
Tiba-tiba suara itu kembali terdengar, anak itu sudah kehabisan nafas. Tidak ada yang lagi ia bisa Tabia lakukan selain berdoa semogah ada keajaiban yang datang. Ingin sekali wanita muda itu menghubungi kedua orang tuanya, takut orangtuanya panik Tabia melilih mengurungkan saja niatnya itu. Kambali hening itulah yang dirasakan Tabia, wanita itu sedikit lega. "saya harus bergaul sama tetangga rumah disebelah, kalau ada apa-apa tinggal minta bantuan" Tabia berpikir sejenak alangkah baiknya ia harus mengakrabkan diri dengan tetangga-tetangga yang ada disekitar rumah itu. Agar dengan mudah untuk meminta tolong. Kemudian ia terlelap dalam tidurnya.
Setelah kejadian semalam, Tabia tidak berani bengun subuh. Ia merebahkan tubuh dikasur tunggu beberapa saat ia memberanikan diri ke kamar mandi dan kedapur. Tiba-tiba ada suara ketukan membuat dirinya senang.
Tok... Tok... Tok...
"tunggu sebentar" kalimat itulah yang diucapkan Tabia mendengar ketukan yang membuatnya sedikit stres. Tabia memperhatikan siapa yang datang" Kamu Tabia? Oma sampaikan tadi, sebaiknya hari ini kamu izin dulu,. Atau minta libur dulu" orang itu menjelaskan membuat Tabia sedikit bingung. "kenapa orang menyuruhku untuk libur, aku baru dua hari untuk masuk kerja kak" kata Tabia yang merasa kebingungan. "manantu pertama sang oma meninggal tadi pagi jam 3" mendengar kalimat itu Tabia kaget, bukannya membantah dengan perkataan orang itu Tabia langsung bersiap-siap. Sebelum berangkat Tabia menghubungi sekolah bahwa hari ini ia tidak bisa masuk sekolah untuk melakukan aktivitas belajar mengajar. Didalam mobil bingung paskah separah itu sampai merengut nyawanya? Banyak pertanyaan terlintas dikepala Tabia, belum lagi wanita itu tidak siap melihat sang dosen dalam keadaan sedih. Walaupun Tabia sangat menyukainya, bukan berarti Tabia senang dengan kepergian sang istri dari dosennya itu. Tabia sangat menyesal kenapa wanita itu sangat mengaguminya. Setelah sampai Tabia sempat berpapasan dengan sang dosen, tatapannya sayu penuh dengan kebencian. Tabia bingung kenapa tatapan sang dosen seperti itu. Apa kesalahannya? Sementara Sang oma memeluknya dan tidak berhenti menangis. Segitu sayangnya ibu mertua ini sama menantunya.
Tiga jam berlaku, setelah acara pemakaman dan pemberkatan selesai. Tabia enggan pulang ke rumah, ia memberanikan diri untuk pulang. Anak itu tidak tahan berada dilingkungan seperti ini. Banyak tatapan yang tidak menyukai kehadirannya, terutama keluarga dari sang istri dosen. Tabia bingung diamana letak kesalahannya? Ditambah sikap sang dosen yang sangat membencinya, bukanya tidak tahan lebih baik Tabia menghindar dari pada menyakiti diri sendiri.
Meminta izin sang oma memang tidaklah mudah, memberikan alasan yang pas membuat sang oma memberinya Izin. Sang oma kwartir dengan tindakan anak itu. Tetapi mengingat banyak hal yang ingin Tabia kerjakan membuat sang oma mengijinkan ya untuk pulang.
" Oma Bia pamit dulu" anak itu berpamitan tidak lupa ia melirik dan memberikan senyumnya untuk sang dosen. Walaupun senyum itu hanya dibalas dengan sinis. Tabia sudah terbiasa dengan hal itu. Sang oma memeluk dan mengantarnya sampai depan gerbang. Meninggalkan sang oma dalam keadaan sedih membuat Tabia sedikit menyesal apa yang diputuskannya. Tapi inilah cara satu-satunya agar menghindar dari keluarga itu.
__ADS_1
Sampai dirumah Tabia membersihkan diri, setelah melihat dan berdoa tadi di pemakaman membuat anak itu sedikit tenang dan tidak ada rasa takut.
Ditempat lain
Semua orang mempertanyakan tentang Tabia, hampir semua anggota keluarga menanyakan siapa dan apa tujuan anak itu. Banyak yang tidak suka kehadirannya, bagaimana bisa sang oma sangat menyayangi wanita itu dilihat dari perlakuannya sangat amat beda. Sang dosenpun menjelaskan bahwa itu ART baru di rumah ibunda tercinta. Sebenarnya mereka tidak mempercayai apa yang dosen itu katakan. Kenapa perlakuannya sangat berbeda, kata Aldo sang bunda melakukan hal tersebut karena sudah anggap anak sendiri. Mengingat selama ini sang bunda menginginkan seorang anak perempuan membuatnya sangat sayang dengan ART baru itu.
Sementara Tabia, sepulang tadi anak itu memilih tidur setelah memeriksa beberapa RPP yang telah dia print tadi malam. Banyak sekali yang Tabia ingin kerjakan, tiba-tiba moodnya buruk mengingat tatapan sang dosen. "Apakah dia sangat membenciku? Pertanyaan wanita itu.
...Telepon berdering...
*Hallo
^^^Hallo^^^
__ADS_1
Apa kabar bia*
^^^Baik^^^
Aku kangen
^^^Ini siapa? Maaf tidak kenal^^^
Aku Tian Bia
Tabia memutuskan telepon sebelah pihak dan minta persetujuan dari sebelah. anak itu sangat malas setelah mengetahui siapa yang menelponya. Tian adalah sang mantan SMA Tabia, setelah menjalin hubungan kurang lebih dua tahun. Tabia sangat menyukai kepribadian Tian yang dulu, memilih kuliah berbeda kota membuat keduanya putus ditengah jalan. Bukan keputusan Tabia, Tianlah yang memutusnya secara berpihak. Kalau diingat kembali kejadian itu, dimana Tabia memohon agar mempertahan hubungan itu. Tetapi Tian bersih keras untuk memilih berpisah dengan alasan bosan dan tidak sanggup untuk LDR. Tabia hanya pasrah, kejadian itu dijadikan sebagai pelajaran untuk Tabia agar tidak mudah mempercayai laki-laki. Sehingga Tabia mengambil keputusan untuk tidak membuka hati bagi siapapun. Kecuali untuk sang dosen.
Demi apa anak itu menghunginya lagi, bukanya ia sudah menikah? Rasa penasaran menghantui pikiran Tabia. Ia menepis lagi pikiran tersebut jangan sampai dirinya membuka kembali blokiran disemua media sosial. Itulah cara Tabia agar cepat move on,
__ADS_1
mulia dari manghapus kontak, memblok semua akun media sosial dan menghapus semua kenangan tentang lelaki itu. Banyak cara lainnya yang telah ia lakukan, alhasil anak itu melupakan lelaki itu dengan mudah.
Tabia tersenyum mengingat apa yang telah Tabia lakukan dulu, merelakan segalanya demi Tian.