Mantan Dosen Pembimbing

Mantan Dosen Pembimbing
Bab 7


__ADS_3

Mengharapkan mimpi indah, pada kenyataannya hal buruk menghampiri dirinya.


Puas terlelap Tabia memutuskan melakukan rutinitasnya sebelum berangkat kerja. Kebiasaan wanita itu tidak pernah dlupakan, kewajibannya sebagai perempuan yang bertanggung jawab dalam rumah ini. Dia tidak keberatan sama sekali, selagi tuan rumah memberikan tumpangan terhadapnya. Kerjaan yang dia lakukan tidak seberapa. Betapa bersyukurnya Tabia.


Wanita itu berdiri didepan cermin, menatap menampilanya ia sedikit tersenyum melihat pakaian yang ia kenakan. lagi-lagi wanita muda itu tidak menyangka bahwa ia bisa memakai baju seperti ini. Baju yang didamba-dambakan oleh kaum S.pd. Wanita muda itu sangat santai dengan penampilan. Tubuh mungil dan pipi agak caby membuat wanita itu terlihat imut, tidak sedikit orang mengira bahwa tabia masih remaja SMA.


Tabia bukan tipikal orang yang dandan berlebihan, memakai suncreen sedikit poles dengan liptin sudah sangat sempurna menurutnya.


Menunggu waktu 20 menit Tabia sudah berada diarea sekolah. Jarak antara sekolah tempat Tabia mengajar hanya membutuhkan waktu 10 menit jalan kaki. Melihat sekeliling belum ada guru datang, hanya beberapa siswa siswi yang sudah berada disekolah itu.

__ADS_1


Tabia memutuskan untuk membersihkan ruangan guru yang sedikit berantakan, biasanya siswa yang memberishkannya atau guru yang piket.


Enam jam di sekolah membuat Tabia sedikit lelah, berhadapan dengan anak-anak berbagai macam karakter membuatnya sedikit pusing.


Demi masa depan yang cerah wanita itu selalu tersenyum dan menerima lelah itu dengan bahagia.


Tidak terasa Tabia sudah menjalankan tugasnya sebagi guru satu bulan, begitu juga dengan sang Oma sudah satu bulan tinggal dirumah sulungnya. Selama satu bulan ini Tabia kesepian membuatnya rindu suasana dikampung. Setiap hari melakukan aktifitas yang seperti biasa itulah kegiatan anak itu.


Ditempat Lain

__ADS_1


Wanita tua itu sedang duduk berdua dengan putra sulungnya ada hal yang ingin mereka bicarakan. Sang bunda menawarkan anak laki-lakinya untuk tinggal bersama dengan dirinya. Putra sulungnya sempat menolak permintaan sang Bunda, tetapi melihat kondisi sang bunda akhirnya ia memutuskan untuk terima penawaran itu. Mengingat juga, tidak ada lagi yang perlu mempertahan dirinnya untuk tinggal dirumah yang penuh dengan kenangan indah saat-saat bersama dengan istri tercinta. walapun dengan berat hati untuk meninggalkan semuannya, demi sang ibunda ia rela menguburkan segalannya dalam hati kecil Dosen itu. Tidak terasa pipinya sudah basah, air mata itu kembali terjatuh. Tidak ada satu hal pun yang terlewatkan untuk mengenang semua kenangan bersama sang istri. Kehilangan orang yang paling berharga membuat pria itu tidak ada harapan hidup. Satu belahan jiwanya telab pergi, meninggalkan banyak kenangan. Pria itu mengingat kembali bagaimana perjuangan sang istri untuk meluluhkan sang bunda untuk menerimanya. Dengan kerja keras akhirnya sang istri diterima dengan baik. Walaupun belum bisa memberikan keturunan kedua keluarga baik dari pihak sang dosen maupun dari keluarga sang istri tidak mempermasalahkan soal itu. Kebahagian mereka adalah hal yang paling terpenting. Mereka sangat harmonis, banyak orang yang iri melihat kemesraan mereka dikala berada ditempat umum.Walaupun tidak ada anak, mereka tetap akur, dan harmonis.


Pria itu memutuskan mengemas semua barang yang akan dibawa kerumah sang bunda, sementara sang bunda masih sibuk dengan kesibukannya. Tidak ada Percakapan di antara keduanya, entalah apa yang mereka pikirkan.


Sementara Tabia kaget dengan kehadiran dua orang ada didepannya. Kalau sang oma tidak Tabia tidak permasalahkan. Kehadiran pria itu membuatnya sedikit takut, apakah pria itu mau tinghal di rumah ini? itulah yang dipikirka Tabia. Pria itu menatapnya dengan penuh kebencian Tabia merasakan hal itu wanita itu berusaha agar tetap keliahatan santai. sementara sang oma dengan sikap memeluk wanita yang ditinggalkan satu bulan lalu. Setelah berpelukan Tabia membantu sang oma mengakat semua barang-barang yang mereka. Sementara sang dosen pergi begitu saja tidak menghiraukan apa yang dilakukan kedua wanita itu. Pria itu tidak membantu mengakat barang-barang yang mereka bawa. Dipikirannya ada babu baru yang akan membereskannya.


Tabia tidak permasalahkan soal itu, wanita itu hanya pasrah dengan keadaanya.


Setelah semuanya sudah beres,Tabia menawarkan sang oma untuk makan terlebih dahulu. Sang Oma hanya mengangguk ajakan Tabia .

__ADS_1


Sebelum acara makan dimulai, sang oma memanggil putra sukungnya utuk bergabung. Pria itu menolak, dia tidak ingin makan satu meja dengan sang pembantu. Menurut pria itu kehadiran Tabia hanyalah seorang Pembantu dirumah ini tidak lebih. Sang oma membantah perkataan sang anak, tetapi dengan sebuah ancaman dari sang anak membuatnya menggangguk pasrah. Tabia yang tidak sengaja mendengar hal itu kemudian kembali ke meja mengambil piring miliknya menaruh ditempat lain lalu ke kamar mandi mencuci pakaian kotor yang bertumpukan.


Bersambung


__ADS_2