
Benar-benar hidup ini penuh dengan perasaan sedih, kecewa, dan dendam bercampur jadi satu. Momen tak terlupakan saat aku bertemu dengannya. Tangannya digenggam, dengan senyuman dan kata-kata yang diucapkannya membuatku mengerti bahwa balas dendam bukanlah satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah. Aku tidak menghiraukan apa yang dia katakan, karena menurutku balas dendam adalah salah satu cara untuk melupakan masalah, tapi aku salah. Ternyata masalah itu bertambah dan semakin bertambah yang mulai menghancurkan hidup ku. Dan hanya satu orang yang paling peduli dengan kelakuanku adalah bos besar Anggara. Aku menyesal melakukan itu tetapi dia tidak tampak marah dan mencoba membantu ku. Aku berharap memiliki energi untuk membantunya, tetapi takdir memiliki rencana lain dan Tuhan mengambil segalanya dari ku. Sekarang setelah aku menyadari kesalahan yang ku perbuat, dia biasa berkata, "Jika kamu ingin membalas dendam, silahkan. Tapi tunggu saat kamu sudah kuat dan bisa menghadapi diri sendiri!" begitulah katanya, aku senang saat itu dan dia juga menerima ku sebagai bagian dari keanggotaannya. Aku berjanji untuk melakukan apa yang dia katakan. Kamu adalah satu-satunya keluarga yang percaya kepada-Ku. Aku harap kamu damai di sana, Satria Anggara.
Tiga bulan sebelum perang dengan geng Utara. STT (Sekolah Tarung Tenggara) adalah tempat berkumpulnya orang-orang yang bermasalah. Sekolah ini berperan penting bagi perusahaan yang didirikan oleh ayah Anggara. Oleh karena itu Anggara merupakan salah satu siswa istimewa di sekolah tersebut. Sekolah ini juga merupakan sekolah yang memiliki predikat terbaik mengalahkan sekolah lainnya. Di balik itu semua, ada sisi gelap sekolah yang semua siswanya nakal, meski ada beberapa siswa yang biasa-biasa saja. Dan siswa biasa yang selalu bertugas ini, dilecehkan dan menjadi pesuruh di mana-mana.
Kepala sekolah memang tahu, tapi dia menutupinya dengan dalih menjaga citra baik sekolah. Berbeda dengan ayahnya yang bisa melakukan apa saja dengan uang, Anggara menolak, ia mencoba untuk menciptakan sebuah sekolah tanpa kekerasan. Dia terjun ke masalah yang dihadapi. Setiap kali dia melihat kekerasan, dia akan turun tangan untuk menyelesaikan masalah. Dan hasilnya Anggara tidak pernah kalah dari orang-orang nakal dan pada akhirnya mampu membuat suasana sekolah menjadi tenteram meskipun masih ada beberapa pembuat onar. Anggara seperti singa lapar ketika dia berkelahi dan menakuti semua orang, karena itu sekolah memutuskan bahwa Anggara adalah bos besar yang tidak bisa dikalahkan di sekolah ini.
Di belakang sekolah ada sekelompok 3 siswa meneriaki siswa yang lemah. Dia mengaku dari bawahan Anggara. "Mana uangmu!"
"Aku tidak punya uang." Jelas siswa yang diancam. Jelas sekali para siswa itu ditipu oleh seniornya dan mengaku anggota Anggara.
"Jangan bohong, kamu tahu Anggara kan? Aku bawahannya, kamu mau aku adukan?"
"Aku benar-benar tidak punya uang, jika kamu tidak percaya padaku, periksa saja." Salah satu temannya mencari dari ujung kepala sampai ujung kaki, dan ternyata tidak ada.
"Hei, coba buka tasmu!"
"Di tas tidak ada, hanya buku dan alata-alat tulis." Hal itu dikatakan oleh siswa yang dipukuli untuk meyakinkan mereka.
"Hei! Berhati-hatilah!" Setelah menggeledah tas dan hampir membongkarnya, dia menemukan kotak pensil yang mencurigakan. Wajah siswa itu terlihat khawatir. Dia membukanya dan memang ada beberapa lembaran uang di sana yang dibungkus dengan plastik makanan. "Apaan sih, wah! Katanya nggak ada? Hah! Bohong!? Mau aku laporkan ke Anggara?!"
"Tolong jangan diambil itu untuk makan. Aku belum makan pagi ini. Aku mohon!" Siswa itu memohon sambil menangis berharap dikasihani tapi malah cercaan dan kekerasan yang diterimanya.
"Aku tidak peduli denganmu. Pukul dia!"
__ADS_1
Anggara datang menghampiri keributan, seketika mereka berhenti ketika mendengar langkah kaki yang berat mulai mendekat. Anggara sudah melihat apa yang terjadi. Mereka bahkan tidak tahu siapa Anggara. Kenapa mereka mengaku sebagai bawahan, kalaupun benar, tidak mungkin ia akan menyuruh bawahannya untuk meneriaki murid lain, apalagi murid biasa dan lemah seperti dia.
"Siapa kamu?" Dengan wajah sinis bak preman, Anggara menonjol.
"Hei, siapa barusan yang bicara?" Ketiga siswa itu terkejut karena tiba-tiba Anggara datang dari arah belakang mereka.
"Apa yang kamu bicarakan?" Anggara mengangkat sebelah alisnya, otot-otot di lengannya terlihat saat seragamnya terlipat.
"Hei! Kami hanya bercanda." Wajahnya mulai berkeringat dingin dan dia merasa tidak nyaman.
"Jawab aku saat ditanya! Jika tidak, aku akan menghajarmu sekarang." Suara Anggara sangat keras dan menakutkan. Wajahnya mulai menunjukkan ketakutan.
"Kamu seorang bawahanku? Pernahkah aku memintamu untuk membuat keributan dan menghajar murid?" Pertanyaan Anggara membuat mereka menjadi bingung dan tidak tahu harus menjawab apa. Itu juga pertama kalinya mereka bertemu Anggara setelah melihatnya dari telepon milik juniornya. Jika dilihat dari depan, Anggara sangat menakutkan dan akan berbahaya jika mereka tidak jujur. Mereka jatuh dan mengembalikan uang yang dicuri tadi. Anggara melewati mereka setelah situasi mereda. Wajahnya dikubur hingga Anggara tidak terlihat sama sekali dalam posisi setengah duduk.
"Tunggu!" Siswa yang dipukul tadi mencoba menghentikan Anggara yang akan pergi, dia mengucapkan terima kasih, tetapi Anggara tidak menghiraukannya, ia berjalan dengan cepat begitu saja seperti ditelan kabut.
"Sangat malas."
"Kenapa malas? Wajahmu sungguh terlihat seperti PMS, hahaa."
"Aku akan menghajarmu jika meledekku lagi."
"Oke oke, aku akan berhenti, tapi beritahu aku jika kamu ada masalah. Hei, ada apa sih?"
__ADS_1
"Aku tidak akan memberitahumu, aku terlalu malas untuk melayani orang seperti mu."
Anggara berdiri dan bangun dari tempatnya lalu meninggalkan kelas begitu saja.
"Hei, memangnya ada apa denganku? apakah aku punya masalah dengan kau? "
"Itu Vin, kamu seperti wanita yang sudah beruban, nanya mulu!."
Semua siswa menertawakan Vino setelah mendengar Anggara mengejek Vino. "Wah, b*jingan sini! aku kejar ya! ." Vino mengejar Anggara yang kabur.
Malam itu sangat panas di rumah, Anggara mencoba menghirup udara segar dan berjalan-jalan di sekitar kota yang penuh dengan pernak-pernik ringan di jalan. Hingga berhenti di sebuah gang kecil, seorang pria mabuk sedang melecehkan seorang wanita yang baru pulang kerja.
"Bajingan! apakah kamu tidak malu dengan pria yang melecehkan wanita?"
"Hei! Apa urusanmu? Dilihat dari seragammu, kamu terlihat seperti anak sekolah."
"Tidak masalah jika aku masih mengenakan seragam sekolah, aku paling membenci orang sepertimu."
"Bibirmu basah juga ya?!"
"Oh, minta berkelahi, aku akan melayanimu."
Keduanya berkelahi tanpa ada yang menengahi, tangan mereka saling menyikut dan kaki mereka menendang sana-sini. Namun pria itu kalah karena Anggara menendang bokongnya. "Kurang ajar!" Pria itu kesakitan dan terkapar.
__ADS_1
"Ayo sini tantang aku lagi, apa kamu menyerah untuk menantangku? !"
Wanita itu berterima kasih kepada Anggara dan melanjutkan perjalanannya dalam kehidupan kota ini. Malam yang nakal, mengapa harus ada banyak orang bejat seperti dia di kota. Anggara menganggap dunia sudah tidak baik-baik saja. Ia pergi karena ingin mencari ketenangan namun yang ia dapatkan justru sebaliknya. Anggara tidak ingin keluar dengan sepeda motor di malam hari. Karena dia sangat ingin merasakan kehidupan penduduk desa sehingga dia bisa berjalan puluhan kilometer, dan dia bisa merasa sangat lelah. Kehidupan sederhana yang dia lihat di jalan membuatnya terpesona. Meski hidupnya sederhana, ia penuh dengan kebahagiaan. Tapi dia, kaya dan penuh kemewahan, bahkan tidak bisa menemukan kebahagiaan. Ternyata kebahagiaan itu bukan dari harta atau pangkat tapi dari rasa syukur atas apa yang telah Tuhan berikan. Malam itu, Anggara langsung pulang dan mengambil makanan serta uang untuk dibagikan kepada mereka yang membutuhkan.