Mantan Yang Berharap

Mantan Yang Berharap
BAB 5


__ADS_3

Mau tidak mau Diana pergi sendiri kerumah Arsen ia tidak punya pilihan lain, setelah membayar taksi Diana langsung disambut hangat oleh keluarga Arsel. Laki-laki berkisaran umur 25 tahun itupun menghampiri sahabatnya.


"Akhirnya kamu datang juga Diana," ujar Arsel senang.


"Hm, bagaimana mungkin aku tidak datang saat sahabatku sedang merayakan hari bahagianya, selamat ya, udah resmi aja jadi bapak sekarang," ucap Diana sekilas memeluk sang sahabat.


"Hehehe ..... Agak gak yangka aja tiba-tiba dah jadi bapak aja gue kan," kekeh Arsel.


"Iya, udah jadi bapak-bapak anak satu hahahaha bentar lagi jadi kakek," kata Diana juga ikut terkekeh.


"Iya iya, itu masih agak lama juga. Btw Ferdian mana, kamu kok sendirian?" tanya Arsel setelah beberapa saat ia melirik tak menemukan suami dari sahabatnya itu.


"Oh, Mas Ferdian lagi ada rapat penting, gak bisa undur lagi dia cuma nitip salam aja." Jawab Diana berbohong.


"Oh ya, ya udah gak papa, yang penting kamu datang aja aku udah senang," kata Arsel.


"Istri kamu mana?" tanya Diana juga ia belum melihat istrinya Arsel sadari tadi berserta anak mereka.


"Itu cebokin anak gue, palingan bentar lagi disini, nah tu kan dia baru juga dibilangin," ujar Arsel segera menghampiri istrinya.


"Diana ..." Melisa segera memeluk Diana setelah sesaat menyerahkan anakknya kepada sang bapak yang tukang cetak.


"Sorry agak terlambat," ucap Diana.


"Gak kok acaranya belum dimulai," balas Melisa.


"Ini kado dari aku, semoga bermanfaat bagi dedek bay,"


"Ih Diana ngapain beli ini segala sih, kamu datang aja aku udah senang banget, tau,"


"Hehehe .... Gak mungkin dong aku datang sendiri tanpa bawa apa-apa. Dedek baynya mirip bapaknya ya tapi semoga aja gak ikut sifat bapak nya." Diana merasa gemas melihat anak Arsel.


"Hahaha iya bener, semoga aja anak aku gak ikut sifat bapaknya bisa mati muda aku," tawa Melisa.


"Enak aja, malah bagus tau dia ikut sifat gue, hidupnya jadi Happy terus bawaannya," cetus Arsel tak terima.


"Iya dia memang bakal Happy tapi ini Melisa bisa tertekan seumur hidup melihat tingkah kalian berdua," tawa Diana, memang tidak salah dia pergi ke tempat Arsel bisa tertawa menghilangkan masalah dalam hidupnya setidaknya untuk saat ini.


***


Pukul 6 sore Diana pun pamit pulang dari rumah Arsel, awalnya pria itu kekeh minta mengantarkan Diana tapi Diana tidak mau merepotkan akhirnya Arsel yang memesankan taksi untuk sahabatnya itu.

__ADS_1


Namun di perjalanan pulang Diana tidak langsung pulang melainkan dia membelikan beberapa bingkisan terlebih dahulu untuk anak-anaknya. Baru setelahnya pulang.


Saat menginjakkan kaki dirumah, suasana tampak hening tak ada suara apapun begitu juga ruangan tamu, beberapa kali dia memanggil nama Amaina dan juga Kenzo, namun tak ada jawaban sama sekali.


"Apa mereka belum pulang, tapi mobil Mas Ferdian ada di bagasi, bukankah itu pertanda mereka sudah pulang," batin Diana.


Diana pun mengecek kamar kedua anakknya itu tapi hasilnya kosong tak ada tanda tanda orang disana.


"Nyonya," panggil Bi Jum membuat Diana sedikit terkejut.


"Ah Bibi, ini anak anak pada kemana Bi, apa belum pulang?" tanya Diana.


"Sudah Nya, sekitar setegah jam lalu, mereka ada di kolam renang," jawab Bi jum.


"Oh, iya udah terimakasih Bi,"


"Iya Nya, sama-sama,"


Diana pun akhirnya melirik kearah kolam renang dari sela sela jendela kamar Kenzo. Ia sangat jelas melihat disana pemandangan yang membuat hatinya merasa sakit, bagaimana tidak sangat jelas terlihat bagaimana bahagianya


Mereka disana, apalagi Kenzo sangat girang berenang bersama Papanya juga Yuniar disana seolah-olah mereka pasangan serasi. Bahkan tak segan-segan Mas Ferdian memegang tangan Yuniar.


Air mata Diana terjatuh begitu saja menyaksikan itu. Tidak mau membuat dia semakin sakit hati akhirnya Diana melangkah pergi menuju kamarnya sembari menghapuskan air matanya. Tak lupa ia menyerah kan apa yang dia bawa tadi kepada Bi jum terlebih dahulu baru setelahnya masuk ke dalam kamar.


***


Ferdian yang paham pun segera menghampiri istrinya, ia meraih hair dryer dari tangan Diana lalu mengering kan rambut basah tersebut.


Diana diam, dia tidak menolak ataupun mengatakan apapun dia membiarkan apa yang memang suaminya kehendaki.


"Maafkan aku, lagi lagi aku menjadi suami yang jahat untukmu," ucap Fedian.


"Kamu tau, tadi pas pulang aku mencarimu kemana-mana untuk kita pergi bersama-sama kerumah sahabat mu itu, tapi kata Bi jum kamu sudah pergi lebih dulu," jelas Ferdian lagi.


Dengan talenta Ferdian mengeringkan rambut istrinya hingga tak terasa apa yang dia lakukan sudah siap.


"Apa kamu marah kepadaku, aku minta maaf,"


Merasa sudah kering Diana pun bangkit dari tempat duduknya setelahnya membereskan pakaian bersih untuk ia lipat agar dimasukkan kedalam lemari.


Ferdian juga ikut membantu, ia sangat paham keadaan kalau istrinya lagi marah maka dari itu dia segera membantu Diana.

__ADS_1


"Kalau kamu capek biarkan aku saja melipat nya," ucap Ferdian. Sebenarnya dia tidak terlalu pandai melipat kan pakaian namun ia melihat bagaimana Diana melipat memperhatikan wanita itu dalam diam melipat kan pakaian.


Sejak menikah dengan Diana, Ferdian tidak lagi menyewa pelayan rumah, karena Diana sendiri yang memintanya agar dia punya pekerjaan, malas diam hanya duduk santai saja, maka dari itu apapun pekerjaan rumah selalu Diana yang menghandel.


Kecuali membersihkan seluruh rumah, Diana tidak melakukannya karena rumah ini sangat besar hingga tiap hari minggu pasti ada cleaning servis yang disuruh datang membersihkan rumah ini.


"Diana, jangan diamkan aku, please aku tidak suka di diam kan seperti ini," ujar Ferdian nyerah, bagaimana tidak pakaian sudah rapi semua tapi Diana masih mendiaminya.


"Diana tunggu." Kali ini Ferdian mencegat tangan Diana.


"Lepaskan aku," sarkas Diana.


"Marahlah, aku lebih suka kamu marah dari pada kamu mendiami ku seperti tadi, aku tidak sanggup," ujar Ferdian.


"Lalu apa kamu pikir aku sanggup mas," kata Diana membuangkan pandangannya.


"Maka dari itu aku minta maaf,"


Diana sedikit tertawa. "Apa hanya itu yang bisa kamu katakan Mas tidak ada lain selain maaf,"


"Aku lelah Mas jangan ganggu aku, aku capek dengan semua ini, lebih baik kamu diam atau kamu bisa pergi, aku mau tidur," ujar Diana.


Ferdian menghela nafas panjang.


"Baiklah, aku tidak akan menganggumu, tidurlah mimpi indah," Ferdian mengecup kening Diana sekilas.


"Papa papa, mama Yuniar Pah!"


Teriak Kenzo dari balik pintu berhasil membuat perhatian Ferdian teralih.


Dengan gerak cepat Diana menarik tangan suaminya itu. "Jangan pergi, Yuniar hanya berbohong dia hanya ingin mencari perhatianmu saja, dia berbohong atas penyakitnya," kata Diana penuh serius.


Ferdian mematung di tempat, dia tidak tau harus melakukan apa.


"Papa, cepat Pah,"


"Diana," lirih Ferdian.


Detik itu juga Diana melepaskan tangannya.


"Pergilah,"

__ADS_1


Bersambung .....


__ADS_2