
Para penjaga keamanan kini tengah menatap David yang kini sudah tergeletak tak berdaya di tanah karena mereka juga tidak berani memukul orang sampai mati. Kondisinya yang sudah babak belur dengan luka memar hampir di seluruh wajahnya, mungkin juga terdapat tulang-tulangnya yang patah akibat kerasnya pukulan yang dia terima dari para penjaga keamanan itu. setelah memastikan David terkapar mereka semua kembali masuk ke dalam perusahaan. Kini yang tertinggal hanya ada ketua keamanan dan dua orang yang sedang terluka, dia berjalan ke arah dua manusia itu kemudian, berjongkok untuk mengikis jarak diantara mereka. Setelah itu dia melemparkan beberapa lembar uang tepat di hadapan David dengan tersenyum datar.
"Ini seharusnya cukup untuk biaya pengobatanmu ke rumah sakit."
"Cepat pergi, dan jangan pernah kesini lagi, jika sampai aku melihat muka kalian disini, aku tidak akan segan memukul kalian lagi." setelah mengatakan itu, sang ketua keamanan juga berlalu pergi meninggalkan mereka.
Melihat ketua keamanan pergi, Aditya berusaha menghampiri kakak sepupunya. Dia terkejut melihat seluruh wajah David bengkak. Seluruh badannya gemetar karena ketakutan melihat keadaan saudaranya sungguh sangat memprihatinkan. Dia tidak menyangka bahwa kedatangannya kali ini ke perusahaan Alexis akan jadi seperti ini karena dalam dua tahun ini, perusahaan mereka tidak pernah mempunyai masalah dengan perusahaan Alexis corp . Bahkan selama ini mereka selalu menggunakan nama perusahaan Alexis untuk menarik investor supaya mau berkerja sama dengan perusahaan mereka. Tetapi, sekarang semuanya hancur hanya dalam sekejap, semua kerjasama sudah di putuskan secara sepihak oleh perusahaan Alexis, tanpa adanya penjelasan di mana letak kesalahan mereka, mau menuntut juga percuma karena selama ini mereka tidak pernah mengeluarkan sepeserpun biaya apabila ada proyek yang harus mereka kerjakan, semuanya sudah di tanggung oleh perusahaan Alexis mereka hanya menyelesaikan dan malah mendapatkan banyak keuntungan.
"Kakak, bagaimana keadaanmu, kamu baik-baik saja kan? Aku akan memanggilkan taksi untuk kita biar bisa segera ke rumah sakit!" Aditya bertanya dengan khawatir, meskipun keadaannya gemetaran serta ketakutan, dia tetap berusaha memapah saudaranya yang sudah babak belur dan berlumuran darah.
"Aditya, apa yang terjadi sebenarnya? bukankah kamu berteman baik dengan direktur perusahaan itu?" meskipun terlihat sangat menyedihkan, David tetap mencengkeram tangan Aditya.
"Mereka semua bajingan, mereka bahkan tidak mengatakan apa-apa dan langsung memukuli kita, memangnya kita punya salah apa!"
"jika tahu begini maka aku tidak pernah sudi untuk datang kesini." geram David marah.
"Aku juga tidak tahu apa-apa kak." sahut Aditya.
__ADS_1
"sekarang apa yang harus kita lakukan kak? Direktur Dirga ingin membatalkan semua kerja sama dengan perusahaan kita, kak David, bagaimana ini, bagaimana kalau kakek tahu!" tanyanya panik meskipun seluruh badannya sakit tapi dia masih saja memikirkan bagaimana tanggapan kakeknya nanti, saat mengetahui semua itu.
David yang seluruh tubuhnya sakit dan terluka, sangat kesal mendengar pertanyaan Aditya, harusnya dia mementingkan keadaan mereka terlebih dahulu bukan malah menghawatirkan tanggapan kakeknya. Dia yang kesakitan sampai harus menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaannya.
"Kamu bisa diam dulu tidak!! Bagaimana aku bisa tahu apa yang harus kita lakukan, bawa aku ke rumah sakit terlebih dahulu, setelah itu segera hubungi kakek dan semuanya." Ujarnya
Sesampai di rumah sakit, ternyata David harus menjalani operasi terlebih dahulu sebelum dipindahkan ke kamar rawat karena terdapat beberapa tulang rusuknya yang patah akibat pukulan yang dia terima dari penjaga keamanan.
Di depan ruangan operasi, tampak Aditya yang tertunduk lesu, sesekali dia menoleh ke arah pintu ruang operasi berharap saudaranya baik-baik saja. Tak lama kemudian pintu terbuka menandakan operasi telah selesai, David segera bertanya begitu melihat sang dokter kini telah berada di depan pintu.
"Dokter, bagaimana keadaan kakak saya?"
"Mungkin sebentar lagi juga pasien akan sadar,"
" Apa ada yang mau di tanyakan lagi, kalau tidak saya mohon pamit karena ada beberapa pasien yang harus saya tangani." Dokter segera pamit karena melihat Aditya yang terdiam.
"Oh, silakan Dokter dan terima kasih," ucapnya tulus.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, kini David telah di pindahkan ke ruang perawatan, Aditya hanya bisa menunggu karena seluruh keluarganya belum juga ada yang datang, padahal seharusnya dia juga mendapatkan pengobatan karena terdapat beberapa luka lebam di bagian wajahnya.
Brakk
Terdengar suara pintu ruangan di buka secara kasar, membuat Aditya sedikit terkejut karena dia sedang memikirkan masalah yang sedang menimpanya.
Kini seluruh kamar perawatan David telah dipenuhi oleh anggota keluarga Sanjaya.
Plak
Suara tamparan keras terdengar di kamar rumah sakit, ibu dari David langsung menampar Aditya dengan marah.
"Dasar anak sialan! Kamu berani berkerja sama dengan orang luar untuk memukul kakakmu sendiri, apakah karena kamu takut bahwa David akan merebut posisimu dan berteman baik dengan direktur Dirga!"
"Dari awal aku sudah menduga karena direktur Dirga itu hanya mau bertemu denganmu disaat ada perjanjian kerja sama."
"Kamu sudah membuat putraku seperti ini, jika terjadi sesuatu kepadanya, aku tidak akan melepaskanmu!"
__ADS_1
David Sanjaya adalah anak paling disayang di keluarganya, melihat putranya babak belur dipukuli seperti itu membuat Melinda tidak bisa mengendalikan emosinya, dia melampiaskan semuanya pada Aditya. Dia tidak peduli meskipun keluarga Aditya sakit hati mendengar penghinaan darinya sebab, dia tahu mereka tidak akan ada yang berani melawannya karena mereka tidak memiliki kekuasaan di keluarga Sanjaya.