
Kalo emang udah keras kepala ya jadinya gitu. Dia ngajak gue liburan ya kan? Gue jawab setelah gue kelar skripsian. Dan sekarang untuk mewujudkan keinginannya, gue kerja rodi buat bikin skripsi.
"Ayo dong semangat!"
"Ini jam 11 malam pak. Udah 5 jam loh."
"Katanya mau cepet selesai skripsi! Saya
bahkan dulu cukup hanya 2 bulan."
Dia itu pinter atau terlanjur pinter sih? Setiap orang kan punya kemampuan otak yang beda-beda! Gue mindahin laptop dari pangkuan gue dan milih buat pergi ke kamar mandi. Mau persiapan tidur!
Lelah hati gue.
"Tinggal sedikit lagi bab 3 kamu."
"Bapak lanjutin aja sendiri kalo mau!"
Dia beranjak dari tumpukan buku dan ikut gue ke ranjang. Emang gue tawanan belanda yang harus kerja rodi apa?!
"Stef."
"Saya ngga denger!"
"Saya doain beneran ngga denger gimana?"
Sialan!
"Apa? Besok jam pertama saya itu kelas pak Iqbaal Dhiafakhri yang galak kayak Huski!"
"Huski? Anjing temen kamu itu?!"
"Gara-gara bapak saya ngga temenan lagi sama Amell."
"Kenapa saya?"
Gue milih buat ngga jawab pertanyaan pak Iqbaal. Lebih baik gue tidur! Terserah lah soal Amel yang cemburu liat gue masuk mobil pak Iqbaal. Toh juga gue istrinya pak Iqbaal.
"Jawab saya dulu!"
"Ngga mau! Cari tau aja sendiri!"
Dengan selimut menutupi kepala, gue berniat untuk sembunyi dari pak Iqbaal. Tapi nyatanya? Dia ikut bergabung didalam selimut dengan dagunya yang dia letakkan diatas bahu gue. Posisi yang cukup intim. Jantung gue pengen rontok!
"Apapun yang mereka anggap benar, ngga selalu benar bukan? Yang terpenting itu kita sendiri. Saya dan kamu, rasanya wajar saat saya mengantar istri saya."
Tapi apakah tetap wajar saat suami mengantar istrinya untuk menemui pria lain? Ah,Ardian. Rasanya ngga pantas untuk tetap memertahankan perasaan ini.
"Steff, Ibu pernah meminta saya untuk belajar mencintai kamu selayaknya istri saya. Dan haruskah saya meminta Mama untuk mengatakan hal yang sama untukmu?"
Walau hanya gumaman, dan jari pak Iqbaal yang menyatu dengan jemari gue. Dunia gue melayang.
Hari rabu pagi, gue udah masak buat sarapan sebelum nyiapin baju pak Iqbaal setelah beliau mandi. Gue berharap sih dia belum selesai mandi saat gue udah nyiapin pakaiannya.
__ADS_1
Jujur aja nih,ya. Permintaan pak Iqbaal tadi malem cukup bikin gue salah tingkah sampai malu rasanya untuk sekedar natap matanya ataupun bicara.
"Sudah?"
"Ah? Ehh?"
Jari gue hampir terjepit daun lemari saat pak Iqbaal berdiri dibelakang gue. Harum shampo dia itu bikin hidung gue lega.
Katakan gue seperti anak belasan tahun yang baru merasakan debaran jantung saat bertemu pacar atau hanya sekedar pria yang dia suka. Gue bener-bener ngga berani liat muka pak Iqbaal. Setelah meletakkan kemeja juga celana bahannya, gue meraih handuk gue dan berniat segera bersembunyi di kamar mandi.
"Tunggu dulu. Ada apa?"
"Hng...ngga,Pak. Saya mau mandi. Nanti telat."
"Kamu kenapa nunduk terus?"
"Em..ngga."
"Kamu terus saja mengatakan 'ngga'. Ada apa? Saya salah bicara?"
Rasanya mau jerit aja saat tangan dia merengkuh lengan gue. Otot tubuh gue rasanya ngga nempel ditulang!
"Pak."
"Ya?"
"Saya mau tidur dirumah Mama nanti malam. Boleh?"
"Kenapa?"
"Ini masih pagi dan saya ngga mau berdebat sama kamu,stef."
Tangan gue melepas rengkuhan pak Iqbaal dan mundur beberapa langkah.
"Buat jatuh hati dengan suami saya sendiri, saya boleh minta waktu untuk berpikir kan?"
Karna ngga ada balasan dari pak Iqbaal, gue masuk ke kamar mandi. Seperti lirik lagu yang dulu sering Lukman nyanyikan buat gue, 'cinta butuh waktu untuk bisa kita rasakan' Dan gue harap pak Iqbaal ngga keras kepala dalam hal ini.
"Kamu akan benar-benar terlambat bila hanya diam disana,stef."
"Iyaa."
"Saya ngga akan maksa kamu buat cinta sama saya. Hanya, keinginan kamu dari dulu, menikah hanya sekali. Ayo kita wujudkan."
Gue senyum. Jantung gue rasanya sakit saat terus berdetak walau pak Iqbaal hanya mengatakan hal seperti itu.
"Lo ngga pernah berdetak sekencang ini walau saat gue dianter pulang Ardian dulu. Curang!"
Meja makan rasanya lebih dingin dibanding ruang perpus di kampus yang kalo pagi berasa kayak di kutub karna ulah anak-anak yang lupa matiin pendingin ruangan. Keburu diusir pak Dadang-satpam, katanya.
Setelah nyiapin sarapan pak Iqbaal tadi, gue langsung duduk dihadapan dosen gue ini. Gue niatnya mau berangkat duluan, tapi kata beliau lebih baik naik mobil sama dia aja.
"Saya duluan, Pak. Udah dijempu Lukman di
__ADS_1
depan."
"Bukannya saya bilang buat berangkat sama saya?"
"Emm.. Saya udah janji sama Lukman sebelumnya."
Gue masih sayang nyawa, karna kalo sampe gue ketangkep basah deket sama pak Iqbaal. Hidup terakhir gue di kampus ngga bakal mulus. Gue milih buat minta jemput Lukman. Itu anak udah kesenengan karna akhirnya bisa jemput gue.
"Boleh kan,pak?"
"Kamu nanti pulang jam berapa?"
"Jam 4, ambil baju ganti terus ke rumah Mama. Bapak mau nganterin?"
"Tunggu saya pulang. Nanti saya antar."
Gue ngangguk. Minum susu dan berjalan menuju pintu sebelum pak Iqbaal kembali menginterupsi langkah gue.
"Saya bukan patung yang kamu lewati begitu saja,stefhanie."
Hampir aja gue mendecih tapi ngga jadi. Semenjak serumah sama pak Iqbaal. Gue terhitung jarang menyumpah serapah.
"Ah ya. Kamu ingat, saat kita kencan pertama kali dan saya minta kamu untuk tidak memanggil saya 'pak' namun kamu langgar. Ingat?"
"Ya. Lalu?"
"Kamu melakukan banyak pelanggaran."
Gue merinding.
"There are punishmen."
"Stop being childish pak!"
"Sorry, childish? Like what?"
Dia beranjak dari bangku meja makan dan mendekat ke arah gue. Tangan gue udah meraih knop pintu namun di cegah oleh lelaki ini.
Sialan!
"Like what,Stefhanie?"
"Let me go."
"Kamu bilang saya seperti anak kecil. Harus ada penjelasannya,stef."
Gue lepas tangan pak Iqbaal dan berganti gue yang menarik kerah bajunya untuk mendekat kearah gue.
"Bapak baru saja putus dengan mbak Gita dan meminta saya untuk jatuh cinta dengan bapak?"
Tangan gue turun tepat di dada pak Iqbaal. Merapihkan bajunya.
"Bagaimana bisa hati berubah secepat itu?" Tanya gue.
__ADS_1
"Faktanya. Banyak hal tentang saya yang tidak kamu tau." Jawab pak Iqbaal.