
"Mas aku minta maaf aku merepotkan kamu lagi, tapi aku tidak tau harus kemana lagi selain kepada kamu mas. Besok jadwal aku cuci darah dan aku sama sekali tidak punya uang mas aku,"
Aku yang hendak menuju ke dapur untuk memulai ritual kebiasan ku berkutik didapur pun seketika ku hentikan langkah, saat telinga ini mendengar suara tak asing nyaring di telingaku. Suara yang bahkan sangat familiar.
"Bukan kah aku sudah bilang berkali-kali jangan sungkan, aku akan membiayai semua pengobatanmu kalau butuh apa-apa beritahukan aku. Nanti aku akan minta Victor transfer kepadamu," Sahut Mas Ferdia suamiku, wajahnya terlihat sangat khawatir.
Tak luput tangan Mas Ferdia mengusap lembut punggung Yuniar, mantan istrinya berusaha menenangkan wanita itu, tanpa dia sadari ada hati yang terluka dengan kedekatan mereka disana.
Hampir setiap hari aku harus menyaksikan keromantisan ini, ya, saat pernikahan ku baru beranjak 1 tahun dengan Mas Ferdian. Yuniar mantan istri dari Mas Ferdian yang lari dari rumah dengan selingkuhannyan kembali hadir.
Saat aku berusaha mati-matian membuat Mas Ferdian jatuh cinta kepadaku. Benar, pernikahan kami dalam pernikahan ini hanya aku yang mencintai Mas Ferdian.
Kami menikah atas paksaan Nenek Mas Ferdian sebelum ia meninggal, 6 bulan setelah pernikahan kami nenek Mas Ferdian meninggal. Sejak saat itu Mas Ferdian seperti tidak menganggap ku ada di sisinya.
Apalagi dengan posisi sekarang mantan istrinya sudah kembali.
"Mas hikkk .... maafkan aku, aku selalu merepotkanmu tapi, bisakah kamu menemaniku besok, aku takut sendirian Mas, aku sangat takut," lirik Yuniar lagi sengaja melemas di depan Mas Ferdia.
Cihhh benar-benar perempuan haus belayan, tidak puas dulu berkhianat sekarang minta kembali.
"Iya, aku pasti akan menemanimu tenang saja, tidak perlu menangis" sahut Mas Ferdian penuh kelembutan. Bahkan pria itu tidak pernah berbicara denganku selembut itu.
"Tidak bisa!" Bantah ku cepat menghampiri mereka yang sedang bersantai duduk di ruangan keluarga berdekatan jalan menuju dapur. Sementara aku harus menyiapkan makanan untuk menganjalkan perut mereka.
Seketika kedua manusia berbeda jenis kelamin itu menoleh kearahku secara bersamaan.
__ADS_1
"Kamu lupa Mas, semalam kamu sudah janji akan menemaniku besok ke acara syukuran anak Arsel. Jadi aku akan menagih janjimu itu Mas," sambungku lagi kini duduk tepat didepan mereka.
Langsung saja Mas Ferdian menarik tangannya, yang tadi mengusap lembut punggung Yuniar.
"Kenapa berhenti mas, usap aja terus, saat ada aku datang kamu berhenti seolah menjaga perasaanku sedangkan di belakangku, dia seolah-olah istrimu yang haus belayan." Sunggutku dengan sedikit ku tekankan kata-kata bagian akhir.
"Diana, jaga bicaramu! Aku hanya menenangkannya," sahut Mas Ferdia sedikit membentak.
"Iya aku tau mas, kamu malaikat tanpa sayap berhati peri yang bersedia melakukan apapun demi membuat mantan istrimu senang tanpa memikirkan sosok yang menjadi istrimu saat ini selalu melihat kemesraan kalian," balasku tak mau kalah dengan Mas Ferdia.
Seketika raut wajah Mas Ferdia berubah sedu. "Maaf .... aku hanya ingin menenangkan Yuniar, lagi pula aku sudah menganggap dia sebagai adikku sendiri!" kata Mas Ferdian membela diri.
"Adik Mas, adik yang besar, berlawan jenis dan pernah berbagi ranjang sebelumnya. Apa itu juga disebut adik mas, bahkan saling menyayangi. Aku disini seolah-olah seperti orang ketiga yang hadir di kehidupan kalian, padahal disini aku istri SAH!" Cicitku.
Yuniar mendengar itu semakin memanipulasi kesedihannya itu.
"Kamu semakin hari semakin kasar Diana. Kemana Diana yang dulu, yang selalu lembut dan patuh apa yang aku katakan. Kamu seperti sosok lain yang ada dijiwa istriku," ujar Mas Ferdian sorot matanya berubah tajam.
Ia menggenggam tangan Yuniar, menenangkan wanita itu lagi.
"Mas cukup, ini salahku, tidak seharusnya aku kesini. Hikkk aku merusak rumah tangga kalian Mas," lirik Yuniar.
Rasanya aku ingin muntah mendengar ucapan wanita itu.
"Suttt apa yang kamu katakan Niar, kamu sama sekali---"
__ADS_1
"Benar mas, aku bukan Diana yang dulu. Diana yang dulu sudah mati rasa dengan sikap lembut dan patuh kepadamu mas, sekarang kamu pilih mas, kamu pilih aku atau kamu pilih dia, mantan istrimu!" Ucapku memotong ucapan Mas Ferdia lalu menunjuk kearah Yuniar.
Wanita itu semakin kencang dalam drama tangisnya.
Tubuh Mas Ferdia seketika membeku, tidak bergeming untuk beberapa saat. Ia menatapku dan Yuniar secara bergilir.
"Aku tidak bisa memilih di antara kalian, kalian berdua tanggung jawabku," kata Mas Ferdian pada akhirnya.
Aku merasa tak percaya apa yang dikatakan Mas Ferdian barusan.
"Tanggung jawab katamu mas? Hanya aku mas, hanya aku tanggung jawabmu mas yang di akui negara dan agama sementara dia, wanita yang selalu kamu perhatikan kamu kasi apapun yang dia minta tanpa perduli denganku, bahkan sudah 3 bulan lebih mas kamu tidak menafkahiku sama sekali, jangankan uang nafkah batin saja kamu hanya sekali menyentuhku mas itupun kamu sedang mabuk
Dan yang paling hatiku sakit kamu seolah-olah menganggap aku wanita bayaran saat kamu setubuhi. Sakit mas sakit.
Kamu lebih memilih orang asing ketimbang Aku istrimu. Sementara dia, setiap minggu kamu transfer kan uang jumlahnya gak sedikit, sementara aku 2 bulan lebih mas 2 bulan lebih kamu tidak memberikan aku uang sepeserpun.
Makanan yang kamu makan selama ini, yang aku masak untuk menganjalkan perutmu dan mantan istri tercintamu itu, uang hasil jual perhiasan Mas, PERHIASAN KU!"
Air mataku sudah tidak tahan lagi aku bendungkan, keluar begitu saja. Sorotan mataku melihat ke arah yuniar, terlihat wanita itu tersenyum kemenangan secara diam-diam.
Sementara Mas Ferdian nampak terkejut. Mungkin dia baru menyadari.
"Diana, Diana sayang," panggil Mas Ferdian saat aku melangkahkan kakiku pergi menuju kamar.
"Diana tunggu!"
__ADS_1
Bersambung .....
Jangan lupa likenya ya bunda cantik,