
Lagi-lagi Tabia cuek dengan hal yang dikatakan oleh pria itu. Entalah anak itu terlalu mati rasa. Mungkin rasa kagumnya membunuh segala keburukan dari pria itu. Menurut Tabia melihat wajahnya lebih dari kata cukup. Walaupun kelakuannya sedikit egois, tetapi tidak mengusik kekagumannya terhadap pria itu.
Sang oma tidak bisa membantah segala perkataan sang anak, dipikirnya anak itu melakukan hal seperti itu dikarenakan baru saja kehilangan seorang yang oaling ia cintai.
Tabia tidak mendengar percakapan antara ibu dan anak itu. Apa yang sedang mereka pikirkan, kenapa diam sekali? Tabia bertanya pada diri sendiri. Dua jam berlalu setelah kejadian itu, pakaian yang kotor sudah dibersihkan oleh Tabia. Niat ingin langsung menjemur, tetapi perut dan cacing Tabia minta asupan itu artinya anak itu harus mengisi perut terlebih dahulu. Sebelum menuju meja makan, Tabia pastikan tidak ada orang yang berada di sana. Tabia kembali berpikir bagaimana kalau pria itu tiba-tiba datang menghampiri dan melarangnya untuk makan? Dengan buru-buru Tabia melahap makanannya, rasa takut terhadap pria itu sering muncul dalam benaknya sehingga wanita muda itu merasa tidak tenang.
__ADS_1
Kenyang itulah yang dirasakan wanita itu, sesekali ia menatap ke kamar pria itu apakah dirinya sudah tidur atau tidak. Apa yang dia pikirkan kalau siang-siang begini? Arkhhhhhhh kenapa sih masih memikirkan dia. Wanita itu bingung sama dirinya, kenapa setelah kejadian yang telah terjadi rasa penasaran terhadap dosen itu semakin meningkat.
DIKAMAR
Lelaki itu menatap kearah jendela, tatapannya sangat kosong, hatinya sangat rapuh. Banyak hal yang dipikirkan olehnya. seandainya waktu bisa diputar, banyak hal yang ingin dia sampaikan kepada sang istri ternyata hidup tanpanya bagaikan jalan tanpa arah. pria itu merasa tersesat tidak mengetahui apa yang harus dilakukan. Entalah peran sang istri sangat dibutuhkan oleh pria itu. Pria itu berpikir untuk mengajukan surat mengunduran diri jadi Dosen, menurutnya tidak ada lagi alasan untuk bekerja. Memenuhi kebutuhan sang bunda, ia masih ada usaha kecil-kecilan. Sang ayah juga meninggalkan beberapa saham untuk dikembangankan kedua putranya. Tiba-tiba matanya tangkap bayangan. Bayangan seperti orang lagi mengintip, matanya menyipit menanyakan siapa yang berani-berani mengganggu ketenangan. Dilanda dengan rasa penasaran pria itu berjalan kearah pintu.
__ADS_1
Ada apa? ada yang bisa saya bantu? kenapa berdiri didepan pintu kamar saya? laki-laki itu memberikan beberapa pertanyaan untuk wanita yang masih berdiri tegap dibalik pintu kamatnya. Wanita muda itu menatap kearah sumber suara, tidak ada lagi alasanya. Otaknya terus bekerja jawaban apa yang pas untuk menjawab sang dosen. Belum sempat Tabia jawab, sang dosen masuk lagi dan menutup pintu dengan sangat kasar. Tabia yakin pria itu tambah membencinya. Anak itu terus mengutuki dirinya, gara-gara hal itu pasti sang dosen nambah seratus kali lipat membecinya.
Kejadian tadi sepertinya mampu membuat Tabia tidak bisa tenang. Bagaimana kalau dia mengadu sama Oma lalu menyuruh sang Oma untuk mengusir Tabia. Kali ini pasti sang oma menyetujui, bagaimanapun sang Oma lebih penting kenyamanan sang anak dari pada orang lain.
Tiga puluh menit berlalu, Tabia memutuskan untuk menyiapkan makan malam. Kali ini wanita itu menyiaapkan lebih cepat dari biasanya. Dengan alasan mengingat kemarin sang dosen tidak menyukainya berada di meja makan. Walaupun Tabia sebenarnya ingin melihat dan berbincang dengan sang dosen.
__ADS_1
Waktu makan Malam pun tiba, sang Oma jalan ke arah meja makan tidam ada satu orangpun disana. kemana Bia? pertanyaan itu yang dilontarkan oleh wanita tua itu.
"Biaaa" sang oma memanggilnya dengan lembut. Mendengar namanya dipanggil, wanita itu keluar kamar sebentar dan memberikan beberapa alasan. Tabia tidak ingin salah paham, sebernanya sang oma sudah mengetahui bahwa putra sulungnya tidak menyukai kehadiran Tabia.