
Seorang wanita muda yang mencapai hari kedewasaan nya dengan riang menuliskan surat undangan untuk acara tertentu, dia begitu sibuk dengan pena serta kertas mulai berkutat untuk menyelesaikan saat itu juga.
Setelah melihat beberapa undangan yang telah tersusun rapih di atas meja belajarnya, dia meminta pelayan untuk mengirimkan undangan ke kediaman nama penerima yang tertera di segel amplop.
Wanita muda itu tersenyum setelah melihat surat yang ia tulis sebelumnya mulai terkirim kepada para penerima tamu undangan dan menunggu dengan antisipasi serta antusiasme.
......................
Di lapangan luas yang dipenuhi sinar matahari terik, seorang wanita muda yang penuh semangat bernama Eylana berdiri di tengah-tengah lapangan. Dia mengenakan pakaian latihan yang nyaman dan memegang pedang dengan penuh keyakinan.
Seorang instruktur pedang yang berpengalaman, Master Rolando, berdiri di depannya. Rolando adalah seorang pria bertubuh besar dengan jenggot yang lebat, dan dia telah melatih Eylana dengan keras selama berbulan-bulan.
“Ingatlah, Eylana, pedang adalah perpanjangan dari dirimu sendiri. Kontrol dirimu dan jangan biarkan dirimu terbawa emosi, ” perintah Master Rolando kepada Eylana dengan suara berat serta nada tegas dalam setiap ucapannya.
Eylana mengangguk dengan serius, mengambil sikap yang benar, dan pedangnya berkilauan saat matahari memantulkan cahaya ke mata pisau. Mereka memulai sesi latihan mereka, dengan Rolando memberikan instruksi dan Eylana dengan cermat mengikuti setiap gerakan.
Selama latihan, Eylana menunjukkan kemajuan yang luar biasa. Dia menguasai teknik-teknik pedang dengan cepat, memotong dan menangkis dengan kecepatan dan akurasi yang memukau. Keringat mulai mengalir di wajahnya, tetapi dia tetap fokus pada latihannya.
__ADS_1
“Kamu semakin baik, Eylana. Kecepatan dan kelincahanmu semakin membaik setiap hari, ” puji Master Rolando pada Eylana melihat kemampuan berpedang Eylana meningkat dari sebelumnya.
Eylana tersenyum, merasa puas dengan perkembangannya. Latihan pedang bukanlah tugas yang mudah, tetapi dia berkomitmen untuk menjadi lebih kuat dan lebih pandai.
Saat latihan berlanjut, mereka terus berduel, menggabungkan gerakan-gerakan yang mereka pelajari. Eylana merasa energi dan semangat mengalir melalui dirinya, karena dia tahu bahwa melalui latihan ini, dia akan menjadi seorang pejuang yang tangguh dan kuat.
Setelah beberapa saat melatih kemampuan berpedang, Eylana mengakhiri sesi latihan dengan Master Rolando dan mulai pergi dari lapangan. Di koridor mansion kediaman Marquess Brooklyn, Eylana melihat Jane berlari menuju arah nya.
“ Nona Eylana, ada surat dari kediaman Spencer, ” pekik Jane kegirangan melihat Eylana dengan ngos-ngosan karena berlarian menghampiri Eylana yang berhenti berlatih pedang di lapangan.
Eylana memperhatikan Jane yang datang menuju arahnya dengan bersemangat seperti sebelumnya dan hanya terkekeh geli.
Jane serta Eylana berjalan berdampingan melewati koridor mansion hingga menuju kamar pribadi Eylana, setelah mengunci pintu, Jane memberikan surat yang ditunjukkan untuk Eylana.
Eylana membacanya dan dalam benaknya dia sedikit kecewa, dia berharap surat dari Louis ternyata sebaliknya surat ini datang dari Mora Spencer. Meskipun dia memiliki kekecewaan dalam hatinya, Eylana tidak menunjukkan di luar dan tetap membuka serta membacanya tiap kalimat yang tertulis diatas kertas.
Setelah membacanya Eylana mendapatkan gambaran dan sudah waktunya saudari Louis akan mengikuti debutante di jamuan yang akan mendatang bertepatan dengan kehadiran Duke Giovanni.
__ADS_1
“ Jane, apakah ada kabar lain yang belum ku ketahui, ” ucap Eylana pada Jane dengan tatapan lembut serta memiliki arti lain.
Mata Jane menyala dengan kegirangan karena namanya disebutkan untuk hal seperti gosip ataupun rumor. Jane mulai berbicara dengan rasa semangat dan seperti pelayan yang baik serta patuh untuk majikannya.
“ tentu, nona Eylana, aku mempunyai sebuah kabar. Aku mendengar dari pelayan kediaman Count Spencer, Louis Spencer sudah tiba, ” terang Jane pada Eylana dengan bahagia.
Eylana sedikit terkejut dengan kepulangan Louis yang tidak mengabarinya lewat surat sebelumnya, bahkan dia harus mengetahui kabar Louis tiba dari Jane dan mencari tahu dengan cara sembunyi-sembunyi. Meskipun Eylana memiliki pikiran yang mengarah hal buruk karena terlalu banyak pikiran karena mendengar gosip perselingkuhan Duchess Morita tapi dia berusaha menepis serta membuang pikirannya yang buruk di luar kepalanya dan berusaha untuk bersikap positif dan tidak mencurigai Louis.
“ benarkah, aku senang mendengarnya, Jane, ” balas Eylana dengan suara lembut serta manis dengan senyum tulus saat mendengarkan ucapan Jane.
Jane tidak mengetahui bahwa Eylana memiliki banyak pikiran yang buruk tentang kepulangan Louis yang dengan sengaja menyembunyikan keberadaan nya pada Eylana, Jane berpikir hubungan Eylana serta Louis masih baik-baik serta harmonis sama seperti sebelumnya dan tidak memikirkan hal aneh-aneh.
Setelah Jane undur diri dari ruang pribadi Eylana, Eylana mulai membersihkan dirinya untuk menghilangkan banyak pikiran buruk di dalam pikirannya, Eylana baru ingat sebelumnya, tubuhnya dipenuhi peluh keringat di sekujur tubuhnya dan mulai terasa lengket dan tidak nyaman.
Setelah mandi yang menyegarkan, Eylana keluar dari kamar mandi dengan handuk jubah mandi. Ruangan kamar mandi masih terasa hangat dan berembun, memberikan sensasi nyaman setelah air hangat yang mengalir melalui tubuhnya.
Dia berjalan ke arah cermin besar di atas wastafel, memeriksa dirinya sendiri dengan senyum puas. Rambutnya yang basah terurai rapi di punggungnya, dan kulitnya terasa lembut dan segar setelah mandi.
__ADS_1
Eylana merasakan kepuasan setelah membersihkan diri dan mulai memikirkan hadiah untuk ulang tahun Mora Spencer.