Mantan Dosen Pembimbing

Mantan Dosen Pembimbing
Bab 3


__ADS_3

Kring... Kringggg. Kringggg bunyi alarm ponsel membuat sang empuh bangun dari tidurnya.


Tabia memulai aktivitasnya, dengan menyediakan sarapan untuk dirinya dan wanita tua itu yang sering disapa Oma Mar. Rupanya sang oma belum bangun dari tidurnya, dari pada menunggu di meja makan Tabia memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu


"oma belum bangun, jadi aku mandi dulu baru sarapan".


Dengan kemeja berwarna navy dibalut dengan celana tissu yang panjang dan rambut diikat membuat penampilan Tabia sedikit menarik. Wanita berkerja sebagai guru honorer itu tidak suka berdandan berlebihan, ia hanya menggunakan liptin untuk menghiasi bibirnya yang agak tebal itu.


"selamat pagi Bia, wahh cantik banget anak oma" puji sang oma yang menyambutnya didekat meja makan.


"Pagi oma, ahhh oma makasi banyak " pujian dari sang oma membuatnya tersipu malu.

__ADS_1


Disaat makan seperti ini Tabia selalu memberikan lelucon dan candaan kecil agar suasana makan tidak canggung , hal itulah yang disukai oma pada diri Tabia. Selain rajin Tabia juga sering memberikan perhatian kecil membuat sang oma berpikir bahwa kedua orangtua Tabia berhasil mendidik anak mereka dengan baik.


Lihatlah walaupun Tabia bekerja, ia mampu menyelesaikan semua pekerjaan rumah sebelum berangkat kerja.


Dan setelah selesai dengan makanannya Tabia beranjak dari duduknya untuk membersihkan peralatan yang mereka pakai, sang oma niat mau membatu, tapi Tabia melarangnya dengan keras agar tetap duduk. Bagi anak itu, memberi tumpangan untuk  dirinya sudah sangatlah bersyukur membantu memberes rumah dan menyediakan segala kebutuhan wanita tua itu adalah kewajiban Tabia. Itulah yang sering dipikirkan oleh guru muda itu.


Tabia berjalan menuju kamar mengambil tas lalu, menghampiri dan mencium tangan sang oma" Tabia berangkat dulu ya Oma".


Hari ini Tabia melaluinya dengan baik, bagaimana bisa wanita itu mulai beradaptasi dengan cepat dilingkungan sekolahnya. Bagi Tabia mendekatkan diri dengan guru-guru senior dihari pertama bukanlah hal yang mudah, tapi sebisa mungkin wanita itu berusaha agar situasinya menyenangkan. Alhasil semua senior menerima dan memperlakukan dengan baik.


Misi pertama telah selesai dan berjalan sesuai harapannya.

__ADS_1


Dalam perjalanan menuju rumah, guru muda itu selalu memikirkan bagaimana caranya agar tidak bertemu dengan lelaki itu. Bukannya tidak suka hanya Tabia belum siap. Bertemu dengan orang yang paling kagumi sebenarnya sangat bahagia. Tetapi bagi Tabia cukup mengaguminya dalam diam, tanpa harus bertemu. Ternyata takdir berkata lain. Wanita itu masih ada kesempatan untuk melihatnya setelah kelulusannya, walaupun faktanya wanita itu tidak bisa memilikinya. Wanita itu selalu saja berpikir Apa yang harus dia dilakukan dan apa yang harus ia katakan nantinya ketiba waktunya sudah tiba. Selain minder wanita itu juga merasa bahwa pria itu tidak menyukainya sama sekali. Tabia teringat kembali bagaimana perilaku pria itu yanh status sebagai dosen dikampusnya bukan hanya sebagai dosen mata kuliah, ternyata dia juga dosen pembimbing tugas akhir Tabia. "Astaga kalau tau begini, aku menolak saja ajakan Oma tinggal bersamanya. Tuhan bagaiama ini, aku belum bertemu dengannya nafasku tidak karuan begini. Bagaimna nantinya kalalu aku bertemu dengannya aku yakin pasti aku drop" wanita itu selalu gerutu dan menyalakan dirinya kenapa ia bisa menyukainya. Seandainya wanita itu tidak menyukai dosennya pasti hal ini tidak akan terjadi, pasti dia sangat bangga bisa satu rumah dengan laki-laki yang selalu dipuja para ciwi-ciwi cantik dikampusnya.


Rumah, sebenarnya tempat ternyaman bagi siapapun, lain halnya dengan Tabia. Bukan karena dia hanya tamu dirumah itu. Sebenarnya Tabia nyaman, Hanya mengetahui beberapa fakta lain membuat Tabia tidak ingin pulang. "kalau aku tidak pulang, kemana aku harus berteduh. Kalau aku cari kos disekitar sini pasti mahal. Gajiku pasti tidak cukup" Tabia kembali murung mengingat pengorbanan orang tuanya, mengingat anak itu masih status guru honorer yang gajinya hanya sedikit membuatnya berpikir bagaimanapun caranya anak itu harus bertahan.


Cukup banyak waktu Tabia untuk berperang dengan isi kepalanya, Tabia akhirnya memiliki nekad untuk pulang. Wanita muda itu juga berpikir bahwa lelaki itu belum pulang kerumah.


"syukurlah belum pulang, kalau sudah pulang pasti dia dirumahnya" mengingat lelaki itu memiliki rumah pribadi bersama sang istri, membuat guru muda itu senyum sendiri dengan demikian dia tidak memiliki banyak waktu untuk bertemu dengan lelaki itu. "syukurlah dia tidak ada dirumah".


"siang oma" menyapa sang oma yang berdiri dibalik pintu. Kemudian jalan menuju ruang tamu. Tabia dan wanita tua itu sedang duduk di ruang tamu, banyak hal yang di ceritakan oleh Tabia, semua kejadian disekolah tempat ia bekerja tak ada satu katapun terlupakan sang oma hanya ketawa dan sesekali menggapi serta memberikan lelucon membuat dua orang itu tidak berhenti tertawa. Puas dengan obrolan singkat dua wanita itu memilih untuk mengisi perut mereka masing-masing tidak ada suara selain bunyi sendok dan garpu. Mencergh keheningan sang oma membuka obrolan lebih terdahulu" Bia sebentar malam oma nginap di rumah Aldo, anak mantu Oma istrinya Aldo sedang sakit" belum sempat Tabia menjawab sang oma melanjutkan kata-katanya" kalau Bia keberatan atau tidak bisa sendirian di rumah kamu bisa ikut oma kebetulan rumah Aldo deket kok dari sini" Tabia sebenarnya senang, dengan demikian lelaki itu tidak lagi nginap ataupun berkunjung kerumah orangtuanya. Disisi lain Tabia terkejut dengan apa yang disampaikan wanita tua itu. "Tidak apa-apa kok oma, Tabia dirumah saja. Ada banyak hal yang ingin Bia kerjakan, nanti kalau Bia ada waktu luang Bia usahakan untuk berkunjung oma" wanita itu memberikan pengertian untuk sang oma, bagaimanapun Tabia tidak enak hati untuk menolak ajakan sang oma. Hanya saja Tabia lagi-lagi tidak ingin bertemu dengan lelaki itu.


Sang oma hanya menganggukkan kepalanya mendadakan setuju dengan apa yang disampaikan oleh wanita muda itu. "oh ya Oma Bia penasaran deh sama anak oma, mungkin Tabia kenal. Kan bia juga alumni kampus xxxxx" sejujurnya Tabia sudah mengetahui siapa putra sulung dari sang oma hanya saja Tabia pura-pura untuk betanya. " oh iya, oma pikir kamu kuliah diluar kota. Kayanya kamu kenal deh Bia diakan dosen untuk program study PGSD, kamu ambil program apa waktu kuliah? PGSD jugakan?" untuk membenarkan perkataan sang Oma, Tabia hanya mengangguk pasrah. "iya Oma, Bia ngambil Progam study PGSD, kayanya Bia kenal oma. Oh ya Oma nanti salamin buat semuanya yah, nanti kapan-kapan Bia kesana deh oma"

__ADS_1


__ADS_2