
Sekolah Tarung Tenggara merupakan sekolah elit bagi pecinta seni bela diri. Merupakan sekolah yang memiliki siswa bermasalah dan sebagian besar adalah laki-laki. Di sekolah ini terdapat kasta yang menjadi ciri khas kenakalannya, yaitu kasta biasa, perak dan emas. Kasta biasa ialah kasta paling rendah dan menjadi pesuruh bagi kasta atas terdiri dari siswa yang lemah dan miskin. Kasta perak, yaitu siswa yang keluarganya berasal dari kelas menengah seperti karyawan dari perusahaan dan kasta emas adalah kasta tertinggi di antara keduanya, yaitu siswa dari kelas kaya yang berasal dari keluarga pengusaha. Anggara adalah salah satu anak yang lahir dari golongan emas. Yang membuatnya diperlakukan istimewa oleh sekolah dan ia ditunjuk sebagai bos dikelas oleh temannya. Anggara tidak mau mengakui tentang kekayaan ayahnya, ia lebih memilih hidup sederhana dan biasa saja. Mempunyai harta di mana-mana tidak ada gunanya bagi Anggara karena belum bisa merasakan kehangatan keluarga sejak ada masalah. Tekanan ayahnya, membuatnya memilih untuk menjalani hidupnya dan mengetahui kebenaran hidup. Ayahnya selalu sibuk bekerja sehingga dia tidak punya waktu untuknya. Anggara tahu bahwa lingkungan luar lebih memperhatikan dirinya daripada di dalam rumah.
Pertama kali Anggara dikenal sebagai berandalan adalah saat melihat teman sekelasnya terus menerus di-bully oleh kakak kelasnya. Anggara begitu perihatin atas suasana sekolahnya yang mementingkan kasta. Ia merasa tak adil melihat teman sekelasnya yang lemah diperlakukan dengan tidak adil. Karena tak tahan, Anggara maju melawan mereka walau ia sendiri pun masihlah lemah. Meskipun sering jatuh dan terkena beberapa pukulan, Anggara masih bisa bangkit dan berdiri, seolah tidak ada kata menyerah baginya dan dia tidak mau kalah sebelum bisa mengalahkan mereka. Ia pun berhasil mengalahkan kakak kelasnya dan menyelamatkan teman sekelasnya dari bully. Akhirnya, Anggara dikenal sebagai sosok yang berani dan tidak takut menghadapi kesulitan.
.
Hari demi hari berlalu, sejak saat itu Anggara menjadi terkenal yang telah mengalahkan 5 seniornya saat Anggara masihlah anak baru disekolah dan saat itu Anggara berada dikelas satu. Ia tidak menyangka kabar tersebut akan cepat menyebar dan membuatnya terkenal sebagai singa dari Tenggara. Ia pun menjadi bintang di sekolahnya, semua orang tahu tentang keberhasilannya dan ia pun mendapatkan banyak pujian dari teman-temannya. Ia pun menjadi inspirasi bagi para siswa lainnya untuk berusaha lebih keras dan mencapai keberhasilan yang sama.
..
Dihari tersebut, Anggara pingsan dan tidak tahu apa yang terjadi. Dia juga tidak tahu siapa yang menyebarkannya. Tiba-tiba teringat teman sekelasnya, dia bernama Vino yang saat ini menjadi tangan kanannya. Saat itulah Anggara memutuskan belajar bela diri untuk mengasah kemampuan bertarungnya. Selama 2 tahun, Anggara berlatih dengan tekun dan tidak ada yang bisa menandingi kemampuan Anggara. Dia menguasai berbagai teknik bela diri dan menjadi yang terbaik di kelasnya. Saat ini Anggara sudah berada di kelas tiga dan akan menjadi alumni disekolahnya. Dia berharap bisa menggunakan kemampuan bela dirinya untuk melindungi orang-orang yang dicintainya.
Anggara ingin membenarkan niatnya untuk meninggalkan kehidupan geng dan hidup tanpa perlawanan. Ia ingin hidup seperti biasa lagi karena merasa lelah. Namun, anggotanya memperlakukannya seperti saudara yang seharusnya membuat Anggara berpikir dua kali untuk membatalkan rencananya. Dia juga tidak tega meninggalkan anggotanya. Dia berpikir untuk menemukan seseorang yang bisa menggantikannya dan membimbing mereka ketika ia tidak lagi berada disekolah. Ia berharap bahwa orang yang ia cari bisa menjadi contoh yang baik bagi anggotanya dan membantu mereka untuk menjadi orang yang lebih baik. Ia juga berharap bahwa orang tersebut bisa menjadi teman yang bisa diandalkan dan menjadi sosok yang bisa dipercaya.
Sekolah ini pernah terkena beberapa kasus, seperti tawuran yang mengakibatkan luka-luka, bahkan koma, namun akreditasi sekolah masih bagus, sehingga kasus seperti sebelumnya ditutup. Meski begitu, berandalan seperti mereka tidak akan mengganggu yang lemah tanpa alasan.
Mereka akan bergerak jika ada alasan yang meyakinkan mereka untuk bergerak. Semua yang mengendalikan mereka adalah Anggara. Bocah kaya yang dingin tapi perhatian. Ia tidak suka dengan adanya pembulian, meskipun sekolahnya adalah tempat anak-anak nakal, nyatanya semua siswa hidup damai tanpa ada gangguan. Hanya saja ada orang yang tidak paham dengan aturan yang telah dibuat oleh Anggara.
Saat jam istirahat, suara yang memekakkan telinga terdengar sampai ke ruang kelas setelah guru baru saja pergi menulis pelajaran yang padat di papan tulis.
"Angga! Kamu mau keluar?" Vino mengajak mengaku heran melihat tingkah temannya yang masih menulis.
"Tunggu sebentar, aku masih menulis!" Komando Anggara berfokus pada papan tulis yang penuh berisi teks .
"Nah, itu bisa kamu lanjutkan nanti, sekarang kita ke kantin". Vino menarik tangan Anggara.
"Duluan!" Anggara mulai kesal karena tangannya ditarik hingga bukunya terjatuh.
"Oke, tapi kamu datang ya, aku tunggu!" Vino bergegas pergi meninggalkan Anggara sendirian dikelas.
"Ya, aku akan ke sana!" Anggara melanjutkan tulisannya sampai selesai, ia terlihat begitu sibuk padahal teman lainnya pergi keluar untuk menjernihkan isi kepala karena pelajaran yang padat.
Setelah 10 menit Vino menunggu, Anggara baru datang.
"Lama sekali! apa yang kamu lakukan?"
"Aku baru saja selesai. Kamu tahu sendiri."
"Ya. Tapi aku menunggu sampai 10 menit, istirahat sudah mau selesai."
"Apa yang sebenarnya terjadi padamu?" Vino melanjutkan karena wajah Anggara terlihat lesu.
"Aku bingung, Vino."
"Oh? Kenapa bingung? Biasanya tidak seperti ini."
"Setelah lulus aku akan ke Australia, Vin. Aku akan belajar di sana dan mungkin tidak akan datang ke sini lagi."
“Masih banyak tempat belajar di Jakarta, kenapa ke sana?”
"Bukan itu yang ku inginkan, Vin."
"Jadi karena ayahmu?"
__ADS_1
Anggara mengangguk dan mengangkat alisnya.
"Aku juga mengkhawatirkan anak-anak pasti mereka akan bosan dengan kehidupannya karena tidak ada hiburan."
"Bro, apa kamu hanya mengkhawatirkan itu?."
"Vin, mereka pasti akan kecewa denganku, sebagai bos disini aku tidak dapat berbuat apa-apa."
"Aku tahu. Lalu pakah kamu serius mau mematuhi ayahmu?"
"Aku tidak punya pilihan, Vin. Aku harus menjadi anak laki-laki yang menepati janjiku."
"Terserah kamu. Tapi anak-anak pasti menanyakanmu."
“Lalu apa yang harus aku lakukan, Vino? bagaimana caranya agar mereka bahagia disisi lain aku bakalan pergi. ”
"Pada level ini, bagaimana dengan adanya turnamen disekolah?" Mata Vino penuh percaya diri.
"Turnamen apa?"
"Yah.. Ini seperti panggung seni bela diri."
Anggara menatap Vino tajam.
"Kita bakal membuat turnamen seni bela diri untuk membuat mereka terhibur."
"Oh itu maksudmu?"
Anggara mengangguk mengerti dengan ide dari Vino.
"Kamu membuat mereka bertarung, pemenangnya akan melawan anggota berikutnya hingga babak final."
"Oke, itu pasti menyenangkan untuk mereka."
"Bagaimana?"
"Ya, aku pikir itu akan membuat mereka senang sebelum aku pergi ke Australia."
"Setelah sudah selesai dan pulang, kamu kumpulkan semua yang ada untuk naik ke atap, ya!"
"Siap, Bos!"
Waktu berlalu dengan cepat, semua siswa berhamburan keluar kelas.
"Vin, kamu sudah memberitahu anak-anak? kenapa belum muncul sedang di mana mereka?"
"Tenang, mereka pasti akan datang tepat waktu. Nah, di sana mereka!" Langkah kaki tangga terdengar, satu per satu muncul dari bawah dan berkumpul di atap. Mereka adalah anak buah Anggara dari berbeda kelas. Siulan Vino membuat mereka terdiam seketika ramai, tiba-tiba senyap seperti angin.
"Oke! Aku mulai. Bos Anggara akan berbicara dengan kalian. Pasang telinga baik-baik, dan jangan berisik. Jika ada pertanyaan, dengarkan dulu sampai selesai."
Anggara berjalan di tengah mereka, di depan mereka dengan tubuh lurus dan berat menghadap ke semua orang. Mereka yang melihat Anggara berdiri, diam dan tidak berani menatap Anggara, sehingga mereka menundukkan pandangannya ke bumi.
Mereka duduk melingkar, setelah Anggara memberi aba-aba dengan tangannya, lalu mereka menatap Anggara dengan serius tanpa bersuara. Punggung Anggara tampak tegak dan berwibawa, anak-anak yang melihatnya tersungkur dan gemetar.
“Aku akan langsung ke intinya. Aku berdiri disini, bukan karena suatu kejadian atau hukuman, tapi karena kalian sudah lama hidup tenang, kalian pastinya selalu membutuhkan hiburan. Jadi disini aku ingin membuat kalian senang. Untuk itu, Vino dan aku setuju untuk mengadakan turnamen seni bela diri untuk kalian. Aku merasa bahwa kalian benar-benar memiliki bakat terpendam dalam seni bela diri, jadi aku katakan lagi bahwa kompetisi ini akan benar-benar menyenangkan , kompetisi diadakan setelah ujian akhir, lalu pemenangnya akan menjadi salah satu eksekutif disekolah ini.
__ADS_1
Untuk sistem bagaimana turnamen berjalan, aku serahkan pada Vino. "
Vino berjalan ke tengah-tengah mereka dengan tangan tersembunyi di saku celana.
"Oke! Dalam turnamen akan ada babak final, dan yang masuk babak final akan menjadi eksekutif geng kita, begitu menurut Bos.
Dalam hal ini, tidak hanya bertarung dengan adu otot, tetapi juga dengan hati, sehingga tidak ada permusuhan di antara kita. Dan yang kalah, jangan putus asa. Mungkin belum saatnya menjadi juara. Itu saja, aku kira sisanya akan dijelaskan lagi saat turnamen berlangsung."
"Bos aku ada pertanyaan! " Ujar salah satu siswa kelas 2.
“Apakaj setelah lulus nanti bos berniat keluar?”
Pertanyaan dari siswa tersebut membuat ruangan kembali ramai dengan saling berbisik dan memandang satu sama lain.
"Wah, aku juga ingin dengar jawaban bos!"
Anggara terdiam tidak menggubris, bukannya tidak mau menjawab hanya saja bukan saatnya untuk menjawab karena masih ada beberapa bulan setelah turnamen.
"Bos! aku juga ada pertanyaan."
"Ah pertanyaan apa?" Jawab Vino dengan cepat untuk mengalihkan.
"Apakah bos akan mencari ketua baru ketika pensiun?"
“Wou! Ck ck ck.. Pertanyaan kalian ada yang nyambung tidak sih! Kita sedang membahas turnamen, kenapa malah seakan-akan kalian senang jika Bos Anggara keluar? hah? kalian senang ya? "
Suasana kembali senyap ketika Vino mulai memarahi mereka.
"Tidak apa-apa, Vin! Aku akan terus terang saja, saat ini belum berpikir sama sekali untuk mencari ketua baru setelah aku menyatakan pensiun nanti. Tapi jangan khawatir, aku akan tetap di sini sampai turnamen selesai dan kalian bisa menikmati pertandingan dengan tenang. "
"Bos! Apakah semua kelas bisa ikut?"
Segalanya menjadi ribut dan riuh, seperti alunan disko yang penuh keceriaan. Ada juga yang kecewa karena Anggara akan pensiun yang akan pergi ke Australia setelah lulus.
"Apa kamu sudah punya rencana?"
"Rencana apa Vin?"
"Ya.. itu dia, yang mereka katakan?"
"Aku kira belum saatnya."
"Apakah mau aku bantu?"
“Entahlah, nanti saja."
"Kenapa bukan aku saja?" Vino menunjuk dirinya sendiri.
"Hahaha... Tidak. Aku tidak bisa meninggalkan geng ini untukmu."
"Aku akan membuktikan bahwa aku juga bisa dan berjuang."
"Ahahahaha. Jika kamu adalah pemimpinnya, itu akan menjadi lebih kacau denganmu." Anggara pergi diikuti Vino di belakang sambil meregangkan ototnya.
Cita-cita Anggara adalah memulai hidup baru setelah lulus sekolah. Tidak ada lagi pemimpin yang mengundangnya karena dia akan memberikan gelar kepada yang sebenarnya dia pilih. Mungkin dari pertandingan ini dia akan menemukan inspirasi, tapi Anggara harus mencarinya meski belum memilikinya. Percaya diri!
__ADS_1