Maybe In A Another Universe, You Love Me Back

Maybe In A Another Universe, You Love Me Back
Chapter XIII. Bayangan Mimpi yang Terlupakan


__ADS_3

Di sebuah kediaman bangsawan, di dalam kamar yang terletak di lantai atas di sebuah mansion mewah yang menghadap ke timur. Jendela besar di kamar itu menghadap langsung ke arah cakrawala dimana matahari akan terbit. Eylana, duduk di dekat jendela dengan mata yang masih lelah setelah terbangun dari mimpi buruk yang menghantuinya.


Wajah Eylana masih pucat akibat mimpi buruk yang baru saja dia alami. Dia menunggu matahari terbit dengan hati yang terberat, meskipun dia telah melihat matahari terbenam dengan keindahan yang luar biasa. Cahaya perlahan mulai merambah di langit timur, menciptakan warna oranye lembut yang memenuhi ruang.


Namun, meskipun keindahan matahari terbit menjelang, Eylana masih merasa terhantui oleh perasaan kesedihan dan kecemasan dari mimpi buruk tadi malam. Dia membiarkan air mata menetes perlahan dari matanya saat matahari muncul di cakrawala, menciptakan kontras antara keindahan luar dan perasaan yang dalam, dalam dirinya. Meskipun matahari terbit menandai awal hari yang baru, Eylana merasa bahwa mimpi buruk itu masih mempengaruhi perasaannya, dan dia harus menghadapinya sepanjang hari ini.


Melihat matahari terbit tidak mengubah suasana hatinya yang muram dan menambah rasa sakit setelah bangun dari tidurnya, kemudian Eylana menutup wajah dengan telapak tangan, sesunggukan mulai terdengar dari ranumnya. Eylana ingin berhenti menangis tapi rasanya tidak bisa ditahan, karena ini terlalu menyakitkan.


“ aku tahu ini semua mimpi, tapi rasanya menyakitkan. Aku tidak bisa membayangkan Louis tunangan yang sangat ku kenal dengan baik menjadi dingin dan kasar, ” batin Eylana masih dengan air mata berlinang.


“ rasanya menyakitkan, meskipun itu hanya mimpi. Tapi kenapa aku harus bermimpi tentang hubungan ku yang akan hancur, ” batin Eylana.


“ kenapa harus dari semuanya, harus aku, harus mengalami mimpi yang mengerikan, mimpi yang sulit ku tanggung, ” batin Eylana dengan air mata yang masih membasahi pipinya.


Setelah puas menangis, Eylana menyadari sebentar lagi pelayan pribadinya akan datang dan mengetuk pintu kamarnya untuk membangunkan dari tidurnya seperti hari biasanya. Eylana menghentikan tangisannya dengan paksa dan mulai menampar pipinya dengan kedua tangan sambil meyakinkan dirinya dan memberikan afirmasi positif untuk dirinya sendiri.


Eylana tidak tertarik menampilkan kelemahan serta kerentanan pada orang terdekatnya karena jika orang terdekat Eylana menyadari, mereka akan sangat mengkhawatirkannya. Eylana tidak menginginkan kekhawatiran mereka.

__ADS_1


Meskipun terdengar kekanak-kanakan, Eylana menyadari bahwa dia tidak bisa bersikap kekanak-kanakan di usianya yang menginjak kepala dua. Eylana mulai berkaca dan terlihat matanya yang memerah dan dia sudah memikirkan ide lain di dalam benaknya, meskipun harus membohongi orang terdekatnya agar tidak mengkhawatirkannya.


“ Lana, kau pasti bisa, kau harus bisa, tersenyum lah, ” batin Eylana dan mulai berusaha tersenyum, melihat pantulannya di cermin menampilkan Eylana yang tersenyum dengan mata yang memerah sembab karena menangis sebelumnya.


Saat Eylana tenggelam dalam lamunan nya di depan cermin yang memantulkan dirinya terdengar ketukan pintu di luar kamar tidurnya.


Knock. Knock. Knock


Eylana tersadar dan mulai kembali ke kenyataan dan mendengar suara yang biasanya membangunkan nya di pagi hari.


Pelayan pribadi memasuki kamar Eylana serta memiliki sedikit keterkejutan karena melihat nona mudanya sudah terbangun dan sedang berada di depan cermin dengan mata yang memerah dan sembab karena habis menangis sebelumnya dan Jane mulai mendekati Eylana dengan tampilan khawatir.


Eylana hanya tersenyum kecil dan mulai membalas suara kekhawatiran Jane padanya.


“ aku baik-baik saja Jane, hanya aku begadang membaca novel ceritanya sangat menyedihkan dan tanpa sadar aku seperti ini, ” kelit Eylana dengan senyum kecil.


Eylana tidak ingin menjelaskan sebenarnya pada Jane, karena itu hanya sebuah mimpi yang tak akan pernah terjadi dan Eylana berharap perasaannya tidak akan terombang-ambing oleh sebuah mimpi belaka yang belum tentu menjadi kenyataannya.

__ADS_1


Jane ingin mengatakan hal lebih banyak tapi dia memiliki keraguan di dalam hatinya dan mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih lanjut. Jane yakin jika majikannya ingin bercerita pasti akan bercerita padanya, tugas Jane hanya menuruti kemauan nona mudanya tanpa mempertanyakan keputusan nona mudanya.


“ baiklah, aku turut senang mendengarnya nona muda, ” sahut Jane pada Eylana dengan tatapan tulus.


Melihat tatapan Jane yang tulus padanya, sedikit membuat hatinya sakit karena harus membohongi Jane tapi Eylana tidak ingin membuat masalah kecil menjadi besar.


“ hmm Jane, kau tidak lupa dengan jadwal ku hari ini, kan?, ” tanya Eylana pada Jane.


Eylana mulai mengalihkan topik pembicaraan kepada Jane dan berharap suasana hatinya lebih membaik dari sebelumnya.


Jane memiliki pengertian dalam tatapannya mulai merespon sesuai keinginan nona mudanya dengan ekspresi ceria dan hangat seperti biasanya.


“ nona, memiliki janji temu dengan pengrajin serta bertemu penjahit dsb, ” jawab Jane dengan nada ceria dan profesionalitas.


Mendengar jadwalnya hari ini membuat Eylana sedikit lupa dengan mimpi buruk sebelumnya dan perlahan suasana hati yang muram sedikit terangkat dan pudar.


Setelah Jane menjelaskan jadwal Eylana untuk hari ini, dan melihat nona mudanya sudah kembali seperti sebelumnya membuat Jane bahagia dan semakin bertekad agar nona mudanya tidak mengalami kesedihan ataupun kekhawatiran di dalam hatinya. Meskipun Jane tidak mengetahui kekhawatiran Eylana tapi Jane sudah membulatkan tekad untuk melindungi nona mudanya dan mengikutinya.

__ADS_1


Jane mulai membantu Eylana bersiap-siap memulai harinya pagi ini dan berharap agar nona mudanya dapat terus bahagia.


__ADS_2