Marry My Lecture

Marry My Lecture
bab 16


__ADS_3

Seminggu ternyata ngga lama walaupun ngga bisa dianggap mudah buat laluin itu.


Setelah make up di wajah gue sudah selesai. Mama membimbing gue untuk menemui pak Iqbaal yang duduk dihadapan Papa dengan om Teo disampingnya


"Ternyata kamu sudah besar ya,stef." Ucap mama.


Gue senyum getir. Rumah gue udah disulap dengan beberapa dekor bunga yang ngga terlalu mewah.


Acara yang semula direncanain di gedung, sekarang diganti di rumah gue karna kata pak Iqbaal, resepsinya aja yang digedung.


"Cantik." Ucap tante Sofi.


Rasanya, dosa gue bertumpuk karna hal ini. Pernikahan sakral yang gue impikan dahulu, sekarang berhias senyum palsu dari gue ataupun pak Iqbaal.


"Duduk, stef." Ucap papa.


"Iya, Pa lama ya?"


"Sebanding sama cantiknya steffi kan,baal?"


"Ya" Jawab pak Iqbaal.


Setelah 3 hari gue benar-benar ngga berhubungan dengan dosen galak gue ini, suara dia ternyata mampu bikin gue runtuh terlebih setelah dia mengucapkan kalimat sakral yang mengubah status gue dan dia.


Hidup baru, entah senang ataupun sulit, gue akan berusaha.


Beberapa kerabat yang datang berangsur memberi doa untuk rumah tangga kita.


"Semoga kamu langgeng ya,steffi. Cepet dapet momongan. Cepet lulus kuliahnya." Ucap tante Helen.


"Makasih, tante. Amin."


"Ditinggal nikah ternyata gini ya rasanya?" Kata Lukman.


"Tabah ya, mantanku. Tangan kosong nih?"


"Lo minta gue amplopin?"


"Bukan! Mana ada duit lo! Pacar mana?"


"Pacar gue nikah sama yang lain."


Acara bercanda gue dan Lukman jadi terganggu karna pak Iqbaal-suami- berdehem dan cukup bikin gue peka.


"Sukses nanti malam ya,stef."


"Sampah!"


Dia ketawa dan bersalaman dengan Pak Iqbaal dengan cukup kaku.


"Kayak gitu mantan kamu?" Tanya pak Iqbaal.


"Salah?"


"Ngga standar banget!"


Lucu ngga sih kalo gue sama pak Iqbaal berantem di pelaminan setelah beberapa jam lalu baru resmi?


"Akhirnya lihat secara live!" Kata Andrew


"Apa? Mau ikutan juga?"


"Santai, bang. Bikin abang gue takluk dong, stef!"


"Ngga janji." Jawab gue.


"Yaudah lah. Selamat ya bang. Jangan

__ADS_1


nyusahin temen gue"


"Mau uang jajan kamu ngga abang tambah?"


"Ampun, bang. Mau makan apa gue kalo ngga dapet uang saku."


Gue meringis, kayaknya hidup gue makin berat!!!


Ucapan pak Iqbaal didepan Papa tadi pagi masih mengiang dipikiran gue bahkan saat gue berada didalam kamar mandi setelah semua acara selesai. Disana, diluar, ada pak Iqbaal yang duduk di sofa setelah melepas jasnya. Senyum palsu yang dia pasang selama seharian sudah hilang.


"Gila ya. Mimpi apa gue nikah sama dosen gue sendiri"


"Wah ngga bisa nih! Kalo tiap malem dia sekamar sama gue. Terus tanya tugas buat besok udah? atau 'tugas kamu mana di matkul saya?' ngga bisa minta bantuan Amel kalo gini."


Gue belum menyentuh air di bathup sejak gue menanggalkan gaun gue. Mikirin gimana nasib gue setelah ini kayaknya lebih penting.


"Gimana ya cara ngusir pak Iqbaal?"


"Atau gue ngga usah mandi?"


"Tapi gue yang kehilangan harga diri dong! Masa perawan ngga mandi?"


Ketukan di pintu kamar mandi bikin gue tambah gugup. Gue ngambil bathrobe yang gue bawa dan membuka pintu sedikit.


"Kenapa?"


"Kamu mau mandi atau cuma berdiri didepan wastafel? Lama!"


"Ya terserah saya dong pak! Kamar mandi saya ini."


"Menstruasi?"


"Kalo ngomong yang sopan ya pak!"


Dia kelihatan males gitu. Ya siapa yang ngga sensi kalo ada yang nyinggung masalah pribadi cewek?!


Udah ganti nih panggilannya? Deg-degan gitu gue denger dia manggil Mama papa gue gitu.


"Cepetan mandi. Saya juga perlu."


"Pake kamar mandi bawah aja."


"Kamu bantah saya?"


"Ah saya lupa. Istri kan ngga boleh bantah suami ya pak?"


Pintu kamar mandi kembali gue tutup dan gue cuma berdiri didepan wastafel seperti sebelumnya.


Sekalian lah bikin suami marah.


"Kamu bisa kedinginan didalam dengan pakaian seperti itu!"


Gue mendecih sebelum masuk ke dalam bathup.


Sial.


"Pak"


"Apa lagi?"


"Bisa tolong ambilin pembalut saya di laci bawah nakas?"


"Tuhkan!"


Setidaknya gue ngga perlu deg-degan malam ini.


Gue buktiin ucapan pak Iqbaal dengan ngendap-ngendap ke deket pintu. Ada yang bisik-bisik sambil cekikikan disana. Itu ngga mungkin Papa ataupun Bella yang udah pasti sibuk sama tugas mereka masing -masing.

__ADS_1


"Udah? Bisa percaya sama saya?"


Jantung gue yang dari tadi udah deg-degan takut mama tau kalo gue juga nguping, berasa mau copot saat pak Iqbaal keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya.


Gue ngangguk. Terus berdiri..


"Mana baju saya?"


"Di koper bapak lah! Kenapa tanya saya?"


"Besok. Tanya Mama, apa aja tugas istri yang emang harusnya dilakuin. Bukan cuma chattingan di matkul saya."


Dia mah gitu. Suka inget masa lalu. Dulu kan gue chatting juga karna Lukman sakit dan sendirian di kost.


"Baru mandi sensi amat,pak? Bapak menstruasi juga?"


Dia mendelik.


"Saya rasa kalopun saya menstruasi juga ngga akan se-mengerikan kamu."


"Tapi ya pak, bapak itu kayak menstruasi tiap hari, tau."


"Kamu berani sama saya?"


"Bapak mau ngurangi nilai saya? Seorang suami ngga mungkin biarin istrinya ngga lulus."


"Saya lebih rela ngga lulusin kamu di banding harus bikin nilai buatan."


"Ih kok bapak ngeselin sih!"


Bodo amat ya pak, gue ngambek ngga mau tau! Dia itu..ngeselin banget!!


Gue naik keatas ranjang dan memunggungi beliau yang juga menaiki ranjang gue, ya mau nolak gimana? Suami plus dosen sendiri.


"Stef"


Gue diem. Gengsi lah tadi marah tapi kalo ujungnya baik lagi.


"Beneran marah?"


"Ya bener lah pak!"


"Yaudah. Marah aja. Sambil dengerin saya tapi."


"Terserah!"


"Kita ngga mungkin tinggal dirumah kamu


ataupun rumah saya. Dan kalo apartemen, rasanya kurang nyaman terlebih aksesnya jauh dari kampus."


"Terus? Bapak mau bangun rumah disamping kampus?"


"Kamu gila?"


"Ya kan tadi biar deket."


"Kamu mau semua orang lihat kita keluar dari rumah yang sama?"


"Kan saya cuma usul pak."


"Iya. Sebenernya saya udah dapet rumah yang mau saya beli. Besok kita kesana."


"Capek, Pak"


"Kamu mau tiap hari diganggu Mama?" "Sebenernya mau tinggal dimanapun asal sama suami sih ngga masalah pak."


Hening.

__ADS_1


Gue ketawa.


__ADS_2