Mantan Yang Berharap

Mantan Yang Berharap
BAB 2


__ADS_3

"Diana Tunggu,"


Mas Ferdian berhasil menarik tanganku agar berhadapan dengannya kala aku sudah sampai dalam kamar kami. Dia spontan membawaku kedalam pelukanya.


Aku tidak membalas dan tak juga memberontak melainkan aku diam.


"Maafka aku, aku telah membuatmu sedih," ujarnya beberapa saat kemudian diapun melepaskan pelukannya.


"Ck," aku tersenyum kecil. "Kamu baru menyadarinya mas selama ini kemana?" Tanyaku.


"Diana, aku tau aku salah. Aku sampai lupa mengirim kan uang bulanan untukmu, sekarang juga aku akan mengirimkannya ke rekeningmu,"


Perkataan Mas Ferdian semakin membuatku tersenyum kecil.


"Tidak perlu mas, aku masih punya uangku sendiri. Kamu saja tidak mengingat aku istrimu jadi untuk apa kamu mengirimkan uang untukku," sindirku.


"Diana jangan seperti ini," katanya meraih tangannku namun segera aku menariknya kembali.


"Pergilah mas, aku ingin sendiri, kamu lupa, selain gila mantan istrimu itu kamu juga gila kerja jadi dari pada kamu terlambat mending kamu ke kantor sekarang. Biar memberikan contoh disiplin kepada karyawan karyawanmu, itu kan yang kamu terapkan kepadaku setiap saat!" Ujarku.


Mas Ferdian nampak terdiam.


"Besok aku akan menemanimu pergi ke tempat Arsel ya. Jangan marah lagi," rayu Mas Ferdian.


"Terserahmu mas, aku capek," ucapku.


"Mama Amaina datang," teriak putriku, Ah lebih tepatnya putri Mas Ferdian dengan mantan istrinya itu. Ya, aku menikah dengan Mas Ferdian duda 2 anak, yang pertama Kenzo berumur 6 tahun lebih sedangkan satu lagi Amaina berumur 5 tahun, mereka hanya berjarak 1 tahun.


"Sayang, sudah pulang," ujarku. Amaina dengan langkah cepat menghamburkan tubuhnya dipelukan ku.


"Anak Mama, Abang mana kok gak kelihatan?" Tanyaku melirik ke arah pintu tidak melihat kehadiran putraku itu.


"Abang lagi sama Mama Yuniar, Mama Yuniar lagi nagis disana," jelas Amaina aku mengangguk mengerti.


"Amaina gak menenangkan Mama Yuniar?" Tanyaku lagi.


"Gak ah males, kan udah ada abang Kenzo juga," jawab Amaina.


"Tapi dia kan mama Amaina juga, seharusnya Amaina menenangkan mama Yuniar dulu," kataku lembut, tidak mungkin kan aku meninggikan suaraku kepada Amaina, anak yang sudah sangat aku cintai termasuk Kenzo, walau sekarang kenzo sudah agak menjauh dariku semenjak beberapa hari ini tapi bagaimana pun aku tetap menyayanginya sangat, bahkan lebih dari hidupku sendiri.


Karena aku yang merawat mereka berdua sadari bayi di tinggal ibunya.


Kulirik Mas Ferdian, yang hanya melihat kami berdua tanpa mengatakan apapun.

__ADS_1


***


"Masih betah disini, kalau aku sih udah pergi dari dulu," Aku yang lagi memotong sayuran menyiapkan makan malam untuk suamiku dan anak-anakku pun seketika menoleh ke sumber suara.


Sebuah senyuman terbit dibibir ku. "Kalau lagi berdua keluar taringmu mbak," ujarku sinis.


"Hahaha .... Apa sih yang kamu harapkan dari Ferdian, dia itu tidak mencintaimu seharusnya kamu sadar diri kamu hanya dijadikan pembantu dirumah ini, jadi tidak perlu sok soan bertahan. Mending kamu pergi saja dari sini, cepat atau lambat aku pasti akan menjadi istrinya Ferdian lagi." Katanya dengan percaya diri penuh.


"Ohya, mbak mau jadi istri suamiku lagi, mbak yakin? bukannya Mbak bilang umur Mbak gak lama lagi ya, perasaan udah dari setegah tahun lah mbak bilang begitu, kok gak mati mati juga sih, gak kangen apa sama tanah," cibirku sembari terkekeh.


Dapat kulihat wajah Yuniar merah padam.


"Berani sekali kamu mendoakanku mati, sialan," tangannya hendak menamparku namun segera aku menepisnya.


"Kalau Mbak kesini mau cari ribut mending sana deh, udah gak guna, gak mau masak, gak tau diri pulak, setidaknya kalau numpang itu masak sendiri gak usah mengharapkan orang lain yang masak. Sakit juga gak!" todongku sedikit mendorong tubuh Yuniar.


"Awas kamu, lihat saja," kata Yuniar menatap tajam kearahku, lalu dia dengan segaja ia menghantam kan kepalanya ke sela sela tembok yang al hasil membuat kepalanya mengeluarkan sedikit darah dan memar, lalu dengan tersenyum mengejek dia menjatuhkan dirinya.


"Aaaaaa ....." teriak wanita itu dengan keras.


"Dasar sampah" sungutku.


""""


"Ada apa kenapa teriak teriak," kuping ini mendengar suara Mas Ferdian, mendekat dan semakin mendekat. Aku yang tidak mau mengubris melanjutkan tugasku kembali, toh bukan urusanku.


"Mas, sakit mas," ucap Yuniar telinga ini sangat jelas mendengarnya.


"Keningmu berdarah, ya Tuhan apa yang terjadi sebenarnya?"


Tak kudengar suara apapun dari Yuniar mungkin dia diam atau berbicara bahasa isyarat menyalahkan ku.


"Diana kenapa kamu diam saja, saat Yuniar terjatuh berdarah seperti ini?" Mas Ferdian akhirnya bertanya kepadaku. Seolah tak mendengar apapun aku menulikan teligaku ini, fokus pada sayur kini sedang aku masak.


"Diana!" Teriak Mas Ferdian cukup keras akhinya aku berbalik menatap kearah mereka.


"Ya Mas ada apa?" Kataku "Ya Tuhan Mbak Yuniar kenapa? Mas mbak Yuniar kenapa?" Tanyaku berpura-pura terkejut dan panik melihat Yuniar. Dengan tak tau dirinya wanita itu memeluk suamiku erat.


"Aku seharusnya bertanya kamu apakan Yuniar sampai seperti ini?" Tanya Mas Ferdian.


"Hah, aku mana aku tau," jawabku.


"Mas sudah, mungkin Diana gak sengaja ngedorong aku," ucap Yuniar penuh derita.

__ADS_1


Sorot mata Mas Ferdian langsung menatapku tajam.


"Mama," panggil Amaina langsung memelukku erat.


"Kita bicara masalah ini," ucap Mas Ferdian lalu mengendong tubuh Yuniar membawa ke kamar tamu yang ditempati wanita itu, aku tidak peduli namun dapat kulihat Yunar menjulurkan lidahnya kepadaku.


"Mama Diana tidak apa-apa?" tanya Amaina.


Aku nyaris tidak mendengarkan perkataan Amaina barusan karena fokusku kini teralih kepada Kenzo putraku, yang menatap tajam kearahku di ujung sana.


"Kenzo, sayang," panggilku tapi dia malah berlari pergi begitu saja, hatiku sangat sakit melihatnya.


"Maafkan mama ya sayang, belum jadi mama yang baik buat kalian," aku beralih kepada Amaina mengusap lembut kepalanya.


***


"Apa yang kamu lakukan kepada Yunar. Kamu benar-benar keterlaluan, semakin hari kamu semakin jahat, sebenarnya apa yang dilakukan Yuniar pada dirimu sampai kamu melakukan hal sejahat itu, kamu cemburu?" Tanya Mas Ferdian.


"Berapa kali sudah aku bilang padamu kalau aku sudah tidak punya perasaan apapun lagi kepada dia, aku hanya membantu pengobatannya saja dan menemaninya sampai sisa umurnya."


Aku dan suamiku kini berada di kamar kami, ya karena Mas Ferdian menarikku ikut dengannya ke kamar.


Aku hanya diam, tidak ada niat ku menjawab pertanyaan suamiku barusan toh percuma bukan, di matanya aku serba salah.


"Kenapa diam, aku butuh penjelasanmu, bagaimana kalau terjadi sesuatu kepada Yuniar, nyawanya pasti akan bahaya kamu tau sendiri kan dia lagi sakit umurnya tidak banyak, dia juga tinggal disini hanya ingin menghabiskan hidupnya bersama anak-anak."


"Tolong lah Diana, berhenti menjadi istri pencemburu."


Aku masih diam tidak mengubris apapun, hatiku seakan sudah menjadi batu karena selalu disalahkan.


"Diana jawab aku, jangan hanya diam saja," kekeh Mas Ferdian.


Kali ini aku mengalihkan padanganku kepadanya. "Buat apa mas, aku harus mengatakan apa membela diri, gak ada penjelas mas gak guna karena mau bagaimana pun aku berbicara apa kamu pernah membelaku walau hanya sekali saja, kamu melihat sisi ku saja tidak kan!


Jadi buat apa kamu memaksa aku memberi penjelasan kalau ujung-ujungnya aku yang disalahkan di mata kamu aku serba salah, dan apa kamu bilang barusan Mas aku cemburu.


Ya, aku memang cemburu karena dari pertama kita menikah sampai sekarang apa pernah sekali saja kamu menghargai aku, kamu menganggap aku ada, memperlakukan aku layaknya seorang istri tidak pernah kan," aku menarik nafasku dalam-dalam.


"Sementara dia, wanita yang bahkan meninggalkan kamu memilih selingkuhannyan ketimbang kamu, meninggalkan anak anak kamu saat masih bayi, membuat kamu depresi tapi apa kamu malah lebih melihat dia ketimbang aku padahal dia hanya berpura-pura sakit, salahkah aku cemburu kepadanya. Karena mendapatkan perhatian suamiku yang tidak pernah aku dapatkan.


Salah kah aku," suaraku semakin parau.


Mas Ferdian tampak terdiam beberapa saat. "Diana aku--"

__ADS_1


"Mas, ayo kita pisah?"


Bersambung .....


__ADS_2