ME AND TENGGARA

ME AND TENGGARA
Bertemu Teman Lama


__ADS_3

"Vino!" Panggil Anggara saat melihat dirinya sudah berada di depan sekolah.


"Bagaimana kabarmu baik-baik saja?" Dia terus menepuk pundaknya.


"Ya, lebih baik. Terima kasih sudah mampir dan kemarin seharusnya kamu tidak perlu membawa apa-apa."


“Yah, sebagai teman, tidak mungkin aku datang begitu saja tanpa membawa apa-apa.”


"Tapi terima kasih sudah datang lho! Ini.. Aku merasa buruk sekali karena di jenguk bos sekolah."


"Tidak apa-apa, aku hanya khawatir kamu tidak bisa bersekolah."


"Kamu lihat! , siapa dia?" Tiba-tiba Anggara melihat wajah asing yang belum pernah di lihat selama di sekolah.


“Aku tidak tahu, aku juga baru melihatnya. Mungkin itu murid baru.”


"Lihat, dia terlihat sangat cocok sekali dengan kacamata bundarnya. hahaha. " Ketawa Vino seakan puas.


"Wayoohh! Apa yang kamu bicarakan?" Anton mengejutkan mereka.


"Jangan tiba-tiba datang terus buat kaget orang, bocah nakal. Apa mau dikagetin balik?" Vino mengomentari sikap Anton yang suka membuat kaget orang.


"Hahaha.. Serius banget."


"Ton, kamu kenal anak baru itu?"


"SIAPA?"


"Di mana matamu, Pak ketu! Tidak ada di sana!" Vino menunjuk anak baru itu.


"Ooh, dia mahasiswa tahun kedua yang baru!"


"Kelas dua? Menurutku kelas tiga."


"Tidak! Aku juga berpikir begitu, tapi dia kelas dua." "Lalu bagaimana kamu tahu dia kelas dua?"


"Aku juga tahu dari anak-anak kelas dua. Katanya dia masuk kemarin."


"Eh? Aku tidak ke sekolah kemarin ya!"


"Benar. Kenapa kamu tidak bersekolah? apakah karena patah hati?"


"Apakah mau aku sumpel mulutmu dengan lem? Aku sangat menyesal mengatakan hal itu. Aku sakit kemarin."


"Bung, bisakah kamu sakit parah?"


"Aku juga manusia, terkadang itu bisa sakit, kan?"


"Hei! Cepat masuk, atau pintunya akan ditutup." Petugas keamanan memberi tahu mereka bahwa bel telah berbunyi dan mereka begitu asyik mengobrol hingga lupa bahwa mereka masih berada di luar sekolah.


"Pak! Tunggu sebentar!" Anton berteriak dan lari, Vino dan Anggara pun ikut lari karena tidak mau dihukum.


Saat istirahat, Anggara menyempatkan diri untuk melihat siswa baru kelas dua. Vino dan Anton pun ikut melihat. Dia tahu bahwa sekolah ini tidak bagus. Banyak preman di pasar yang berpura-pura pandai di sekolah. Oleh karena itu, ketiganya ingin melihat bagaimana keadaan anak baru itu jika mereka dapat membantunya. Namun setelah mengunjungi kelasnya, anak laki-laki itu hilang. Menurut teman-temannya di sana, dia dibawa oleh siswa kelas tiga. Anggara mengira siswa baru itu harus ditangkap atau dipukuli, sehingga ia segera mencari di setiap sudut sekolah, bahkan sampai ke belakang sekolah dan ke tempat nongkrong yang sepi. Anggara tidak melihatnya, jadi dia membawanya ke mana. Vino bertanya kepada anak-anak yang lain namun mereka menjawab tidak tahu kemana anak baru itu dibawa.

__ADS_1


Bruk! Suara berada tidak jauh dari tempat nongkrong yang terletak di belakang sekolah. Ada suatu tempat seperti gudang dan suara itu datang dari sana. Anggara segera berlari bersama Vino dan Anton untuk melihat apa yang terjadi.


"Jika kamu menggangguku lagi? Aku tidak akan segan-segan membunuh kalian semua!"


Anggara tidak percaya dengan apa yang dilihat matanya. Kata-kata itu keluar dari mulut murid baru. Menyadari ada seseorang di sana, siswa baru itu menjatuhkan diri, berpura-pura bahwa dia juga terluka oleh mereka. Anggara tahu dia berusaha menipu dengan penampilannya. Anak baru itu bukanlah seorang pengecut atau pecundang, hanya seseorang yang berusaha menyembunyikan identitasnya.


“Jangan berpura-pura, aku melihat itu terjadi.” Anggara membuka mulutnya setelah murid baru itu berpura-pura kesakitan.


"Jadi, kamu sudah melihatnya?" Siswa baru itu bangun setelah tertangkap dan menolak melanjutkan kebodohannya. Anggara melihat tidak ada luka atau goresan di sekujur tubuhnya, bahkan seragamnya pun masih bersih.


"Kamu pasti punya tujuan di sini, kan?"


"Nah, sekarang aku sudah ketahuan, aku akan jujur ​​dan tidak bisa berpura-pura lagi. Tujuanku hanya ingin bertemu denganmu, Satria!"


"Hei, jangan asal ngomong ya! Apa kamu mau aku pukul?! Apa tujuan kamu?" Vino naik pitam karena merasa terhina dengan menyebut nama temannya secara langsung.


"Mengerti kan? Anggara adalah bos kita di sekolah ini, jadi jika kamu mengacau, anak-anak di sini akan membunuhmu." Lanjut Vino tak kuasa menahan diri.


"Tahan, Vino! Jadi kamu tahu namaku?"


“Dari mana asalmu? Apakah kamu mata-mata?” Vino meraih kerah baju bocah itu dalam posisi siap melayangkan tinjunya.


"Vino! Kamu bisa tenang? " Anggara sekali lagi menghentikannya untuk menyakiti anak itu. "Siapa namamu?"


"Hahaha.. Temanku yang bodoh, apakah kamu terlalu tua untuk melupakannya."


"Hei! Apa maksudmu dengan itu?" Vino masih marah dan terus melirik ke arah bocah itu. Anton tidak bisa diam dan memisahkan Vino yang masih kesal agar menjauh.


"Sudah lama sekali, ya. Ternyata kamu begitu tidak mengenali teman lamamu ini, aku Teja! "


Anggara mengenang saat dirinya masih duduk di bangku SMP. Dan tentu saja ia dulu mempunyai seorang teman yang selalu membantunya ketika Anggara sedang lemah dan sering dibully. Sehingga temannya dilarikan ke rumah sakit karena terluka parah oleh orang tak dikenal.


"Apakah kamu ingat sekarang?"


"Haha... Sudah lama sekali, aku sudah tua banget ya? Maafkan aku Teja!"


"Hahaha.. Jadi kamu benar-benar Satria ya?"


"Iya, aku Satria, aku masih lah orang yang sama. Sekarang namaku Anggara di sini."


"Oh, jadi sekarang kamu jadi bos disini?"


"Bagus. Saya senang, apa kamu mengenaliku karena suaraku yang khas?"


"Hahha.. suara kamu itu mirip seorang penyanyi solo kalau tidak salah cakra khan. hahaha.. serak-serak basah, tapi keren keren. "


Seorang siswa baru bernama Teja kemudian memeluk Anggara setelah lamanya dipertemukan kembali. Kemudian Vino yang hendak memukulnya meminta maaf atas kesalahan emosionalnya.


Bel berbunyi, kelas dilanjutkan dan mereka kembali ke kelas masing-masing. Siswa kelas 3 tadi yang dipukuli Teja, ia akan mewakili untuk meminta maaf, karena Anggara sudah tahu sifat temannya itu lalu memerintah mereka ke ruang UKS.


Sepulang sekolah, Teja menunggu di depan gerbang sambil berbincang dengan Pak Didi, satpam sekolah.


"Mau bermain bersama?" Kata Teja menawarkan.

__ADS_1


"Ke mana?"


“Ayo jalan-jalan dulu, kita kan sudah lama nih. Pasti capek juga kan jadi bos.”


"Haha.. aku juga sebenarnya sedang mumet dan ingin dihibur kebetulan kamu dateng."


"Kalian juga bisa ikut!" Teja menawarkan Vino dan Anton yang mengikuti Anggara di belakangnya.


"Kamu serius bos disini?" Tak percaya dengan rumor teman-temannya, ia ingin mendengar langsung dari Anggara.


"Wah, panjang ceritanya, kenapa bisa disebut bos."


"Dulu kamu tidak seperti ini! Kenapa sekarang kamu begini?"


“Itu dulu, sekarang berbeda, menurutmu bagaimana penampilanku sekarang? ”


“Mantap sih, udah kayak mafia. Terus setelah jadi bos kenapa kamu tidak mencoba melakukan bisnis?"


"Tidak, aku tidak mau melakukan bisnis apa pun."


"Sebagai bos, apa yang kamu lakukan jika tidak berbisnis?"


"Aku hanya berusaha membuat sekolah ini nyaman tanpa adanya perundungan di sekolah, itu saja."


"Oh, menurutku itu cocok. Kulihat tiga tahun itu tidak berkata apa-apa selain memutar mata saat melihatmu."


"Aku juga berusaha menyemangati mereka agar bertanggung jawab atas kesalahan yang diperbuatnya. Buktinya sudah ada. Aku juga menerapkan hukuman, jadi tidak bisa menolak perintah dari ku."


"Apakah kamu yakin? Seberapa hebat kekuatanmu? Aku penasaran."


"Kamu bisa melihatnya sendiri di Youube!"


“Wow, kamu benar-benar merekamnya?” Teja membuka ponselnya dan langsung mencari.


"Video itu diposting pada 26 April 1997. Aku bersikap adil di mata semua orang.".


"Wow! Gila! Keren banget, sudah berkembang sejauh ini? Luar biasa, padahal sebelumnya kamu tidak bisa berbuat apa-apa, kamu masih seumur jagung."


"Haha.. Dari tadi kamu tidak bisa berhenti mengejekku ya! Tapi aku suka dengan sikapmu yang seperti ini, karena dari perkataanmu membuatku termotivasi."


"Memang benar, aku adalah teman yang bisa menyemangatimu dan aku bisa belajar sesuatu darimu! Senang sekali melihatmu begitu berbeda."


"Oh, kamu mau pergi ke kafe? Aku yang bayar."


"Kalau begitu, oke."


Vino dan Anton yang hanya mendengarkan Anggara dan Teja mulai gelisah, seperti nyamuk yang mengganggu.


"Aku baru sadar, kamu membiarkan anak buahmu seperti itu?"


"Ya ampun, aku malah baru sadar, aku lupa karena ada kamu. Maaf kawan! Ayo ke kafe dulu, habis main itu kita makan bakso."


"Yoi! Ayo berangkat!" Vino dan Anton akhirnya bahagia. Dan mereka tak mau kalah saat bermain game di sana. Teman yang asik adalah teman yang ingin tahu apa yang dibutuhkan temannya. ...

__ADS_1


__ADS_2