Mantan Yang Berharap

Mantan Yang Berharap
BAB 4


__ADS_3

Brakkk .....


Dapat kudengar suara Yuniar memukul meja kasar tak kala kaki ini melangkah pergi meninggalkan dia disana. Aku rasanya sangat senang, biar dia merasakan apa yang aku rasakan selama ini. Bagaimana melihat orang kita cintai lebih perduli kepada orang lain rasanya sangat sakit.


***


Pukul 1 siang Mas Ferdian akhirnya memutuskan pulang, kamu berniat pergi ke acara syukuran anak Arsel seperti yang dijanjikan semalam, aku sudah siap dengan penampilannku didepan cermin meja rias, tak berselang lama suara notifikasi ponselku berdering ada dua pesan disana.


Yang pertama ternyata Mas Ferdian sudah mengisi uang di atm yang diberikan nya untukku dengan jumlah uang membuatku kaget. lima ratus juta.


"Sayang, tunggu aku ya, bentar lagi sampek, maaf ya aku baru teringat kirim kamu uang. Maafkan kelalaian suamimu ini," pesan dari Mas Ferdian.


"Bagaimana gak lalai orang kamu sibuk dengan mantan istri kamu itu terus Mas," gumamku.


"Kuberikan kamu kesempatan ini Mas untuk kamu berubah tapi kalau kamu tetap tidak berubah aku tidak tau harus melakukan apa, biarkan aku pergi," lanjutku lagi.


"Mama Mama," teriak Amaina sembari mengedor-ngedor pintu kamarku.


"Iya sayang sebentar,"


"Ada apa hm?" tanyaku saat pintu kamar telah kubuka dan menampilkan wajah Amaina disana.


"Dibawah ada nenek Ica sama kakek Hasan," jawab Amaina.


"Oh ya, sebentar ya Mama turun sebentar lagi," ucapku ternyata kedatangan kedua mertuaku.


"Mama mau kemana kenapa cantik sekali?" tanya Amaina ternyata dia sadar kalau aku sudah siap dandan.


"Mama mau ketempat om Arsen, Amaina mau ikut?" tanyaku lagi.


Amaina mengangguk mantap. "Mau,"


"Dibawah nenek Ica mengajak Amaina dan abang Azam nonton Amaina tapi karena Mama ajak Amaina ke tempat om Arsen Amaina gak jadi deh ikut nenek," lanjut Amaina lagi.

__ADS_1


***


"Amaina kenapa kamu lama sekali sih turunnya, kan nenek udah bilang kita akan pergi," ucap Ibu mertuaku setegah berteriak saat aku dan Amaina baru turun dari anak tangga. Dapat kulihat mereka semua ada disana dan ternyata juga ada Mas Ferdian.


"Ayo sayang sini sama nenek, kita pergi sekarang nanti filmnya keduluan dimulai," ajak Ibu mertuaku menghampiri Amaina hendak menarik anak itu tapi buru-buru Amaina memelukku erat sembari berteriak.


"Gak mau, Amaina mau sama Mama Diana saja,"


Spontan membuat Ibu mertuaku menatap tajam kearah ku. Dari dulu dia memang tidak pernah suka denganku dia adalah satu satunya orang yang menolak keras perjodohan ku dengan Mas Ferdian, karena lantaran aku dari orang biasa tidak setara dengan anaknya.


"Kamu bicara apa sama cucuku kenapa dia tidak jadi mau ikut?" tanya Ibu mertuaku sinis.


Aku mengeleng cepat. "Tidak Bu, Diana hanya bilang kalau dia akan pergi ke acara Arsen syukuran anaknya," jawabku apa adanya.


Ibu mertuaku semakin menajam kan tatapannya. "Tidak mungkin hanya itu kamu pasti mengada-ngada kan mengatakan yang tidak tidak atau menghasut cucuku agar tidak ikut," ucap Ibu mertuku yang setiap perkataannya selalu menusuk ke jantung.


"Ibu," Papa mertuaku menegur.


"Demi Allah Bu hanya itu yang Diana katakan, karena memang adanya Diana dan Mas Ferdian akan pergi ke acara Arsen," sahutku.


"Amaina cucu nenek, hayuk ikut nenek ke mall, kan ada Abang kenzo, kakek, Mama Yuniar Mama kandung kamu sama Papa juga ikut, ayo kita pergi," lanjut Ibu mertuaku lagi.


Mendengar perkataannya membuat aku menolah ke arah Mas Ferdian. "Mas Ferdian kan sudah janji akan ikut denganku, apa dia ingkar lagi,"


"Gak mau, Amaina tetap mau ikut sama Mama Diana," keras Amaina pada pendapatnya.


***


POV 3


Senyuman kemenangan terbit disudut bibir Yuniar, tidak sia-sia tadi dia menelpon orang tua Ferdian agar membuat rencana keberangkatan Diana batal.


"Amaina sayang, ikut Mama aja yuk, Ngapain kamu ikut Mama Diana, disana pasti sangat membosankan mending ikut Mama aja, nanti Mama janji deh beliin mainan yang banyak buat Amaina," rayu Yunar ikut menghapiri Amaina.

__ADS_1


"Birkan saja Amaina ikut bersama Diana, kenapa emangnya," kata Hasan sedikit jengkel melihat istrinya selalu bersikap seperti ini kepada Diana.


"Papa kok malah bicara seperti itu sih, seharusnya Papa mendukung Amaina ikut bersama kita bukan malah begitu," ujar Ica kesal.


"Fedian kamu ambil paksa saja Amaina pasti dia mau sama kamu kan kamu papanya," lanjut Ica lagi.


"Bu, biarkan saja Amaina ikut bersama aku dan Diana," bantah Ferdian.


"Gak, kan Ibu sudah bilang kamu ikut Ibu, Ibu gak sanggup jagain Kenzo sama Amaina sendirian, kan kamu tau sendiri Yuniar lagi sakit nanti dia kenapa-kenapa bagaimana?" kekeh Ica.


"kan ada Papah," celutus Hasan. "Lagian Amaina kan gak ikut,"


"Papa tu ya, mending Papa diam aja dulu," ketus Ica, " Dan kamu Ferdian, kamu tau sendiri kan hari ini jatah Yuniar kerumah sakit bisa-bisanya kamu gak mau ikut menemaninya, kamu gak kasian apa Ibu dari anak-anak kamu lagi sakit,"


Sudut bibir Yuniar kembali tersenyum sedangkan Diana hanya diam saja dengan raut wajahnya datar.


"Bu tapi kan, Fedian udah janji menemani Diana--"


"Halah, acara syukuran seperti itu tidak datang pun tidak apa-apa, apa pentingnya sih, kesenangan anak kamu sama keselamatan Yuniar lebih penting dari apapun, Ibu gak mau tau ya, kamu harus ikut Ibu pokoknya," potong Ica.


"Mas kamu sudah janji loh, sama aku," ujar Diana menatap suaminya sedu.


"Sayang, tunggu sebentar ya, habis ini kita langsung kerumah Arsel," kata Ferdian pada akhirnya.


Untuk kesekian kalinya hati Diana kembali sakit dengan sekuat tenaga dia menahan agar air matanya tidak jatuh.


"Tunggu aku ya," Fedian mencium kening Diana sekilas lalu dengan sigap membawa Amaina kedalam pelukanya walau gadis kecil itu menolak.


"Nah gitu dong, ayo Pah kita pergi," ajak Ica segera menarik tangan suaminya untuk ikut sementara sebelah tangan satu lagi memegang Kenzo.


"Sampai kapanpun kamu gak akan pernah menang dari aku," kata Yuniar kecil namun sangat jelas terdengar di telinga Diana.


Kini tinggal lah Diana seorang saja, Bik Jum melihat itu segera menghampiri. "Nyonya yang sabar ya, nyonya pasti kuat kok,"

__ADS_1


Akhirnya air mata Diana lolos juga. "Aku capek Bi, aku capek," lirih Diana memeluk Bi jum kuat.


bersambung .....


__ADS_2