
Dapat kulihat raut wajah kemarahan seketika melanda wajah Mas Ferdian bahkan sorot matanya langsung berubah.
Aku membulatkan matamu penuh terkejut dengan aksi yang dilakukan suamiku ini dia menc*um ku dengan gerak cepat dan sangat kasar. Bahkan aku rasa bibir ini akan bengkak sepertinya.
Spontan aku mendorong kuat tubuh Mas Ferdian agar menjauh dariku, namun usahaku gagal kekuatan ku jelas tidak setara dengannya. Semakin lama perlakuan Mas Ferdian semakin kasar dan menuntut nyaris saja aku kehabisan nafas.
Beruntung beberapa menit kemudian Mas Ferdian langsung menghentikan aksinya. Buru-buru aku menghirup udara serakus mungkin sembari menatap marah kearanya.
Demi Tuhan, ini pertama kalinya Mas Ferdian menyentuhku sekaligus sangat kasar. Selama kami menaikah aku tidak pernah menuntut Mas Ferdian memberikan aku hak bantin karena aku tau dia tidak mencintaiku dan menginginkan aku ada disisinya namun, apalagi pernikahan kami atas perjodohan untuk meneruskan ibu bagi anak-anak, sikapnya sangat baik dan memperlakukan baik pula makanya aku tidak terlalu mempermasalahkannya.
Aku bertahan dalam rumah tangga ini karena aku sangat berharap Mas Ferdian mau menerimaku seutuhnya sebagai istrinya. Tapi bukan dengan cara kasar seperti ini.
"Ini kan yang kamu mau, aku menyentuhmu," ujar Mas Ferdian yang entah kenapa membuat jantungku terasa sakit sangat sakit.
"Aku akan menyentuhmu jadi jangan pernah minta pisah," ujarnya lagi hendak melakukan aksinya kembali namun sudah terlebih dahulu tangan ku ini menamparnya kasar.
"Keterlaluan kamu mas, aku memang mengharapkan itu karena bagaimanapun aku sudah menikah memiliki suami tapi tidak dengan cara seperti ini, aku tidak mau." Ujarku manik-manik mataku sudah berkaca-kaca.
"Aku akan tetap minta pisah denganmu mas, aku sudah cukup bertahan," ujarku lagi. Raut wajah Mas Ferdian kembali merah.
"Kalau begitu kamu harus mengandung anakku," seru Mas Ferdian. Dia kembali melakukan aksinya dengan paksaan seluruh tenaga ku serasa habis ku kerahkan untuk menolah tapi sia-sia saja.
Alhasil Mas Ferdian benar-benar melakukan aksi bejatnya.
***
Pukul 7 pagi aku terbangun dari tidurku dengan badan sangat sakit tentunya rasanya tubuh ini remuk ditambah tangan Mas Ferdian memeluk pinggangku, apa sadari semalam dia memang memelukku? Dengan pelan aku menyingkirkan tangannya itu.
"Aaauuuu ...." pekikku merasa nyeri dibawah sana rasanya begitu pedih. Tak sengaja mata ini melihat kearah selimut dan sprei yang penuh dengan bercak-bercak darah.
'Kamu jahat Mas', batin ini rasanya sangat sakit ditambah bekas jejak Mas Ferdian begitu banyak meninggalkan bekas.
"Diana, sayang kamu kenapa?" Tanya Mas Ferdian yang entah sejak kapan Dia sudah bangun.
__ADS_1
Aku yang sadar tubuh ini polos tanpa sehelai benangpun buru-buru hendak pergi kamar mandi namun sayang baru 3 langkah aku langsung ambruk dilantai merasa sangat sakit dibawah sana.
"Aaagggrrrr ..." Aku menggigit bibir bawahku kasar.
Dapat kurasa tangan Mas Ferdian menyentuhku dia mengendongku, spontan aku menutup are terlarang. Dia hanya terkekeh menatapku.
"Kalau ada apapa itu panggil aku. Jangan malu malu, kalau kamu malu-malu seperti ini rasanya aku ingin melakukannya lagi," katanya, aku membulatkan mataku penuh.
"Aauuu .... sayang kenapa dicubit," pekiknya namun wajahnya tetap terkekeh saat aku mencubit kecil dadanya yang keras ini.
"Ayo kita mandi bersama, kalau diingat ingat selama kita menikah kita tidak mandi bersama bukan, ayo kita lakukan sekarang,"
"Masss--"
"Tidak ada penolakan!"
***
3 jam setelah kejadian dikamar mandi akhinya aku bisa bergerak bebas bahkan berjalan walaupun tidak seperti biasa karena masih terasa sakit dibawah sana.
"Diana mungkin ini yang ke entah berapa kalinya sudah aku meminta maaf kepadamu, tapi ini sungguh dengan hatiku yang paling dalam aku minta maaf kepadamu. Setelah ini aku berjanji akan menjadikan kamu ratuku satu-satunya, aku janji,
Demi Tuhan, aku sudah tidak mencintai Yuniar lagi, sejak dia meninggalkan ku dan anak-anak cintaku padanya sudah hilang saat itu juga. Aku berbuat baik kepadanya tidak lebih dari sekedar rasa kemanusiaan.
Kamu tau sendiri kan, orang tuanya berada diluar negeri, dia disini sendirian terlebih dia sakit, hanya itu Diana. Kumohon beri aku satu kesempatan sekali lagi memperbaiki hubungan kita, aku berjanji akan mendahulukan kamu," ujar Mas Ferdian ketika kami keluar kamar mandi tadi.
Kata-kata itu sangat jelas terbayang di kepala ini, "Ini kesempatan terakhir Mas, tolong jangan sia-siakan,"
Mas Ferdian mengangguk bahagia, bahkan dia mencium pipi ini berkali-kali. "Terimakasih sayang," "Sekali lagi aku minta maaf,"
***
"Mama Diana," teriak Amaina kala aku baru turun dari tangga melihat Amaina, Kenzo, Bik Jum sang pengasuh dan juga Yuniar di sana.
__ADS_1
"Sayang," aku menangkap tubuh kecil putriku ini. "Kata Papa Mamah lagi tidak enak badan, aku sama abang Kenzo dilarang Masuk kedalam kamar," jelas Amaina raut wajahnya terlihat khawatir.
"Benarkah, Mama baik baik saja kok, Mama hanya capek saja,"
"Syukurlah Mama baik baik saja, Amaina senang dengarnya,"
"Amaina lagi ngapain?" Tanyaku sembari berjalan menuju mereka yang disana dengan masih mengendong Amaina.
"Lagi belajar Mah, sama Bibi, juga Mama Yuniar, tapi Amaina gak suka karena Mama Yuniar kalau ajarin Amaina marah-marah," jelas Amaina dia melingkari tangannya dileherku.
"Mana ada Mama Yuniar marah-marah emang kamu aja yang lebay," sahut Kenzo cepat tak terima sepertinya ibu kandungnya dikatakan.
"Kenzo," tegurku lembut. Hendak menghampiri anak itu tapi dia malah pergi dengan membawa semua peralatan belajarnya.
Aku hanya bisa menghela nafas panjang. "Bi tolong ikuti Kenzo," ujarku pada Bi jum.
"Baik nya," sahut Bi jum setelahnya gegas mengikuti Kenzo yang sepertinya masuk kedalam kamarnya.
"Sampai kapanpun Kenzo tidak akan menuruti kamu lagi, karena sekarang dia tau siapa Ibu yang pantas dia bela," ujar Yuniar tersenyum penuh kemenangan.
Aku hanya tersenyum kencur membalasnya.
"Mama Mama, kenapa leher Mama banyak bentol bentol merah, banyak sekali," seru Amaina yang masih dalam gendonganku.
Spontan aku menurunkan Amaina di atas sofa.
"Emm ini, Mama tadi di gigit nyamuk nak, nyamuk besar." Ujarku berusaha menutupi leherku dengan rambut.
"Di kamar Mama banyak nyamuk?"
"Iya nak, di kamar Mama lagi ada nyamuk besar, kamu jangan masuk kesana ya. Papa sama Mama lagi berusaha menghilangkan nyamuk itu," ujarku kali ini aku melirik Ke arah Yuniar yang sepertinya sudah merah padam ia pun mengempal kan tangannya.
Aku tersenyum puas melihatnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG .....
jangan lupa likenya kak