Marry My Lecture

Marry My Lecture
bab 19


__ADS_3

Ini sudah sangat siang dan mata kuliah pak Iqbaal baru aja selesai. Gue nunggu sampai tersisa gue dan pak Iqbaal dan kembali membujuk dia untuk ijinin gue ke Bandung. "Pak"


"Kalo kamu cuma mau lanjutin yang tadi. Yang saya ingat, saya sudah memberi jawaban atas permintaan kamu."


"Saya turutin permintaan bapak deh kalo bapak ijinin saya pergi."


Gue yakin pak Iqbaal pasti tertarik. Dan mungkin dia cuma minta gue buat masakin atau nyuci baju dia. Kata dia mah laundry mahal, lebih baik nyuci sendiri.


"Cukup beritahu saya kamu mau kemana."


"Bandung,bapak."


"Kamu ngga cukup cuma sehari buat muterin bandung. Pasti ada satu tempat dalam waktu sehari."


Dia emang kelewat pinter. Kelas aksel dari SMP-SMA dan beasiswa super saat kuliah. Gue rasa anak gue nanti kejamin deh otaknya.


"Saya emang mau jalan-jalan ke Bandung pak. Kalo bapak ngga ijinin, saya ngga mau masak lagi!"


"Ngga masalah, saya ada janji malam ini."


"Tuhkan! Bapak aja bisa pergi seenaknya.


Kenapa saya ngga?"


"Saya sudah beri penawaran. Cukup kasih tahu. kamu mau kemana dan kamu mungkin bisa saya ijinkan."


Gue hampir mendecak namun tatapan pak Iqbaal semakin tajam.


"Wisuda"


Cicit gue sambil nunduk. Badan dia condong ke depan meja buat dengerin gue.


"Wisuda?"


".. Ardian. Sore ini, jam 3"


"Sudah? Kenapa bilang seperti itu aja rasanya sulit buat kamu?"


"Bapak ngga marah? Saya boleh pergi?"


"Ardian punya hubungan apa sama kamu?" "Bapak harus tau?"


"Setidaknya misal Ayah saya lihat kamu sama Ardian, saya bisa jelaskan semua."


Dan bodohnya gue baru inget kalo om Teo adalah dosen ITB. Gimana kalo tadi gue beneran kabur dan ngga ijin? Nikah baru semingga ya,lur.


"Masih mau nunggu? Ayo saya antar."


"Apa?"


"Kalo kamu naik bus atau kereta. Terlalu jauh."


Dan gue buntuti pak Iqbaal menuju mobil nya. Dia menunjuk jok belakang mobil nya. Kotak pemberian Ardian seminggu lalu.


"Saya nemuin itu di lemari kamar dan itu bukan punya saya."


"Terima kasih,pak. Dan... Maaf."


Walau mungkin terlalu cepat, tapi gue semakin ngga menyesal karna menikah sama dosen gue.


Pukul 2 siang. Gue baru bisa menghembus kan nafas lega karna sampai di gerbang ITB dan segera menuju gedung wisuda.


"Makasih ya,Pak. Bapak nunggu?"

__ADS_1


"Mana mungkin saya meninggalkan istri saya dengan seorang pria?"


Yaudah gue ngga mau berdebat. Gue ambil kotak di jok belakang dan segera mengganti baju gue di toilet terdekat.


"Steffi?" Panggil tante Yola.


"Ya? Eh, tante Yola."


Anak sholehah mah ada aja jalannya. Gue ngga perlu muter-muter nyari keluarga Ardian karna ketemu Mamanya di toilet.


Gue salim dan ngobrol sebentar sebelum kita berdua menuju area gedung wisuda.


Ada om Kevin-ayah Ardian- yang lagi foto-foto sama Ardian. Ardian beneran ganteng ditambah toga yang dia kenakan.


Gue kapan ya?


"Akhirnya datang juga." Kata Ardian.


"Sorry. Macet tadi. Selamat ya,Di."


"Makasih. Kesini sama siapa?" Tanya Ardian.


"Sendiri."


Gue ngga bohong! Denger dulu,lur. Gue ke gedungnya emang sendiri kan? Pak Iqbaal juga ngga ikut kesini.


"Kamu nanti anterin steffi pulang,Di. Atau steffi mau ikut nginep di rumah tante nya Dian?" Kata tante Yola.


"Ngga tan. Steffi pulang sendiri aja."


"Ajakin steffi foto gih. Mama Papa kan tadi


udah." Kata om Kevin.


"Iya. Mama pulang duluan ya?" Kata tante Yola.


"Kamu cantik, hari ini."


"Makasih. Gaun birunya cantik."


Harusnya gue seneng setengah mati. Tapi nyatanya? Gue cuma bisa tersemu malu karna pujian dia. Satu tangan Ardian merengkuh bahu gue dan gue tersenyum pada kamera.


"Nanti jalan sebentar. Bisa?"


"Ya. Mau traktiran wisuda ya?"


Dia tertawa renyah sebelum tangannya mengusap kepala gue dan tangan gue memegang gulungan ijazah Ardian."


"Sebentar."


Dia jalan kearah kursi didekat kamera dan melepas toga-nya. Mengenakan jas dan kemeja biru senada dengan gaun selutut gw.


"Banyak hal yang mau aku bicarain."


Dia genggam tangan kiri gue dan kita sama-sama tersenyum kearah kamera.


"Aku juga."


"Terima kasih,steff karna datang."


Gue sempat melihat beberapa teman Ardian yang melirik gue iri. Gue jauh lebih iri pada mereka yang terikat dengan pria yang mereka cinta.


Gue sama Ardian mampir ke salah satu tempat makan dan ambil bangku cukup private karna permintaan Ardian. Selepas memilih menu dan menunggu. Ardian terus

__ADS_1


aja natap gue.


"Apaan sih,di?"


"Ngga. Tunggu makanannya dulu,ya. Baru kita bicara."


Gue ngangguk dan memeriksa ponsel gue misal ada jawaban dari pak Iqbaal atas ijin gue jalan sama Ardian.


"Seneng banget ya abis wisuda."


"Iya,dong. Setelah ini rencananya mau kerja di Jakarta aja."


"Asik! Ngga jauh."


Dia ketawa dan pesanan kami datang.


"Boleh mulai ngomong?"


"Boleh."


Gue letakin pisau dan garpu gue. Bersedekap rapih buat dengerin Ardian. Dia mengeluarkan amplop coklat dari saku jas hitamnya. Menyerahkan kepada gue.


"Apa?"


"Foto 'Birthday Party Bella'."


Saat gue buka. Ada foto pelataran rumah gue yang di tata indah hari itu. Beberapa foto kemudian, ada sosok Lukman mendekat.


"Aku nitip kado buat Bella ke Lukman. Maaf


belum ngasih hadiah buat kamu."


Hati gue hancur. Air mata gue perlahan memenuhi mata dan rasanya pedih.


"Maaf, Di."


"Aku ngga marah karna kamu menikah,stef.


Aku marah karna kamu menutupi semuanya dan terus menumbuhkan harapan untukku."


Dia ngambil tangan kiri gue. Atensi gue juga beralih pada jari manis gue yang sekarang polos.


Cincin nikah gue kemana?


Gue melepas tangan Ardian. Mencari benda pengikat gue disekitar tempat duduk hingga ada satu tangan yang mencegah gue buat merunduk agar bisa mencari di bawah meja.


"Kamu ngapain?" Tanya pak Iqbaal.


"Cincin saya!"


Gue sedikit membentak saat pak Iqbaal kembali menahan gue. Ardian masih terpaku akan keberadaan dosen gue ini. Tangan kiri gue di ambil pak Iqbaal dan wajahnya memadam."


"Jangan gila,stef!"


"Tadi saya pakai,Pak. Saya juga baru tau kalo cincinnya lepas!"


Gue tambah nangis karna separuh jantung gue rasanya sakit.


"Kamu cari ini?" Tanya Ardian.


Pak Iqbaal segera mengambil cincin gue dari tangan Ardian dan membawa gue pergi dari sana. Genggaman tangannya pun bergetar seolah menahan amarah.


"Jangan temui dia lagi."

__ADS_1


Gue diem di kursi samping mobilnya. Masih


menangisi hubungan gue dan Ardian juga kecerobohan gue akan cincin pernikahan gue.


__ADS_2