
Mengingat masa lalu membuatnya sedikit malu. Malu sama diri sendiri lebih tepatnya. "melakukan hal-hal yang membuatnya bertahan, mengemis untuk dihargai pada lahirnya dia lebih memilih pergi dengan alasan yang konyol" Tabia menertawakan betapa tolol dirinya kala itu.
Bosan dengan isi pikirannya, wanita itu memutuskan memilih menyibukkan diri membuat beberapa RPP. Tabia berpikir dengan meyibukan diri dengan hal ini, pikirannya terarah. Semakin Tabia memaksa untuk fokus hasilnya nihil. Pikirannya sangat kacau, banyak pertanyaan dalam otak Tabia. Selain penasaran dengan sang istri dosen. Anak itu juga berpikir kenapa sang dosen menyapanya seperti tadi. Apakah ada sesuatu yang membuatnya menatap seperti itu?.
Tabia merasa bersalah, apakah sang dosen sangat membencinya? Seandainya waktu bisa diputar kembali Tabia ingin mengubah segala rencana yang pernah ia lakukan. Tabia merasa kasian melihat sang dosen bersedih atas kepergian istri tercintanya.
"istrimu sangat bangga memilikimu" lirihnya, menatap kembali foto-foto yang pernah Tabia cetak. Lihatlah bagaimana sang dosen sangat terpukul kehilangan istri yang paling dicintainya . Tabia tidak cemburu,. Wanita itu memang menyukai sang dosen. Bukan berarti ingin memilikinya, Tabia sempat berpikir demikian. Harapannya mulai pupus ketika mengetahui sang dosen sudah menikah. Keputusannya untuk mengagumi sang dosen tidak berhenti sampai ia lulus kuliah. Waniya itu sering berdoa agar kelak jodohnya minimal mirip sang idolanya. Teman-teman Tabia sampai menceritakan keburukan sang dosen agar Tabia berhenti mengagumi laki-laki itu. Tetapi semua usaha yang mereka lakukan, tidak ada artinya bagi wanita itu. Bahkan Tabia tidak segan-segan untuk cetak semua foto yang pernah Tabia potret diam-diam.
__ADS_1
Tetapi sekarang situasinya berbeda, sang dosen sudah bersatus duda membuatnya sedikit takut akan kehadirannya dirumah ini. Apa yang akan dipikirkan pria itu tentang dirinya.
"Ahhh Tuhan sangat rumit" merebahkan diri dikasur membuatnya sedikit lebih tenang.
2 jam berlalu, hari makin larut. Tabia jalan kearah dapur mengambil beberapa cemilan. Sulit bagi Tabia untuk terlelap. Hingga memutuskan untuk mencari sebuah akun IG, menscroll hingga halaman postingan terakhir. Lagi-lagi Tabia sangat kagum, jaman sekarang jarang sekali ada laki-laki yang melakukan ini pikirnya. Setelah bosan Tabia memilih untuk menutup mata dan berharap mimpi indah.
Kring..... Kringggg. Krig.
__ADS_1
...Telepon berdering...
Tabia mengabaikan telepon itu, setelah mengetahui siapa yang menghunginya. Entahlah wanita itu sangat membenci orang yang menelponnya. Selain buru-buru Tabia juga malas untuk meladeni orang sperti Tian.
Ditempat lain
Sang oma memikirkan Tabia, bagaimna keadaan anak itu. Sudah beberapa hari ia tak berjumpa dengan wanita yang sudah anggap anak sendiri. Kekecewaan sang oma tidak meminta nomor telepon anak itu. Sang anak melihat bunda tercinta gelisah, memutuskan menanyakan apa yang dipikirkan sang bunda.
__ADS_1
Setelah mengetahui apa yang dipikirkan sang bunda, putra sulungnya itu menahan emosi. Kenapa sang bunda begitu menyukai wanita itu. Hingga ia memikirkan bagaimana caranya agar wanita itu pergi dari rumah. Kemarin Aldo sempat menanyakan mungkin ada yang berminat bekerja dan menemani sang bunda.
Sementara Tabia sudah meyelasaikan proses pembelajaran dalam kelas, waktunya pulang. Melelahkan itulah dirasakan Tabia. Sepertinya anak itu pulang dan langsung tidur. Itulah yang dipikirnya. Tepat pukul 13.00 Wita anak itu sudah sampai di rumah. Harapannya musnah, ternyata sang oma sudah pulang. Yang membuat Tabia kaget. Ternyata bukan hanya sang oma, tetapi anggota keluarga yang lain. Tabia semakin takut, bagaimana bisa wanita itu satu rumah dengan sang dosen. Sebenarnya tidak yakin dengan pikiranannya, melihat barang-barang berserakan serta koper besar anak itu baru percaya dengan fakta yang dilihatnya saat ini. Anak itu berharap ini hanya mimpi buruk baginya, bukanya tidak suka. Bagaimana bisa move kalau satu rumah. Mengingat status sang dosen, membuat Tabia panik.