Marry My Lecture

Marry My Lecture
bab 21


__ADS_3

Berita soal gue dan pak Iqbaal yang masuk kedalam mobil beliau ternyata menyebar cukup cepat. Dan gosip yang lebih panas lagi adalah gue dituding jadi selingkuhan pak Iqbaal karna yang mereka tau, pak Iqbaal baru aja nikah.


Hell? Gue itu istrinya!


"Jadi, Stefhanie Zamora, sahabat gue ini punya hubungan sama pak Iqbaal?" Tanya Amel.


Gue diem. Capek gue jawab orang-orang dengan pertanyaan yang sama. Gue dan pak Iqbaal pun sudah sepakat buat ngga bawa hubungan pribadi kami ke kampus karna takut tudingan bahwa pak Iqbaal ngga profesional atau apapun terhadap gue.


"Misi, Mel. Gue mau ketemu prof. Rahardi buat konsul skripsi gue."


"Tunggu,stef. Lo tinggal jawab 'iya' atau 'ngga' soal hubungan lo sama pak Iqbaal."


"Kemarin pak Iqbaal cuma bantuin gue doang. Dan lo tentu tau kalo pak Iqbaal itu anak sahabat mama."


"Bantuin apa? Bukannya lo kemarin ke Bandung ya? Sama pak Iqbaal?"


Untuk pertama kalinya, gue merasa sangat amat risih sama pertanyaan Amel.


"Terserah, deh, Mel. Gue udah jawab hubungan gue dengan pak Iqbaal. Dosen dengan mahasiswa dan dia juga anak sahabat mama gue."


Dalam hati, gue menambahkan status pernikahan gue dengan pak Iqbaal.


Perdebatan gue dan Amel cukup mengundang perhatian orang-orang di Kantin. Gue segera pergi.


Disepanjang koridor, banyak yang membicarakan gue secara terang-terangan. Bahkan tatapan sinis mereka bisa saja menusuk gue walau gue udah berusaha berjalan dengan cepat.


"Gila, ya, orang sekarang kadar pengen tau


urusan orang jadi tinggi banget." Ucap gue saat jalan.


Saat melewati ruangan pak Iqbaal, gue mendapati suami gue ini mendapat tamu spesial siang ini. Gue tau pak Iqbaal sadar bahwa ada gue dijendela namun beliau memilih terus berbicara dengan mbak Gita.


"Awas aja kalo minta di pijit lagi! Gue pijit pake cangkul itu punggung!"


Ting.


(Prof. Rahardi: kita atur ulang jadwal konsul skripsi Anda. Saya ada tugas keluar)


Hell.


Gue mendecih dan segera berbalik badan namun pintu ruangan pak Iqbaal terbuka. Mbak Gita keluar dengan mata menahan tangis.


"Stef?"


"Tadi-saya mau ketemu dosen saya,Pak.


Permisi."


"Masuk!"


Mbak Gita pergi begitu pak Iqbaal meraih tangan gue.

__ADS_1


Istirahat makan siang gue harus habis didalam ruangan pak Iqbaal yang sepinya lebih dari kuburan. Gimana ngga sepi kama sejak gue disuruh masuk 10 menit yang lalu, beliau ngga mengucapkan kata apapun. Cuma duduk di samping gue dengan tangan yang terus menggenggam jemari gue.


Kata dia tadi,cukup diam sampai beliau sendiri angkat bicara. Gue nurut aja karna bagaimanapun, istri harus nurut sama suami. Beberapa kali, pak Iqbaal menghela nafas berat dengan mata yang terus terpejam.


Ting.


(Lukmantan❤️: dimana?)


(Lukmantan❤: mau makan siang bareng?) Gue ngga bisa ngambil ponsel gue di atas meja tamu ruangan pak iqbaal karna tangan gue digenggam cukup erat.


(Lukmantan❤: ketemu kuy)


(Lukmantan❤️: kangen gue ngga?)


Entah keyakinan dari mana, tapi gue yakin kalo Lukman akan membahas masalah gue dan Ardian.


Ah,Ardian.


"Saya pernah minta kamu untuk mematikan ponsel saat bersama saya?"


Gue geleng.


"Setelah ini, lakukan itu. Setidaknya hidupkan silent mode."


"Ya."


Gue lepas genggaman pak Iqbaal dan mengambil ponsel gue untuk membalas pesan Lukman. Gue kangen dia. Terlebih setelah seminggu ngga main bareng karna gue harus pulang cepet buat ngurus rumah. Gue lirik pak Iqbaal yang kayaknya ngga baik-baik aja.


(Lukmantan❤️: ah gue lupa lo udah bersuami)


Rasanya mau nangis. Se-jarang apapun gue jalan sama Lukman. Gue ngga pernah nolak dia dengan alasan status.


"Sudah?" Tanya pak Iqbaal.


Liat pak Iqbaal yang patah hati itu perasaan tersial buat gue. Wajah beliau berubah lebih mengerikan dibanding saat mengawasi ujian.


"Ayo liburan."


"Maksud saya. Kamu tengah melewati masa sulit. Dan saya baru saja mendapatkan hal itu."


"Setelah skripsi saya selesai,Pak."


Beliau mengangguk dan membawa tangan gue kembali dalam genggaman tangan kirinya. Ada cincin pernikahan yang menjadi pengikat gue dan dia.


"Diputusin atau mutusin,Pak?"


Beliau tersenyum getir sebelum meraih undangan dari laci dibawah meja.


"Dia bahkan sudah menyiapkan pernikahannya. Dulu, saat saya 25 tahun, terlalu banyak alasan dia untuk menolak pinangan saya."


Jari gue mengusap punggung tangan pak Iqbaal.

__ADS_1


Pasti sakit.


Masih ada waktu 1 jam buat datang ke kelas gue selanjutnya dan pak Iqbaal yang udah baca jadwal kuliah gue sepertinya ngga menyia-nyiakan kesempatan. Gue pun juga rasanya ngga tega ninggalin pak Iqbaal yang lagi down cuma buat makan siang sama Amel ataupun Lukman.


"Ikhlasin aja,Pak. Mbak Gita sudah waktunya berumah tangga. Sudah matang dan semoga mas Gibran bisa bimbing mbak Gita."


"Kamu selalu memanggil pria lain dengan 'mas' tapi menggunakan kata 'pak' buat saya?"


Gue tuh ngga ngerti ya?! Ini kenapa pak Iqbaal jadi kayak bayi yang harus banget diurus setiap jengkal tubuhnya.


"Terus mau nya gimana? Saya cuma menghormati bapak sebagai dosen saya."


Genggaman dia lepas dan menarik gue untuk lebih dekat dengan tubuhnya. Alarm bahaya nih!


"Pak."


"Ya?"


"Pintunya belum dikunci."


Cicit gue yang dihadiahi tawa kencang dari Iqbaal. Gue yakin akan banyak telinga yang mendengar tawa beliau.


"Kenapa memang? Kamu pikir saya akan melakukan hal 'itu' di ruangan saya yang bahkan terdapat cctv nya?"


Gue membelalak. Menarik diri agar duduk berjauhan dengan pak Iqbaal.


"Saya tergolong orang yang tidak suka berbagi,stef."


Suara beliau mendadak terasa berat. Matanya terpejam kembali dan bersandar pada sofa. Ada air mata yang perlahan menuruni pipi. Gue ikut sakit hati liat pak Iqbaal yang kuat jadi sangat rapuh kayak gini.


Sedalam itukah dia mencintai mbak Gita?


"Kadang memang sebaiknya di lepas dibanding harus terus saling menyakiti,Pak."


"Mbak Gita harus memilih saat bapak juga ngga kunjung memutuskan."


"Gadis yang selama ini saya jaga. Dengan sepenuh hati saya."


Dia terdiam sejenak. Pak Iqbaal ngga nangis. Hanya beberapa air mata yang menjadi saksi kisah pak Iqbaal selesai.


"Jawab saya,stefhanie. Kenapa saya harus


bertemu dengan Gita bila memang akhirnya harus saya lepaskan?"


"Karna dengan itu, bapak jadi tau rasa 'melepaskan' memang ngga mudah pak. Sangat menyakitkan."


"Kamu pernah seperti saya?"


"Belum. Saya cenderung memutuskan mundur dibanding harus kehilangan."


"Hahh.. Memalukan seperti remaja belasan tahun."

__ADS_1


"Berarti bapak telat! Hahaahaaa"


__ADS_2