
3 bulan sebelum ujian akhir nasional.
"Teja, kamu betah sekolah disana? Bagaimana menurutmu murid-murid dan guru-guru disana?"
“Biasa saja, menurutku seperti kebanyakan sekolah lain.”
"Apakah kamu tidak khawatir? Sepertinya para siswa di sana menindasmu karena penampilanmu yang aneh?"
"Pertama memang iya, setelahnya aku akhirnya bisa menemukan dia. "
"Siapa temanmu, dan bagaimana kalian bisa bertemu?"
"Kamu tahu orang yang sudah membayar biaya rumah sakitku? dia yang membayarnya, bang. "
"Oh, jadi itu temanmu. Sebagai saudara, aku bahkan tidak bisa membayar rumah sakitmu. Jadi tidak baik jika temanmu harus melakukannya sendiri."
“Tidak apa-apa bang, dia orang baik, dia tidak menerima imbalan apa-apa, saya menawarinya tapi dia menolak.”
"Nanti, aku ingin menemuinya! Aku juga ingin berterima kasih padanya."
"Ya Bang."
"Kamu cepat tidur sana, ini sudah larut. Apakah kamu sudah menyelesaikan tugasmu?" Teja berhenti dari pekerjaannya lalu mengatakan kalau itu bukan tugas hanya gambar-gambar saja dan setelah diperintah oleh kakaknya ia menuju tempat tidur.
"Anggara, lo sangat munafik. Suatu hari gue bakalan menghancurkan hidup lo." pikir Teja sebelum menutup matanya.
Keesokan harinya, kelas 3 E mengadakan ujian praktek. Kali ini untuk praktek di luar lapangan atau biasa disebut PRAKERIN (Praktik Kerja Industri) yang telah disediakan oleh pihak sekolah, siswa kelas tiga diharapkan bisa berbaur dan merasakan bagaimana rasanya bekerja di perusahaan atau industri tertentu.
Anggara memilih pilihannya sendiri, meskipun pilihan tempat untuk tugas prakteknya yang diberikan oleh sekolah yang terakreditasi baik digunakan sebagai tempat magang oleh alumni sebelumnya. Tempat praktek Anggara dipilih oleh ayahnya tempat temannya bekerja.
"Bre Dian!" Kata ayahnya saat bertemu teman lamanya di kampus.
"Hei, Prapto!" Jawab Pak Dian sambil menjabat tangannya.
"Apa kabar? Makin item saja kamu." Ayah Anggara bermaksud bercanda.
__ADS_1
"Seperti yang bisa kamu lihat, aku baik-baik saja dan leluconmu sudah basi, tahu."
"Hahaha... Maaf, kita sudah lama tidak tertawa sejak lulus."
"Kamu beda sekarang, kamu sudah jadi pengusaha."
"Haha.. Bisa jadi aku hanya bekerja lebih keras."
"Kalau bekerja keras, aku juga sudah bekerja keras, tapi tetap seperti ini."
"Sini! Biarkan aku memberitahumu!" Ayah Anggara membisikkan sesuatu ke telinga Pak Dian dan mengejutkannya.
"Ah, tidak! Aku tidak mau melakukan itu."
"Ya, kalau kamu tidak mau, aku tidak bisa memaksamu. Kalau mau hidup miskin, jalani saja hidupmu seperti ini sampai tua.”
Anggara menyadari perkataan ayahnya itu merendahkannya dan membuat dia harus menahan emosi karena status ayahnya.
“Pah!” Anggara mencoba mengalihkan pembicaraan agar ayahnya tidak lagi memandang rendah temannya itu.
Pak Dian menatap Anggara lalu memendam emosi yang hampir membludak.
"Oh, oke. Kebetulan, saya juga membutuhkan seseorang untuk membantu saya bekerja di sini."
"Nah kan, bisa kebetulan seperti ini. Aku akan membayarmu asalkan kamu memberikan nilai yang bagus untuk anakku."
Anggara merasa ayahnya sedang berusaha menyogoknya. Dengan senyum terpaksa, pak Dian menyalami Pak Prapto.
"Baik, tenang saja, Aku akan menjaga anakmu dan memberikan nilai yang sesuai."
"Aku pergi dulu! Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan.”
“Ya, tolong hati-hati!”
Ia pun naik ke dalam mobil Fazero yang baru dibelinya dengan maksud pamer ke teman-temannya. Kecurangan dan penipuan yang dilakukan ayahnya sudah diketahui temannya. Maka dari itu pak Dian menolak untuk mengikuti meskipun hasilnya banyak dan menggiurkan dari pekerja biasa.
__ADS_1
Padahal Anggara juga sudah tahu sejak masihlah SMP. Hingga beralasan untuk tidak menggunakan uang yang diberikan ayahnya. Sepeda motor pemberian ayah sebagai hadiah ulang tahunnya bulan lalu, bahwa hadiah itu bukan darinya tetapi dari ibunya. Anggara mengetahui hal itu setelah melihat bayangan ibunya keluar dari acara. Ayah sengaja menyembunyikan ini darinya karena menginginkan Anggara melupakan ibunya. Ketika Anggara bertanya tentang hadiah dari ibunya, ayah hanya diam saja dan balik bertanya sambil menggerutu padanya.
Saat itu Anggara baru tahu bahwa ibunya sama sekali tidak bersalah, ibu Anggara juga tidak menginginkan uang yang diberikan ayahnya, sehingga dia pergi dan setelah mengetahui bahwa ibunya pergi tanpa pamit, dia mengira bahwa ibunya telah pergi berselingkuh, jadi ayah tiba-tiba berkata cerai padanya. Nyatanya, tidak semua orang yang memiliki harta melimpah akan bahagia. Yang dirasakan keluarga Anggara adalah kehancuran.
Sungguh malang baginya, yang seharusnya bisa menikmati keharmonisan keluarga, malah menjadi korban kejahatan ayahnya. Anggara tidak bisa berkata apa-apa meski dia tahu pekerjaan ayahnya. Ia hanya bisa berdoa agar ayahnya cepat sadar dan kembali bersama ibunya.
"Anggara ya?" Pak Dian memulai pembicaraan.
"Ya." Jawab Anggara tegas.
"Apakah kamu sudah menemukan rahasia ayahmu?"
"Saya sudah tahu, Pak. Untuk itu saya sama sekali tidak mau menggunakan uang darinya. Itu juga alasan dia menceraikan ibu saya."
"Oh, begitu. Sabar yah."
"Saya sudah terbiasa diperlakukan seperti itu oleh ayah saya, yang menganggap saya tidak lebih penting dari pekerjaannya yang busuk."
"Begitulah, dek Anggara. Sifat ayahmu tidak pernah berubah."
"Itu berarti?"
"Ayahmu dulu terkenal dengan kesombongannya, yang suka pamer dan memalaki orang-orang yang dilewatinya ketika dia kuliah. Jika tidak, dia akan memukulinya. Oh, ya! Jangan beri tahu ayahmu, oke? Hanya kamu dan aku yang tahu masa lalu ayahmu."
Anggara betapa sakitnya, ketika mendengar dari temannya bahwa ayahnya juga seorang preman sebelumnya. Fakta Anggara saat ini berada di posisi tersebut tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan sang ayah saat masih remaja. Tetapi misi dan tujuan mereka berbeda. Memang benar pepatah yang mengatakan bahwa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Apa yang dilakukan ayahnya di masa lalu tidak akan jauh dari apa yang dilakukan putranya, yakni Anggara. Dan sudah jelas kenapa ayahnya bisa sesukses teman-teman alumni lainnya karena ayahnya adalah seorang pebisnis obat-obatan terlarang. Anggara tidak bisa melawan ayahnya sendiri, juga tidak mungkin memaksanya berhenti karena pekerjaannya sudah berjalan selama 18 tahun.
"Oke pak! Aku tidak akan memberitahu ayah."
"Kalau begitu mari kita mulai bekerja! Apakah kamu pandai merakit mesin roda dua?"
"Insya Allah, bisa Pak!"
"Baiklah kalau begitu. Ikutlah!"
Mereka mulai bekerja dan Anggara tampak akrab dengan Pak Dian. Ia menganggap Pak Dian sudah seperti pamannya sendiri, meski baru bertemu beberapa jam yang lalu. Anggara hanya merasa nyaman dengan Pak Dian, sosok yang kalem dan baik hati, dia juga jujur dan pekerja keras.
__ADS_1
Anggara menatap langit yang mulai gelap. Ia membayangkan jika saja ayahnya seperti Pak Dian, ia akan bahagia. Tapi takdir tidak bisa diubah, kita hanya harus menjalankan semua rencana yang sudah Tuhan atur.