Mantan Yang Berharap

Mantan Yang Berharap
BAB 7


__ADS_3

Dengan raut wajah cemberut Diana keluar kamar sedangkan Ferdian memasang kan wajah penuh kemenangan, tepat pukul setengah sembilan mereka baru turun, Fedian bahkan telat ke kantor. Baginya tidak masalah karena tidak ada agenda penting hari ini.


"Papa Mamah, kenapa baru turun?" tanya Amaina, ia sedikit kesal karena tadi ia mengedor-ngedor pintu kamar orang tuanya itu tidak di respon sama sekali. (Gimana mau respon orang mereka lagi enak-enakan, dasar bocil penganggu kurang kerjaan bukan main saja sana.)


Akhinya Diana mengaruk-garuk kepalanya tak gatal.


"Mama habis mandi ya, rambutnya basah," ucap Amaina lagi sesaat setelah Diana duduk di meja makan, karena Diana tak kunjung turun akhirnya Bi jum memasak sendiri. Selain menjadi baby sister Bi jum juga membantu Diana mengerjakan pekerjaan rumah,( iya dong harus kan di bayar mahal.)


"Mama baru bangun langsung mandi ya?" Tanya Amaina lagi.( Ni bocah kepo banget dah, mau di ultimasi lu apa, entar dah gede tau sendiri lu.)


"Iya sayang, udah ya kita langsung makan aja ya. Amaina pasti capek nungguin Mama tadi kan," kata Diana.


Bocil kepo itu mengangguk mengiyakan. Berbeda dengan Yuniar sudah merah padam.


"Seharusnya aku yang melayani mas Ferdian bukan dia, sial. kalau begini kapan aku bisa kembali lagi jadi Nyonya rumah ini, pokoknya aku harus hamil anak mas Ferdian. batin Yuniar. (Lu membatin apa teriak sih, bisa di dengar pembaca. Lagian lu mimpi amat mau jadi Nyonya, nyadar lu itu mantan, ngarep bet deh herman.)


"Papa besok Papa libur kan, Kenzo mau ke pantai," kata Kenzo setelah makanan dipiringnya kosong.


"Boleh, kita lihat besok ya kalau cuacanya bagus kita ke pantai.


"Ye, Amaina suka ke pantai. Mama Diana juga pasti suka kan, kan Mama sering cerita pantai," celutus Amaina.


"Iya sayang mamah suka, sangat suka," balas Diana tersenyum kecil.

__ADS_1


"Jadi kamu suka ke pantai kok aku gak tau?" tanya Ferdian melirik Diana yang berada disampingnya.


"Orang kamu gak pernah nanya," jawab Diana apa adanya.


(Hadeh seharusnya Diana kamu bilang "Kamu nanya, kamu bertanya-tanya?" gitu, hadeh perlu di ajarin ni MC nya biar gaul dikit.)


"Mama Yuniar juga suka kok, iya kan Mah," tanya Kenzo. (Adu lah Mama kalian, dasar bocil.)


"Iya, Mama suka, bahkan Mama sangat suka," balas Yuniar. (Heh ikut ikutan lu, kehabisan gaya ya.)


"Ya sudah besok kita lihat ya. kalau begitu Papa pamit dulu, ini udah telat ke kantor," pamit Ferdian langsung bangkit mencium kening anak-anaknya dan juga Diana. "Aku pamit ya, hubungi aku kalau ada apapa," kata Ferdian kepada istrinya yang hanya dibalas anggukan.


"Mas," panggil Yuniar. (Kenapa lu, gatel pengen dicium juga mimpi lu sana, gak usah menghayal yang diluar cerita ini, dasar gak tau diri lu.)


"Aku cuma mau bilang hati-hati," kata Yuniar. (Dasar caper lu)


***


Hari ini Diana tidak punya banyak kerjaan karena sebagian kerjaan sudah dikerjakan Bi Jum, setelah siap mencuci pakaian anak-anak dan dirinya Diana pun merasa lelah, ia beristirahat di sofa ruangan keluarga.


Sementara anak-anak pergi ketempat nenek mereka, untuk belajar karena tahun depan mereka akan masuk tk, Kenzo telat satu tahun masuk, atas keinginan Ferdian agar anak laki-lakinya itu bisa menjaga adiknya nanti kalau mereka satu kelas.


"Ni cuciin pakaian gue," pinta Yuniar tiba-tiba datang dengan keranjang pakaian kotor.

__ADS_1


Diana yang capek malas meladeninya dia lebih baik diam saja. Tapi Yuniar malah semakin ngelunjak.


"lu dengar gak sih!" seru Yuniar merasa di acuhkan.


"Maaf ya mbak, saya bukan pembantu disini kalau mbak mau nyuci, nyuci aja sendiri sana gak usah jadi beban. Gak mempan kalau aku," kesal Diana.


"Kamu," Yuniar melototi Diana.


"Apa, sebaiknya mbak diam dan tau diri sedikit kalau gak saya gak segan-segan mengusir kamu mbak dari sini, mbak jangan lupa saya Nyonya disini saya yang berhak memberikan izin siapa yang boleh tinggal atau enggak disini," ancam Diana tegas, karena ia merasa semakin lama dia diam semakin hebat wanita itu mencoba menginjakkan dirinya.


"Berani kamu, ingat ya Diana kalau bukan karena aku yang pergi waktu itu kamu juga bukan siapa siapa di keluarga ini paham, seharusnya kamu terimakasih," tukas Diana.


"Itu takdir mbak, karena mbak wanita gak bener sudah punya suami tapi masih jadi jala** laki-laki lain." Kali ini Diana sudah bangkit dari duduknya.


"Kurang hajar!" Yuniar hendak menampar wajah Diana namun tidak berhasil karena Diana terlebih dahulu memegang tangan mantan istri suaminya itu.


"Katanya sakit tapi kok kuat lawan orang, uppp pura-pura sakit biar di kasihani sama suami orang, udah di tinggal ya sama laki-laki selingkuhan ya mbak, jadi sekarang mau ngareb balik lagi sama suami aku, jangan mimpi deh mbak, kebusukan kamu akan terbongkar cepat atau lambat. Jadi lebih baik mbak buat aja skenario yang bagus ketika saat itu tiba biar gak nyesek nyesek amat," sinis Diana menghempaskan tangan Yuniar kasar lalu pergi begitu saja.


"Aaggrrrr .... Sialan, tunggu saja Diana akan aku buat hidup kamu menderita,"


ngarep hahahaha ....


bersambung....

__ADS_1


sorry agak lain bab ini, soalnya aku lagi au ah malas cerita sama kalian gak ada faedah nya. bay


__ADS_2