Marry My Lecture

Marry My Lecture
bab 23


__ADS_3

Kelas pertama gue di ampu oleh pak Iqbaal. Tapi sampai 15 menit dari jam yang harusnya di mulai.


Dosen gue ini ngga ada kabar. Gue berusaha buat ngga terlalu bereaksi atas ketidakpastian kabar pak Iqbaal.


Yudhit, ketua, bilang kalo pak Iqbaal ngga nitipin tugas apapun. Beliau juga ngga bilang kalo perkuliahan ditiadakan. Dan yang gue rasa, saat gue melewati area parkiran bersama Lukman. Ada mobil suami gue kok.


Lain dengan Dipo yang bilang kalo pak Iqbaal cabut ke kafetaria. Satu kelas ketawa karna karangan bebasnya. Orang tadi udah sarapan dirumah! Kan yang masak gue.


"Atau mungkin pak Iqbaal lagi iya-iya sama


istrinya di rumah makanya ngga masuk kelas?" Ucap Putri.


"Ngaco lo!" Kata gue.


"Ugh mainannya marah." Kata Jenny


"Lo beneran main sama pak Iqbaal?" Tanya Hendro.


"Lo kasih apaan?" Tanya Dipo.


"Gue juga mau dong resepnya. Siapa tau gue bisa juga." Ucap Amel.


"Lo pake susuk ya?" Tanya Belva


"Wah gila lo,stef!" Kata Yudhit.


"Apa anjir? Gue ngga ada apa-apaan sama itu dosen galak! Mending gue makan boncabe deh!"


Dan bersamaan dengan teriakan gue. Pintu kelas dibuka untuk mengakses pak Iqbaal ke dalam. Dia denger gue ngga ya?


"Stefhanie? Kenapa berteriak di kelas saya?


Bahkan teriakan kamu terdengar hingga gerbang kampus."


Bohong!!!! Garing!


"Katanya steffi akan makan boncabe kalo misal dia terbukti punya hubungan dengan pak Iqbaal." Ucap Jimmy.


Maha sialan Jimmy dengan bibir embernya! Udah sering bolos! Sekali berangkat bikin masalah! Gue cuma natap pak Iqbaal dengan memohon bantuan. Dan saat matanya bertemu dengan gue, kepala que nunduk.


"Tapi bukannya pak Iqbaal sudah beristri ya pak?" Tanya Lilyana.


"Ya." Jawab pak Iqbaal.


"Kan gue bener!! Itu tangannya ada cincin nya." Kata Dipo.


"Dan bukankah kita memang berhubungan, stefhanie? Mahasiswa dengan dosennya.


Sial!


Jantung gue hampir putus karna dia. Dan dengan mudahnya dia ngomong gitu? Hatters gue makin banyak, Tuhan!


"Sudah. Yudhit, bantu saya membagi lembar soal untuk teman-teman kamu."


"Kuis lagi pak?" Tanya Jimmy.


"Kalo 'iya' ? Ingin mengajukan protes, Jim?,


Bahkan minggu lalu kamu tidak hadir di matkul saya. Sudah berapa alfa?"


"Ampun pak." Ucap Jimmy.

__ADS_1


"Uts kalian akan diadakan minggu depan,kan?"


Hell!!


Hidup gue dirumah ngga akan mudah!


Jam istirahat, gue udah buat janji dengan Prof. Rahardi buat bimbingan skripsi walau sebenarnya lebih banyak di bimbing pak Iqbaal dibanding beliau yang terkadang tugas ke luar. Namun sebagai syarat dan menghormati dosen, gue minta pertimbangan dosen senior seperti beliau untuk melanjutkan bab ke-4.


Dikit lagi lulus,lur!


"Sudah lama menunggu,stef?" Tanya Prof Rahardi.


"Saya baru datang prof."


"Konsul bab berapa?"


"Bab 3. Minta pertimbangan Prof untuk lanjut bab selanjutnya."


Prof Rahardi terkenal teliti seperti suami gue walau ngga se-galak pak Iqbaal tentunya. Pembawaannya yang santai, bikin gue bersyukur punya dosen pembimbing seperti beliau.


"Saya boleh tanya?"


"Ada yang salah,prof?"


"Ngga. Em.. Kamu di bantu pak Iqbaal Dhiafakhri?"


Antara harus jawab, geleng ataupun ngangguk. Gue milih buat diem.


"Jadi benar?"


"Maaf?"


"Kamu dan pak Iqbaal...sudah menikah?"


"Ah,maaf. Keseluruhan memang sudah bagus, namun saya masih merasa ada sentuhan pak Iqbaal di skripsi kamu. Tidak masalah memang asalkan kamu bisa mempertanggungjawabkan skripsi kamu nanti. Segera selesaikan, saya mau kamu ikut wisuda 2 bulan lagi."


Setelah konsul dengan prof. Rahardi Hutapea, gue menuju kantin buat nyari camilan. Gue harus bisa ikut wisuda 2 bulan lagi.


"Stefhanie." Panggil pak Iqbaal.


Dari sekian banyak jalan yang ada di kampus ini, kenapa harus ketemu pak Iqbaal, Tuhan?. Bukannya ngga mau ketemu suami, tapi tatapan orang-orang di koridor bikin gue risih.


"Bisa ke ruangan saya?"


"Ada apa ya,Pak?"


"Masuk? Dan ada yang harus saya bicarakan."


"Maaf, Pak. Bapak sudah beristri begitu pula saya sudah memiliki pasangan. Ngga baik bila hanya berdua dalam ruangan."


Alisnya terangkat di sebelah kiri. Lalu mengangguk dengan senyum tipis.


"Perpustakaan?" Tanya pak Iqbaal.


Seperti sebelumnya, pak Iqbaal akan selalu menang dengan status 'dosen' sekaligus 'suami', dan gue melewatkan makan siang gue.


Pak Iqbaal menyerahkan amplop biru muda. Gue ambil dan mendapati kupon makan malam.


"Malam ini. Bisa?"


Gue senyum.

__ADS_1


Dibanding mbak Gita, gue emang cuma seperti sebutir keringet yang berusaha nempel di keteknya. Tapi ya namanya harga diri cewek,lur. Gue dandan buat makan malam pertama gue sama pak Iqbaal. Ini pertama kalinya gue diajak candle light dinner gitu sama suami sendiri.


"Kamu kapan selesai? Keburu tutup tempatnya."


"Manis dikit kenapa sih,pak?"


"Manis"


"Saya tau saya manis."


"Terserah kamu. Udah bisa berangkat?"


Sekali lagi gue menatap cermin yang mungkin itu cermin juga udah bosen ngamati gue. Cukup lah buat hadir di pembukaan resto temennya pak Iqbaal. "Hanya untuk ke resto baru, kamu dandan


seperti ini? Percuma ya uang saya buat bedak kamu."


"Pelit banget,pak. Nanti ngga ganteng loh!"


"Kalo saya ngga ganteng, kenapa kamu mau nikah sama saya?"


"Dipaksa mama ya!"


"Oh,Mama. Dan kalo saya ngga ganteng,


kenapa dulu kamu bilang ke Andrew, 'nanti kalo stef udah gede, stef mau cantik biar kak baale suka'."


Pak Iqbaal ketawa di balik kemudi sedang gue berusaha mencerna ucapan beliau. 'Kak Baale'?


Terdengar ngga asing sih.


"Ngga pernah,woy!!!"


Gila! Malu gue malu. Butuh batok kelapa buat sembunyi. Cariin kura-kura ninja buat bawa gue lari!


"Hahaha.. Telinga saya masih berfungsi dengan baik dan ingatan saya pun kuat. Hari itu, di halaman rumah kamu. Sebelum hujan dan hari ini, tepat 14 tahun yang lalu."


"Bohong! Saya ngga pernah bilang gitu!"


"Apa susahnya ngaku kalo dari dulu memang kamu suka sama saya?"


"Saya?"


"Iya. Kamu, si bayi bawel yang kencing di pangkuan saya."


Tuh kan! Tuh kan!


Mama gue dan Ibunya pak Iqbaal emang udah kenal lama. Dan gue ngga tau kalo mereka kenal jauh lebih lama dibanding perkiraan gue.


"Ayo turun."


"Pak.."


"Apa? Mau saya gendong sampai dalam?"


"Ngga lah!"


"Lalu?"


"Saya pulang aja ya? Pasti di dalam ada mbak Gita. Saya ngga mau rusakin suasana."


Di natap gue. Mencondongkan badannya hingga hidungnya tepat menyentuh hidung gue. Ya gila apa?!

__ADS_1


Gue nahan nafas lah!


"Saya pernah bilang kalau nyatanya, kamu lebih cantik di banding bayangan saya?" Mata dia terpejam. Dia yang pertama.


__ADS_2