ME AND TENGGARA

ME AND TENGGARA
Mata Mata


__ADS_3

Di gedung yang tidak berpenghuni, itu disebut rumah kosong. Seorang anak laki-laki berseragam sekolah datang dan berhadapan dengan pemimpin kelompok dari utara yang sedang bersantai dengan anak buahnya.


"Bagaimana? Apakah kamu datang untuk memberikan informasi menarik tentang Anggara?"


"Maaf pak, saya belum bisa menemukan informasi yang anda minta. Tapi mungkin informasi yang saya berikan tidak kalah menariknya."


"Oh! Kalau begitu bicaralah!"


"Setahu saya, Anggara sekarang akan mengadakan turnamen disekolahnya setelah ujian akhir dan ia akan pensiun."


"Hmm.. menarik. Seorang pemimpin di sekolah mengadakan turnamen dan kemudian dia pensiun. Oke, cukup menarik, terus ikuti pergerakan mereka dan jika ada yang menarik, segera beri tahu saya."


"Iya Bos!"


"Kalau begitu kamu bisa pergi." Pemuda itu pergi setelah memberikan informasi yang cukup memuaskan kepada bosnya.


Sementara Anggara yang kini mengkhawatirkan anggotanya, membuatnya berpikir ulang untuk mengundurkan diri. Meski sebenarnya tidak mau, Vino menyarankan untuk membuat grup agar sekolahnya tetap aman karena saat ini memang sedang terjadi perebutan penguasaan sekolah dan ribut di grup chat. Pikirannya menumpuk seperti ujian untuk besok dan dia harus memikirkan masa depan. Angin malam meniup hoodie yang diikatkan di pinggangnya dan sepeda motor GP pemberian ayahnya untuk ulang tahunnya yang ia gunakan untuk bermain balap bersama teman-temannya. Sebenarnya dia tidak mau naik motor, tapi terkadang Anggara ingin terbang bersama teman-teman liarnya di luar. Anggara bergegas ke tempat balapan dalam waktu setengah jam. Ada banyak orang yang ingin melihatnya. Teman Anggara bernama Bara menyapa.


"Aku tidak mengira kamu akan datang. Padahal aku baru saja akan menelponmu, ternyata kamu panjang umur."


"Ya, maaf, aku baru pulang dari kegiatan ekstrakurikuler ku."


"Wow! Motor baru nih!" Bara mengubah topik dan menyentuh motor baru Anggara.


“Haha.. udah lama, jarang dipakai saja. Pada hari ulang tahun, ayah memberi sepeda motor ini sebagai hadiah."

__ADS_1


"Wah, anak sultan itu berbeda, ya! Kamu sangat beruntung memiliki ayah yang begitu kaya."


"Aku tidak seberuntung kamu, bar!" Celetuk hati Anggara. Sangat disayangkan seperti Bara karena ayah Anggara menceraikan ibunya setahun yang lalu. Dan ayahnya tidak pernah memperhatikannya seperti pekerjaan adalah hal yang paling penting baginya, bahkan alasan dia bercerai adalah karena ayahnya tidak memperhatikan ibunya. Sedangkan Bara merupakan anak kedua dan masih memiliki keluarga yang lengkap. Kedua orang tuanya mengenal dan menyayanginya.


"Apakah kamu siap?" Bara menghentikan lamunan Anggara, menyuruhnya bersiap untuk pertandingan. "Siap, dong, jika aku belum siap, mengapa aku datang ke sini?" Bara menepuk pundak Anggara lalu menyuruh para peserta untuk bersiap-siap karena kompetisi akan segera dimulai.


"Oke guys. Ayo posisikan dan pada hitungan ketiga balapan akan dimulai 1..2..3.."


Suara gemuruh motor membingungkan dan kabut yang keluar memenuhi jalan dengan asap. Mulai mempercepat sepeda motornya, kembali dengan kecepatan maksimum, dia menyeberang jalan dan melangkah lebih jauh.


Remaja yang pernah melihat Anggara yang sedang mengikuti pertandingan tersebut, mengambil gambar saat masih di posisi awal. Kemudian dikirimkan ke atasan nya. Kondisi Anggara yang saat ini sedang mengikuti balap motor, membuat pemuda itu tersenyum sinis dan meninggalkan tempat itu. Siapa dia sebenarnya? Apakah ada niat buruk terhadap Anggara? Anggara yang sedang fokus balapan tak sadar bahwa akan ada suatu kecelakaan yang menimpanya dan benar saja, ban depan belakangnya tiba-tiba kempis. Saat ini Anggara berada di posisi ketiga dan terus berada di posisi kedua namun hampir di satu posisi, sepeda motor tidak dapat dikendalikan karena ban kempis dan Anggara hampir mengalami kecelakaan. Untung saja Anggara mengerem lebih awal karena dirasa ada yang tidak beres dengan motornya dan harus berhenti. Sebenarnya, jika ban tidak kempes, Anggara akan menjadi juara pertama, namun karena keadaan ia harus menyerah dan akan mengikuti balapan tahun depan. Karena kompetisi ini diadakan setahun sekali menjelang tahun baru. Anggara tersedak dan memanggil Bara untuk membantu. 10 menit kemudian Bara datang dengan mekanik di belakangnya untuk memperbaiki ban yang kempes. Namun tak disangka, roboh karena paku kecil tertancap di dalamnya. Rupanya ada yang sengaja menancapkan paku di jalan yang dilalui Anggara. Hanya dia yang kurang beruntung, pemain lain sepertinya tidak keberatan dan melanjutkan pertandingan. Ada juga bekas pisau di bagian belakang body motor nya yang tidak disadari Anggara. Hal ini menunjukkan bahwa ada pihak yang sengaja ingin merugikan atau membuat Anggara kalah bersaing. Ban harus diganti dengan yang baru yang tidak bisa ditambal dan body sepeda motor yang rusak harus diperbaiki dan diangkut. Seberapa buruk orang yang melakukannya. Anggara yakin ada yang sengaja ingin mencelakainya. Dilihat dari paku pada ban, ini bukan seorang keponakan yang melakukannya dan tidak mungkin baginya. Tetapi ada orang dari kelompok lain atau sangat tidak menyukainya. Namun kini Anggara tidak peduli dan biaya perbaikan sepeda motornya tidak seberapa bagi Anggara. Apakah dia mata-mata atau dari kelompok yang melakukannya. Ini pertanda buruk bagi Anggara karena sekarang banyak celah yang bisa diserang musuh karena Anggara juga berniat pensiun setelah lulus. Anggara sangat tertarik untuk berpikir dan mencari seseorang yang bisa mengubah dirinya. Siapa yang bisa memimpin atau orang kuat yang bisa hidup bersamanya. Meski ada Vino, ia tak ingin sahabat kecilnya itu harus terjun ke medan perang jika suatu saat ia benar-benar datang menantangnya. Hidup ini penuh dengan tantangan dan akan terus begitu.


Keesokan harinya Anggara tidak melihat Vino di sekolah, dia mengira Vino sedang sakit. Anggara telah bertanya kepada teman-teman yang biasa nongkrong. Tapi mereka mengatakan hal yang sama. Menggelengkan kepalanya seolah tidak mengerti. Entahlah, Anggara khawatir saat itu, dan ia akan mengunjungi rumah Vino. Tapi dia masih sekolah, tidak bisa pulang tanpa alasan yang jelas. Dia menunggu sampai suara berbunyi pertanda bel. Setelah menunggu berjam-jam, pikiran Anggara sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Dia masih harus menunggu untuk pulang.


"Aku menunggu untuk pulang."


"Tenang gan, tar juga pulang, tunggu aja."


"Aku mau ke rumah Vino. Kamu mau ikut?"


"Emm.. Tidak! Setelah pulang, aku akan pergi ke aula untuk eskul basket. Ada apa Vino?"


“Entahlah, karena tadi pagi guru nanya, katanya Vino nggak ada. Aku juga baru tahu. Lalu aku menelepon dan menulis pesan dengannya tetapi dia tidak menjawab. Apakah dia sakit?"


Lanjut Anggara setelah mengecek ponselnya beberapa kali berharap mendapat balasan.

__ADS_1


"Anak seperti dia bisa sakit? Dia biasanya sehat saja." Teman lain bergabung.


"Enggak gan, dia orang biasa yang bisa sakit, bukan superhero." Bara pun ikut karena mereka terlihat berkumpul.


“Oh ya, motornya ada, bawa pulang saja”. katanya lagi, Bara mengisyaratkan kalau motornya sudah diperbaiki.


"Ternyata kamu bisa diandalkan. Aku akan menyuruh sopirku untuk segera mengambil dan membayarnya. " Anggara kemudian tersenyum lagi, karena teman-temannya ingin memperhatikan meski tidak tahu apa yang tersembunyi di dalam hatinya, bel berbunyi sesaat dan Anggara bersiap-siap.


"Sampaikan salamku untuk Vino." Bayu menambahkan mengangkat tangannya.


"Oke! Aku akan menyampaikannya dari Bayu, pacarmu."


"Hei, sial, aku tidak h*m*, jir. Aku masih normal kan?"


"Haha hanya bercanda." Bayu, teman sekelasnya pergi, diikuti oleh teman satu tim basketnya.


"Aku duluan, Ga!" Timbal Bayu kembali karena ada yang kurang.


"Jangan khawatir, aku tidak akan merebutnya!"


"Baiklah, terserah kamu, bosku bebas!" Wajah Bayu miris dan pasrah.


"Hati-hati dengan apa yang kamu katakan, itu membuatku jadi aneh!" Bayu menambahkan. Bara mengangkat pundaknya melihat tingkah kedua temannya yang aneh.


Anggara segera turun dan melihat sebuah mobil pick-up terparkir dan menunggu Anggara dibawah.

__ADS_1


__ADS_2