Mantan Yang Berharap

Mantan Yang Berharap
BAB 6


__ADS_3

Fedian sedikit tergesa-gesa menghampiri Yuniar yang kata Kenzo mantan istrinya itu terpleset dikamar mandi.


Dan benar saja Ferdian dikejutkan dengan mantan istrinya itu meringis dilantai.


"Yuniar," Ferdian segera membantu membawa wanita itu ke atas ranjang.


"Aauuu pelan-pelan mas sakit!" ujar Yuniar.


"Kamu ini kenapa? kenapa bisa jatuh di lantai?" tanya Ferdian setelah menaruh tubuh mantan istrinya itu di atas ranjang.


"Aku tidak tau mas, tiba-tiba saja tadi ketika aku keluar kamar aku terpleset untung saja ada Kenzo memanggilmu kalau tidak mungkin aku masih menahan sakit disana," jelas Yuniar dengan raut wajah sesedih mungkin.


"Lain kali hati-hati," ucap Yuniar.


"Bohong, mama Yuniar tadi tidak jatuh, tapi pura-pura jatuh Amaina melihatnya sendiri," kata Amaina tiba-tiba ternyata anak kecil itu sadari tadi berada di dalam kamar itu.


"Amaina," seru Yuniar sedikit keras bahkan sorot matanya sudah berubah tajam menatap anaknya itu.


"Amaina gak bohong kok Pah, Amaina melihatnya sendiri tadi kalau mama Yuniar memang sengaja pura-pura jatuh, terus datang abang Kenzo mama Yuniar langsung menyuruh abang Kenzo untuk memanggil Papa," jelas Amaina jujur mengatakan apa yang ia lihat tadi.


"Gak, mama Yuniar memang jatuh abang melihatnya," sambung Kenzo membela.


Mendengar Kenzo membelanya raut wajah Yuniar jadi tersenyum.


"Abang gak lihat tadi, abang kan baru datang," kekeh Amaina.


"Sudah sudah, kenapa kalian jadi adu mulut sih, lihat sekarang jam berapa, kalian sudah makan?" tanya Ferdian.


Kedua anak kecil itu mengangguk bersamaan. "Sudah pah, sama bibi tadi"


"Ya sudah kalau begitu cepat masuk kamar sana, dan istirahat," perintah Ferdian.


Kedua bocil itupun mengangguk patuh lalu setelahnya meninggalkan kamar Yuniar.

__ADS_1


Sama seperti Ferdian ia ingin menunju kamarnya tapi baru selangkah mantan istrinya itu sudah memanggil.


"Mas, jangan pergi, aku butuh kamu," ucap Yuniar dengan raut wajah selemah mungkin.


"Perut aku sakit mas," lanjut Yuniar karena tak melihat respon apapun dari mantan suaminya itu.


"Apa perlu aku panggilkan dokter?" tanya Ferdian pada akhirnya tapi ia masih diam ditempat.


"Tidak perlu mas, sepertinya kalau kamu ada disini aku tidak akan merasa sakit lagi," dengan tak tau malunya Yuniar berkata demikian.


"Maaf Yuniar, kita bukan lagi sepasang suami istri dan lagi aku tidak mau membuat istriku salah paham lagi nantinya yang akan membuat rumah tangga kami terancam. Lebih baik kamu istirahat agar kamu tidak merasa sakit lagi, kalau butuh apa-apa panggil saja Bi jum, atau nanti kamu bisa telepon aku, aku akan menelpon dokter yang merawatmu dirumah sakit," kata Ferdian setelahnya ia benar-benar pergi.


"Aaagggrrrr .... dasar tidak berguna, sia sia saja aku pura-pura jatuh tadi ingin menarik perhatian kamu mas tapi kamu malah pergi," kesal Yuniar.


"Kamu Amaina, bocah sialan, nyesel aku lahirin kamu, tidak tau terimakasih. Awas aja kamu Amaina mama akan buat perhitungan sama kamu nanti, untung saja Ferdian tidak mempermasalahkan apa yang dikatakan bocah sialan itu kalau tidak tamat lah aku,"


***


Saat masuk kamar seperti yang dipikir kan Ferdian kalau Diana benar benar sudah tidur, Ferdian mematung sesaat memandang wajah Diana dalam diam. Kemana saja dia selama ini kenapa ia baru sadar kalau Diana sangatlah cantik dan mengemaskan kalau lagi tertidur seperti ini.


Ferdian mengecup kening Diana sekilas sembari berbisik "Selamat tidur cantik, mimpi indah." setelahnya Ferdian melangkah menuju sofa tak jauh darinya, ia berkutik dengan laptop memeriksa laporan yang masuk hari ini, karena waktu tadi siang sudah ia habiskan pergi ke mall.


Tak terasa pagipun menjelang, Diana membuka kan matanya pelan-pelan perutnya kembali terasa keram dan benar saja kalau ada tangan Ferdian disana.


Hati hati dia memindahkan tangan itu, "Kenapa baru sekarang kamu menganggap aku ada mas walaupun tidak sepenuhnya, kemarin kemarin kamu kemana, kenapa disaat aku lelah kamu baru mau mempertahankan hubungan kita," batin Diana.


Mata Diana memperhatikan raut wajah tampan suaminya itu, sungguh Diana tidak bohong kalau suaminya ini benar-benar sangat tampan dan menawan ia yakin pasti banyak di luar sana wanita yang begitu mengilai suaminya ini, karena dari segi manapun suaminya ini sangat sempurna.


Kaya, mapan, tampan, tinggi dan sixpek hanya ada satu kekurangan, iya itu kurang pandai dalam melihat wanita. karena buktinya dia masih bisa ditipu oleh mantan istrinya itu.


"Diana kamu sudah bangun," suara serak Ferdian layaknya orang baru bangun tidur, Diana sedikit kaget tiba tiba Ferdian berbicara.


Reflek segera ia bangun namun sayang karena kurang hati-hati kakinya menginjakkan selimut yang alhasil membuat tubuhnya kembali keatas ranjang, tepat kepalanya terjatuh di bidang dadanya Fedian.

__ADS_1


"Hahaha ...." Ferdian langsung terkekeh sembari memeluk istrinya itu. "Lain kali hati-hati sayang lihat dulu jangan asal pergi saja, untung kamu jatuh ke dalam pelukanku coba bagaimana kalau kamu jatuh ke lantai pasti akan sakit," Ferdian masih terkekeh.


"Bukan urusanmu," ketus Diana.


"Jelas urusanku, karena kamu istriku!"


"Oh ya, baru sadar punya istri aku kira tidak,"


"Sayang kamu kalau lagi marah begini jadi tambah cantik tau, aku jadi pengen," kata Ferdian cukup ambigu memang, tapi Diana paham betul maksud dan tujuannya.


"Lepaskan aku," berontak Diana sekuat yang ia bisa.


"No! cium aku dulu morning kiss baru aku mau lepaskan," kekeh Ferdian.


"Jangan harap!"


"Ok, kalau begitu jangan harap kamu juga bisa lepas dariku," Ferdian tak mau kalah, dia malah semakin mengeratkan tangannya.


"Mas sakit," kesal Diana.


"Maka dari itu cium aku dulu, langsung aku lepaskan atau kamu mau kita melakukan itu," Ferdian menaik turunkan alisnya. "Aku pernah dengar melakukan sek di pagi hari sangat baik dan mengawetkan rumah tangga, benar kan. Apa kamu juga pernah dengar berita itu?" dengan tak tau malunya Ferdian berkata frontal begitu saja.


"Itu hanya karangan kamu saja, aku tidak pernah mendengar nya," ketus Diana.


"Masak sih kamu gak dengar, ya udah tapi kan kamu sekarang udah dengar kan dari apa yang aku katakan , jadi," Ferdian sudah menatap penuh minat.


Buku kuduk Diana langsung berdiri. "Mas kamu jangan macam-macam," ancam Diana.


"Aku gak akan macam-macam kok sayang, aku hanya mau satu macam aja, ya itu minta jatah sama kamu," Ferdian langsung melakukan aksinya menindih Diana dalam gerak cepat, membuat istrinya itu sudah dalam kukungannya.


"Massss"


"Teriak saja sayang, gak akan ada yang dengar kok, kamu lupa ruangan kita ini kedap suara dari dalam. Kalau bisa panggil saja namaku,"

__ADS_1


Bersambung ......


__ADS_2