
"Nah, siapa yang kalah?"
"Hahahha.. yang kalah harus mau disuruh, cepat belikan aku makanan enak dalam 2 menit"
"Apa? itu tidak mungkin. "
"Apa kamu mau dihajar? buruan selagi emosiku belum meningkat. "
...
"Apa kamu sengaja berlama-lama? hingga membuat aku kesal menunggu? hah! "
"Maaf, tadi mengantri di kantin."
"Kan bisa kamu selak, kenapa mengantri?"
"Sekarang kamu makan itu! Awas kalau ketahuan dimuntahin. "
Siswa tadi adalah senior yang biasa menyuruh-nyuruh siswa dengan permainan game nya, yang kalah harus mau disuruh dan jika tidak dituruti maka layangan tinju mengenainya.
"Oh, sial. Aku lapar sekali. Hey!"
Menumpahkan makanan yang sedang dimakan oleh teman yang disuruhnya. Kamu beli lagi sana, tapi kali ini pakai uang kamu. Sana pergi kali ini dalam 1 menit. "
Siswa yang diperintahnya tadi langsung bergegas keluar kelas lalu berlari kencang.
"Hahaha.. lari sekencangnya sampai dapat! "Teriak senior dikelas itu.
"Bukan hanya kamu disini yang lapar, mengapa tidak kamu suruh dia beli yang banyak?" Kata teman satunya yang juga ikut permainan game tersebut.
"Hey, dia akan kembali lagi, kamu suruh lagi saja dia! Nah, akhirnya datang juga. "
"Tunggu, Hei, kenapa kamu tidak membawa nya?"
"Um... Itu benar... Itu..."
"Bicara yang benar, sialan, kamu tidak ingin dipukul, kan?"
"Kamu makan sendiri?"
"Aku tidak memakannya, ada seseorang yang mencarimu."
“Hahha… Apa kamu mengira aku akan tertipu oleh tipuanmu? Jujur saja, kamu pembohong, bukan?”
"Aku tidak berbohong, dia itu ada di belakangku."
"Di mana dia? di belakangmu?"
"Eh? Dia tadi ada dekat denganku."
"Kamu ingin dipukul!"
Sebuah bola terbang ke arah 3 orang dan mengenai kepala mereka.
"Siapa yang melempar bolanya?"
"Oh, maafkan aku! Aku tidak bermaksud." Tiba-tiba Anggara datang dari sisi kanan, berjalan santai dan mengambil bolanya.
"Siapa kamu? Jangan ganggu aku, oke?"
“Saya berhak campur tangan, ini demi kenyamanan seluruh siswa.”
"Apakah kamu ingin aku mengalahkanmu?"
"Kamu ingin bertarung? Ayo! akan aku layani sampai puas. " Mereka berkumpul dan menyerang Anggara, namun baginya tinju yang dilontarkannya tidak ada artinya jika ia bersaing dengan Pak Beni, seorang guru pencak silat.
“Apa yang kalian lakukan? Rasanya tidak sakit sama sekali!” Mereka berempat kembali menyerang, namun tidak berhasil melawan Anggara.
"Bro! Hentikan!"
__ADS_1
Salah satu teman mereka menghentikan perkelahian dari balik pintu yang terbuka lebar.
"Ada apa? Kenapa berhenti? Mau bergabung?"
"Tidak! Apakah kalian tidak sadar atas kalian lakukan? siapa yang kalian serang? "
Ketiga senior tadi berpikir keras dan memerhatikan tubuh kekar dan otot yang lumayan, wajah tampan tapi sangar. Mereka mulai memahami bahwa serangan mereka dilontarkan pada Anggara Sang Singa dari Tarung Tenggara yang pernah juara di olimpiade kesenian bela diri senasional.
"Aku tidak akan menyerangnya jika tahu. " kata teman tadi yang masih berdiri dibalik pintu.
"Hahahha.. aku tidak menyangka akan menyerang atasan kami."
"Hah, atasan? siapa dia? "
"Jangan pura-pura g*blok! Dia Anggara, bos di sekolah ini, kamu mungkin tidak tahu siapa dia, tapi dia yang mengendalikan sekolah ini, dia yang bertanggung jawab, jadi jangan lanjutkan jika kamu tidak ingin mendapat masalah."
Mata mereka bertemu satu sama lain, memastikan bahwa orang yang dia hadapi ternyata adalah penguasa di sekolah ini.
Mereka mengeluarkan emosi yang hampir tersulut dan tidak bisa melawan.
"Mengapa? Bisakah kita tetap melanjutkan?" Kata Anggara memancing mereka.
"Tidak, kami tidak bisa melanjutkan. Kami minta maaf karena tidak mengetahuinya."
"Oh, padahal begitu menarik dan aku baru melakukan pemanasan."
"Ayo pergi dulu, kelas akan segera dimulai." Mereka pergi, dan Anggara ditinggalkan bersama siswa tadi.
"Kenapa kamu masih di sini? Masuk sana ke kelas!"
"Ya.. Aku akan pergi."
"Eh, tunggu! Ini punya kamu kan, aku kembalikan, maaf, tapi makan saja sendiri, itu dibayar pakai uang kamu juga kan?! "
"Baik!"
Anggara langsung pergi setelah urusannya dengan siswa pembuat onar selesai.
"Terserah lah mau kemana saja, cuma jalan-jalan."
"Tentunya kamu pasti sudah menghentikan masalah disekolah, bukan? Dilihat pun sudah ketahuan, baju kamu lecek begitu."
"Hmm.. Itu tugasku, Vin! Aku tidak bisa diam saja saat ada seseorang yang di-bully dan terus-terusan disuruh melakukan apa yang mereka mau."
"Ya, ya, terserah kamu."
Anggara mengeluarkan pena dan bukunya, guru mapel berikutnya kemudian datang.
Pelajaran fisika kedua yang dibenci banyak siswa setelah matematika.
"Teja mencari kamu tadi, apa sudah tahu?"
"Dia mencariki? Apa yang dia inginkan?"
"Mau mengajakmu berkencan! Bagaimana aku tahu itu."
"Haha.. Serius, kenapa? Aku hanya bertanya?"
"Dia meminta kamu untuk menemuinya saat pulang, katanya dia akan berada di kelasnya. "
"Ya, aku akan menuju kelasnya sepulang nanti."
Setelah pulang, Anggara justru benar-benar menemui Teja yang masih di kelas yang sedang merapikan meja dan kursi.
"Apakah punya piket sekarang?"
Anggara muncul di balik jendela.
"Uh, ya. Aku ada piket hari ini."
__ADS_1
"Sendiri?"
"Sebenarnya berdua, tapi karena yang satu lagi sakit, jadinya sendirian."
"Ingin di bantu?"
"Haha.. Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri."
"Oke, biarkan aku bantu!" Anggara membawa peralatan kebersihan yang berada di sudut pintu, mulai membersihkan, dan dibantu oleh Teja, dia yang mengepelnya.
"Sudah! Cepat kan?"
"Yahh, kurasa ini lebih cepat selesai dengan dikerjakan berdua."
"Oh, ya. Tadi apa kamu mencariku? Aku dengar tentang itu dari Vino."
"Erm.. Yah, sebenarnya itu tidak terlalu penting, tapi karena kamu mau membantuku menyelesaikan piket, aku akan memberitahumu. "
"Tinggal katakan saja, sepenting apakah itu!"
"Aku mendapat informasi dari siswa kelas satu, katanya kamu membuat turnamen ya?"
"Iya, terus kenapa?"
"Yahh.. Apakah aku boleh mengikuti nya, apa masih bisa?"
"Oh, bisa. Untuk siapa saja, tidak ada paksaan. Siapapun bisa ikut."
"Mmm.. Apa kamu juga akan pensiun? itu aku juga mendengar dari mereka."
"Aku tidak yakin, apakah aku benar-benar akan pensiun sebagai bos disini. Sebenarnya, aku tidak bisa begitu saja meninggalkan mereka. Tapi aku akan pergi ke Australia untuk melanjutkan studi di sana."
"Oh, itu berarti kamu masih memikirkannya ya? dan kamu akan pergi ke luar kota setelah lulus. Lalu siapa yang akan menggantikan posisi kamu?"
"Aku terus terang masih bimbang dan tidak tahu. Sebenarnya, aku mengadakan turnamen juga untuk menghibur mereka sebagai perpisahan atas kepergian ku."
"Padahal aku baru saja bertemu denganmu loh, sudah pergi saja."
"Ini kemauan bokap ku, Teja."
"Begitukah?! Yah! good luck!” Teja menepuk pundak Anggara lalu meninggalkannya di kelas yang sudah mulai gelap, sepertinya akan turun hujan.
Langit mulai mendung serta gerimis mulai mengalir, Anggara dan Teja saling berlomba untuk turun. Tapi kemenangan itu milik Teja karena Teja berlari lebih cepat dari Anggara karena ia memakai sepatu yang berat, Vino melihat aksi mereka hanya bisa tertawa, begitu pula Bara, Anton, dan yang lainnya, melihat atasan mereka yang bisa sebahagia itu dengan Teja. Padahal sebelumnya Anggara tidak pernah menampakkan wajahnya yang ceria, dia selalu bersikap dingin saat di sekolah, begitu pula dengan teman-temannya sendiri, termasuk Vino.
Sudah dua minggu Anggara magang di bengkel Pak Dian. Bengkelnya tidak sebesar perusahaan lain, tetapi bengkel ini selalu penuh dengan orang. Oleh karena itu Pak Dian membutuhkan karyawan untuk menanganinya, dan kebetulan Anggara memiliki keterampilan yang baik dan cekatan dalam setiap pekerjaan, sehingga pelanggan yang datang ke bengkel ini banyak mengajak teman-temannya untuk memperbaiki kendaraannya. Menurut Pak Dian, pelanggan puas, dan bengkelnya selalu kebanjiran orang.
"Angga, ini gajimu!"
"Eh, tapi belum genap satu bulan pak, dan saya tidak mau."
"Loh, dikasih uang, kok nggak mau?"
“Saya menolak karena tidak mau diperlakukan seperti ini pak. Padahal pekerjaan saya bagus, tidak enak dengan karyawan lain pak. Apalagi saya disini bukan sebagai karyawan, tapi hanya siswa yang sedang magang."
"Oke, kalau begitu. Aku akan menjadikanmu karyawan di sini."
“Aduh kok…”
“Angga, saya bisa lihat dari wajah kamu kalau kamu orangnya gesit dan serius. Pelanggan sangat puas dengan hasil kerja kamu. Saya ingin kamu menjadi pegawai di sini."
"Tapi saya masih sekolah, Pak!"
"Kamu bisa setelah itu."
"Saya akan belajar di Australia, Pak, setelah lulus."
" Lalu, setelah lulus kuliah, saja."
"Erm.. saya akan memikirkannya, Pak! ”
__ADS_1
Pak Dian tersenyum lega atas keputusannya untuk merekrut Anggara sebagai pegawainya, walaupun Anggara membutuhkan waktu yang lama untuk menjadi salah satu pegawainya karena akan kuliah di Australia. Pak Dian merasakan bahwa Anggara memiliki potensi dalam teknik seperti ini, sehingga dia ingin tetap berada di sisinya, sayang sekali jika Anggara lahir dari keluarga mafia seperti ayahnya.