ME AND TENGGARA

ME AND TENGGARA
Murid Baru


__ADS_3

Sebuah mobil berwarna hitam berhenti di depan gerbang sekolah.


"Kamu yakin mau sekolah disini?"


"Aku tidak yakin tentang rumor bahwa sekolah di sini adalah tempat preman, tapi aku harus memastikannya."


"Tapi aku juga mendengar bahwa sekolah ini terkenal."


"Iya kan? Meski begitu, aku harus menjadi siswa di sekolah ini."


"Aku pikir sekolah sebelumnya lebih baik, lihat gerbang berkarat itu. "


"Jangan dilihat dari luarnya, siapa tahu di dalam lebih bagus dari luarnya kan?"


"Hmm... Iya! Kamu serius ingin terlihat seperti itu? Kamu terlihat seperti kutu buku, lho. Nanti kamu jadi sasaran."


"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin bertemu teman lama."


"Hmm.. siapa temanmu?"


"Yah, dia satu-satunya teman yang bisa diandalkan di kelas!"


"?? Aku tidak tahu apa maksudmu, tapi kuharap kalian bisa bertemu."


"Aku yakin murid-murid di sekolah ini tidak seperti yang mereka katakan. Buktinya sekolah ini terkenal dengan peringkatnya yang tinggi."


"Yah, itu benar." Seorang anak laki-laki berseragam sekolah perlahan keluar dari mobil.


'Selamat datang'


Dia melihat tanda di depan gerbang sekolah ini.


"Hati-hati, Teja." pria itu berteriak pada saudara nya.


"Ya!" Jawabnya dengan senyum perpisahan, kini berdiri di depan gerbang sekolah. Gerbangnya tinggi, tidak seperti sekolah lain. Dari depan terlihat seperti sekolah tua dan ketinggalan jaman, dengan banyak grafiti di dinding dan karat di gerbang yang membuatnya terlihat tidak terawat. Dia berjalan ke gerbang dan disambut oleh satpam sekolah. Setelah diizinkan dan ditanyai kebutuhannya, Teja mengatakan bahwa dirinya adalah siswa baru. Petugas keamanan menyuruh Teja mengikutinya ke kantor dan saat dia berjalan, dia melihat pemandangan yang tidak biasa. Di kanan dan kirinya terdapat pepohonan dan lapangan basket yang luas serta tempat parkir yang terawat baik. Tidak seperti yang dia pikirkan setelah keluar dari mobil. Terlihat sangat indah dan terlihat keren saat berangin.


"Maaf pak! Saya mengganggu waktu anda, ini murid baru." Petugas keamanan mengetuk pintu dan masuk lalu seseorangmenyapa mereka.


"Apa itu?"

__ADS_1


"Um, pak. Ini ada orang yang dinyatakan sebagai murid baru." Petugas keamanan menunjukkan seorang remaja di sampingnya. "Oh, masuk dan duduk!" Kepala sekolah menyuruh remaja itu duduk, sementara satpam pergi setelah urusan mengawalnya selesai.


"Bagaimana?"


Dia kaget dengan pertanyaan kepala sekolah yang menanyakan sesuatu tanpa isi, tiba-tiba to the point. Kantor kepala sekolah ada di sisi barat, harus memutar untuk sampai, seperti tikungan di alun-alun Jakarta. Di tengahnya terdapat pohon beringin besar yang terlihat menyeramkan. Kepala Sekolah tersenyum "Kamu pasti bingung kan? Kepala sekolah tahu apa yang dipikirkan murid-muridnya?"


"Saya seorang psikolog!" Kata-kata kepala sekolah semakin membingungkan, apakah kepala sekolah bisa menjadi psikolog?


"Aku bisa membaca matamu." Pertanyaan Kepala Sekolah benar-benar membuatku penasaran, apa tujuan sebenarnya dia. Murid baru itu hanya mengangguk dan tersenyum.


"Siapa namamu?"


"Teja andragogi, Pak."


"Oh, kamu lahir di bulan Agustus ya."


"Tidak! Saya lahir bulan Oktober, pak!"


"Oh maafkan saya!"


Setelah dia selesai memberikan wawancara dan beberapa dokumen yang harus dia siapkan, kepala sekolah memanggil satpam lagi dan menyuruhnya untuk membawanya ke kelas, karena gurunya sedang mengajar dan tidak bisa menjemputnya. Dia mengikuti di belakang satpam. Untuk mengisi kekosongan dalam perjalanan ke kelas, dia mengobrol dengan satpam. "Sudah berapa lama bekerja di sini?"


"Oh, ini.. Sudah 5 tahun." Ucapnya sambil menggaruk kepalanya.


"Sekolah Kerangka Timur. "


"Kamu pindah, apakah kamu tidak merasa nyaman di sana?"


"Tidak, aku punya teman di sini."


"Oh, jadi kamu bilang kamu pindah karena teman sekelasmu ada di sini, kan?"


"Ya, aku belum melihat dia selama 4 tahun."


"Wah, 4 tahun? Siapa temanmu?"


“Namanya Satria kalau tidak salah."


"Satria ya? Kayaknya pernah denger." Wajah satpam itu berkeringat saat mendengar nama tersebut dipanggil.

__ADS_1


"Mengapa?"


"Uh, tidak. Saya hanya mendengar namanya tapi tidak tahu siapa dia."


"Artinya temanku benar-benar ada di sini." Teja membuat wajah bahagia. Dengan kacamatanya, satpam itu mencemaskan Teja. Dilihat dari manapun pasti sangat disayangkan, karena penampilan Teja yang terlihat seperti kutu buku dan introvert akan menjadi sasaran bullying siswa di sekolahnya. Mereka terus berjalan dan menaiki tangga hingga tidak sadar mereka berada di lantai tiga. Dia bertanya kepada satpam, "Pak, saya melihat gerbang di atap, mengapa Anda membukanya?"


"Bapak menyarankan untuk tidak naik ke atap, ya?"


"Kenapa Pak?"


"Yah, jangan naik ke atap jika kamu tidak ingin itu terjadi." Ia semakin penasaran mengapa ia dilarang masuk ke lantai empat yang seharusnya dikunci, namun terbuka lebar. Tapi dia hanya harus mengikuti apa yang dikatakan satpam jika dia tidak ingin itu terjadi. Ia sudah sampai di depan kelas 2 B, di seberang kelas 3 A. Satpam berpamitan setelah mengantarnya dua kali. Teja berterima kasih dan meminta maaf atas masalahnya. Tapi satpam itu menjawab dengan senyuman seperti kepala sekolah. Sebenarnya ada apa dengan sekolah ini? Sangat tidak biasa. Ia masuk ke kelas setelah satpam meminta izin kepada guru yang sedang mengajar.


"Oh, kamu murid baru kan?"


"Ya Bu."


"Maaf aku tidak bisa menjemputmu lebih awal."


“Tidak apa-apa Bu, saya mengerti."


"Sudah di depan, kenapa kamu tidak perkenalkan ke teman-temanmu!"


"Baik, bu!" Teja meluruskan kacamatanya yang agak miring dan mulai memperkenalkan diri. Tidak ada respon dari siswa di kelas. Entah apa yang dipikirkannya, tapi Teja merasa khawatir di dalam.


"Sudah?"


"Ya Bu."


"Silahkan duduk dimanapun kamu mau, karena banyak kursi kosong."


Sepintas, Teja melihat banyak kursi kosong. Apakah banyak siswa yang tidak hadir? Ia pun memilih berada di dekat jendela agar bisa melihat temannya dari sana saat lewat. Para siswa memandangnya, ekspresi aneh di wajah mereka dan terus menatap siswa baru itu seolah-olah akan terjadi sesuatu. “Oke, mari kita lanjutkan pelajarannya, lalu istirahat untuk mengenal satu sama lain." Guru melihat murid-muridnya seperti yang dia prediksi.


"Ya Bu..!"


Para siswa serempak menanggapi perkataan guru tersebut dan dibuat bingung dengan suaranya sehingga Teja bisa bernafas lega. Aneh kalau Teja terus menonton. Dia juga mengambil buku dan pena, setelah kelas dia lakukan. Sebenarnya ia sangat malas dalam pelajaran matematika, tapi baru kali ini Teja menyadari bahwa guru matematika itu adalah guru yang cantik. Teja melihat peniti tertancap di dada kiri gurunya, namanya Anya Sriputri. Dia ingat mantannya yang bernama Putri. Dia mengakhiri kenangan lamanya, sekarang tujuannya di sekolah ini adalah untuk bertemu dengan teman lamanya. Teja seharusnya duduk di bangku kelas tiga, namun sebuah kecelakaan memaksanya untuk putus sekolah. Dan selama ini yang membantu membiayainya selama sakit hanyalah teman-temannya. Namun setelah dia sadar kembali, temannya tiba-tiba menghilang. Apa yang dikatakan guru di sekolah, ternyata dia sudah pindah dan akan pergi ke kota. Ia rela pergi ke kota hanya untuk mencari temannya dan kebetulan saudara nya juga bekerja di kota. Teja pun berencana pindah sekolah, karena merasa kesepian tanpa teman-temannya. Biasanya mereka selalu bersama dan tertawa bersama. Meski sekolahnya tertunda yang mengharuskannya kembali ke MOS. Bertekad untuk tidak menyerah, dia pun meminta bantuan kakaknya. Dengan nama temannya dan foto dari sekolah lamanya, dia akhirnya menemukan di mana sekolah temannya itu. Dan sesampainya di Sekolah Tarung Tenggara, meski kakaknya sempat mengkritiknya karena pindah sekolah. Ia berhasil membujuk nya, alhasil mau tidak mau sang kakak harus mengabulkan keinginan adiknya.


Waktu istirahat berbunyi, semua orang mengerumuni Teja layaknya sanh idola.


"Hai, Teja! apa mau ke kantin? "

__ADS_1


"Aku Agustin, tadi nama kamu siapa? lupa. "


"Oh, salam kenal, Teja! "


__ADS_2