminya lagi dengan kebahagiaan di bibirnya, hatinya sangat tidak sabar untuk memberitahukan kepada suaminya akan kelahiran buah hati mereka yang merupakan seorang perempuan.


"Nicolas, sayang coba kau lihat anak kita?"


Melihat sosok suaminya yang melewati dirinya dengan segera Olivia memanggilnya. Memperlihatkan sosok anak perempuan mereka yang manis ini pada suaminya ini, tatapan mata itu hanya sekilas menatap pada anak yang digendong oleh Olivia dan kembali melangkah pergi dengan ponsel yang masih ada di telinganya.


"Iya, iya, aku akan ke sana, dokumennya sudah aku temukan."


Senyuman itu seketika turun saat melihat suaminya yang pergi begitu saja setelah menatap sejenak akan anak mereka, apakah ada yang salah dengan anak yang dia lahirkan. Apakah tidak sesuai dengan keinginannya atau tidak mirip dengan suaminya, langkahnya perlahan berjalan menuju kamarnya dan membaringkan sang anak di atas kasur tersebut.


Setelah membaringkan sang anak kemudian Olivia melangkah pada meja riasnya tersebut, menatap pada sebuah gunting yang kemudian dia ambil dan menatap pada benda tajam itu dengan sebuah pemikiran yang sudah lelah akan keadaan ini.


"Apa yang salah, aku sudah melahirkan anaknya yang ketiga dan ini perempuan, apa yang salah?"


Dengan memandang pantulan dirinya di depan cermin kemudian Olivia mengarahkan gunting tersebut tepat di dadanya, hatinya begitu lelah melihat sikap suaminya yang tidak pernah peduli padanya bahkan saat dia melahirkan sang anak pun rasanya tidak ada kepedulian apa pun di matanya.


"Hiks... apa yang salah!?"


"Hwaaaaa!!!"


Teriakan itu membuat Olivia tersadar dan langsung menjatuhkan gunting yang ada ditangannya, dirinya menatap ke belakang di mana sang anak sedang menangis kencang dan membuatnya langsung bergerak utnuk menggendongnya.


"Hiks... maafkan mama ya sayang, mama tidak bermaksud begitu hiks... maafkan mama."


Dengan memeluknya Olivia mencoba untuk menenangkan anaknya agar tidak menangis lagi, beruntung tangisan anaknya dapat menyadarkannya dari tindakannya yang mengerikan itu jika dia mengakhiri hidupnya begitu saja tentunya Olivia tidak dapat membayangkan hal apa yang terjadi pada anaknya yang masih sekecil ini sudah dia tinggalkan.


"Maafkan mama hiks... mama minta maaf hiks... mama berjanji tidak akan meninggalkanmu hiks... maafkan mama."


Tangisannya pecah yang bersamaan dengan tangisan anaknya yang juga membuat air mata Olivia menjadi semakin deras turun dari pelupuk matanya, setidaknya masih ada anak-anaknya yang begitu mencintainya meskipun suaminya tidak lagi peduli kepadanya.


"Mama, melahirkan adik kedua."


Dalam sebuah surat itu Ivan tersenyum senang jika ibunya telah melahirkan adik keduanya, perasaannya begitu senang sehingga dirinya ingin pergi dan menemui ibunya saat ini juga tapi dirinya kembali diingatkan jika dirinya tidak akan semudah itu bisa ke luar dari rumah ini tanpa izin dari ibu angkatnya.


Namun dirinya harus mencoba terlebih dahulu, apakah dia bisa mendapatkan izin dari ibu angkatnya namun hatinya berharap hal itu bisa dia dapatkan. Setelah membuatkan teh dengan ramuan istimewa kemudian Ivan melangkah ke ruang tengah untuk menemui ibu angkatnya yang sedang duduk dengan membaca majalah kesukaannya.


"Hmmm... kau membuatkanku teh, terima kasih."


Anggukan itu Ivan berikan tanpa melirik pada wajah ibunya ini, meskipun beberapa tahun telah berlalu namun Ivan tidak pernah menyebut wanita ini dengan sebutan ibu karena dirinya tidak bisa menggantikan posisi ibunya meskipun dirinya dipaksa sekalipun.


"Kau masih di sini, ada apa, katakan kau ingin apa?"


"Adik keduaku lahir, aku ingin menemuinya."


Wanita itu menganggukan kepalanya akan pengungkapan kalimat itu. Sudah lama rasanya dia tidak mengetahui lagi kabar mereka meskipun dia tau jika Ivan sering mendapatkan surat dari pelayan ibu kandungnya. Jika dia tidak memberikan izin kepada anak ini bukankah sikapnya akan terasa semakin kejam dan Ivan juga sudah bersikap baik kepadanya meskipun dirinya selalu kasar juga sering memukulinya.


"Baiklah, kau boleh menemui adikmu itu, ingat kau di sana hanya satu hari, setelah malam tiba aku akan meminta supir untuk menjemputmu."


"Terima kasih."

__ADS_1


Hanya ini satu-satunya kesempatan Ivan bisa bertemu dengan ibunya, setidaknya dia memiliki alasan yang kuat kenapa dia harus bertemu lagi dengan ibu kandungnya. Adiknya baru saja lahir dan dirinya harus mengenal namanya juga wajahnya, meskipun hanya sebentar tapi Ivan akan tetap berusaha untuk menemui adiknya.


Dalam kesendirian itu Iqbal sedang termenung di dalam kamarnya, hatinya sangat tidak berselera untuk ikut bermain dengan Maudy dan Steven. Hatinya merasa sangat rindu akan sosok ibunya dan sudah beberapa bulan ini dia tidak pulang untuk mengetahui keadaan ibunya yang saat ini sedang melakukan apa atau adiknya yang masih di dalam perut ibunya.


"Iqbal."


Suara itu membuat Iqbal melihat ke belakang di mana sosok ibu angkatnya masuk ke dalam kamar ini, mendekat pada dirinya dengan duduk di sampingnya dan melihat ke arah mana dirinya sedang menatap. Sebuah pemandangan hutan yang berada di luar jendela kamarnya.


"Iqbal, mama ada kabar bahagia untukmu?"


"Apa itu?"


Dengan penasaran dirinya menatap pada wanita ini untuk tau kabar bahagia apa yang dia bawa untuknya, apakah itu berhubungan langsung dengan ibunya atau bagaimana. Jika ini tentang nilai sekolahnya yang mendapatkan hasil terbaik tentunya Iqbal tidak akan merasa bahagia mendengar itu.


"Adikmu kemarin lahir dan hari ini dia sudah pulang bersama ibumu."


"Be-benarkah, mama dan adik Iqbal."


Senyuman itu terlihat jelas akan kebahagiaan di wajahnya dan untuk pertama kalinya dia menyaksikan senyuman itu setelah beberapa bulan dia tinggal di sini, sebuah anggukan dia berikan untuk menjawab pertanyaan Iqbal yang begitu kegirangan saat mengetahui adiknya telah lahir.


Namun senyuman itu perlahan menghilang dari wajahnya yang membuat wanita ini kebingungan kenapa Iqbal kembali sedih, apakah dia tidak bahagia mendengar kabar adiknya sudah lahir atau bagaimana sehingga wajah itu terlihat menyedihkan juga menyakitkan di matanya.


"Ada apa, Iqbal tidak bahagia mendengar kabar ini?"


"Iqbal bahagia mendengarnya tapi Iqbal tidak bisa menemui mereka."


Sontak wanita ini terkejut akan pernyataan itu, dirinya baru sadar jika sebuah kabar tidak akan selamanya membuat seseorang bahagia jika tidak dipertemukan. Dengan bangun dari duduknya kemudian wanita ini berlutut telat di depan Iqbal yang penasaran hal apa gerangan yang ingin dia lakukan.


"Ti-tidak apa Iqbal pergi menemui mereka?"


Anggukan itu wanita ini berikan dengan senyuman lembut dibibirnya meskipun Iqbal adalah bagian di keluarga ini namun tetap saja dia memiliki keluarganya sendiri dan dirinya berhak untuk menemui mereka, terlebih lagi kabar bahagia ini sudah terdengar olehnya.


Senyum bahagia itu terlihat jelas dibibir Ivan saat dirinya baru saja memasuki rumah ini, langkah kakinya yang tidak pernah melupakan di mana letak kamar sang ibu dengan cepat mempercepat langkahnya namun baru saja dirinya ingin berlari seketika dia terhenti saat melihat Olia pergi.


Senyuman itu memudar saat hatinya penasaran ke mana gerangan wanita itu pergi dengan senyuman bahagia dibibirnya, niat awalnya yang ingin menuju kamar sang ibu kini lebih memilih untuk mengikuti ke mana gerangan wanita itu berjalan.


Perjalanannya pun terhenti saat Ivan melihat Olia memasuki ruang kerja Nicolas, dirinya yang tidak bisa memasuki ruangan itu namun dia penasaran kenapa mereka berdua masih bisa berhubungan secara diam-diam tanpa diketahui oleh ibunya, perlahan dirinya membuka sedikit pintu ruangan tersebut dan melihat jika Olia sedang bergelayut manja dengan Nicolas.


"Kau terlihat bahagia, ada apa Olia?"


"Hmmm... bagaimana ya mengatakannya?"


Keduanya yang begitu mesra bahkan dengan manjanya Olia seperti sedang merahasiakan sesuatu dari Nicolas yang begitu penasaran akan kebahagiaan apa yang sedang dia rasakan saat ini sehingga senyuman dibibirnya begitu merekah.


"Nicolas, aku hamil."


"Benarkah?"


Kabar bahagia untuk mereka berdua tentunya membuat Ivan begitu terkejut mendengarnya, bagaimana bisa kedua pasangan ini sedang berbahagia akan kabar seperti itu padahal ibunya juga memberikan kebahagiaan untuk laki-laki bajingan ini.

__ADS_1


"Aku berjanji akan segera menikahimu dan bersama-sama membesarkan anak ini?"


"Benarkah, ahhh... aku tidak sabar menunggunya."


Dalam amarah itu Ivan melangkah pergi meninggalkan tempatnya, bagaimana bisa Nicolas begitu bahagia mendengar kehamilan Olia padahal saat ini istrinya sudah melahirkan anaknya. Amarah itu membuat Ivan melangkah pergi untuk mencari seseorang.


"Eh, tuan muda, anda di sini, apa yang anda lakukan di sini?"


"Bunga, ayo berbicara secara tertutup?"


Kalimat itu membuat wanita ini menganggukan kepalanya dan langsung mengajak Ivan untuk pergi menuju sebuah ruangan yang lebih rahasia, entah hal apa yang ingin dia bicarakan namun hal itu terdengar sangat serius sehingga memintanya berbicara secara tertutup.


"Jadi apa yang ingin tuan muda ingin katakan?"


"Ini tentang bayi yang dikandung Olia."


Bunga menutup mulutnya akan perasaan terkejut saat mendengar kabar jika Olia sedang mengandung, apakah hubungan Nicolas dan Olia sudah sejauh itu sehingga dia hamil. Kabar yang menyakitkan ini tentunya membuat Bunga sangat tidak percaya jika nonanya diperlakukan sangat menyakitkan seperti ini.


"Kau mau melakukan sesuatu untuk ibuku, Bunga?"


"Apa itu tuan muda?"


Dengan penasaran wanita ini memandang Ivan yang kemudian menatapnya dengan serius, entah hal apa yang diinginkan Ivan namun kalimatnya terdengar menegangkan. Hal apa yang ingin dia sampaikan sehingga dirinya berkata demikian.


"Aku ingin kau membunuh bayi itu."


"Apa, tapi tuan muda-"


Ivan menatap serius pada Bunga yang merasa ragu akan perintah darinya, bagaimana bisa dia membunuh bayi yang tidak bersalah hanya karena kebahagiaan ini terletak pada keadaan yang salah tapi bagaimana pula perasaan nonanya jika dia mengetahui kebenaran adik kesayangannya hamil bersama suaminya.


"Kau sudah memikirkan dengan baik, Bunga?"


"Baik, tuan muda, jika ini untuk nona, akan saya lakukan."


Kakinya melangkah pergi meninggalkan ruangan tersebut setelah urusannya dengan Bunga selesai, dendam di hatinya pun semakin membesar saat melihat kebahagiaan itu terlihat jelas diwajah keduanya saat mendengar tentang kehamilan itu. Selama dirinya hidup di dunia ini tidak akan dia biarkan kedua orang itu bahagia di atas penderitaan ibunya.


"Tidak akan, aku tidak akan membuat mereka bahagia di saat ibuku menderita."


Tatapan mata itu mengarah pada bingkai foto di mana sosok ayahnya berada, sosok orang yang sangat dia benci bahkan berniat untuk dia bunuh suatu hari nanti namun hari ini dia akan menahan keinginan itu agar dirinya bisa menyaksikan kedukaan mereka saat bayi yang dikandung Olia mati nantinya.


"Aku tidak akan memaafkan mereka berdua, dua penjahat itu akan menderita ditanganku."


Kakinya melangkah pergi meninggalkan tempatnya menuju sebuah kamar di mana ibunya sedang berada, untuk saat ini dia akan merahasiakan rencana ini bahkan bungkam akan kebenaran jika Olia sedang mengandung anak Nicolas. Jika ibunya mengetahui semua itu hatinya pasti akan sangat hancur saat tau orang yang sangat dia cintai kini mengkhianati dirinya.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2