
Pagi itu Tabia sangat senang, bagaimana bisa sekolah yang ia ajukan lamaran menerimanya. Sangat bahagia itulah yang dirasakan oleh Tabia. Tabia menginginkan pekerjaan itu lebih dari lima bulan setelah kelulusannya. Tak henti-henti Tabia mengukir senyum dibibirnya. Tiba-tiba senyuman itu membuyar sekarang Tabia kembali murung, bagaimana bisa ia melepaskan kedua orang tuanya dikampung. Sekolah yang menerimanya membutuhkan waktu delapan jam diperjalanan.
"Pilihan yang sangat sulit" katanya pelan seraya menatap ayah dan ibu yang sedang berjalan menghampiri Tabia. Ayah dan ibu Tabia tidak bisa melarang Tabia untuk merantau.
Disisi lain Merantau adalah salah satu cara agar perekonomian keluarga Tabia akan sedikit lebih baik. Sebenarnya ayah Tabia sedikit bimbang untuk menyetujui keputusan anaknya untuk merantau, tetapi mengingat anak perempuannya sudah lulus sarjana bagaimana bisa dia hanya tinggal dikampung tanpa mendapatkan apapun.
Demi masa depan Tabia mereka semua merelakan Tabia untuk menjauh dari mereka. Ibu Tabia hanya pasrah dengan keputusan anaknya, "ibu tau apa yang sedang kau inginkan nak kejarlah" ucapnya dengan nada sedih.
Tabia tidak bisa larut dengan kesedihan ini, Tabia mengatakan kepada ayah dan ibunya bahwa tabia akan baik-baik saja disana nantinya. Walaupun Tabia masih bimbang, tapi kalau diingat Tabia dulu juga pernah jauh dari orang tuanya sewaktu kuliah. "Tapi sekarang kenapa jadi tidak tega begini" lirihnya.
__ADS_1
Setelah berperang dengan pikiran yang membuatnya tidak bisa melangkah, Tabia memutuskan merebahkan diri di kasur yang sebentar lagi ia tinggalkan.
Dua jam berlalu Tabia memutuskan untuk tidak berlarut dengan rebahan, inilah yang dilakukan Tabia selama nganggur rebahan sepanjang hari. "Astaga aku lupa menyiapkan segala keperluan yang akan kubawa esok" Tabia mengatakan sambil mengumpulkan berkas penting yang akan dia bawakan esok. Butuh waktu hampir dua jam lebih, Tabia memutuskan mengakhiri aktivitas dengan membersihkan tubuh lalu tidur. Tabia membutuhkan tenaga sebelum melakukan perjalanan cukup jauh besok.
Tidak terasa waktu keberangkatan Tabia sudah 2 jam berlalu, dalam bis Tabia tidak hentinya menangis. Seketika langsung ingat pesan dari kedua orangtuanya Tabia tidak boleh bersedih harus semangat. Tabia sudah tiba di tempat tujuan, Tabia melangkahkan kaki melihat seseorang sudah menunggunya. Yah itu adalah kepala sekolah sd xxxx. Sebelum keberangkatan tadi Tabia mengabari seseorang untuk menunggunya disekolah, jurur saja Tabia belum mengetahui keadaan ditempat ini, walaupun Tabia pernah berada dikota ini tetap saja dia belum menghafal segala sudut kota yang ia tempati saat ini. "Maaf pak sudah menunggu lama" Tabia tidak enak hati melihat bapak kepala sekolah yang usianya sudah menunjukan tahun depan akan pensiun. "Tidak apa-apa nak Tabia" ucapnya dengan tegas dan sopan. Mendengar jawaban pak tua itu Tabia sedikit memberikan senyum seraya berterima kasih.
Sesuai dengan perjanjian diawal, sebelum menemukan tempat tinggal Tabia tinggal dirumah pak Agus selaku kepala sekolah disekolah yang akan Tabia bekerja. Tabia tidak keberatan sama sekali, sekarang Tabia sangat bersyukur setidaknya dia memiliki tempat tinggal sementara.
Setelah mandi Tabia kembali duduk disamping Oma, niatnya langsung merebahkan tubuh dikasur tetapi karena wanita tua itu belum tidur akhirnya Tabia melilih duduk. Tabia memilih mulai percakapan, menanyakan hal-hal yang indah dikota ini keduanya sangat asyik hingga tidak terasa sudah dua jam lebih mereka mengobrol dan memutuskan untuk terlelap.
__ADS_1
Pagi yang cerah, Tabia merentang kedua tangannya menoleh kesamping ternyata wanita tua itu bangun lebih dulu dari pada dirinya. Melihat jam diponselnya tenyata masih jam lima tepat, sebenarnya Tabia masih ngantuk mengingat dia sedang numpang dirumah orang membuat Tabia keluar menuju arah dapur.
Didampur oma sudah duduk manis di meja makan, memegang gelas berisi air putih. Tabia berpikir ini yang membuat wanita tua keliatan awet muda walaupun umurnya sudah tua tapi mukanya masih fresh. "Tabia apakah kamu keberatan kalau menawarkan sesuatu padamu, kebetulan oma memiliki rumah dekat sekolah kamu bekerja" Tabia terkejut mendengar kalimat dari oma, bagaimana bisa baru satu hari dia kota ini banyak sekali orang yang membantunya.
"oma apakah oma serius? Aku membutuhkannya oma, Tabia bingung harus cari dimana tempat yang layak untuk Tabia berteduh" Tabia tidak berhenti untuk tersenyum, kali ini dia benar-benar syok. Sedangkan lawan bicaranya dari tadi memperhatikan Tabia dia berpikir keputusannya untuk mengajak Tabia tinggal bersamanya bukan hal yang salah. Lagian asisten rumah tangganya mengambil cuti selama dua bulan. Dari pada kesepian wanita itu mengajak Tabia untuk tinggal bersamanya.
Setelah obrolan kecil tadi, Tabia langsung semangat beraktivitas. Satu jam berlalu sekarang Tabia telah menyiapkan sarapan untuk keluarga pak Agus. Semuanya sudah siap, Tabia kembali ke kamar merapikan kembali barang-barang yang telah dipakainya. Mengingat percakapan Oma dengan Tabia tadi, bahwa setelah sarapan Tabia segera meninggalkan rumah pak Agus langsung ke rumah oma. "Rupanya oma tidak sabar sekali aku kerumahnya". Gunan Tabia yang sedari tadi tidak berhenti tersenyum. "apa yang kamu pikirkan dengan wajah senyummu" oma mengahampir Tabia. Tabia tersipu malu bagaimana bisa oma menangkap basah dirinya sedang tersenyum. "Hehehe omaaaaaaa" teriak Tabia.
Membutuhkan waktu waktu lima menit oma dan Tabia sudah meninggalkan rumah pak Agus, sekarang Tabia sudah berada di Rumah wanita tua itu yang biasa dipanggil oma olehnya. Tabia sangat terpesona dengan rumah oma, rumahnya sangat luas hampir setiap sudut ruangan terisi sebuah pot bunga hidup. "apakah aku nyaman berada dirumah mewah ini, rumah ini sangat mewah rasanya aku tidak pantas untuk berada disini" tabia merasa tidak percaya diri berada di rumah oma, walaupun oma sangat baik padanya wanita muda itu masih ragu bagaimanapun ia belum mengenal terlalu dekat dengan oma yang tinggal bersamanya saat ini. Tabia sempat berpikir apakah oma tinggal sendirian dirumah besar ini, menelusuri setiap sudut ruangan wanita muda itu tidak melihat bingkai foto keluarga. Tidak tertarik dengan hal itu Tabia langsung ke kamar yang ditunjukkan oleh wanita tua itu. "Tabia ini kamar kamu, semua perlengkapan simpan saja dalam lemari ini" sebelum Tabia jawab wanita tua itu menambahkan" oh ya Tabia ini sebenarnya kamar anak oma yang pertama, tapi karena dia sudah memiliki rumah jadi kamar ini milik kamu, mungkin ada beberapa barang tertinggal kamu simpan baik-baik dan tidak boleh menyentuhnya. Anak oma yang satu ini bebbeda dari manusia lain, nanti oma coba kasih tau dia segera datang ambil barangnya ". Mendengar hal itu Tabia menemukan apa yang menjadi pertanyaannya selama berada di rumah ini, banyak hal yang dipikirkan oleh Tabia Apakah anak-anaknya nanti bisa menerimanya tinggal dirumah ini. Wanita muda itu memutuskan untuk memasukan semua barang-barangnya kedalam lemari, dengan hati-hati Tabia memindahkan barang-barang masih tersisa menjadi satu bagian. "Rupanya anak oma yang pertama cowok, berarti sudah tua Pantasan sudah memiliki rumah" Tabia berpikir anak dari wanita tua itu adalah cowok dilihat dari semua jenis barang-barang yang masih tertinggal.
__ADS_1
Butuh waktu 30 menit wanita muda itu sudah selesai dengan aktivitasnya, lihat sekilas ke arah smartphone yang sejak tadi dibiarkan begitu saja Tabia meraihnya menekan kontak lalu memanggil. Tabia tiba-tiba merindukan suara kedua orangtuanya, mungkin kedua orang tuanya sibuk hingga tidak menjawab telepon dari wanita itu.