ME AND TENGGARA

ME AND TENGGARA
4 Tahun dan 2 Tahun Sebelum nya


__ADS_3

4 tahun yang lalu, "Apakah kamu menganggapku teman karena aku punya uang? Maka aku tidak membutuhkan teman seperti kamu."


"Jangan munafik, Satria. Kalau persahabatan ini berakhir, tahukah kamu apa yang akan terjadi?"


"Aku tahu, tapi aku tidak akan berteman denganmu, b*jingan."


"Hahaha.. Satria.. Satria.. Apakah kamu terbiasa dimanjakan oleh ibumu?"


"Jangan sebut ibuku!"


“Ibumu seorang pengkhianat yang berbohong di belakang ayahmu, bukan?”


"Bagaimana kamu bisa tahu?"


“Bukan masalah, darimana aku tahu, tapi faktanya ayahmu sudah bercerai. "


"Jawab aku, siapa yang bilang begitu?"


"Kamu ingin tahu?"


"Aku akan puas jika kamu memberitahunya."


"Baiklah, aku akan memberitahumu, Teja. Dialah yang memberiku informasi ini."


"Tidak! Aku tidak percaya!"


"Iya, terserah kamu. Aku sudah bilang sejujurnya. Asal kamu tahu saja, Teja dekat denganmu karena kamu mengambil sesuatu darinya."


"Aku? Aku tidak pernah membuat masalah dengannya atau bahkan bermusuhan dengannya."


"Yo! Kamu bisa bertanya langsung. Aku duluan! Oh iya hati-hati ya, dia dasarnya licik tahu."


Anggara tidak akan tertipu oleh rumor yang diadakan orang-orang, mereka hanya melebih-lebihkan. Anggara dan Teja sudah dekat sejak SD. Bagaimana mungkin dia bisa melakukan itu? Mereka hanya iri karena Anggara terlalu dekat dengan Teja. Dia kelas satu SMP yang jago taekwondo juga bahkan mendapatkan juara pertama dalam kejuaraan nasional tingkat pusat di Tangerang.

__ADS_1


Namanya Satria Anggara. Saat ini yang kalian lihat adalah Anggara yang berada dibangku SMP dan masihlah polos, tidak mempunyai bakat sama sekali. Anggara pernah mengikuti seni bela diri karate, tetapi tidak bertahan lama, jadi ia berhenti. Hingga saat kenaikan kelas, hidupnya mulai kacau dan hancur karena ayah dan ibunya bertengkar setiap hari. Terkadang Anggara menutup telinga hingga sebuah kalimat yang tak ingin di dengarnya diucapkan dengan lantang, seperti peluru menembus telinganya melesat dengan cepat. Ayahnya mulai menceraikan ibu sambil melotot dan memukulinya. Anggara menyaksikan kejadian tersebut dan melihat Ibu menangis lalu meliriknya, seolah dia ingin Anggara yang masihlah polos memihaknya. Anggara tidak tahu siapa yang harus dibela, tetapi melihat perilaku ayah yang melakukan itu berarti ibu yang salah, tega mengkhianatinya perasaan ayah. Bersenang sendirian dengan pria lain di luar sana. Dan selalu pulang malam, yang membuat kecurigaan ayah semakin pasti. Ibu pantas mendapatkannya, mengapa harus mengasihani nya dan berpihak padanya? Lebih baik biarkan saja menderita. Karena ibu, cita-cita dan impian Anggara pupus semua, sehingga ia merasa menjadi yang paling rendah dan tersudut dikota. Sehingga mengantarkan Anggara ke sekolah dengan hinaan dan ejekan dari teman-teman membuatnya tak berdaya. Tapi Anggara akhirnya sangat senang setelah ada seorang teman yang mau menemaninya dan membantu menghibur mengatasi masalah itu, agar bisa melupakannya.


Hari demi hari, dada Anggara terasa sakit dan sesak. Anggara tidak tahu sama sekali tentang perubahan tubuh nya yang tiba-tiba, ketika sedang belajar di sekolah. Tapi ia masihlah bisa menahan hingga pelajaran selesai. Setelah pulang dari sekolah, siapa yang tahu ada yang mendatangi Anggara di tengah keramaian. Lima orang siswa, dilihat dari seragam yang masih mereka kenakan? Mereka memukuli Anggara tanpa sebab, dan sejak itu ia berpikir, Apa yang salah dengan nya? Mengapa mereka datang dan langsung memukul? Apakah ia mengenal mereka. Teja datang dan melontarkan tendangan khasnya. Dia jago dalam tendangan itu karena pernah menjadi juara taekwondo dan tidak akan mungkin baginya untuk kalah.


Anggaramelihat pertarungan mereka dari jauh, dan bersembunyi di balik reruntuhan tembok. Teja dengan berani membantu nya, tetapi setelah satu jam, sang juara pun jatuh lemas. Bagaimana dia bisa kalah? Apakah karena mereka berlima dan mengeroyoknya? Padahal Anggara saat itu sangat berharap Teja bisa memenangkannya.


Anggara kali ini salah, sang juara tidak akan selalu menang dan pasti akan tumbang juga. Dia hampir terinjak-injak oleh mereka, kemudian sopir pribadi Anggara yang mendengar kegaduhan, datang dan menyelamatkan kami. Akhirnya, Anggara memohon kepada sopir untuk segera membawanya ke rumah sakit. Sesampai di sana, tidak ada yang memberi tahu apa pun tentang keadaan teman nya. Anggara cemas dan ingin tahu seberapa buruk dia. Ketika dokter meminta sopir pribadi nya untuk masuk, Anggara mengintip ke dalam dan mendengarkan percakapan mereka.


"Apakah anda ayah dari keluarganya?"


"Ya, saya ayahnya."


"Lihat! Putramu lumpuh di kaki kirinya." Dokter mengeluarkan selembar kertas hasil pemeriksaan.


"Lumpuh? Bisakah dia pulih lagi, dok?"


"Ini hanya kelumpuhan sementara, anak bapak akan pulih seiring waktu. Hanya saja bapak harus selalu menemaninya agar jiwanya tidak tergoncang. Saya khawatir anak bapak akan melakukan hal buruk karena informasi ini."


"Terima kasih dokter!" Ia menangis ketika dia meninggalkan kantor dokter.


Anggara perlahan dan mencoba mendekati Pak Budi, mengumpulkan keberanian untuk angkat bicara saat dia menyeka air matanya.


“Pak, aku sudah mendengar semuanya, mungkin aku yang gegabah dan kurang sopan menguping pembicaraan bapak dan dokter tadi. Bapak tidak perlu bersedih, kata dokter itu hanya sementara, pasti akan sembuh dengan cepat jika ditemani oleh bapak dan menyemangatinya. Untuk biaya, biarkan aku berbicara dengan ayah."


“Tidak usah Den Angga, bapak tidak mau merepotkanmu.”


"Tidak apa-apa, Teja juga temanku."


Pak Budi menatapku dengan prihatin, dan Anggara memasuki ruangan yang didalamnya terdapat Teja yang berbaring tidak berdaya.


"Teja, ini semua salahku. Maafkan aku."


"Kenapa minta maaf? Hari ini Idul Fitri?"

__ADS_1


"Kan tidak harus Idul Fitri untuk meminta maaf, bisa kapan saja."


"Hahaha... Kenapa kau masih disini?"


"Aku akan menemanimu di sini."


"Apakah kamu tidak khawatir jika ayahmu akan mencari? Dan Pak Budi sepertinya sedang menunggumu."


"Jangan khawatir, aku sudah memberi tahu ayahku dan menyuruh Pak Budi untuk pulang. Aku akan menemani temanku sampai kamu senang."


"Aku tidak apa-apa sendirian, kamu bisa pulang, mengapa malah menemani aku yang penyakitan."


"Kamu adalah temanku, bagaimana mungkin aku tinggalkanmu sendirian, kalau kamu mau BAB/BAK siapa yang akan memapahmu coba? hayo? "


"Hahhha, iya juga. Tapi aku tidak bermaksud mau merepotkanmu biar ayahku saja, nanti dia akan datang."


"Hahaha... Tidak! Jangan mengusirku, aku akan tetap disini. Aku akan menginap. Kalau tetap memaksaku pulang, akan aku ceritakan soal nenek-nenek yang akan menyebrang. "


"Jangan dibahas, malu tahu."


Terakhir kali, Anggara dapat tertawa bersamanya didalam momen ini. Dan itu menjadi momen kenangan yang membuat Anggara terpikirkan.


Keesokan harinya, diumumkan bahwa Anggara akan pindah ke kota. Begitu cepat sehingga ia tidak sempat pamit pada Teja. Ayah Anggara tidak mengizinkan nya untuk bertemu Teja. Pak Budi, sopir nya, jelas tidak ingin ia dan Teja dipisahkan, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa di luar kehendak ayah nya, dia hanya bisa patuh.


Sejak hari itu, Satria Anggara, hampir melupakan satu-satunya teman di sekolah menengah. Dan sejak dipindahkan ke Tangerang kemudian sekolah disana. Lalu setelah lulus SMP, Anggara pindah lagi ke Jakarta Timur dan kuliah di Sekolah Tarung Tenggara.


Di awal MOS, Anggara memang merasakan seperti ia orang asing yang ditinggalkan oleh seorang teman. Hingga terbentuk teman baru dan mulai akrab dengan mereka, yaitu Vino, Anton, Bara, dan Bayu. Vino adalah seorang pemarah dan akan serius dalam satu pekerjaannya, tapi dia baik dan pengertian. Dia juga ternyata adalah teman masa kecil Anggara saat masih di taman kanak-kanak. Anton berkulit sawo matang, mata agak sipit, dan banyak yang bercerita bahwa ia keturunan Tionghoa, namun menurutnya ia sipit karena tidak berkacamata. Bara, teman geng motornya, dia tahu semua tempat dengan sangat baik sehingga ketika Anggara membutuhkan tempat makan yang paling nyaman, dia tahu di mana itu. Lalu Bayu, dia adalah pria yang tinggi yang suka bermain basket. Dia cukup tampan dan pintar dalam setiap mata pelajaran.


Itulah ke empat teman Anggara yang selalu jadi penghibur disaat ia termakan oleh rumor di media sosial yang mengatakan bahwa ia membawa sial. Mereka mau berteman dengan nya dengan menerima kekurangan nya, bukan karena kekayaan yang dimiliki ayah nya. Dan pada hari itu, sekelompok orang tiba-tiba membuat keributan di sekolah. Ke empat teman Anggara terjun dan menghadang mereka lalu menyuruh Anggara untuk tetap dikelas. Anggara melihat mereka melalui jendela, hanya bisa menonton ketika mereka mencoba mencegahnya. Anggara tidak ingin menjadi beban sepanjang waktu. Ia juga ingin seperti mereka yang berani menahan rasa sakit. Tinjunya mengepal, dan tanpa sadar jejaknya melangkah bersama mereka. Anggara tidak ingin mundur begitu saja. Ia juga pernah belajar karate sewaktu SMP dan hampir sempurna, namun saja ia meninggalkannya.


Anggara bisa mengalahkan mereka tanpa lelah. Mereka tidak begitu kuat dan keringat membasahi tanah lapangan yang panas. Anggara tidak bisa berhenti lalu ketika mata semua orang tertuju pada nya. Lapangan yang tadinya sepi itu tiba-tiba dipenuhi siswa.


Ke empat teman nya terheran-heran dengan apa yang telah di lakukan Anggara yang masihlah baru sebagai siswa disekolah itu. Tangan nya penuh dengan darah, dan melihat sekelompok orang tadi sudah berbaring. Pikiran Anggara melayang, dan terasa pusing sehingga tubuh nya tidak bisa menahannya lagi. Ia terjatuh dan tidak sadarkan diri.

__ADS_1


Keesokan hari, setelah sadar dan bangun, ketua OSIS datang menemui nya dan menawarkan untuk menjadi bos di sekolah tersebut. Dilihat dari kejadian kemarin, tidak ada keraguan di wajah mereka, seolah-olah mereka telah memutuskan hal yang benar. Anggara baru menyadari dan terkejut dengan tawaran tersebut. Pikirannya tidak tenang, tampak cemas dan bimbang terhadap kejadian kemarin tentang sekelompok siswa dari sekolah lain yang datang ke sekolahnya. Ia hanya tahu bahwa Vino, Anton, Bara, dan Bayu memblokir mereka. Selebihnya ia benar-benar tidak ingat, seolah-olah menderita amnesia. Desas-desus itu dengan cepat menyebar dan membuatnya merasa seperti seorang penguasa. Semua siswa di sekolah akan mengikuti perintah Anggara sampai pergantian tahun dan telah terlewat sudah ketika ia berada di kelas tiga. Anggara masihlah bos mereka di sekolah ini.


__ADS_2