
Sesampainya dirumah, gue udah memperbolehkan pak Iqbaal langsung pulang dan gue cenderung menyarankan dia untuk pulang. Tapi keburu ada Papa
yang minta pak Iqbaal buat nemenin Papa main catur sambil ngobrol, katanya. Yaudah lah.
"Stef" Panggil mama.
"Ya ma? Steffi lagi ganti baju."
Badan gue yang tadinya berkeringat karna mainnan air sama Airin akhirnya kena air beneran dan sekarang jadi lebih seger.
"Nanti anterin makanan ringan sama teh buat Papa sama nak Iqbaal ya,stef."
"Bella aja." Jawab gue
"Yang mau nikah sama iqbaal siapa? Kamu
atau Bella?"
"Bel ngga masalah kok ma." Saut Bella.
"Jangan coba-coba kamu minta nikah kalo kuliah kamu belum bener!
"Kak steffi juga belum bener,ma. Skripsi aja ngga ada peningkatan."
Mendengar penghinaan atas diri gue. Gue keluar dan nemuin mama juga Bella yang masih aja ngomongin gue.
"Papa dimana ma?"
"Di belakang sama iqbaal. Itu makanannya ada didapur. Tolong anterin ya."
"Mama tau ngga?" Tanya Bella ke mama.
"Apa? Mau cerita soal cowok mana lagi yang nantangin kamu balapan?"
"Lo masih balapan?" Tanya gue.
Bella cuma meringis. Emang dah itu bocah. Dari kecil sampe sekarang ngga pernah berubah.
"Dia mah ngga bakal berhenti balapan kalo
bukan Andrew yang minta." Kata mama.
"Andrew?" Tanya gue.
"Udah sana anterin ke Papa!" Kata Bella.
Andrew. Setau gue Bella ngga pernah punya temen SMA ataupun kuliah yang namanya Andrew.
"Pa. Kenal Andrew ngga?"
"Loh? Kamu ngga tau Andrew?"
Gue geleng. Emang andrew siapa sih? Mama sama Papa gue sampai kenal sedangkan gue ngga.
"Adik saya." Saut pak Iqbaal.
"Adik?"
"Yang dulu mainan sama kamu. Main gundu
sama kamu waktu kecil. Yang gendut." Kata papa.
"Yang ingusan."
"Kamu juga dulu ingusan." Kata pak Iqbaal.
Bentar. Pak Iqbaal kenal gue dari kecil nih? Sumpah? Boleh tersanjung ngga?
"Kok tau saya ingusan?"
__ADS_1
"Ingusannya Andrew sering nimbal ke temennya."
"Kenapa nanyain Andrew?" Tanya papa.
"Si Bella tuh.Ngomong-ngomong, sekarang
Andrew dimana ya?"
"Kuliah S2 di German. Kenapa? Rindu?" Tanya pak Iqbaal.
"Nak Iqbaal kenapa? Cemburu?"
Tembakan Papa kayaknya tepat sasaran karna setelahnya, pak Iqbaal ngga komentar banyak dan kembali main catur sama Papa.
"Papa mau bicara serius."
Pokoknya kalo si Papa udah bilang 'papa mau ngomong serius', mau kentut aja ditahan dulu buat dengerin Papa. Papa itu tipikal orang yang santai ngga kayak Mama yang galaknya kayak pak Iqbaal.
Jadi kalo papa udah bilang ada hal serius, berarti bukan main-main.
"Kalian kan akan segera menikah."
Kenapa harus diingetin sih pa? Rasanya mau lari aja sama Ardian.
"Papa harap kalian bisa rukun. Ngga banyak
bertengkar. Tentu kalian ngga mau dong ibu kalian marah seperti kemarin-kemarin?"
Gue diem sedang pak Iqbaal ngangguk masih dengan atensi yang tertuju sepenuhnya pada Papa.
"Steffi. Nurut sama Iqbaal. Jangan bantah dan bersikap lebih dewasa ya,nak."
"Iya,Pa."
"Janji ngga akan membangkang dari suami mu?"
"Ngga ada yang namanya keluar malam tanpa ijin dari iqbaal."
"Iya pa."
"Ngga ada yang namanya boros karna seberapapun uang yang diberikan Iqbaal, kamu harus gunain sesuai kebutuhan."
Gue ngga terlalu takut sih. Gue denger gaji seorang dosen lumayan tinggi. Buat beli lipstick 4 bulan sekali sama bedak ngga susah lah.
"Walaupun kamu dekat dengan Lukman, dan sejauh ini papa ngga masalah dengan itu. namun setelah 2 bulan ini, kebebasan mu tergantung ijin dari Iqbaal."
Ini nih yang susah!!! Gue ngga tau harus minta ijin gimana ke pak Iqbaal agar diijinin pergi ke wisudanya Ardian.
"Nak Iqbaal. Om titip putri sulung om. Jangan dibuat nangis kama om ngga akan sanggup niupin balon buat dia lagi."
"Pa.."
Rasanya gue mau nangis. Papa adalah definisi dari semua keindahan dihidup gue. Papa selalu menggendong gue ke kamar saat gue tertidur di sofa karna nunggu beliau pulang. Papa juga selalu memberikan 3 buah balon yang beliau tiup sendiri untuk gue saat gue nangis.
"Iya,om."
"Kalo dia bikin kamu repot. Tolong dibimbing supaya bisa."
"Pasti om."
"Stef, Papa ngga akan bisa lagi lomba lari lawan steffi seperti muda dulu."
"Papa juga selalu kalah."
"Semoga kalian bisa membangun rumah tangga yang baik dan penuh kasih."
Sepeninggal pak Iqbaal dari rumah gue. Bimbang kembali melingkup terlebih setelah Papa memberi wejangan untuk kita berdua. Seperti yang selalu Mama ceritakan bahwa hidup dalam rumah tangga itu tidak semudah yang dibayangkan, bukan hanya bangun pagi untuk melakukan kewajiban rumah tangga atau sekedar melakukan hubungan secara halal. Akan banyak duri tajam atau bahkan beracun.
"Kak"
__ADS_1
Gue hanya bergumam atas panggilan Bella.
Pandangan gue masih sepenuhnya bertumpu pada 3 kotak cincin yang pak Iqbaal tinggalkan dengan alasan supaya gue bisa memilih salah satu dari ketiganya sebagai cincin pertunangan kami.
Jangankan membuka, rasanya melihat cincin itu berada dikamar gue pun kayak udah ngga pantes.
"Lo mau gue kasih tau fakta soal kak Iqbaal
ngga?"
"Ngga tau,Bel. Pusing gue."
"Ah ngga asik lo!"
Ini sudah cukup malam tapi mata gue masih terjaga. Tugas yang pak Iqbaal beri memang menghabiskan waktu.
"Gue bisa gila!"
Gue keluar menuju dapur untuk mendapatkan penenang.
"Kamu belum tidur,stef?" Tanya mama.
"Ngerjain tugas dari calon mantu mama."
"Apa tuh? Suruh milih gaun?"
"Astaga,Ma. Bukan."
"Kuliah? Mama kira karna kamu calon istrinya dia bakal ngurangin tugas buat kamu."
Percayalah gue hampir tersedak kopi karna mama. Mana mungkin pak Iqbaal lakuin itu? Ditambah banyak,Ma!
"Ma"
"Hem?"
"Misal salah satu diantara aku sama pak Iqbaal udah punya pacar. Gimana?"
"Mama pastikan hubungan itu bakal putus
sebelum kalian nikah!"
"Kok kejam sih ma? Kan kita juga punya orang yang kita cinta,Ma."
"Mama milih nak Iqbaal juga bukan karna kamu yang ngga punya pacar,stef. Dia punya bibit-bebet-bobot yang udah bagus banget."
"Tapi kalo ngga cinta kan sama aja."
"Cinta itu karna kebiasaan. Mama jamin deh
kamu bakal cinta sama Iqbaal."
Cinta? Sama dosen galak macem anjingnya Amel?
Big no.
"Tuhkan, pasti lagi mikirin Iqbaal."
"Ngga."
"Udah ah. Matiin lampunya kalo balik ke kamar."
Setelahnya mama pergi. Kayaknya gue harus bicara serius sama pak Iqbaal soal mbak Gita deh.
(Steffi: pak. Besok bisa ketemu? Saya mau bicara serius)
(Iqbaal: bisa lewat telpon kan?)
Sabar!
__ADS_1