Mama, Jangan Menangis

Mama, Jangan Menangis
Episode 7: Ini Baru Permulaan


__ADS_3

Suasana sekolah yang ramai tidak membuat hatinya senang seperti kebanyakan anak yang begitu bahagia menikmati waktu istirahat ini dengan menghabiskan jajan ke kantin atau pun bermain dengan teman seusianya, memang Ivan memiliki satu teman perempuan yang selalu bersamanya namun dia tau batasan mereka jika di sekolah dan di rumah.


"Pantas saja Ivan sangat menyukaimu, kau cantik juga ya?"


"Memangnya kau tidak tau kepada Ivan, bagaimana pun dia adalah penerus ketua mafia, hidupmu bisa saja dalam masalah dengannya?"


Keadaannya yang sedang tersudutkan oleh dua anak laki-laki ini tidak membuat Maya takut karena dirinya mengenal sosok Ivan sejak pertama kali bertemu jadi tidak akan tau seperti apa penderitanya atau pun kisah hidupnya yang bagaimana.


"Kenapa memangnya, apakah kau iri melihat aku yang cantik ini bersanding dengan Ivan, heh... jika kau berani hadapi dia jangan menyudutkan diriku?"


"Kau berani melawanku, kau akan menanggung akibatnya!?"


Ancaman itu cukup membuat Maya takut, dirinya hanyalah gadis lemah yang tidak bisa berbuat apa pun dalam keadaan ini namun mulutnya tidak mau terlihat lemah hanya karena mereka berdua adalah seorang laki-laki.


DUAK.


Kepala itu langsung dibenturkan pada sebuah dinding yang membuat Maya terdiam menyaksikan pemandangan yang mengerikan itu terlihat di depan matanya, tatapan marah dari Ivan membuat salah satu anak laki-laki ini berlari ketakutan saat melihat temannya tumbang.


"Astaga Ivan, jangan membuatku terkejut begitu dong, akukan kaget?"


"Sudah aku katakan jangan jalan sendiri, karena kau sering lengket kepadaku kini semua anak di sekolah ini selalu mengira jika aku memiliki hubungan denganmu?"


Memang semua murid di sekolah ini tau jika mereka berdua memiliki hubungan yang istimewa namun pada kenyataannya mereka berdua hanyalah sepasang sahabat yang sedang mencari cinta sejati meskipun pesta pertunangan mereka baru terjadi kemarin namun Maya tidak akan pernah mau menganggap Ivan sebagai tunangannya.


"Yaaa... mau bagaimana lagi, mereka semua takut berteman denganku saat tau siapa ayahku, ahhh... aku jadi tidak mempunyai teman dan sulit mencari pasangan impianku?"


"Aku tidak bisa membantu, saat ini aku sibuk memikirkan rencana untuk balas dendam."


Dengan memperlihatkan tangannya yang terkepal kuat dapat Maya saksikan jika pandangan mata Ivan masih menyiratkan tatapan penuh kebencian di hatinya, semakin mereka beranjak dewasa maka kebencian yang ada di hatinya pun semakin besar untuk melancarkan aksi balas dendamnya yang sudah dia siapkan sangat lama ini.


"Iya, aku paham, lebih baik kita ke kantin yuk, aku yang traktir nanti pulang ke rumah kita minum teh asoy buatan Maya ya?"


"Tentu."


Meninggalkan kekacauan itu Maya pun kembali bercerita banyak hal dengan Ivan yang hanya beberapa kata membalas ucapannya tersebut, memang keduanya terlihat dekat bahkan siapa pun dapat salah paham akan kedekatan keduanya yang tidak biasa ini namun Ivan tidak pernah berpikir untuk memikirkan hal tersebut karena di otaknya hanya satu yang dia pikirkan, rencana balas dendam.


Minuman yang ada di depannya ini sudah dia buatkan untuk ibu angkatnya, ini adalah keseharian terbarunya untuk membuatkan teh kesukaan ibu angkatnya yang biasanya memintanya untuk dibuatkan. Setelah memperhatikan seluruh tempat kemudian Ivan mengeluarkan sesuatu dari celananya, serbuk obat yang berada di plastik kecil itu perlahan dituangkan ke dalam minuman itu.


Setelah semuanya berada dalam minuman itu kemudian Ivan kembali menyimpan bungkusan obat itu dan tidak lupa mengaduk tehnya agar tidak ada yang tau jika dia sudah mencampurkan sesuatu pada minuman ini.


"Ini tehnya?"


"Terima kasih, kau selalu membuatku teh, aku merasa senang."


Senyuman itu Ivan berikan kepada wanita ini dengan perasaan bahagia karena kepeduliannya yang akhir-akhir ini sering membuatkannya teh saat dia baru saja pulang dari sekolah. Setelah menyaksikan secara langsung teh itu dia minum dengan senyuman senang Ivan perlihatkan sembari melangkah pergi meninggalkan tempatnya.

__ADS_1


"Hahhh... kenapa ya akhir-akhir ini kepalaku jadi sering pusing?"


"Mungkin karena kau terlalu lelah dengan mengurus Ivan, lebih baik kau istirahat, sayang?"


Anggukan itu dia berikan dan melangkah pergi dari duduknya setelah menghabiskan tehnya, Ivan yang menyaksikan keluhan yang diperlihatkan wanita itu tentunya tersenyum senang karena efek obat yang dia berikan secara perlahan memperlihatkan dampaknya.


Meninggalkan tempatnya kemudian Ivan melangkah pergi ke luar dari rumah ini, ini sudah waktunya dia bertemu dengan Maya untuk menyampaikan rasa bahagia yang dia rasakan saat ini. Memang Ivan sulit percaya dengan Maya namun melihat sikapnya yang tidak pernah peduli akan rencana balas dendamnya ini tentunya Ivan tidak masalah memberikan kepercayaannya kepada Maya.


"Ivan oh Ivan~"


"Hah, ada apa?"


Dirinya baru saja sampai di rumah ini dan Maya sudah mendesah dengan perasaan yang aneh di pandangannya, apakah ada sesuatu yang membuatnya merasa kegirangan lagi atau bagaimana sehingga kelakuannya ini begitu menggelikan di matanya.


"Tadi di kelas ada kedatangan murid baru dan aku merasa jatuh hati padanya. Ivan oh Ivan~"


"Hentikan itu menggelikan, siapa dia?"


Senyuman senang itu Maya berikan sembari duduk dengan menjamu Ivan dengan teh buatannya, entah siapa gerangan seseorang yang membuatnya jatuh hati namun Ivan tidak akan peduli karena saat ini dirinya sedang merencanakan balas dendamnya secara diam-diam.


"Mamanya Isabella Midford, astaga hanya melihatnya saja aku merasa jika kami itu berjodoh."


"Hentikan, kau itu hidup di dunia nyata bukan di dunia khayalanmu, memangnya kau hidup di dunia fantasi?"


Dengan menikmati teh itu Ivan melihat ke arah koran yang dia dapatkan ini, sebuah berita besar akan sosok dirinya sebagai ketua mafia sedang jadi topik pembicaraan banyak orang. Jika saja ibunya tau dirinya menjadi sosok yang ditakuti mungkin dia akan menangis saat ini juga.


"Tidak bisa, hal itu tidak bisa aku pikirkan sebelum dendamku terbalaskan."


Terkadang Maya mencoba terus menerus untuk membuat Ivan lupa dengan dendamnya ini namun dirinya tidak bisa karena kebencian di hatinya sangat besar bahkan dendamnya pun sangatlah kuat jadi mustahil dirinya bisa membantu Ivan untuk menghilangkan itu dari hari Ivan.


"Jika kau sangat dendam kepada mereka, kenapa kau tidak langsung membunuh mereka?"


Pertanyaan itu membuat Ivan menghentikan kegiatannya yang sedang membaca koran, tatapan matanya mengarah pada gadis cantik ini yang sangat penasaran kenapa tidak membunuh mereka padahal dirinya sudah memiliki kekuasaan yang resmi bahkan ayah angkatnya pun sudah memberikan semuanya kepada Ivan.


"Maya, terkadang kita harus gunakan otak untuk melakukan balas dendam bukan dengan tenaga, aku harus membuat mereka jatuh terlebih dahulu dan... saat mereka semakin melemah, aku bisa membunuh mereka tanpa diketahui."


"Hmmm... aku tidak mengerti."


Ivan yang mendengar kejujuran Maya hanya bisa tersenyum maklum akan pemikirannya yang masih sulit untuk mencerna apa yang dia katakan, setidaknya saat ini Ivan ingin mengambil hati mereka terlebih dahulu agar dianggap anak yang penurut dan setelah mereka jatuh dalam perangkatnya maka Ivan hanya perlu menghabisi mereka semua untuk menuntaskan dendam ini.


Dalam ketergesaan itu wanita ini berlari ke ruang darurat akan keadaan kakaknya yang baru ini ingin melahirkan, wajahnya begitu panik saat melihat keadaan kakaknya yang sedang menahan sakit saat sang anak ingin segera ke luar dari perutnya itu.


"Kak haruskah aku menelepon Nicolas?"


"Hahhh... tidak, jangan ganggu dia hahhh... kau tunggu di luar ya."

__ADS_1


Pintu pun ditutup dan membuat Marmaria kebingungan kenapa kakaknya melarang dirinya untuk menelepon Nicolas, bukankah dia adalah memiliki tanggungjawab ini meskipun dirinya tau jika pria bajingan itu sedang bersama siapa saat ini tapi kakaknya harus menderita seperti ini.


"Bagaimana bisa kau hidup seperti ini, kakak?"


Tatapan matanya begitu sedih mengatahui semua kebenaran yang menyakitkan ini, bagaimana bisa pernikahan mereka yang awalnya bahagia menjadi seperti ini, hal apa yang membuat Nicolas berubah dan bukankah mereka sudah bersama sangat lama bahkan perasaan cinta diantara keduanya begitu nyata saat itu tapi kenapa ini terjadi. Apa alasannya.


Marmaria masih tidak memahami kenapa semua ini terjadi kepada kakaknya namun hal yang tidak dia pahami adalah adik bungsu mereka, dengan bangganya dia menyatakan jika Nicolas begitu mencintainya, apakah dia masih berbangga akan hal itu hingga saat ini bahkan sampai Olivia tau kebenaran semuanya nanti.


Bahkan di saat Olivia melahirkan Marmaria dapat membayangkan hal apa yang sedang dilakukan keduanya saat ini, rasanya sangat menyakitkan untuk mengetahui jika mereka begitu bahagia di saat Olivia menderita seperti ini.


Beberapa jam telah berlalu dan Marmaria sangat mencemaskan keadaan kakaknya yanh ada di dalam sana, dirinya harus bertanya kenapa kakaknya melarang dirinya untuk menelepon Nicolas meskipun dia tau kebenaran itu tapi tetap saja pria itu memiliki tanggung jawab yang besar setelah menikahi kakaknya dan mustahil dia berdiam diri saat istrinya melahirkan.


"Dokter, bagaimana dengan kakak saya?"


"Ibu dan sang anak sehat, kami akan memindahkan mereka nanti ke ruangan inap."


Mendengar jika keadaan kakaknya baik-baik saja dengan segera Marmaria memasuki ruangan tersebut, menyaksikan kakaknya sedang menggendong anaknya. Hatinya begitu sakit melihat kakaknya sedang berjuang seorang diri tanpa kehadiran Nicolas di sini.


"Kenapa, kenapa kau melarangku untuk menghubungi Nicolas?"


"Dia saat ini sedang sibuk. Biarkan saja, aku sudah terbiasa melahirkan tanpa ada di sisiku."


Mendengar itu tentunya Marmaria merasa terkejut bahkan mulutnya terbuka dengan kedua tangan yang menutupi mulutnya, kakinya melangkah mendekati sang kakak dan duduk pada kursi yang disediakan.


"Kenapa kau bertahan kakak, jika kau tidak bahagia dengannya lepaskan?"


"Tidak bisa, aku sangat mencintainya, Marmaria."


Kalimat itu seketika membuat Marmaria memejamkan matanya dengan air mata yang turun dari pelupuk matanya, kakaknya begitu mencintai pria yang salah bahkan masih bertahan dengan keadaannya yang sangat menyedihkan ini.


"Hiks... tapi bagaimana dengan perasaanmu, sampai kapan kau akan menyiksa dirimu?"


"Marmaria, semua manusia bisa berubah bukan, aku yakin dia akan berubah saat mengetahui jika anak yang aku lahirkan adalah seorang perempuan."


Marmaria masih tidak mengerti kenapa kakaknya yang baik dan lemah lembut ini harus memiliki suami yang jahat seperti Nicolas, andai saja dia tau kebenaran semua itu mungkin Olivia akan berpikir dua kali untuk mengatakan jika dia mencintainya bahkan mulut Marmaria ingin rasanya berucap akan semua kebenaran itu.


Tapi dia tidak ingin menghancurkan kebahagiaannya ini, tapi bukankah kebenaran ini akan terdengar menyakitkan untuk Olivia jika dia baru saja mengetahuinya nanti. Tangisan dari Marmaria tentunya sudah menjadi jawaban kenapa dia bertanya seperti itu namun dirinya masih teguh pada pendiriannya.


Mungkin kemarin adalah kesalahannya dan Olivia yakin jika nanti suaminya akan berubah saat mengetahui anak yang dia lahirkan adalah seorang perempuan yang manis, tidak ada keraguan di hatinya meskipun dia tau hal itu sulit terjadi tapi Olivia yakin akan takdir Tuhan jika suaminya pasti bisa berubah dan kembali mencintainya lagi.


"Aku yakin Nicolas bisa mencintaiku lagi."


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2