
Dua minggu berlalu begitu saja, dua minggu ini juga hati Diana merasa nyaman karena tidak di ganggu oleh Yuniar, entah kenapa wanita itu sekarang tidak pulang lagi kerumah yang ia tempati ini, Diana tidak tau penyebabnya.
Namun ia tidak mau berpikir panjang lebih baik ia mengurus dirinya dan keluarganya dari pada memusingkan hal yang bagus. Lebih baik tidak ada wanita itu disini agar pikirannya tidak ada yang ganggu.
Perihal Ferdian Diana merasakan ada hal yang aneh dengan laki-laki itu, entah kenapa akhir-akhir ini suaminya itu banyak diam dan bahkan pulang sangat larut malam. Diana sampai ketiduran menunggu suaminya itu pulang.
Seperti saat ini, jam sudah menunjukkan pukul 11 malam lewat tapi laki-laki itu belum juga pulang. Diana sudah beberapa kali mengirim pesan jangankan dibalas dibaca saja tidak.
"Mas Ferdian akhir akhir ini kenapa sih apa dia sesibuk itu di kantor, harus pulang jam segini setiap malamnya," gumam Diana pada dirinya sendiri ia merasa sudah kewalahan menunggu Ferdian, rasa ngantuk sudah menyerang matanya.
Akhinya Diana memutuskan untuk tidur, namun sayang bola matanya kembali terbuka karena mendengar suara pintu. Dan benar saja terlihat Ferdian disana dengan wajah berantakan.
"Mas kamu baru pulang?" tanya Diana sembari bangkit dari ranjang menghampiri Fedian.
"Hm," Ferdian hanya menjawab dengan berdehem.
"Mas kamu kenapa sih Mas akhir akhir ini kamu pulang di jam selarut ini, kamu ada masalah dikantor, atau bagaimana. Kamu tidak mengabariku aku selalu ketiduran menunggu kamu pulang," ucap Diana sembari membantu Ferdian melepaskan jasnya.
Ferdiam masih tidak menjawab membuat Diana menghela nafas pelan. "Mas, aku siap kan air hangat dulu ya buat kamu mandi," lanjut Diana.
"Tidak perlu aku bisa sendiri," sahut Ferdiam setelahnya berlalu begitu saja masuk kedalam kamar mandi.
Diana hanya bisa pasrah, ia harus tau penyebab Ferdian begini. Sungguh ia tidak tahan dengan kelakuan Ferdian selalu pulang malam akhir akhir ini. Amaina juga sering menanyakan papanya.
Akhirnya Diana menunggu sampai Ferdian keluar dari kamar mandi, cukup lama memang sekitar 15 menit barulah suaminya itu keluar.
Ferdian keluar dengan handuk melilit di pinggangnya sedangkan tangannya menggosok kepalanya agar kering dengan handuk lain.
Diana tidak berbicara dulu ia menunggu sampai Ferdian siap dengan pakaian tidur, saat laki-laki itu melepaskan handuknya agar bisa menggunakan celana pendek Diana membuang wajahnya ke arah samping, walau ia sudah pernah melihatnya namun entah kenapa dirinya tidak suka melihat demikian.
"Mas aku ingin bicara denganmu!" kata Diana tak kala Ferdian sudah selesai dan bahkan pria itu sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
__ADS_1
"Mas kamu tau, anak-anak selalu merasa kesepian karena kamu pulang sangat larut malam dan pagi-pagi sekali kamu sudah berangkat disaat anak-anak bahkan masih belum bangun dari tidurnya. Sebenarnya ada masalah apa di kantor sampai kamu harus pulang selarut ini?" sambung Diana.
"Tidak ada apa-apa," kata Ferdian singkat.
"Mas!" kekeh Diana, pasti ada udang dibalik batu, karena ia tau betul watak suaminya ini.
"Apa kamu berjanji tidak akan marah setelah aku bercerita?" tanya Fedian.
Untuk sesaat Diana terdiam lalu setelahnya mengangguk mengiyakan. "Baiklah, asalkan kamu berkata sejujurnya,"
"Yuniar mengalami kecelakaan karena aku, saat itu aku hampir tertabrak mobil tapi tidak terjadi karena Yuniar dengan cepat menolongku. Akhirnya dia yang tertabrak, keadaannya cukup parah apalagi dia punya penyakit sebelumnya, aku merasa sangat bersalah jadi setiap pagi aku kerumahnya terlebih dahulu menghiburnya sebelum ke kantor, dan sepulang kantor aku juga kerumahnya.
Mentalnya cukup terganggu, Dia bahkan trauma atas kejadian yang menimpanya," jelas Ferdian.
"Lalu bagaimana dengan kami Mas, kami juga butuh perhatianmu, aku dan anak-anak, kenapa kamu tidak mengabariku?" Diana tersenyum kecil, ia cukup tau sekarang.
"Aku takut kamu akan marah, apalagi kamu selalu mengatakan kalau Yuniar pura-pura sakit, padahal dia jelas-jelas dia sakit, dokter yang mengatakan itu,"
"Aku berkata benar, dia memang pura-pura sakit agar bisa kembali kerumah ini, kalau dia memang sakit dia pasti akan mati seperti apa yang dokter bilang,"
"Dan berapa kali juga aku harus mengatakan kepadamu kalau dia hanya pura-pura, tapi kamu juga tidak pernah mendengarkan ku,"
"Cukup Diana, cukup! inilah kenapa aku malas pulang awal kamu pasti akan bersikap seperti ini,"
"Lalu aku harus bersikap bagaimana Mas, saat suamiku sedang ditipu oleh wanita yang pernah menjadi istrinya,"
"Diana berhentilah mengatakan itu, aku bosan mendengarnya," tegas Ferdian.
Diana kembali tersenyum kecil, "Aku pikir kamu sudah berubah Mas tapi nyatanya sama saja, sampai kapan pun kamu tidak akan berubah selama masih ada wanita itu dia antara kita"
Ferdian yang sudah marah akhirnya ia bangkit dari ranjang hendak meninggalkan kamar.
__ADS_1
"Mas kamu mau kemana?" Tanya Diana.
"Aku mau tidur dikamar lain, disini yang ada aku emosi mendengar kata-katamu," jawab Ferdian benar-benar pergi.
Air mata Diana keluar setelah kepergian Ferdian, hatinya begitu sakit. "Aku harus bagaimana ya Tuhan,"
***
Pagi harinya, Diana bangun sepagi mungkin agar bisa menyiapkan sarapan untuk Ferdian karena sudah tau sekarang suaminya itu pasti akan pergi menuju kerumah Yuniar terlebih dahulu.
Cukup lama Diana berkutik di dapur, hingga suara bik Jum mengagetkan dirinya.
"Nyonya kok sudah bangun, tumben nya masak pagi pagi sekali?" tanya Bi Jum penasaran.
"Ini Bik, masak Buat Mas Ferdian, kan Bibi tau sendiri akhir akhir ini Mas Ferdian sibuk selalu pergi pagi pagi sekali," jawab Diana.
"Oh iya non, semoga masalah di kantor secepatnya selesai agar semuanya kembali seperti semula," ujar Bi Jum kemudian membantu Diana.
"Sepertinya tidak mudah Bi, Mas Ferdian sekarang sudah sangat terikat dengan Dia Bi," batin Diana.
"Mas," panggil Diana tak kala ekor matanya melihat Ferdian terlihat terburu hendak keluar. Diana mempercepat langkahnya agar bisa mengejar suaminya itu.
"Mas tunggu," Diana berhasil meraih tangan Ferdian.
"Mas tunggu dulu, aku sudah menyiapkan sarapan untukmu kamu makan dulu ya, baru pergi," ucap Diana lembut walaupun nafasnya terdengar ngos-ngosan karena lari.
"Tidak bisa, aku harus pergi sekarang perut Yuniar kembali kambuh," sahut Ferdian.
Rasanya sangat sakit mendengar perkataan itu bagi Diana. Segitu perdulinya Ferdian terhadap Yuniar.
"Ia, tapi aku udah capek-capek masak Mas buat kamu, setidaknya makan lah sedikit, kamu juga butuh tenaga kan buat kesana,"
__ADS_1
"Lain kali saja, aku harus pergi cepat, maaf!" kekeh Ferdian menarik paksa tangannya lalu berlalu pergi meninggalkan Diana sudah berkaca-kaca.
Bersambung .....