Marry My Lecture

Marry My Lecture
bab 8


__ADS_3

Masih diteras balkon apartemen pak Iqbaal dan tentunya dengan gue yang masih malu karna tangan gue yang ngga bisa diem tadi. Dia yang gantian ngajuin cara kencan setelah menyatakan kalo cara kencan dari gue memang payah!


"Bagaimana? Setuju?"


"Apa?"


"Dari tadi kamu mikirin apa? Kening saya Mata atau hidung saya?"


Fak!!! Harus banget dia menjelaskan gimana gerakan tangan gue tadi? Ma, Steffi mau masuk ke rahim mama aja!


"Saya mikirin skripsi saya. Bukan kamu."


Dia beranjak dan mengambil satu set kartu permainan gitu. Yang ada King, Queen sama Jack itu loh. Tau dong pasti?


"Dapet dari mana? Saya ngga nyangka dosen saya mainan remi."


"Enak aja! Ini hasil sitaan."


Hampir lupa, dia kan emang galak ya?


"Permainannya seperti ini, saya akan kocok kartu ini dan membagi sama besar dengan kamu. Setiap kartu berwarna hitam. Kamu berhak nanya ke saya apapun! Kalo kartunya merah, saya yang tanya ke kamu. Begitu pula sebaliknya."


"Okey."


Matahari mulai naik tapi ditutupi awan. Lumayan ngga terlalu panas. Pak Iqbaal mulai ngocok kartu ditangannya dan membagi dengan gue. Kita suit, dia yang mulai. Kartu pertamanya waru merah.


"Saya yang akan tanya sama kamu."


Dia diem. Gue deg-degan.


"Apa yang bakal kamu lakuin, misal tiba-tiba Gita nelpon saya dan minta saya nemuin dia."


"Gita?"


"Pacar saya."


Beneran punya pacar ternyata, jadi kalian yang udah bikin gue mikir soal dia bohong, salah! Gita namanya.


"Ya.. Ngga masalah asal saya sama Airin diantar pulang."


"Walaupun ini hari kencan kita?"


Gue benci mengakui ini, tapi setiap dia bilang 'kencan', jantung gue memasok darah dengan sangat cepat menuju otak dan bikin gue salah tingkah. Ya gimana ya? Lo kencan sama dosen galak lo sendiri.


Ngeri ngga sih?


"Sampai saat ini, saya masih belum berhak larang kamu karna memang belum ada hak. Ya itu terserah kamu." Kata gue


dapet keriting hitam.


Gue segera narik kartu didepan gue dan sialnya gue dapet keriting hitam.


"Sedekat apa kamu sama Lukman?"


"Teman SMA, hangout bareng, nonton, dinner, liburan sedekat itu lah. Kenapa? Cemburu?"


"Ngaco!"

__ADS_1


"Ah lupa. Dia juga mantan saya."


Beberapa saat yang lalu, sempet hening antara gue dan pak Iqbaal. Lebih tepatnya setelah dosen ini melontarkan pertanyaan yang jujur aja gue ngga tau harus jawab aja.


"Yang saya tau, kamu hanya ingin menikah sekali dalam hidupmu. Misalnya, saya berbuat salah dan itu sangat fatal bagi kita, kamu akan memaafkan saya dan bertahan dengan saya?"


Gue cuma bisa diem sedang mata dia berusaha menelisik.


"Saya.."


Airin menangis dan bergerak ngga nyaman dengan mata yang masih terpejam. Gue segera mendekati balita 1,5 tahun itu dan membawa Airin dalam dekapan gue.


"Iya,Ai." Ucap gue.


Dia masih terisak dengan wajah yang berada dibahu gue. Pak Iqbaal berusaha menenangkan Airin yang sepertinya mendapat mimpi buruk.


"Ai.. Ai cantik."


"Biar saya yang gendong."


Saat Airin dan Pak Iqbaal keluar dari kamar dan mungkin ingin sedikit berkeliling. Gue menuju dapur untuk melihat apa yang bisa gue masak.


Hanya ada telur juga sayuran layu yang kayaknya udah ngga layak buat dipakai.


Dia ngga pernah tinggal diapartemen atau gimana? Kayak ngga keurus gitu.


"Kamu ngga pernah liatin dapur? Ngga ada yang bisa dimasak."


"Kalo ngga ada berarti harus belanja ya,Ai." Airin masih terkekeh saat pamannya itu menggelitiki perutnya dan mendaratkan kecupan-kecupan dipelipis Airin.


"Belanja? Keluar?"


Gue ngangguk aja, mengambil tas gue dan bergantian menggendong Airin menuju basement. Beberapa orang berbisik satu sama lain dan sedikit membuat gue ngga nyaman.


"Airin udah dibawain makanannya kan?"


"Ada didalam tas Airin. Baju sama popoknya juga ada."


Mobil pak Iqbaal keluar dari area gedung apartemen dan bergabung dengan kendaraan lain yang terjebak macet karna istirahat makan siang.


"Ai. Mobilnya warna apa? Itu...merah"


Mobil pak Iqbaal masuk ke parkiran supermarket dan gue bersiap dengan Airin. "Ai..shopping sama tante?"


"Pake uang siapa?"


"Uang ale." Jawab gue.


Gue ketawa bentar sebelum masuk dengan Airin yang diambil pak Iqbaal.


"Tetep disamping saya. Kalo kamu ilang, percuma saya ngeluarin banyak uang buat beli kebaya."


"Ngga ikhlas?"


"Ikhlas kalo buat calon istri sendiri."


Acara belanja gue dan pak Iqbaal-bersama Airin tentunya-ngga seburuk dari bayangan gue ternyata. Yang dibeli tentunya yang dibutuhin untuk makan siang juga untuk persediaan di apartemen dia. Agak kasihan sih saat tau apartemen dosen gue ini kayak ngga keurus.

__ADS_1


"Em..pak"


"Kamu inget ini ke berapa,stef? Lima atau enam? Atau mau dibulatkan jadi sepuluh?"


"Saya lupa pak. Mulai dari satu aja lagi."


Gue senyum lebar dengan memasukkan roti yang gue beli kedalam mulut Airin.


Masih berjalan didalam super market dengan pak Iqbaal yang mengikuti langkah gue dibelakang bersama troli belanjaan kami.


"Airin mau jalan kemana?"


Gue sedikit menunjuk beberapa sudut, balita keponakannya pak Iqbaal ini mengikuti tangan gue dan memilih arah kita berjalan.


"Steffi." Panggil Amel.


Okay, gue sedikit khawatir saat Amel jalan kearah gue, gue takut dia nanya kenapa gue gendong anak kecil dengan pak Iqbaal dibelakang gue.


"Lo ngapain?" Tanya Amel.


Tuhkan!!! Mati aja gue.


"Jalan aja,Mel. Lo sama siapa kesini?"


"Helmi. Dia lagi ngobrol sama pak Iqbaal buat diskusi skripsi."


"Dimana?"


"Ngga jauh kok dari sini. Lo kenapa nanyain pak Iqbaal?"


Dan memang saat gue noleh ke belakang ada pak Iqbaal dan Helmi yang berjarak ngga terlalu jauh dari gue dan Airin, tapi cukup lah buat ngga nyiptain asumsi bahwa gue datang dengan dosen galak ini.


"Ini anak siapa? Setau gue, lo masih perawan,stef."


"Sialan lo,Mel! Anak sodara gue."


"Aleeeeee!!"


Airin berteriak dan melambai kearah pak Iqbaal. Gue udah keringetan dingin sedang Airin mulai nangis karna gue ngga kunjung memberikan dia kepada pamannya.


"Ale?" Tanya Amel.


Dengan Airin yang nangis terus meronta kearah pak Iqbaal. Gue gelagapan karna ngga mau ketangkap basah Amel.


"Mbak Gita!" Panggil gue.


Gue langsung berjalan menuju mbak Gita, bener pacarnya Iqbaal yang kebetulan atau ngga dia lagi jalan kearah pak Iqbaal. Hari ini gue selamat!


"Dari tadi loh,mbak, saya nunggu mbak." Kata gue.


Airin masih menangis dan sekarang diambil alih pak Iqbaal.


"Makasih ya,dek."


"Sama-sama,mbak."


"Mbak Gita ini?" Tanya Amel.

__ADS_1


"Saya pacar dia." Jawab mbak Gita.


Pak Iqbaal yang masih nenangin Airin hanya tersenyum tajam kearah gue.


__ADS_2