
Tabia mencari sosok seorang sekarang"oma dimana yah, kenapa dari tadi Tabia tidak melihatnya" Tabia kesepian sekaligus bingung harus melakukan apa sekarang, rumahpun sudah bersih tidak ada yang perlu Tabia bersihkan lagi.
"Bia udah beres-beresnya?" pertanyaan itu mengalihkan perhatian Tabia.
"iya Oma sekitar lima menit yang lalu, oma dari mana aja dari tadi Tabia tidak liat oma" Tabia menghampiri Omanya. Ternyata Omanya ini pulang dari pasar dilihat dari beberapa bungkus kantong plastik yang sudah diletakkan diatas meja makan. Tabia sudah paham dari tadi Omanya ini menghilang ternyata kepasar membelikan beberapa bahan masakan.
Tabia ingin bertanya bersama siapa wanita tua itu ke pasar, mengingat anaknya tidak tinggal jauh dari rumah ini pikiran Tabia tertuju padanya"mungkin oma pergi sama anaknya" guman Tabia.
Tabia sangat bersemangat mengelola semua bahan makanan yang dibelikan oleh wanita tua itu. "ternyata kamu sangat Pandai dalam memasak ya Bia, suamimu nanti sangat bangga memilikimu" goda sang oma. Sementara sang empunya hanya tersipu malu"ihh oma mana ada yang bersyukur memiliki Tabia, kan Tabia hanya bisa memasak bukan cantik. Jaman sekarang oma tau segalanya tidaklah penting yang terpenting cantik itu saja sudah cukup"jelas Tabia. Omanya hanya menggeleng mengingat kembali menantunya yang sangat cantik, tapi tidak bisa memasak sama sekali. 60 menit berlalu, akhirnya masakan sudah delapan puluh persen jadi. Tabia dan juga Omanya tidak sabar untuk mencicipinya.
"kayanya makanan ini sangat enak ya Bia, liat saja dari penampilannya sangat menggoda selera" sambil mencicipi ke mulutnya.
Suasana kembali hening, sekarang hanya Tabia yang ada disana wanita tua itu sudah pergi 20 menit yang lalu untuk membersihkan dirinya sebelum makan siang nanti. Sebenarnnya Tabia bingung kenapa makanan ini sangat banyak, makanan ini bukan untuk porsi dua orang tetapi untuk lebih dari tiga sampai empat orang. Sebelum mengelolanya Tabia ingin bertanya kenapa masaknya banyak begini, tetapi wanita itu mengurungkan niatnya mungkin Omanya sedang merencanakan mengundang orang lain untuk makan bersama. "Bia apakah semuanya udah selesai" oma bertanya sambil menggenggam smartphone ditanganinya. Tabia hanya menggangguk, sebelum Tabia kembali ke aktivitasnya tiba-tiba suara mobil didepan.
Wanita tua itu dengan buru-buru kedepan, melihat siapa yang datang. Tabia berpikir wanita tua itu sedang menunggu seseorang, dan seseorang itu sangat spesial dilihat dari raut wajahnya sumringah kesenangan.
__ADS_1
Tabia membersihkan bahan-bahan yang telah dipakainya saat masak tadi, tiba-tiba suara pintu mengartikan pintu sudah terbuka lebar dan ada yang masuk. Dengan hati-hati Tabia ingin memastikan siapa yang datang. Matanya membulat "deg" jantung Tabia tidak berhenti berdebar.
Dengan buru-buru Tabia masuk kekamarnya, Tabia belum siap bertemu dengan orang yang datang kerumah oma. "tuhan apakah saya bermimpi saat ini, bagaimana bisa saya bertemu kembali dengan orang itu" Tabia tak henti-hentinya mondar mandir depan cermin menatap dirinya sekilas apakah wajahnya saat ini ada yang salah atau tidak. Tabia benar-benar ingin menghindarinya untuk beberapa saat, sampai nanti Tabia sudah benar-benar siap. Sebelum masuk kamar tadi tidak sengaja Tabia mendengar percakapan pemuda itu bersama wanita tua itu, ternyata itu adalah putra sulung sang oma. Tabia tidak bisa berpikir dengan jernih saat ini, putra sulung sang oma masih muda sekitar umur 30-an.
Dua puluh menit berlalu, akhirnya sang oma menyadari sedari tadi Tabia tidak ada didapur. Wanita muda itu bingung apa yang akan dilakukannya untuk menghindar makan bersama oma dan anaknya. Bukannya malu hanya saja Tabia belum siap bertemu dengan orang sangat ia kagumi sewaktu kuliah dan dosen pembimbing skripsinya. Tabia sangat menyukai sosok itu, kekagumannya tidak luntur setelah 4 tahun mencintainya dalam diam. Wanita muda itu menghalkan segala cara agar bertemu dengan orang dikaguminya selama ini. Sampai akhirnya dia mencari judul yang sesuai dengan mata kuliah dibawakan oleh sang pujaannya. Hasil tidak mengkhianati proses, kalimat itulah yang dilontarkan Tabia setelah mengetahui siapa yang akan menjadi pendamping selama proses menyelesaikan skripsinya. Tabia tiba-tiba mengingat kembali masa-masa itu dulu, dan sekarang Tabia tidak membutuhkan usaha apapun dengan sendirinya dia hadir dalam hidupnya. Walaupun Tabia mengetahui pemuda itu sudah memiliki istri, tetapi menurut informasi yang didapat pernikahan mereka belum mengarunia seorang anak. Bukanya Tabia ingin menjadi prahara rumah tangga, hanya saja Tabia sedikit senang dengan apa informasi yang didapat.
"Bia" sang oma memanggilnya terus menerus membuat sang empu sadar dari lamunannya. Wanita itu berpikir sejenak lalu menjawab sang oma dan mengatakan bahwa tadi Tabia kena sisa makanan membuatnya bau amis dan memutuskan mandi dahulu. Sang oma sebenarnya ingin memaksa Tabia selain khawatir anak itu belum mengisi perutnya oma juga ingin memperkenalkan ke putra sulungnya.
Sementara dimeja makan, tidak ada obrolan mereka berdua hanya sibuk dengan mengunyah. Pria itu tidak terlalu sibuk siapa yang menemani ibunya untuk beberapa bulan kedepan, menurut cerita yang didengar dari ibunya tadi bahwa ada wanita muda yang menemani sang ibu saat ini. Tentu saja ia sangat senang, disisi lain ibunya belum terlalu mengenal wanita itu membuatnya berpikir dan merasa kwatir. Pria itu sangat penasaran dengan sosok yang diceritakan oleh ibunya sebelum makan tadi, dia juga mau memastikan bahwa anak itu benar-benar ingin tinggal disini dengan tulus tidak ada niat yang lain-lain. "ibu tidak merasa keberatan anak itu tinggal bersama ibu" akhirnya pria itu mengeluarkan suara setelah berperang dengan pikirannya. Sepengetahuannya wanita tua ini tidak mudah menerima orang baru dalam kehidupannya, istrinya saja masih belum terlalu akrab dengan sang ibu. Ibunya hanya betah dengan ART bekerja dirumah itu sekitar sudah 10 tahun membuatnya penasaran seperti apa wanita dengan mudah meluluhkan hati ibunya.
Sementara dikamar Tabia sangat lapar, ia ingin sekali membuka pintu langsung kedapur. Tabia tidak mengetahui apakah pria itu menginap atau tidak. Tabia juga tidak mendengarkan percakapan lagi dari dapur. Itu tanda sang anak dan oma sudah berada ditempat lain. Tidak membutuhkan waktu lama Tabia sudah berada ditempat yang dirundukan dari tadi, belum sampai satu hari dia dirumah ini Tabia sudah betah berada di dapur tempatnya nyaman. Dengan buru-buru Tabia menghabiskan makanan yang ada dipiring tiba-tiba bunyi pintu terbuka dan membuat Tabia kaget. "deg".....
......
Jantung Tabia kembali berdetak, kali ini lebih cepat dari biasanya wanita itu tidak ada nyali untuk menoleh kesumber suara "pasrah" itu yang dipikirkannya saat ini. Apapun yang akan terjadi kedepannya, atau pria idamannya itu akan mengusir Tabia dari rumah setelah mengetahuinya.
__ADS_1
"Bia" suara itu membuat Tabia kembali normal. "Maaf oma Tabia sangat lapar tadi makanya langsung makan, oma maafkan Tabia, tadi Tabia tidak sempat menyapanya soalnya perut Tabia tadi tiba-tiba mules oma" Tabia memasang muka merasa bersalah serta memberikan senyuman walaupun dengan terpaksa. Bukannya menjawab wanita tua itu tertawa pelan"tabia itu bukan tamu, tadi itu putra sulung oma dia sering menghabiskan waktunya disini. Putra sulung oma dosen di universitas xxxx, tadi dia juga tidak sempat menyapa Tabia dulu banyak hal yang dia kerjakan" mendengar hal itu, Tabia seketika mencernakan setiap kata yang disampaikan wanita tua itu. "aduh gawat berarti dia sering mampir dong, bagaimana ini"guman tabia dalam hati.
Tabia ingin sekali menanyakan banyak hal mengenai Putra sulung wanita tua itu, mengingat dia baru satu hari dalam rumah ini mengurungkan kembali niatnya. Meja makan kembali hening entahlah wanita tua kemana lagi, mungkin dikamarnya. Sekarang Tabia sedang membersihkan piring-pring kotor serta bahan-bahan dapur lainya. "Akhirnya selesai juga, sekarang ngapain lagi yah" bingung mau mau ngapain lagi wanita muda itu memutuskan merebahkan diri dikasur seketika Tabia kembali teringat masa-masa saat sedang bersama orang tersayangnya.
Tabia anak yang sangat pandai dalam menyembunyikan apapun, mulai dari masalah yang dihadapi dia tidak pernah menceritakan ataupun berbagi dengan siapapun. Pendam sendiri itulah yang dilakukan Tabia setiap kali ada masalah. Pengangguran bukanlah masalah muda, itu terlalu sulit tapi bagi Tabia salah satu cara agar tidak menyakiti diri sendiri adalah menghindari orang-orang yang hanya mengomentari kelemahannya, orang-orang yang selalu menanyakan hal yang membuatnya down. Itulah prinsip Tabia siwanita bodoh amat. Kerap dia dijuluki wanita anti sosial, hampir setiap acara dikampung Tabia tidak pernah mengikutinya. Wanita muda itu berpikir untuk apa bergaul sama orang-orang yang kerjaannya suka mengusik kehidupan orang lain. Bukan hanya itu, hal yang paling Tabia tidak suka menyinggung soal jodoh maupun pekerjaan. Kedua orang tua Tabia tidak pernah memaksa putrinya untuk melakukan hal-hal yang mereka inginkan. Karena menurut mereka apa yang dilakukan Tabia ada benarnya, menghindar lebih baik dari pada meladeni.
"aku baru seharian dirumah ini, kenapa rasanya seperti bertahun-tahun" lirihnya pelan. Melirik benda bulat dinding membuat Tabia menghela nafasnya" kenapa lama sekali "itulah yang dipikirkan Tabia. Selain suntuk tidak ada kerjaan Tabia juga menginginkan sesuatu yang bisa dimakan walaupun dirinya pengangguran bukan berarti Tabia tidak memiliki uang.
Dua puluh menit berlalu, seseorang menghampiri Tabia" bia jangan terlalu banyak melamun" wanita tua itu menghampirinya.
"hehehe oma dari mana aja dari tadi Tabia cari" ngelak Tabia. Wanita muda itu tidak ingin sang Oma mengetahui apa yang dipikirkan olehnya saat ini.
"bia biasanya oma setelah makan siang begini harus istirahat, setelah istihat oma juga harus mandi" Wanita tua itu menjelaskan aktivitasnya setelah makan siang. Tabia mengangguk mengerti Pantasan setelah makan siang tadi wanita tua itu tidak menampakkan dirinya.
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 waktunya makan malam, Tabia dan wanita tua itu makan dengan lahap sesekali mereka lempar candaan membuat suasana meja makan sangat riang. Waktu berlalu kini mereka berada dipikiran masing-masing, selesai makan tadi Tabia langsung membersihkan dirinya dan siap untuk terlelap.
__ADS_1