Marry My Lecture

Marry My Lecture
bab 17


__ADS_3

Seiring status gue yang berubah jadi istri orang. Gue cukup tau diri buat bangun pagi walaupun badan gue rasanya remuk. Menggeliat dan menemukan muka pak Iqbaal yang masih tidur. Ngga ada garangnya kalo lagi tidur mah.


"Ish apaan sih stef!"


Gue duduk dan ngambil ponsel dimeja nakas samping ranjang dan membaca pesan dari Ardian.


(Ardian: hari jum'at ada kuliah?)


(Ardian: ngga bisa bareng dong?)


(Ardian: semoga kamu bisa nemenin aku wisuda,stef)


Hati gue sakit.


Gue lirik pak Iqbaal yang masih memejamkan mata dengan dengkuran halus. Gue dosa ngga sih kalo pengen pak Iqbaal tidur aja biar enak dilihat kayak gini?


(Steffi: pasti,Di. Tunggu aja)


(Steffi: jam berapa?)


(Steffi: aku sampe sana agak sorean? Ngga


masalah?)


Dari ranjang. Gue mulai narik gorden yang jujur aja gue benci benda itu saat weekend seperti ini.


"Tutup aja. Masih pagi."


"Kalo udah sore ya ngga mungkin baru saya


buka pak."


Dia menarik selimut putih sampai kepala. Gue baru tau kalo dosen gue ini seorang pemalas!


"Pak, bangun!"


"Ngga mau!"


"Nanti rejekinya di patuk ayan kalo bapak ngga bangun!"


"Saya bunuh ayamnya nanti."


Gue mendengus geli dengan jawaban random dari pak Iqbaal. Dia pasti malu banget kalo ini gue rekam.


Ah ya!


Gue ngambil ponsel gue dan kembali berusaha membangunkan pangeran tidur itu.


"Saya ngantuk."


"Ayo bangun pak."


"Ini hari libur, misal kamu lupa."


"Katanya mau pergi."


"Besok."


"Besok saya mau jalan sama Lukman."


Dia menurunkan selimutnya dan matanya natap gue ogah. Tapi saat dia sadar ditangan gue ada ponsel.


Badan gue dibanting ke ranjang dan dia ngambil ponsel gue.


"Sakit."


"Apa password nya?"


"Privasi saya dong."


Gue berusaha bangkit dan ngambil ponsel gue tapi tangan pak Iqbaal nahan lengan gue.


"Saya masih suci pak."


"Siapa juga yang mau lumurin badan kamu


pake lumpur?"


Sial!


"Kalo gitu biarin saya bangun dong pak!"


"Kalo kamu lupa, saya kepala rumah tangga."


"Bapak selalu benar."

__ADS_1


"Berhenti manggil saya 'pak' stefhanie."


Kemudian pak Iqbaal narik gue sampe jatuh di dadanya.


Gila!


"Saya suami kamu. Ingat?"


Mata gue yang melotot bertatap dengan mata bulat pak Iqbaal yang berkilat. Gue ngga tau kenapa ini terkesan mengerikan tapi memang gue merinding sekarang.


"Tutup mata kalo emang takut."


Dan bodohnya gue ikutin ucapan pak Iqbaal. Perlahan satu tangan meraih tengkuk gue dengan sangat pelan.


"Takut?"


"Y..ya?"


Mata gue kembali terbuka dan menemukan pak Iqbaal yang tersenyum manis. Ngga bohong! Manis!


"Stef"


"Ya?"


"Boleh saya..."


Gue yang kelewat bego cuma bisa nungguin pak Iqbaal yang perlahan mendekat.


Тар.


Halus dan gue tau kalo ini bukan kulit ataupun anggota tubuh.


"Bangun,stef!"


"Hah?"


"Bangun!!! Di panggil Mama dari tadi."


Yang gue pegang saat ini adalah guling yang semalam gue taruh di tengah ranjang sebagai pembatas.


Hell? Gue cuma mimpi?


Dan pak Iqbaal kelihatannya udah mandi. Sumpah cuma mimpi? Kenapa pak Iqbaal? Kenapa bukan Ardian?


"Apa pak? Saya capek."


"Tidur kayak orang mati."


Cibiran dari pak Iqbaal cukup bikin telinga gue pengang dan secepat mungkin gue raih handuk gue yang sialnya bikin gue jatuh.


Berdarah dilutut dan jidat gue juga benjol dikit. Pak Iqbaal bantuin gue buat duduk di kursi dan berlutut untuk liat luka gue. "Ceroboh."


"Kalo emang ngga mau bantu saya. Ya udah."


Dia ambil kotak P3K dari lemari kaca diluar kamar. Pasti ditanyain Mama nih.


"Bilang sakit kalo saya terlalu kencang."


Dia bersihin luka gue dengan alkohol. Cukup lah bikin gue meringis sakit.


"Bisa berdiri?"


"Bisa."


"Bisa mandi sendiri kan?"


"Jangan macem-macem ya pak!"


Dia mengernyit sebelum bersedekap dengan wajah yang menatap gue geli.


"Saya bakal minta bantuan Mama kalo kamu


ngga bisa mandi sendiri. Kamu menstruasi!"


Bodoh! Harga diri gue jatuh ke palung Mariana nih.


"Mandi. Saya ambilkan sarapan."


"Saya bisa sarapan sendiri."


"Ya. Kalo kamu mau saya gendong kamu


sepanjang tangga."


Sebelum dia benar-benar pergi. Telunjuknya

__ADS_1


mengusap benjol di kening gue.


"Apaan sih pak!"


"Saya belajar ini dari drama-drama yang sering kamu tonton."


"Saya?"


Dia keluar kamar.


Rumah yang pak Iqbaal tunjukkan ke gue itu emang nyaman banget. Ngga bising karna kendaraan terlebih letaknya juga ngga jauh dari pintu masuk perumahan.


"Gimana?"


"Saya ngikut aja."


"Saya minta pendapat kamu."


"Kalo saya, lebih baik beli--


"Saya akan lunasi rumah ini nanti sore."


Hell? Gue belum selesai ngomong! Main potong aja itu Dosen. Untung suami.


"Hari jumat kita pindahin barang kesini, bisa kan?"


"Ngga bisa. Rabu deh pak. Gimana?"


"Kenapa? Meubel yang saya pesan bakal datang hari selasa."


Ini orang emang kayaknya cuma begaya minta pendapat gue karna faktanya dia udah beli segala macamnya.


"Yang penting kan nata kamar dulu!"


"Dasar jorok!"


"Bukan jorok. Skala prioritas."


Gue mencibir dan masih asik menelusuri rumah berlantai 2 yang ngga terlalu luat tapi cukup buat keluarga.


"Nanti di cat warna putih ya pak."


"Pink"


Gue tau dia usaha ngelawak. Tapi garing banget.


"Yaudah bapak hidup sendiri aja kalo mau warna pink!"


"Yaudah beli rumah baru aja."


"Boros!"


"Uang-uang saya ini."


"Uang suami itu milik istri juga."


"Uang istri?"


"Punya istri lah!"


Gue ketawa sambil liatin suasana dari balkon kamar, pak Iqbaal juga.


"Gita jarang bisa keluar sama Saya. Ada


setumpuk jadwal dia yang lebih padat didunia modeling nya."


"Kalo saya boleh tau, Bapak kenal sama mbak Gita sejak kapan?"


"Dia junior saya saat kuliah di Aussie. Tapi


kuliahnya ngga selesai karna tawaran jadi model, saya saat itu cuma bisa support dia karna berpikir mungkin dia capek kuliah."


Pak Iqbaal mejamin matanya. Ada guratan di sekitar alis dan keningnya.


"Setelah dia ngga kuliah. Kita jadi jarang ketemu karna memang kuliah saya dan jadwal dia selalu berbenturan."


"Terus pak?"


"2 tahun lalu saya balik kesini dan jadi dosen dikampus kamu. Gita ikut saya pulang dan saya coba buat nemuin dia sama ibu."


"Tiba saat Ibu tanya soal keyakinan yang dengan bodohnya saya ngga pernah bicarain itu."


"Tapi memang keyakinan ngga bisa di paksa


sih, Pak. Dan mempertahankan semua yang ngga mungkin bukannya cuma sia-sia?"

__ADS_1


__ADS_2