
Benar-benar sepih, wanita itu tidak ada niatan untuk beraktivitas hari ini dia cukup lelah. Rumah sudah ia bersihkan tadi pagi, begitu juga dengan yang lain. Tidak menunggu waktu lama akhirnya anak itu terlelap ke alam mimpinya.
Ditempat lain
Kedatangan sang ibunda, membuat pria itu sangat senang. Semenjak istrinya jatuh sakit, ia sangat kesepian. Walaupun usia pernikahan sudah berumur 5 tahun, sampai saat ini pasang suami istri itu belum mengarunia seorang Anak. Sang suami tidak pernah menuntut untuk mendapatkan keturunan, melihat sang istri dan ibunda tercinta sehat itulah yang diharapkan pria itu. Kebahagian terbesarnya adalah melihat sang istri dan sang ibu tersenyum tanpa batas. Mengingat kejadian dua tahun lalu, ia harus rela kepergian sang ayah. Melihat sang istri kesakitan dan tak kunjung sembuh membuatnya sedikit agresif. Sebenarnya pria itu sedikit bahagia, akhirnya sang ibu ada yang menemani. Mendengar cerita sang ibu, bahwa anak itu sangat perhatian. wanita tua itu tidak henti-henti memuji tentang kebaikan wanita muda yang berstatus guru membuatnya penasaran dan memutuskan untuk melihatnya apalagi menurut informasi dari sang bunda anak itu alumni kampus tempat ia bekerja. Tidak menunggu waktu lama pria itu memutuskan untuk milihatnya secara langsung dan sedikit memberikan peraturan untuk penghuni baru dirumah tempat lahirnya.
Semenjak kepergian sang Oma, Tabia bingung harus melakukan apapun, bukannya Tabia malas hanya saja semua pekerjaan rumah sudah beres, tiba-tiba suara mobil terdengar oleh Tabia itu tandanya ada tamu. "gawat" pikiran Tabia langsung tertuju pada satu orang, yah siapa lagi kalau bukan lelaki itu. Untuk kesekian kalinya ia mengutuk dirinya, andai saja ia mengikuti perkataan sang Oma mungkin tidak serumit ini, setidaknya ada yang membantu untuk menjawab jika ada pertanyaan yang dilontarkan.
Sebelum memutuskan untuk membuka pintu, Tabia menyusun kata-kata yang pas untuk menyapa pria itu "kenapa oma tidak bilang Tabia kalau dia kesini sih".
Tiba-tiba ketukan pintu terdengar, sebenarnya Tabia sudah berdiri dibalik pintu hanya saja Tabia masih mengurungkan niatnya. "ceklek" pria itu menatap Tabia heran mengerutkan kening seperti sedang berusaha mengingat satu hal. "kau?" sadar dengan kata-kata pria itu. "hay pak" Tabia menampilkan senyum terbaiknya walaupun sebenarnya Tabia hanya pura-pura kaget. " kau yang tinggal bersama ibu? Sejak kapan?" tanya pria itu dengan datar. Tabia bisa mendefinisikan bahwa laki-laki itu sangat tidak suka dengan kehadirannya dari cara memandang dan pertanyaan tadi. Tabia bingung apa yang harus dia katakan sekarang.
__ADS_1
"dari kemarin pak" jawabnya dengan gugup. Pria itu hanya menggaguk mengerti " saya harap kau mengetahui aturan dirumah ini, ini bukan kos jadi kau harus tahu peraturan tidak bebas sebebasnya! Dan satu lagi walaupun bunda sudah mengijinkan kau mengungsi dirumah ini bukan berarti kau tidak mencari kos. Saya rasa kau sudah mengetahui bahwa kau hanya sementara berada dalam rumah ini, kalau bi Imah sudah kembali dari kampungnya berarti kau juga harus angkat kaki dari rumah ini" dan satu lagi, jangan pernah memakai barang-barang yang bukan milikmu. Saya dengar kau menggunakan kamar saya, saya tidak mau tahu semua barang yang ada dalam kamar itu tidak boleh disentuh apalagi lecet sedikitpun! " pria itu menjelaskan panjang lebar.
Tabia kaget apa yang dikatakan pria itu, tidak bisa berkata apa-apa dengan pasrah Tabia menganggukan kepalanya. Walaupun sang oma tidak pernah menyinggung hal ini, tetapi Tabia yakin ini juga keputusan dari sang oma.
Semenjak kejadian tadi meja makan masih hening, lagi-lagi Tabia mati kutu tidak ada kata yang ia ingin ucapkan atau hanya sekedar basa basi dengan pria itu. Sebenarnya banyak ingin Tabia tanyakan tetapi niatnya ia kuburkan dalam-dalam. Satu jam berlalu, pria itu memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Sebelum keluar pria itu menatap Tabia dengan sangat tajam" jangan pernah menceritakan apa-apa dengan bunda, tentang saya dan kau. Atau saya akan usir kau dari rumah ini. Kalau kau ceritapun tidak masalah tetapi saya yakin setelah bunda tau apa yang pernah kau lakukan padaku, dia akan mengusirmu secara kasar dan membuangmu seperti ******. Paham! Lalu dia pergi meninggalkan Tabia. Sementara Tabia masih bingung dengan perkataannya, kenapa sampai serumit itu padahal kau diangkat-ingat Tabia tidak pemurah melakukan apapun atau hal yang membuatnya tersinggung "apakah dia menanggapinya serius?"
Mengingat kembali kejadian beberapa bulan lalu, membuat Tabia sedikit panik. Sebelum ujian, Tabia dan teman-temannya mengunjungi ruangan pribadi tempat bekerja sang dosen selaku pembimbing tugas akhir Tabia. Tabia mengakuinya, kesalahan terbesar dalam hidupnya adalah cerita sama orang yang tidak bisa menyimpan rahasia. anak itu sangat menyesal kenapa ia sangat ceroboh bisa-bisanya menceritakan segala isi hatinya kepada sang sahabat. Bukannya menyimpan rahasia itu, salah satu sahabatnya memberitahu bahwa tabia sangat menyukai sang dosen. Banyak hal yang dilakukan hanya untuk bertemu dengannya, semenjak kejadian itu sang dosenpun tidak pernah tersenyum ketika Tabia memiliki jadwal bimbingan. Menyapa saja sudah tidak pernah, atau hanya sekedar bahas TA melalui chattingan di WhatsApp. Sang dosen juga pernah memblokir nomornya, Tabia sempat menyerah, untungnya dengan adanya kejadian itu sang dosen memberikan jadwal ujian lebih cepat. Tabia mengetahuinya dengan begini sang dosen tidak lagi bertemu dengannya. Sesekali ia mengutuk diri sendiri kenapa ini bisa terjadi kenapa ia mengagumi sang dosen . Tabia mengaguminya bukan berarti ia ingin memilikinya. Hanya saja Tabia ingin menjadikan sang dosen sebagai motivasi selama berada dikampus ini. Wanita muda itu tidak habis pikir, dengan respon yang diberikan oleh sang dosen yang menurutnya berlebihan.
"mama" tidak membutuhkan waktu lama, Tabia menempelkan benda itu dekat telinga.
Sang bunda menceritakan bagaima sikap sang ayah ketika anak perempuannya tidak ada dirumah, sesekali anak itu tertawa lepas menurut Tabia yang diceritakan sang bunda sangat lucu seketika ia lupa dengan masalah yang ia hadapi. Tabia juga tidak mau kalah anak itu menceritakan setiap apa yang dia lakukan ditempat barunya tak lupa menceritakan kebaikan sang oma membuat sang ibu disebrang sana tersenyum bahagia. Sang ibu juga bertanya bagaimana sikap guru serta murid - murid disekolah tempat ia bekerja. Tabia dengan sangat bangga dan menjelaskan secara detail bagaimana perlakuan baik guru dan anak muridnya. Tidak terasa sudah satu jam lebih mereka ngobrol santai, sang bunda memutuskan sambungan telepon dikarenakan pulsanya sudah mau habis. Tabia tidak permasalahkan soal itu, sedikit merasa bersalah seandainya ia ada uang pasti Tabia yang akan menghubungi mereka tanpa harus mereka yang menghubunginya duluan.
__ADS_1
"oma lagi ngapain sekarang, aduh tadi Bia lupa minta nomernya oma. Kan kalau terjadi sesuatu bisa menghubunginya" sebenarnya Tabia ingin menghubungi sang oma, walaupun belum terlalu dekat bukan berarti Tabia tidak kangen dengan sang pemilik rumah.
BJam menunjukkan pukul 19.00 sudah waktunya makan malam, sesekali Tabia melirik kearah dapur ada suara aneh Tabia menghempaskan pikiran horornya. Dengan segala keberanian Tabia sudah tiba didapur menyalakan gas dan memanas makanan sisa yang sengaja oma sisihkan tadi siang. Tabia tidak ingin berlama- lama berada di meja makan, walaupun sebenarnya Tabia bukan tipikal penakut hanya saja dia belum menghafal bagaimana aurah rumah ini.
Beberapa menit kemudian acara makan selesai dan berdiri lalu lari menuju kamar. Pikirannya sudah kemana-kemana anak itu sedang takut dengan pikirannya sendiri. Banyak pertanyaan yang ada dalam pikirannya, membuat wanita itu semakin takut. Niatnya mau membersihkan badan dulu, tapi pikiran tidak bisa diajak kerja sama membuatnya langsung rebah dan menyelimuti tubuhnya dengan badcover besar seketika tubuhnya menjadi hangat.
Hangat bukan berarti anak itu sudah tidur, Tabia masih dilanda dengan rasa ketakutan.
Tiba ada suara langkah kaki dekat jendela kamar.
"Deg"
__ADS_1